- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#4736
Epilog
Teras bungalowyang terbuat dari kayu solid itu terasa akrab di hati gue. Dihiasi dengan debur ombak dan pasir putih di hadapan, gue berdiri di tepi lantai kayu teras, sambil bersandar di tiang kayu. Sesekali gue menoleh ke kanan-kiri, dan mendapati gak ada orang lain selain kami di sisi pantai yang itu. Rasanya kami seperti memiliki sebidang pantai pribadi, dan gue tertawa geli karena pemikiran itu. Gue melangkahkan kaki ke pasir putih hangat, dan berjalan-jalan sendirian ke arah tebing karang di sisi kanan gue, dan mencari tempat teduh, walaupun hanya sedikit.
Gue meraba dinding karang yang kasar itu, dan menikmati setiap detiknya. Suasana sunyi, hanya ada suara debur ombak yang yang menderu-deru. Gue melihat gelang etnik di pergelangan tangan gue, berwarna coklat tua yang sudah cukup aus dimakan usia, dan tersenyum. Barangkali memori dari gelang ini sebesar memori gue tentangnya.
------
Quote:
Anin melepaskan satu gelang etniknya, dan menyerahkannya ke gue. Dia kemudian meraih tangan gue, supaya dia bisa memasangkannya sendiri. Gue mengikutinya tanpa banyak bertanya. Kemudian dia menjelaskan ke gue sambil tersenyum.
Quote:
Gue tersenyum, dan membiarkan tangan gue terus dipegang olehnya. Gue menatap matanya yang indah, dan seakan-akan melalui matanya itu gue bisa melihat segala isi semesta pikirannya. Dan memang begitu.
Quote:
Anin tersenyum sambil menunduk memainkan jemari gue yang masih berada di tangannya.
Quote:
Gue mencium keningnya lembut, dan menyibakkan beberapa helai rambut coklat kemerahan yang menutupi kening dan wajahnya.
Quote:
------
Gue menatap jendela berhiaskan gorden salem yang lembut di samping gue, dan sedikit meremas kaleng bir yang separuh kosong di tangan kiri gue. Kemudian gue menoleh sedikit ke kanan, dan melihat sesosok wanita berambut coklat kemerahan, sedang bersandar ke sofa empuk di belakang kami, dan menaruh kepalanya di bahu gue. Dia memakai kaos baseball berwarna putih-hitam, dan celana panjang hitam.
Siaran TV yang entah menyiarkan apa, seakan hanya jadi pelengkap. Gue tahu kami berdua samasekali gak peduli tentang TV. Kami hanya ingin menikmati waktu-waktu seperti ini berdua. Mencoba mencerna apa yang sudah terjadi pada kehidupan kami berdua. Ketika satu semesta bertemu dengan semesta lain, dan mencoba menciptakan satu konstelasi baru.
Quote:
Anin menggerakkan kepalanya sedikit, dan memandangi gue. Menunggu apa yang akan gue katakan selanjutnya.
Quote:
Gue menarik napas sejenak, dan Anin memandangi gue dengan sabar.
Quote:
Anin memejamkan mata, dan tersenyum lembut. Napasnya teratur dan halus, sehalus hatinya. Kemudian dia menggenggam sebelah tangan gue, dan menyilangkan jemarinya diantara jemari gue. Dan gue mendengar dia berkata dengan perlahan, sambil tetap memejamkan matanya.
Quote:
Gue terdiam sejenak, kemudian tersenyum sebelum akhirnya gue menjawab.
Quote:
Kami saling berpandangan sementara tangan kami masih terjalin satu sama lain. Selama beberapa waktu kebisuan diantara kami berdua, sampai kemudian bibir gue menyunggingkan senyum. Melihat gue tersenyum, Anin juga tersenyum. Gue kemudian memeluk kepalanya yang menempel di tubuh gue, dan mencium lembut rambutnya.
* * * *
Pada akhirnya gue sadar, kisah kami berdua ini bukan melulu tentang cinta, karena kami tak pernah benar-benar bisa murni mencintai satu sama lain. Tapi kisah kami ini adalah tentang dua orang yang saling memasuki kehidupan satu sama lain, dan tak pernah pergi.
THE END
Diubah oleh jayanagari 20-05-2015 11:10
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5


: what if I told you that we might never falling in love with each other?