- Beranda
- Stories from the Heart
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
...
TS
masternagato
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)
Bissmillah.
Assalamualaikum.
Nb: kontak bbm berubah: 5AB07E99
Wa:08128886670
Line:
@masternagato
mas ter nagato proudly Present
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
DISCLAIMER
1. sangat dianjurkan mencopy dan memperbanyak. Share kepada dunia tulisan busuk ini! (kayanya lebay banget sih?)
Ijin atau tanpa seijin dari penulis (buat ane sah-sah aje)
pelanggaran hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai dengan hati nurani lau sendiri.
.
2. Kisah dalam cerita ini adalah fiksi belaka kalau ada kesamaan nama, tempat atau kejadian itu cuma kebetulan semata.
Selamat membaca tulisan busuk ini!
*******
Petunjuk arah baca HD
Kalo membaca tanda:
*******
Berarti pergantian waktu, bisa tempat, tokoh.
Atau bisa tokoh sama waktu dan tempat berbeda?
Bisa aja cuma di alam mimpi!
Kalo membaca tanda:
-------
Ini menandakan hari yang sama.
Bisa berbbeda waktu, berbeda tokoh, berbeda tempat, tapi tetap dihari yang sama.
Bisa juga menunjukan kelanjutan alur cerita!
*******
soudtrack: Eminem Not Afraid
Langsung update add line:
@masternagato
Pin bb: 5AB07E99
WhatsappBrother-sister
Jangan lupa

Bikin

sekalian


Atas saran berbagai pihak.
:Yang mau memberikan donasi seikhlasnya.

Untuk terwujudnya buku ini
Rekening bank btpn
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Rudi hermawan

sedikit sinobsis:
bersetting di tahun 2003.
Rudi kelas 2 SMA.
Masuk ke blackworl, drugs user tingkat dewa.
Menjadi drugs dealer.
Hidup penuh bling-bling,wanita.
Teman-teman yang mengelilingi karena uang.
Dengan time skip.
Rudi yang di tahun 2014.
Sudah berkeluarga,punya anak.
Hidup dengan kemiskinan,tanpa penglihatan,positif HIV?
*******
’HIV AIDS salah satu penyakit paling menakutkan.’
’penyakit kutukan’
’yang terkena tak tertolong!’
’sampah masyarakat’
’jauhi orang-orang sampah itu’
’tak ada obatnya!’
’pasti mati’
dan masih banyak lagi label stigma yang menempel!
Yang berpendapat sama dengan stigma di atas!
Monggo jangan di teruskan membaca.
Why..?
Guest what?
Yang nulis HIV+

jadi harus di jauhi.. Nanti ketularan.


warning 16+ only.

Minimal SMA kelas satu boleh lanjut baca, wajib malah!

"Ini nyata gan?"
"terserah.! Anggap aja fiksi"
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
AIDS (Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome)
ane nulis ini biar bro-sis mikir sejuta kali!
Untuk tenggelam di blackworl,sex,drugs.
Dan buat yang sudah terkena!
Bangun! Bangkit! Kembalikan warna hidup lo sebelumnya.
Gak ada yang mau bertemen ama lo?
Minder?
Sekeliling lo penuh kepalsuan?
Takut? Trauma?
Sumpah demi Allah
Ane siap kapan aja jadi best friend forever!
Melewati semua cobaan yang ane anggap adalah pujian dari Allah
ane bukan siapa-siapa.
Cuma orang buta pengangguran kelas berat.
Bermodalkan laptop jadul dengan pembaca layar.
Dengan tetesan darah, dengan gerimis air mata.
Dengan sepenuh hati..
Berharap kejelekan ane jadi kebaikan lo.
Kesedihan ane menjadi kebahagiaan buat lo.
Salah langkahnya ane menjadi jalan buat lo.
Penyakit ane menjadi kesehatan buat lo.
"kenapa pemeran utamanya Rudi sama ama agan?"
"habis gak ada yang lebih bagus dari Rudi, yang lebih mahal banyak!"

harapan utama ane. Menurunkan tingkat HIV AIDS walaupun cuma beberapa %
setidaknya menghambat kecepatan tingkat HIV AIDS yang menggila setiap detiknya.
Harapan ke dua.
Tentu saja tulisan ini jadi sumber penghasilan ane!
Gak ada yang bisa ane lakuin selain nulis!
Setiap hari bini kerja nyari nafkah!
Bayangin perasaan ane yang cuma enak-enakan dirumah!
Asli mending tusuk ane gan.. Daripada ane ngerasain ini setiap hari.


stop!
Ane gak minta di kasihani.
Tapi ane berharap buat agan-sista bantuin nerbitin tulisan ane ini.
Kendala ane di modal gak ada!
Boro-boro buat publish keseharian ane juga susah.
Ngiklanin rumah buat modal di fjb.
Ampe capek nyundulnya belum ketemu jodohnya tuh rumah.
Entah kenapa ane yakin aja kalo ini jadi novel, pasti laris.

impianya sih kalo jadi novel.
Taruh di sekolahan, yayasan narkoba atau HIV AIDS.
Taruh dirumah sakit tempat HIV AIDS.
Kalo bisa di toko buku apalagi.
Yah cuma harapan.
Mudah-mudah dikabulkan allah, aamiin.
dan agan sista ada yang tertarik.
Apalagi dilirik penerbit.
"kenapa gak langsung ngirim ke penerbit gan?"
"karena tulisan ane,ane ngerasa berantakan perlu di poles.. Perlu ada yang ngeditorin.
Penerbit mana mau nerima tulisan mentah ane!"

"emang tulisanya udah tamat gan?"
"boro-boro,. Males-malesan nulisnya. Kalo ada yang nerbitin tuh! Baru semangat"
sebetulnya sih tokoh utamanya bukan cuma Rudi.
Banyak tokoh utama lainya.
Termasuk pembaca ane sebut tokoh utama juga disini.
cerita ini agan-sista
Bakal nemuin 3type orang HIV

Ini pakai pengamatan ane sendiri dan bahasa ane seadanya:
Jadi gak bakal ketemu kalo search di google.


1: saver: orang yang terkena HIV dan sadar akan HIVnya!
2. Invite: orang terkena HIV tapi dendam!
Dan membahayakan orang lain.
Menyebarkan HIV ke orang lain!
Biasanya faktornya adalah type invite ini terkena HIV tapi gak terima!
Masih bisa disadarkan type yang ini.
3. Zero: orang ini terkena HIV tapi ia gak tahu!
Ini yang paling berbahaya!
Ia gak tahu.
Yang terkena gak tahu!
Semua gak tahu.
Tahu-tahu pada kena HIV.
Sedikit saran dan percobaan buat agan-sista.
Supaya lebih bersyukur atas nikmat Allah
Kalo agan-sista di rumah sendiri.
Terserah mau malem boleh, siang juga boleh.
Coba lakuin kegiatan sambil di tutup pake apa aja matanya.
Sejam aja coba rasain.abis itu agan-sista renungin.
Seberapa nikmat Allah yang diberikan.
Banyak yang nyoba saran ane ini.
Nanti pandangan agan-sista berubah, setelah melakukan percobaan di atas.

Index setelah pariwara berikut ini:yang mau bergabung di FHD (fans hati malaikat darah iblis)
Invite pin: 5AB07E99
Mau memberikan donasi silakan
Rekening btpn.
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Atas nama Rudi hermawan
Call/sms/whatsapp:
08128886670
Update add line:
@masternagato
selamat membaca

HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
Mau membeli buku ini?
Mau memberikan donasi untuk membantu tulisan ini
:thubup
Menjadi novel


"apa yang didapetin kalo ngasih donasi gan?"
"gak ada! Ente dapet ucapan terimakasih sedalamnya dari lubuk hati ane!"

Mudah-mudahan dengan donasi gotong royong seikhlasnya.
Bisa menerbitkan tulisan busuk ane.
aamiin..
Bisa di bilang ini sumbangan lebih tepatnya kale

Rekening btpn.
Norek:
90010415858
Rudi hermawan.
DAFTAR ISI:
Update langsung ad line:
@masternagato
BAB1: KABUKI
BAB2 BAGIAN1: PENGANTIN KOPLAK
BAB2 BAGIAN2: PENGANTIN KOPLAK
BAB SIDE STORY: PENCARIAN SAHABAT 12 TAHUN
BAB3 BAGIAN1: TULISAN BERBICARA
BAB3 BAGIAN2: TULISAN BERBICARA
BAB4 BAGIAN1: OTAK MAFIA
BAB4 BAGIAN2: OTAK MAFIA
BAB5 BAGIAN1: PRODUK GAGAL
BAB5 BAGIAN2: PRODUK GAGAL
BAB6: SAVE HOUSE
BAB7: OTAK ATIK
BAB8: TEKAD BLENDER
BAB9 BAGIAN1: EMOTION
BAB9 BAGIAN2: EMOTION
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB WARNING: WAJIB BACA
BAB10: LATIHAN MEMBUNUH
BAB11 BAGIAN1: UNDER THE INFLUENCE
BAB11 BAGIAN2: UNDER THE INFLUENCE
BAB : warning2: galaw gak penting!
BAB12 BAGIAN1: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB12 BAGIAN2: CANDIED MANGO MISERABLE
BAB13: NGENES AWARDS
BAB14: TULISANKU ATAU KELUARGAKU
BAB15 BAGIAN1: HEY MAN
BAB15 BAGIAN2: HEY MAN
update FHD16: koberlaw
BAB16 BAGIAN1: RIP
BAB16 BAGIAN2: RIP
BAB WARNING3: PETUNJUK ARAH
BAB17 BAGIAN1: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB17 BAGIAN2: LOVE NOTES FOR MY DRUGS
BAB18 BAGIAN1: POCONG VS KUNTILANAK
BAB18 BAGIAN2: POCONG VS KUNTILANAK
BAB19 BAGIAN1: FROZEN HEART
BAB19 BAGIAN2: FROZEN HEART
REHAT
BAB WARNING4: FHD LEGOWO
BAB20: MENGECOH HITUNGAN LANGIT
BAB21 BAGIAN1: BIG MOM
BAB21 BAGIAN2: BIG MOM
BAB22: SATU TITIK X SEPULUH=SEPULUH
BAB23 BAGIAN1: FOUR GODFATHER
BAB23 BAGIAN2: FOUR GODFATHER
BAB24 BAGIAN1: ROLLER HEARTS
BAB24 BAGIAN2: ROLLER HEARTS
BAB25: VIRGIN SEGAW
BAB26 BAGIAN1: MASIH HIJAU
BAB26 BAGIAN2: MASIH HIJAU
BAB27 BAGIAN1: FIRST JACKPOT
BAB27 BAGIAN2: FIRST JACKPOT
BAB28 BAGIAN1: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN2: FOR SENTIMENTAL REASON
BAB28 BAGIAN3: FOR SENTIMENTAL REASON
video zamirah monster kecil
wait yo!
IN PROGRESS


Kontak:
WA: 08128886670
Pin bbm: 5AB07E99
line:
@masternagato
Twitter: @masternagato
Diubah oleh masternagato 24-03-2017 22:20
anasabila memberi reputasi
1
256.6K
1.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
masternagato
#1127
BAB27-2
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
BAB 27-2:
FIRST JACKPOT
SUMBER:
masternagato.com
*******
"ini dah sampe Jaya Bening, pak?" tanyaku; melihat jalan dari kaca mobil.
"bentar lagi sampai mas, ini udah di Jaya Bening..." sahut supir.
Taksi berhenti dibawah naungan ranting beringim tua.
Membayar taksi, turun dengan perasaan yang tak karuan.
Celana gomrong parasit-kaos D&F.
Berharap penampilanku mengesankan Meidina.
Selama seminggu menunggu tibanya hari ini; kenapa jadi nervous gak karuan ya.
Setiap hari, aku telpon Redaya; ngobrol ngalor-ngidul kadang sama Redaya, kadang Astrid, dan tentu saja tujuanku sebenarnya. Mengobrol dengan Meidina.
Mengorek kuping, serasa ada serangga masuk?
Pohon beringin tua terlihat lemah: daun-daun kering-berserakan tak pernah disapu?
Berjalan, sedikit menarik celana gombrong sialan yang menyapu jalan. Suara gemerisik daun terinjak.
Mengernyit, mata menjelajahi sekeliling: rumah besar-tak-terurus. pagar antik dipenuhi akar-akar-mati.
Kayu jati tampak tetap kokoh, bagian besi-berkarat-keropos.
Di sebelah kiri semak liar yang tingginya hampir menyamai pagar.
Gimana cara manggilnya? Gak ada bel.
Serem amat nih rumah? Padahal kalau terurus? Nih rumah pasti keren banget!
Jangan-jangan ada setanya lagi?
Membunggkuk mengintip di celah-celah pagar.
"BAAAAA!"
kaget-meloncat-kebelakang... Rasa kagetku berubah sewot seketika; melihat Redaya cengengesan membuka pagar.
"Takut nih yee..." ejeknya, menyenggolku seperti teman lama.
"Takut mah kagak... Bacot lo bikin gue kaget-" sahutku menggerundel.
"-wah, wah, ternyata muke lo, kalo tanpa perban lumayan... Juga..."
"Yang bener? Lumayan apa nih?"
"lumayan, kalo gue kiloin... Barang kali lo lebih mahal dari koran bekas... Tapi jangan terlalu berharap."
"SIALAN lo boros poeju...! Dah masuk yuk." balasnya keki setengah geli.
Selang usang-berantakan, kepala kran copot, di sebelah kananku saat pertama masuk.
Perkarangan tak berbentuk; bisa dibilang perkarangan sampah.
Tempat parkir yang besar, terbayang kalau tempat itu pernah berjejer beberapa mobil? Walau sekarang cuma ada Hiunday silver.
Langkahku terhenti, melihat Redaya terdiam... Ia menyeringai jahil seperti biasa.
Aku menanti... Menunggu-sambil melihat kolam berpanel silang yang seharusnya terdapat air mancur.
Kini tampak mengering.
Aku melihatnya, masih cengengesan, kesabaranku habis.
"Ngape sih lo? Gue gak liat ada yang lucu?" tanyaku merengut: mengambil rokok.
Ia melihat sekeliling, memastikan tak ada orang lain? (mirip maling ayam)
"gua kalo ganti baju sering-sering... Ama kk gua di omelin," katanya memelankan suara. Gila kali nih orang?
"Terus?" tanyaku berbisik-ikut-ikutan-gila.
"yah... Karena udah gak ada pembokat... Jadi kk gua marah... Kalo gua kebanyakan ganti baju... Maklum kan kk gua yang nyuci."
"terus..." sahutku bodoh; tak mengerti arah ucapanya.
"pas tau lo mau dateng... Kk gua dah lima kali gonta-ganti baju." ucapnya dengan nada puas.
"bisa aja lo man... Cewek kan emang gitu? Suka gonta-ganti baju... Gak ada hubunganya ama gue." kataku berbisik makin perlahan.
Kebahagiaan menghantamku layaknya durian runtuh.
Ia menatapku, seolah aku kucing bertelur.
"gua tau kk gua man... Cewek gak bakal repot-repot dandan, kalo cuma nemuin temen... Kayanya ada yang salah ama ketebalan tengkorak kepala lo. Sangking ketebalan jadi otak lo sisa segini." sahutnya sewot; mengangkat tangan: menempelkan telunjuk dan jempol hampir bersentuhan.
"bah.. Buangke lo-" memukul bahunya
"-ngomong-ngomong... Yang kita omongin kk lo yang mane?" tanyaku penasaran.
"...tadinya, mau gua kasih tau. Tapi liat tampang lo yang ngeselin, jadi males gua!"
melanjutkan melangkah, masuk ke teras: lantai kayu berpola garis-garis vertikal.
Aku duduk deprok di lantai, menikmati dinginya lantai kayu.
Redaya membuka pintu kayu besar, bergagang kuning emas memudar.
"lah malah deprok disitu? Aneh ya... Tempat lo... Biasa di tempatin kk gua," katanya cengengesan.
"nongkrong disini juga enak, kok." balasku, membakar rokok.
"Hai, Boy... Gak nyasar kan?" tanya Meidina; menyibakkan rambut panjangnya-duduk bersila diseblahku dengan anggun.
Sama-sama menyender dinding kayu, bersekat ada celah-celahnya (bisa buang abu rokok lewat celah)
sebenarnya... Aku tergganggu dengan panggilanya Boy...?
Apa ia pikir, aku ini semacam... SuperBoy...? AstroBoy...? KungfuBoy...? GoldenBoy...?Tapi kemarahanku, menjadi ice cream mencair dibawah senyumanya sepanas matahari.
Kaos dengan model yang sama (memperlihatkan leher-tulang selangkanya dengan jelas)
alih-alih memperhatikan paha mulus, berbalut celana pendek. Mataku tak bisa berpindah dari tulang selangka sialan.
"Nyasar? Sepanjang jalan Jaya Bening ini.. Rumah kayu yang didepanya ada pohon beringin, cuma ini gue rasa... Kalo sampe nyasar, kebangetan tuh supir taksi." jelasku, berusaha menahan debaran-debaran yang tak jelas asalnya.
Meidina mengambil rokok mild, yang tergeletak dihadapanku.
"nih, rokok lo..." mengeluarkan filter-memberikanya.
"...lo beli rokok... Buat gua..." kata Meidina-perlahan-menghanyutkan.
"pas di warung... Beli rokok... Gue inget lo... Mei..." tenggorokanku serasa ada bola basket nyangkut. Menyebut namanya, membutuhkan seluruh keberanianku.
"itu... Manis sekali... Thanks." sahut Meidina terlihat senang dan bingung dalam saat yang bersamaan.
"Lo inget kk gua? Terus lo inget gua gak?" celetuk Redaya geli.
"harusnya gue inget... Beli racun tikus."
"Reda, mending lo bikinin minum gih, lo mau minum apa? Teh? Kopi? Sirup?"
"apa aja boleh... Asal jangan kopi!" jawabku cepat.
Redaya bersungut-sungut masuk ke dalam. Meidina membuka plastik filter-mengambil-menaruh rokok di bibirnya.
Mendekatkan tanganku ke bibirnya; bermaksud menyalakan rokok. Sayangnya tangan sialan bikin malu (bergetar hebat)
"kenapa boy... Sampe gemeter gitu? Abis ngubas ya?" tanyanya, memegang tanganku yang gemetar.
aku tak perlu bertanya darimana ia tahu, aku makai shabu? Pasti dari si monyet Redaya!
"gak... Gue gak abis ngubas."
"Terus lo make apa? Sampe gemeteran gini?"
"itu... Itu... Karena lo... Mei..." jawabku sepelan mungkin (berharap ia tak mendengar)
meidina memegang daguku-menggeser-ke arah-wajahnya.
"kemaren, gua nyium pipi lo... Alesanya dah nolongin Reda..."
ia menciumku, kali ini di bibir.
Bibir kami menempel-tanpa gerakan? Mungkin ia mau-aku-melakukan-serangan-duluan... Tapi, sayangnya, aku terlalu terkejut. Tersambar petir.... Tersetrum tegangan tinggi... Terlalu kaget-sampai lupa untuk bernafas.
"sekarang... Gua gak punya alesan, Boy... Selain... Gua. Suka. Lo. Boy..." ucapnya dalam, setenang sungai penuh buaya.
"ehem.. Ehem..."
"ohok.. Ohok..."
suara Redaya, Astrid, saling bersautan.
Tapi, aku tak peduli, karena otakku baru mulai mengerti apa yang terjadi barusan. Setelah loading yang cukup lama.
Aku merengkuhnya-dalam-pelukan-memberi ciuman sedalam lautan, lidah saling berkelahi.
-------
hiunday silver terparkir di depan apotik.
Aku, Medina, di jok belakang. Redaya di depan. Kami menunggu Astrid mencari temannya yang bandar, sekalian membeli insulin.
(integ/insulin/suntikan)
"lo, yakin boerju... Mau jajal putaw?" tanya Meidina, menyender di bahuku.
"yakin? Emang ngape? Lo dah nanya tiga kali, Mei..." sahutku tak fokus, memuaskan mata tanpa malu memperhatikan tulang selangkanya.
Meidina menegakkan badan, tampak serius:
"lo liat rumah gua. Dulu gak kaya gitu... Ada beberapa pembokat, gua, Astrid, punya kendaraan masing-masing-" ia merenung sedih.
"-semua... Abis... Ludes... School berantakan.... Kuliah juga gak jelas. Well, gara-gara putaw ini. Makanya gua nanya. Lo. Yakin?"
makin dilarang, makin berbahaya, makin, gelap, makin ingin kuhantam semuanya!
"yeah, man! Bisa kecanduan lo." timpal Redaya suram.
"tenang aje... Gue mau tau apa rasanye? Tapi... Yang gue takutin... Gue takut suntikan tau!" ucapku ngeri; bayangin jarum.
"kaya anak kecil aja, takut suntikan." geli Meidina, kembali santai-rebahan di bahuku.
"serius, gue mei. Waktu di sunat... Gue inget, tuh dokter, gue tendang ampe mental!"
"BUSET! Serius lo man? Terus gimana processor lo? Jadi di sunat?" tanya Redaya, memutar kepalanya, menatapku. Ia tampak kagum campur geli.
"yah..." ucapku ragu.
"terus gimana?" bujuk Meidina, menghanyutkan.
"mungkin tuh dokter, sakit hati. Hasilnya... Processor gue. Kaya pastel salah cetak!"
"sumpah lo? Oh.... Kasian...." tanya Redaya sedih; seperti pelayat kematian yang datang karena pembagian besek.
"iya! Puas lo!" jawabku sewot.
"gua jadi penasaran Boy, buat lo kaya pastel salah cetak? Mungkin buat gua, enggak! Gua harus ngerasain pastel salah cetak ini... Sebelum terjual dipasaran." kata Meidina, menggoda; matanya menari-nari nakal.
Aku tertawa, walaupun ada bagian tubuh menegang-membayangkan ucapanya.
"Nyokap lo Mei... Nanti marah gak gue nginep?" kataku, khawatir.
"sebelum lo dateng, nyokap gue dah nanyain lo terus! Lo kan nolongin Reda. Gak bakal marah nyokap gua... Gua jamin, Boy. Tanya aja tuh, Reda."
"yoi man, tadi kan lo udah ketemu nyokap gua. Seumur hidup gua, baru tadi denger nyokap bilang... Anak baik, anak baik. Udah jelas, kan? Nyokap gua, suka ama lo!"
rada tenang, suka gak enak sendiri, kalo maen sampai nginep.
Astrid kembali bersama temanya. Bona: cewek rambut kriting-mie-ayam. Berbadan sehat (cukup berlebihan untuk dipotong satu RT)
Bona orangnya lucu, rada-rada bocor halus.
Astrid menjalankan mobil, Bona duduk disebelah kanan Meidina.
"Babi, kenalin nih, pacar gue, Rudi. Boy, kenalin ini Bona temen SMA gua."
aku, Bona, sama-sama terkejut. Jelas aku terkejut bahagia oleh pernyataanya. Entahlah kalau si Bona?
Bona membetulkan duduknya, untuk berbuat itu ia tampak kecapekan-ngos-ngosan. Ajaib ia tak mati kecapean saat berjalan.
"Seiingat gua Mei. SMA aja lo gak pernah ngenalin pacar? Jelas lo gak laku... Yah, Rudi... Semoga lo tenang. Dosa-dosa lo di ampuni. Pahala lo diterima, amin" kata Bona; mengangguk bijaksana. Setiap kata amin yang bona ucapkan, ia membasuh mukanya dengan ke dua tangan.
"sialan lo! Babi kaleng... Seolah-olah Rudi bakal kena musibah, pacaran ama gua!" sembur Meidina geli; memukul Bona.
"aduh! Yah gua gak bilang dia bakal kena musibah? Gua cuma doain... Semoga arwahnya tenang, amin." ucap Bona, menatapku sedih.
Cuma Meidina yang kebakaran jenggot, sementara aku, Redaya, Astrid, terpingkal-pingkal.
Meidina mendekapku; cemberut-memonyongkan-bibir (lucu dan menggemaskan)
"BabyBoy? Kok lo malah ketawa sih? Padahal si babi kaleng ini, ngedoain lo mati!" rajuk Meidina kecewa.
"itu tandanya selera humornya bagus... Mudah-mudahan umurnya panjang, amin. Beda ama lo Mei, rongsokan gak bisa becanda-" timpal Bona.
Meidina mau membalas, sudah keduluan bona yang meneruskan ucapanya.
"-tapi, karena lo punya pacar... Gua ikut seneng. Jadi... Gua kasih sepaket gratis buat lo."
"oh Bona, Bona, biarpun lo BD terpelit, tapi lo tetep yang terbaik." kata Meidina senang-walau masih cemberut.
"gua dapet dong, Bon? Masa lo kasih Mei-Mei doang?" protes Astrid; masih mengemudi.
"wah, wah, wah, nanti kalo lo punya pacar, gua kasih gratis Trid." sahut Bona, mengeluarkan makanan dari tasnya yang seperti kantong ajaib Doraemon.
"Sumpah lo? Kalo gua bawa pacar. Lo kasih gratis?" tanya Astrid memastikan.
"gua emang pelit, kalo lo berdua mau ngutang barang. Tapi gua gak pernah boong." grutu Bona; memakan bakpao daging.
Aneh? Bakpao yang keluar dari tas kecilnya tidak pernah habis?
Astrid menepi-menghentikan mobil, apa sudah sampai tujuan? Perkiraanku sudah terjawab dengan pertanyaan Meidina.
"Trid? Kenapa berhenti disini?"
Astrid tak menjawab, keluar dari mobil, menghampiri tukang bakso.
"wah, wah, tau aja si Astrid, gua laper!" riang Bona, masih mengunyah bakpao (entah bakpao yang keberapa?)
aku, menurunkan kaca, melihat tukang bakso, pria tua berjanggut. Daganganya tampak sudah habis.
"eh, neng, baksonya dah habis." ucap pria tua itu-mengira Astrid mau beli.
Terlihat ia begitu terpesona melihat Astrid (aku membayangkan, wajahku waktu pertama kali melihat Meidina?)
"bang, bisa ikut saya sebeentar aja." kata Astrid manja, aku tak menyalahkan si abang yang tampak; kakinya menjadi lemas.
Seperti orang ling-lung, si abang digandeng Astrid (serasa nyawanya melayang!)
"Nih, Bon, kenalin pacar gua!" ucap Astrid, tersenyum mesra.
"oh, oh, gua suka ini. Coba siapa yang menang... Gua apa lo? Kalo pacaran, ciuman dong."
Astrid mencium pipi si abang bakso (abang itu cuma terbengong-bengong)
"yah... Gua ama temen, juga sering cium pipi." ejek Bona, geli.
Tanpa ragu Astrid, mencium si abang bakso (si abang, megap-megap ayanya kambuh)
"OKE! Sialan, lo menang!" kagum Bona; mengutuk-ngutuk Astrid.
Astrid kembali masuk-menjalankan mobil, meninggalkan si abang bakso yang masih melongo (serasa ngimpi si abang)
"pacar lo gak di ajak Trid?" grutu Bona, kesal.
"udah gua putusin Bon" sahut Astrid datar.
Entah siapa yang mulai tertawa, hingga kami terus-terusan tertawa.
sungguh dahsyat... Heroin ini... Bisa membuat orang melakukan apa saja untuk mendapatkanya.
Kami masih geli, sampai mobil berhenti di lampu merah.
Merah... Kuning... Hijau...
"eh, eh, ADUUH! Gimana sih tuh mobil!" jerit Astrid, melihat mobil toyota menyerempet-motor.
"cewek lagi, yang keserempet!" geram Redaya, khawatir.
"gak parah kayanya? Tuh ceweknya dah bangun." kataku memperhatikan.
Suara klakson, omelan para pengendara yang menyalahkan mobil Toyota karena melawan lampu merah.
"udah, udah, cepet jalan! Ntar kalo ada polisi gawat. Tas gua isinya barang melulu nih!" kata Bona, tak sabar.
Berhasil keluar dari kejadian tadi, baru Bona tenang kembali (lanjut makan bakpao)
"Lah, gimana Bon, kalo barangnya lo bawa! Terus ngapain ke tenpat lo, sekarang?" protes Astrid.
"tadi kan lo ngasih gua seratus lima puluh! Gua tambahin biar jadi enam paket. Puas lo! Kali-kali nganterin gua pulang dong!"
"iya, iya, babi, lo cepet amat sewot sih? Katanya humoris?" sela Meidina.
"ampun lupa gua! Sewot sih kagak, tapi gua keki. Maaf akku khilaf. Semoga dosa-dosa kita di ampuni, amin." jawab Bona, merasa bersalah.
"lo pada abis gawe apa? Biasanya kan lo pada beli pahe yang jigoan!" tanya Bona, heran.
"gak gawe apa-apa! Lagi sepi orderan SPG. SPG mobil-musiman... Itu duit Rudi." jelas Meidina, rada mengantuk.
Aku tak tahu apa rasanya heroin? Yang kutahu, wangi rambut Meidina, sudah memabukkanku.
Mobil masuk ke parkiran; ini hotel? Bona tinggal disini?
"yuk, ah, masuk dulu. Mumpung gua lagi seneng nih, gua kasih testeran... Tapi cuma boleh di drag, gak boleh ada yang cucao di kamar gua." tegas Bona.
Ia bersusah-payah, untuk keluar dari mobil. Sampai Meidina membantunya.
"Babi, badan lo tuh besarnya udah gak wajar... Lo kurangin makan lo dong," kata Meidina, memberikan tas Bona.
"ohh, makasih Mei, perhatian banget sih lo."
"Bukan begitu, kalo lo mati kegendutan! Gua beli barang ama siapa coba?"
"sialan lo!"
semua tampak mewah, tak ada loby? Tak ada resepsionis? Hanya security yang mengangguk sopan, saat kami masuk tadi.
"Mei..." bisiku, memelankan langkah.
"kenapa?"
"ini hotel?"
"bukan-" ia geli, mata berbinar-binar.
"-ini kontrakan, boy. Cuma rada elit aja."
melewati tangga zig-zag (Bona mengeluh, mencaci setiap satu pijakan) sampai lantai dua.
Suasana benar-benar tenang, sepi. Semua dekorasi, serasa berada di hotel bintang lima.
Kami berdiri di depan pintu nomer:
’55’
menunggu Bona mengatur nafasnya, yang kembang-kempis.
"di dalem, ada Shinta temen sekamar gua. Dia gak suka orang make. Tapi lo pada cuek aja. Maklum kamar patungan." keluh Bona; merogoh tas (nyari kunci)
"emang berapa harga kamar disini?" tanyaku, mulai terkesan.
"tiga juta sebulan." sahut Bona, tanpa menengok.
"lumayan juga penghasilan lo, Bon?" sahutku, rada terkejut.
"well, kalo lo tau penghasilan gua jadi BD. Sebulan tiga juta? Gak seberapa... Dah yang cowok mundur dulu, gawat kalo temen gua lagi pake kancut doang, kan?" ucap Bona, mendorongku-Redaya-menjauh.
-------
sama sekali tak ada bedanya dengan kamar hotel; AC, TV, kulkas, remote multi fungsi disebelah kasur. Kamar mandi plus bathtub.
Kami duduk, membetuk lingkaran setan.
Barusan sudah giliranku yang ke dua.
Yah... Gak terlalu wow banget, cuma rada pusing dan mual.
"sory ya... Aku tutup hidung nih, gak kuat, aku baunya. Maaf yah." suara kekanak-kanakan, penuh daya tarik.
Aku tak tahu seperti apa orangnya? Karena rasa ingin tahuku, kebentur tatapan Meidina; yang siap mencongkel mataku kalau menengok ke arah suara itu.
"ya. Ya. Ya. Shinta sayangku... Manisku... Bawel amat sih." grutu Bona, menuang heroin ke almunium bekas rokok. Ia memberikan sedotan uang kertas pada Redaya.
"iih, Bona, kok marah sih? Aku kan dah minta maaf." jawab Shinta bindeng (seperti memencet hidung)
--------
"gimana? Apa rasanya?" tanya Meidina-senderan.
"biasa aja. Enak. Tapi biasa aja." sahutku ringan.
"berarti lo gak cocok ngedrag, Boerju. Tadi cuma pemanasan... Yang asyik, nanti pas sampe rumah." timpal Astrid, mengemudi.
Menurunkan kaca mobil, mengambil rokok.
Meidina mengambil rokok yang sudah di mulutku? Ia membakarnya-menghisap-mengembalikan ke mulutku.
Rambutnya tertiup angin, dan aku merasa menjadi orang paling beruntung.
"Boerju, lo liat yang namanya Shinta tadi?" tanya Redaya, mengambil rokok. (ada tangan mencengkram pahaku)
"gak." jawabku singkat. (cengkraman mengendur)
"wah. Sayang. Sayang. Banget! Asli seksi banget tuh cewek. Suaranya... Bikin gua mati suri." Redaya menggeleng, berusaha menghilangkan bayangan di kepalanya.
-------
kamar Redaya, penuh pernak-pernik Superman.
Action figure, poster, lambang Superman terukir pada dinding kayu.
Tiduran di kasur yang bisa di lipat menjadi sofa. Memperhatikan, Meidina, Astrid, menyiapkan peralatan tempur.
Enam paket heroin; dibentuk dalam kemasan sedotan plastik kecil-kecil.
Meidina menggunting salah satu sedotan, memasukan isinya kedalam insulin yang baru dibuka.
Ia menyedot air dari dalam gelas-memasuki insulin.
"udah, sini, boy... Gua yang jadi dokter, lo boleh nendang gua, ampe mental kalo lo mau..." kata Meidina, berusaha menenangkan.
"sa... Sakit ah... Gua takut Mei." jawabku ngeri; melihat jarum itu seperti mau membunuhku.
"gak, gak, sakit, percaya ama gua, sayang..." bujuk Meidina, menarikku.
Panggilanya, membuat keberanianku menjadi berkali-lipat.
Duduk disebelahnya, menunggu intruksi.
"tangan kanan? Tangan kiri?" tanyanya.
"kiri." sahutku, menelan ludah.
"take it easy... Tangan lo di kepal... Nah iya gitu! Tangan kanan lo, tahan di lengan sini... Ya begitu... Duh pinter banget sih. Nah terus lo teken... Lagi... Oke cukup" jelas Meidina, memberi intruksi.
Ia menatapku dalam.
Keteganganku menghilang karena ia mencium lekukan siku pada lengan (tak mungkin dokter mau melakukan itu)
sebelum menusukan jarum, sambil menusuk ia sambil meniup panjang di urat siku lenganku, setiap centi yang masuk.
(sekali lagi tak mungkin dokter melakukan itu?)
darah bercampur air kekuningan... Ia memompa... Sekali... Dua kali... Tiga... Empat... Lima...
Aku tak mengerti apa yang terjadi? Kepalaku berdentum-dentum... Ada rasa... Wangi... Bau... Yang menghantam hidungku...
Insul sudah terlepas, aku lari secepatnya, untung ada pintu samping di kamar Redaya.
Keluar kamar, segala sesuatu dalam perutku, keluar... Terus... Berulang-ulang.... Berjam-jam...
Sungguh rasa sengsara yang tak terkira.
Hampir seharian aku muntah-muntah.
Aku minum--langsung muntah.
Diajak makan di warteg yang sedia nasi lengko (sejenis nasi campur keredok)
tak tahu mau ditaruh mana mukaku? Karena warteg itu juga jadi sasaran muntahku!
Sekarang aku berbaring lemas, di kasur lipat Redaya.
Merasa kapok... Gak enak... Memuakan...
Hingga aku sampai di satu titik tenang.
Saat di asrama, sudah biasa melihat gassor (garuk processor)
anehnya, aku tak merasakan apa-apa melihat Meidina lagi gasboard? (garuk sekitar motherboard)
seolah hal seperti itu, sudah biasa.
perlahan tapi pasti--sensasi--berbahaya.
Rasa yang tak mempunyai rumus.
Tak bisa kulukiskan...
Cuma satu kata, yang bisa menggambarkan, apa yang kurasakan--:
’PEDAW’
-------
bersambung...
BAB 27-2:
FIRST JACKPOT
SUMBER:
masternagato.com
*******
"ini dah sampe Jaya Bening, pak?" tanyaku; melihat jalan dari kaca mobil.
"bentar lagi sampai mas, ini udah di Jaya Bening..." sahut supir.
Taksi berhenti dibawah naungan ranting beringim tua.
Membayar taksi, turun dengan perasaan yang tak karuan.
Celana gomrong parasit-kaos D&F.
Berharap penampilanku mengesankan Meidina.
Selama seminggu menunggu tibanya hari ini; kenapa jadi nervous gak karuan ya.
Setiap hari, aku telpon Redaya; ngobrol ngalor-ngidul kadang sama Redaya, kadang Astrid, dan tentu saja tujuanku sebenarnya. Mengobrol dengan Meidina.
Mengorek kuping, serasa ada serangga masuk?
Pohon beringin tua terlihat lemah: daun-daun kering-berserakan tak pernah disapu?
Berjalan, sedikit menarik celana gombrong sialan yang menyapu jalan. Suara gemerisik daun terinjak.
Mengernyit, mata menjelajahi sekeliling: rumah besar-tak-terurus. pagar antik dipenuhi akar-akar-mati.
Kayu jati tampak tetap kokoh, bagian besi-berkarat-keropos.
Di sebelah kiri semak liar yang tingginya hampir menyamai pagar.
Gimana cara manggilnya? Gak ada bel.
Serem amat nih rumah? Padahal kalau terurus? Nih rumah pasti keren banget!
Jangan-jangan ada setanya lagi?
Membunggkuk mengintip di celah-celah pagar.
"BAAAAA!"
kaget-meloncat-kebelakang... Rasa kagetku berubah sewot seketika; melihat Redaya cengengesan membuka pagar.
"Takut nih yee..." ejeknya, menyenggolku seperti teman lama.
"Takut mah kagak... Bacot lo bikin gue kaget-" sahutku menggerundel.
"-wah, wah, ternyata muke lo, kalo tanpa perban lumayan... Juga..."
"Yang bener? Lumayan apa nih?"
"lumayan, kalo gue kiloin... Barang kali lo lebih mahal dari koran bekas... Tapi jangan terlalu berharap."
"SIALAN lo boros poeju...! Dah masuk yuk." balasnya keki setengah geli.
Selang usang-berantakan, kepala kran copot, di sebelah kananku saat pertama masuk.
Perkarangan tak berbentuk; bisa dibilang perkarangan sampah.
Tempat parkir yang besar, terbayang kalau tempat itu pernah berjejer beberapa mobil? Walau sekarang cuma ada Hiunday silver.
Langkahku terhenti, melihat Redaya terdiam... Ia menyeringai jahil seperti biasa.
Aku menanti... Menunggu-sambil melihat kolam berpanel silang yang seharusnya terdapat air mancur.
Kini tampak mengering.
Aku melihatnya, masih cengengesan, kesabaranku habis.
"Ngape sih lo? Gue gak liat ada yang lucu?" tanyaku merengut: mengambil rokok.
Ia melihat sekeliling, memastikan tak ada orang lain? (mirip maling ayam)
"gua kalo ganti baju sering-sering... Ama kk gua di omelin," katanya memelankan suara. Gila kali nih orang?
"Terus?" tanyaku berbisik-ikut-ikutan-gila.
"yah... Karena udah gak ada pembokat... Jadi kk gua marah... Kalo gua kebanyakan ganti baju... Maklum kan kk gua yang nyuci."
"terus..." sahutku bodoh; tak mengerti arah ucapanya.
"pas tau lo mau dateng... Kk gua dah lima kali gonta-ganti baju." ucapnya dengan nada puas.
"bisa aja lo man... Cewek kan emang gitu? Suka gonta-ganti baju... Gak ada hubunganya ama gue." kataku berbisik makin perlahan.
Kebahagiaan menghantamku layaknya durian runtuh.
Ia menatapku, seolah aku kucing bertelur.
"gua tau kk gua man... Cewek gak bakal repot-repot dandan, kalo cuma nemuin temen... Kayanya ada yang salah ama ketebalan tengkorak kepala lo. Sangking ketebalan jadi otak lo sisa segini." sahutnya sewot; mengangkat tangan: menempelkan telunjuk dan jempol hampir bersentuhan.
"bah.. Buangke lo-" memukul bahunya
"-ngomong-ngomong... Yang kita omongin kk lo yang mane?" tanyaku penasaran.
"...tadinya, mau gua kasih tau. Tapi liat tampang lo yang ngeselin, jadi males gua!"
melanjutkan melangkah, masuk ke teras: lantai kayu berpola garis-garis vertikal.
Aku duduk deprok di lantai, menikmati dinginya lantai kayu.
Redaya membuka pintu kayu besar, bergagang kuning emas memudar.
"lah malah deprok disitu? Aneh ya... Tempat lo... Biasa di tempatin kk gua," katanya cengengesan.
"nongkrong disini juga enak, kok." balasku, membakar rokok.
"Hai, Boy... Gak nyasar kan?" tanya Meidina; menyibakkan rambut panjangnya-duduk bersila diseblahku dengan anggun.
Sama-sama menyender dinding kayu, bersekat ada celah-celahnya (bisa buang abu rokok lewat celah)
sebenarnya... Aku tergganggu dengan panggilanya Boy...?
Apa ia pikir, aku ini semacam... SuperBoy...? AstroBoy...? KungfuBoy...? GoldenBoy...?Tapi kemarahanku, menjadi ice cream mencair dibawah senyumanya sepanas matahari.
Kaos dengan model yang sama (memperlihatkan leher-tulang selangkanya dengan jelas)
alih-alih memperhatikan paha mulus, berbalut celana pendek. Mataku tak bisa berpindah dari tulang selangka sialan.
"Nyasar? Sepanjang jalan Jaya Bening ini.. Rumah kayu yang didepanya ada pohon beringin, cuma ini gue rasa... Kalo sampe nyasar, kebangetan tuh supir taksi." jelasku, berusaha menahan debaran-debaran yang tak jelas asalnya.
Meidina mengambil rokok mild, yang tergeletak dihadapanku.
"nih, rokok lo..." mengeluarkan filter-memberikanya.
"...lo beli rokok... Buat gua..." kata Meidina-perlahan-menghanyutkan.
"pas di warung... Beli rokok... Gue inget lo... Mei..." tenggorokanku serasa ada bola basket nyangkut. Menyebut namanya, membutuhkan seluruh keberanianku.
"itu... Manis sekali... Thanks." sahut Meidina terlihat senang dan bingung dalam saat yang bersamaan.
"Lo inget kk gua? Terus lo inget gua gak?" celetuk Redaya geli.
"harusnya gue inget... Beli racun tikus."
"Reda, mending lo bikinin minum gih, lo mau minum apa? Teh? Kopi? Sirup?"
"apa aja boleh... Asal jangan kopi!" jawabku cepat.
Redaya bersungut-sungut masuk ke dalam. Meidina membuka plastik filter-mengambil-menaruh rokok di bibirnya.
Mendekatkan tanganku ke bibirnya; bermaksud menyalakan rokok. Sayangnya tangan sialan bikin malu (bergetar hebat)
"kenapa boy... Sampe gemeter gitu? Abis ngubas ya?" tanyanya, memegang tanganku yang gemetar.
aku tak perlu bertanya darimana ia tahu, aku makai shabu? Pasti dari si monyet Redaya!
"gak... Gue gak abis ngubas."
"Terus lo make apa? Sampe gemeteran gini?"
"itu... Itu... Karena lo... Mei..." jawabku sepelan mungkin (berharap ia tak mendengar)
meidina memegang daguku-menggeser-ke arah-wajahnya.
"kemaren, gua nyium pipi lo... Alesanya dah nolongin Reda..."
ia menciumku, kali ini di bibir.
Bibir kami menempel-tanpa gerakan? Mungkin ia mau-aku-melakukan-serangan-duluan... Tapi, sayangnya, aku terlalu terkejut. Tersambar petir.... Tersetrum tegangan tinggi... Terlalu kaget-sampai lupa untuk bernafas.
"sekarang... Gua gak punya alesan, Boy... Selain... Gua. Suka. Lo. Boy..." ucapnya dalam, setenang sungai penuh buaya.
"ehem.. Ehem..."
"ohok.. Ohok..."
suara Redaya, Astrid, saling bersautan.
Tapi, aku tak peduli, karena otakku baru mulai mengerti apa yang terjadi barusan. Setelah loading yang cukup lama.
Aku merengkuhnya-dalam-pelukan-memberi ciuman sedalam lautan, lidah saling berkelahi.
-------
hiunday silver terparkir di depan apotik.
Aku, Medina, di jok belakang. Redaya di depan. Kami menunggu Astrid mencari temannya yang bandar, sekalian membeli insulin.
(integ/insulin/suntikan)
"lo, yakin boerju... Mau jajal putaw?" tanya Meidina, menyender di bahuku.
"yakin? Emang ngape? Lo dah nanya tiga kali, Mei..." sahutku tak fokus, memuaskan mata tanpa malu memperhatikan tulang selangkanya.
Meidina menegakkan badan, tampak serius:
"lo liat rumah gua. Dulu gak kaya gitu... Ada beberapa pembokat, gua, Astrid, punya kendaraan masing-masing-" ia merenung sedih.
"-semua... Abis... Ludes... School berantakan.... Kuliah juga gak jelas. Well, gara-gara putaw ini. Makanya gua nanya. Lo. Yakin?"
makin dilarang, makin berbahaya, makin, gelap, makin ingin kuhantam semuanya!
"yeah, man! Bisa kecanduan lo." timpal Redaya suram.
"tenang aje... Gue mau tau apa rasanye? Tapi... Yang gue takutin... Gue takut suntikan tau!" ucapku ngeri; bayangin jarum.
"kaya anak kecil aja, takut suntikan." geli Meidina, kembali santai-rebahan di bahuku.
"serius, gue mei. Waktu di sunat... Gue inget, tuh dokter, gue tendang ampe mental!"
"BUSET! Serius lo man? Terus gimana processor lo? Jadi di sunat?" tanya Redaya, memutar kepalanya, menatapku. Ia tampak kagum campur geli.
"yah..." ucapku ragu.
"terus gimana?" bujuk Meidina, menghanyutkan.
"mungkin tuh dokter, sakit hati. Hasilnya... Processor gue. Kaya pastel salah cetak!"
"sumpah lo? Oh.... Kasian...." tanya Redaya sedih; seperti pelayat kematian yang datang karena pembagian besek.
"iya! Puas lo!" jawabku sewot.
"gua jadi penasaran Boy, buat lo kaya pastel salah cetak? Mungkin buat gua, enggak! Gua harus ngerasain pastel salah cetak ini... Sebelum terjual dipasaran." kata Meidina, menggoda; matanya menari-nari nakal.
Aku tertawa, walaupun ada bagian tubuh menegang-membayangkan ucapanya.
"Nyokap lo Mei... Nanti marah gak gue nginep?" kataku, khawatir.
"sebelum lo dateng, nyokap gue dah nanyain lo terus! Lo kan nolongin Reda. Gak bakal marah nyokap gua... Gua jamin, Boy. Tanya aja tuh, Reda."
"yoi man, tadi kan lo udah ketemu nyokap gua. Seumur hidup gua, baru tadi denger nyokap bilang... Anak baik, anak baik. Udah jelas, kan? Nyokap gua, suka ama lo!"
rada tenang, suka gak enak sendiri, kalo maen sampai nginep.
Astrid kembali bersama temanya. Bona: cewek rambut kriting-mie-ayam. Berbadan sehat (cukup berlebihan untuk dipotong satu RT)
Bona orangnya lucu, rada-rada bocor halus.
Astrid menjalankan mobil, Bona duduk disebelah kanan Meidina.
"Babi, kenalin nih, pacar gue, Rudi. Boy, kenalin ini Bona temen SMA gua."
aku, Bona, sama-sama terkejut. Jelas aku terkejut bahagia oleh pernyataanya. Entahlah kalau si Bona?
Bona membetulkan duduknya, untuk berbuat itu ia tampak kecapekan-ngos-ngosan. Ajaib ia tak mati kecapean saat berjalan.
"Seiingat gua Mei. SMA aja lo gak pernah ngenalin pacar? Jelas lo gak laku... Yah, Rudi... Semoga lo tenang. Dosa-dosa lo di ampuni. Pahala lo diterima, amin" kata Bona; mengangguk bijaksana. Setiap kata amin yang bona ucapkan, ia membasuh mukanya dengan ke dua tangan.
"sialan lo! Babi kaleng... Seolah-olah Rudi bakal kena musibah, pacaran ama gua!" sembur Meidina geli; memukul Bona.
"aduh! Yah gua gak bilang dia bakal kena musibah? Gua cuma doain... Semoga arwahnya tenang, amin." ucap Bona, menatapku sedih.
Cuma Meidina yang kebakaran jenggot, sementara aku, Redaya, Astrid, terpingkal-pingkal.
Meidina mendekapku; cemberut-memonyongkan-bibir (lucu dan menggemaskan)
"BabyBoy? Kok lo malah ketawa sih? Padahal si babi kaleng ini, ngedoain lo mati!" rajuk Meidina kecewa.
"itu tandanya selera humornya bagus... Mudah-mudahan umurnya panjang, amin. Beda ama lo Mei, rongsokan gak bisa becanda-" timpal Bona.
Meidina mau membalas, sudah keduluan bona yang meneruskan ucapanya.
"-tapi, karena lo punya pacar... Gua ikut seneng. Jadi... Gua kasih sepaket gratis buat lo."
"oh Bona, Bona, biarpun lo BD terpelit, tapi lo tetep yang terbaik." kata Meidina senang-walau masih cemberut.
"gua dapet dong, Bon? Masa lo kasih Mei-Mei doang?" protes Astrid; masih mengemudi.
"wah, wah, wah, nanti kalo lo punya pacar, gua kasih gratis Trid." sahut Bona, mengeluarkan makanan dari tasnya yang seperti kantong ajaib Doraemon.
"Sumpah lo? Kalo gua bawa pacar. Lo kasih gratis?" tanya Astrid memastikan.
"gua emang pelit, kalo lo berdua mau ngutang barang. Tapi gua gak pernah boong." grutu Bona; memakan bakpao daging.
Aneh? Bakpao yang keluar dari tas kecilnya tidak pernah habis?
Astrid menepi-menghentikan mobil, apa sudah sampai tujuan? Perkiraanku sudah terjawab dengan pertanyaan Meidina.
"Trid? Kenapa berhenti disini?"
Astrid tak menjawab, keluar dari mobil, menghampiri tukang bakso.
"wah, wah, tau aja si Astrid, gua laper!" riang Bona, masih mengunyah bakpao (entah bakpao yang keberapa?)
aku, menurunkan kaca, melihat tukang bakso, pria tua berjanggut. Daganganya tampak sudah habis.
"eh, neng, baksonya dah habis." ucap pria tua itu-mengira Astrid mau beli.
Terlihat ia begitu terpesona melihat Astrid (aku membayangkan, wajahku waktu pertama kali melihat Meidina?)
"bang, bisa ikut saya sebeentar aja." kata Astrid manja, aku tak menyalahkan si abang yang tampak; kakinya menjadi lemas.
Seperti orang ling-lung, si abang digandeng Astrid (serasa nyawanya melayang!)
"Nih, Bon, kenalin pacar gua!" ucap Astrid, tersenyum mesra.
"oh, oh, gua suka ini. Coba siapa yang menang... Gua apa lo? Kalo pacaran, ciuman dong."
Astrid mencium pipi si abang bakso (abang itu cuma terbengong-bengong)
"yah... Gua ama temen, juga sering cium pipi." ejek Bona, geli.
Tanpa ragu Astrid, mencium si abang bakso (si abang, megap-megap ayanya kambuh)
"OKE! Sialan, lo menang!" kagum Bona; mengutuk-ngutuk Astrid.
Astrid kembali masuk-menjalankan mobil, meninggalkan si abang bakso yang masih melongo (serasa ngimpi si abang)
"pacar lo gak di ajak Trid?" grutu Bona, kesal.
"udah gua putusin Bon" sahut Astrid datar.
Entah siapa yang mulai tertawa, hingga kami terus-terusan tertawa.
sungguh dahsyat... Heroin ini... Bisa membuat orang melakukan apa saja untuk mendapatkanya.
Kami masih geli, sampai mobil berhenti di lampu merah.
Merah... Kuning... Hijau...
"eh, eh, ADUUH! Gimana sih tuh mobil!" jerit Astrid, melihat mobil toyota menyerempet-motor.
"cewek lagi, yang keserempet!" geram Redaya, khawatir.
"gak parah kayanya? Tuh ceweknya dah bangun." kataku memperhatikan.
Suara klakson, omelan para pengendara yang menyalahkan mobil Toyota karena melawan lampu merah.
"udah, udah, cepet jalan! Ntar kalo ada polisi gawat. Tas gua isinya barang melulu nih!" kata Bona, tak sabar.
Berhasil keluar dari kejadian tadi, baru Bona tenang kembali (lanjut makan bakpao)
"Lah, gimana Bon, kalo barangnya lo bawa! Terus ngapain ke tenpat lo, sekarang?" protes Astrid.
"tadi kan lo ngasih gua seratus lima puluh! Gua tambahin biar jadi enam paket. Puas lo! Kali-kali nganterin gua pulang dong!"
"iya, iya, babi, lo cepet amat sewot sih? Katanya humoris?" sela Meidina.
"ampun lupa gua! Sewot sih kagak, tapi gua keki. Maaf akku khilaf. Semoga dosa-dosa kita di ampuni, amin." jawab Bona, merasa bersalah.
"lo pada abis gawe apa? Biasanya kan lo pada beli pahe yang jigoan!" tanya Bona, heran.
"gak gawe apa-apa! Lagi sepi orderan SPG. SPG mobil-musiman... Itu duit Rudi." jelas Meidina, rada mengantuk.
Aku tak tahu apa rasanya heroin? Yang kutahu, wangi rambut Meidina, sudah memabukkanku.
Mobil masuk ke parkiran; ini hotel? Bona tinggal disini?
"yuk, ah, masuk dulu. Mumpung gua lagi seneng nih, gua kasih testeran... Tapi cuma boleh di drag, gak boleh ada yang cucao di kamar gua." tegas Bona.
Ia bersusah-payah, untuk keluar dari mobil. Sampai Meidina membantunya.
"Babi, badan lo tuh besarnya udah gak wajar... Lo kurangin makan lo dong," kata Meidina, memberikan tas Bona.
"ohh, makasih Mei, perhatian banget sih lo."
"Bukan begitu, kalo lo mati kegendutan! Gua beli barang ama siapa coba?"
"sialan lo!"
semua tampak mewah, tak ada loby? Tak ada resepsionis? Hanya security yang mengangguk sopan, saat kami masuk tadi.
"Mei..." bisiku, memelankan langkah.
"kenapa?"
"ini hotel?"
"bukan-" ia geli, mata berbinar-binar.
"-ini kontrakan, boy. Cuma rada elit aja."
melewati tangga zig-zag (Bona mengeluh, mencaci setiap satu pijakan) sampai lantai dua.
Suasana benar-benar tenang, sepi. Semua dekorasi, serasa berada di hotel bintang lima.
Kami berdiri di depan pintu nomer:
’55’
menunggu Bona mengatur nafasnya, yang kembang-kempis.
"di dalem, ada Shinta temen sekamar gua. Dia gak suka orang make. Tapi lo pada cuek aja. Maklum kamar patungan." keluh Bona; merogoh tas (nyari kunci)
"emang berapa harga kamar disini?" tanyaku, mulai terkesan.
"tiga juta sebulan." sahut Bona, tanpa menengok.
"lumayan juga penghasilan lo, Bon?" sahutku, rada terkejut.
"well, kalo lo tau penghasilan gua jadi BD. Sebulan tiga juta? Gak seberapa... Dah yang cowok mundur dulu, gawat kalo temen gua lagi pake kancut doang, kan?" ucap Bona, mendorongku-Redaya-menjauh.
-------
sama sekali tak ada bedanya dengan kamar hotel; AC, TV, kulkas, remote multi fungsi disebelah kasur. Kamar mandi plus bathtub.
Kami duduk, membetuk lingkaran setan.
Barusan sudah giliranku yang ke dua.
Yah... Gak terlalu wow banget, cuma rada pusing dan mual.
"sory ya... Aku tutup hidung nih, gak kuat, aku baunya. Maaf yah." suara kekanak-kanakan, penuh daya tarik.
Aku tak tahu seperti apa orangnya? Karena rasa ingin tahuku, kebentur tatapan Meidina; yang siap mencongkel mataku kalau menengok ke arah suara itu.
"ya. Ya. Ya. Shinta sayangku... Manisku... Bawel amat sih." grutu Bona, menuang heroin ke almunium bekas rokok. Ia memberikan sedotan uang kertas pada Redaya.
"iih, Bona, kok marah sih? Aku kan dah minta maaf." jawab Shinta bindeng (seperti memencet hidung)
--------
"gimana? Apa rasanya?" tanya Meidina-senderan.
"biasa aja. Enak. Tapi biasa aja." sahutku ringan.
"berarti lo gak cocok ngedrag, Boerju. Tadi cuma pemanasan... Yang asyik, nanti pas sampe rumah." timpal Astrid, mengemudi.
Menurunkan kaca mobil, mengambil rokok.
Meidina mengambil rokok yang sudah di mulutku? Ia membakarnya-menghisap-mengembalikan ke mulutku.
Rambutnya tertiup angin, dan aku merasa menjadi orang paling beruntung.
"Boerju, lo liat yang namanya Shinta tadi?" tanya Redaya, mengambil rokok. (ada tangan mencengkram pahaku)
"gak." jawabku singkat. (cengkraman mengendur)
"wah. Sayang. Sayang. Banget! Asli seksi banget tuh cewek. Suaranya... Bikin gua mati suri." Redaya menggeleng, berusaha menghilangkan bayangan di kepalanya.
-------
kamar Redaya, penuh pernak-pernik Superman.
Action figure, poster, lambang Superman terukir pada dinding kayu.
Tiduran di kasur yang bisa di lipat menjadi sofa. Memperhatikan, Meidina, Astrid, menyiapkan peralatan tempur.
Enam paket heroin; dibentuk dalam kemasan sedotan plastik kecil-kecil.
Meidina menggunting salah satu sedotan, memasukan isinya kedalam insulin yang baru dibuka.
Ia menyedot air dari dalam gelas-memasuki insulin.
"udah, sini, boy... Gua yang jadi dokter, lo boleh nendang gua, ampe mental kalo lo mau..." kata Meidina, berusaha menenangkan.
"sa... Sakit ah... Gua takut Mei." jawabku ngeri; melihat jarum itu seperti mau membunuhku.
"gak, gak, sakit, percaya ama gua, sayang..." bujuk Meidina, menarikku.
Panggilanya, membuat keberanianku menjadi berkali-lipat.
Duduk disebelahnya, menunggu intruksi.
"tangan kanan? Tangan kiri?" tanyanya.
"kiri." sahutku, menelan ludah.
"take it easy... Tangan lo di kepal... Nah iya gitu! Tangan kanan lo, tahan di lengan sini... Ya begitu... Duh pinter banget sih. Nah terus lo teken... Lagi... Oke cukup" jelas Meidina, memberi intruksi.
Ia menatapku dalam.
Keteganganku menghilang karena ia mencium lekukan siku pada lengan (tak mungkin dokter mau melakukan itu)
sebelum menusukan jarum, sambil menusuk ia sambil meniup panjang di urat siku lenganku, setiap centi yang masuk.
(sekali lagi tak mungkin dokter melakukan itu?)
darah bercampur air kekuningan... Ia memompa... Sekali... Dua kali... Tiga... Empat... Lima...
Aku tak mengerti apa yang terjadi? Kepalaku berdentum-dentum... Ada rasa... Wangi... Bau... Yang menghantam hidungku...
Insul sudah terlepas, aku lari secepatnya, untung ada pintu samping di kamar Redaya.
Keluar kamar, segala sesuatu dalam perutku, keluar... Terus... Berulang-ulang.... Berjam-jam...
Sungguh rasa sengsara yang tak terkira.
Hampir seharian aku muntah-muntah.
Aku minum--langsung muntah.
Diajak makan di warteg yang sedia nasi lengko (sejenis nasi campur keredok)
tak tahu mau ditaruh mana mukaku? Karena warteg itu juga jadi sasaran muntahku!
Sekarang aku berbaring lemas, di kasur lipat Redaya.
Merasa kapok... Gak enak... Memuakan...
Hingga aku sampai di satu titik tenang.
Saat di asrama, sudah biasa melihat gassor (garuk processor)
anehnya, aku tak merasakan apa-apa melihat Meidina lagi gasboard? (garuk sekitar motherboard)
seolah hal seperti itu, sudah biasa.
perlahan tapi pasti--sensasi--berbahaya.
Rasa yang tak mempunyai rumus.
Tak bisa kulukiskan...
Cuma satu kata, yang bisa menggambarkan, apa yang kurasakan--:
’PEDAW’
-------
bersambung...
Diubah oleh masternagato 16-05-2015 09:00
0