Kaskus

Story

masternagatoAvatar border
TS
masternagato
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS (POSITIF HIV AIDS)

Bissmillah.
Assalamualaikum.

Nb: kontak bbm berubah: 5AB07E99
Wa:08128886670
Line:
@masternagato

mas ter nagato proudly Present
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’

DISCLAIMER

1. sangat dianjurkan mencopy dan memperbanyak. Share kepada dunia tulisan busuk ini! (kayanya lebay banget sih?)
Ijin atau tanpa seijin dari penulis (buat ane sah-sah aje)
pelanggaran hak cipta akan dikenakan sanksi sesuai dengan hati nurani lau sendiri.
.
2. Kisah dalam cerita ini adalah fiksi belaka kalau ada kesamaan nama, tempat atau kejadian itu cuma kebetulan semata.

Selamat membaca tulisan busuk ini!

*******

Petunjuk arah baca HD
Kalo membaca tanda:
*******
Berarti pergantian waktu, bisa tempat, tokoh.
Atau bisa tokoh sama waktu dan tempat berbeda?
Bisa aja cuma di alam mimpi!
Kalo membaca tanda:
-------
Ini menandakan hari yang sama.
Bisa berbbeda waktu, berbeda tokoh, berbeda tempat, tapi tetap dihari yang sama.
Bisa juga menunjukan kelanjutan alur cerita!
*******

soudtrack: Eminem Not Afraid

Langsung update add line:
@masternagato
Pin bb: 5AB07E99

WhatsappBrother-sister
Jangan lupa
emoticon-army
Bikin
emoticon-Bookmark (S)
sekalian
emoticon-Rate 5 Star
emoticon-Malu
Atas saran berbagai pihak.
emoticon-army:
Yang mau memberikan donasi seikhlasnya.

emoticon-Malu
Untuk terwujudnya buku ini
Rekening bank btpn
Kode bank 213

Norek:
90010415858
Rudi hermawan

emoticon-Malu

sedikit sinobsis:
bersetting di tahun 2003.
Rudi kelas 2 SMA.
Masuk ke blackworl, drugs user tingkat dewa.
Menjadi drugs dealer.
Hidup penuh bling-bling,wanita.
Teman-teman yang mengelilingi karena uang.
Dengan time skip.
Rudi yang di tahun 2014.
Sudah berkeluarga,punya anak.
Hidup dengan kemiskinan,tanpa penglihatan,positif HIV?
*******
’HIV AIDS salah satu penyakit paling menakutkan.’
’penyakit kutukan’
’yang terkena tak tertolong!’
’sampah masyarakat’
’jauhi orang-orang sampah itu’
’tak ada obatnya!’
’pasti mati’
dan masih banyak lagi label stigma yang menempel!
Yang berpendapat sama dengan stigma di atas!
Monggo jangan di teruskan membaca.
Why..?

Guest what?
Yang nulis HIV+
emoticon-Thinking
jadi harus di jauhi.. Nanti ketularan.
emoticon-Hammer2

emoticon-Ngakak (S)
warning 16+ only.
emoticon-army
Minimal SMA kelas satu boleh lanjut baca, wajib malah!
emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)

"Ini nyata gan?"
"terserah.! Anggap aja fiksi"
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
AIDS (Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome)
ane nulis ini biar bro-sis mikir sejuta kali!
Untuk tenggelam di blackworl,sex,drugs.
Dan buat yang sudah terkena!
Bangun! Bangkit! Kembalikan warna hidup lo sebelumnya.
Gak ada yang mau bertemen ama lo?
Minder?
Sekeliling lo penuh kepalsuan?
Takut? Trauma?
Sumpah demi Allah

Ane siap kapan aja jadi best friend forever!
Melewati semua cobaan yang ane anggap adalah pujian dari Allah
ane bukan siapa-siapa.
Cuma orang buta pengangguran kelas berat.
Bermodalkan laptop jadul dengan pembaca layar.
Dengan tetesan darah, dengan gerimis air mata.
Dengan sepenuh hati..
Berharap kejelekan ane jadi kebaikan lo.
Kesedihan ane menjadi kebahagiaan buat lo.
Salah langkahnya ane menjadi jalan buat lo.
Penyakit ane menjadi kesehatan buat lo.
"kenapa pemeran utamanya Rudi sama ama agan?"
"habis gak ada yang lebih bagus dari Rudi, yang lebih mahal banyak!"
emoticon-Hammer2
harapan utama ane. Menurunkan tingkat HIV AIDS walaupun cuma beberapa %
setidaknya menghambat kecepatan tingkat HIV AIDS yang menggila setiap detiknya.
Harapan ke dua.
Tentu saja tulisan ini jadi sumber penghasilan ane!
Gak ada yang bisa ane lakuin selain nulis!
Setiap hari bini kerja nyari nafkah!
Bayangin perasaan ane yang cuma enak-enakan dirumah!
Asli mending tusuk ane gan.. Daripada ane ngerasain ini setiap hari.
emoticon-Frown
emoticon-Mewek
stop!
Ane gak minta di kasihani.
Tapi ane berharap buat agan-sista bantuin nerbitin tulisan ane ini.
Kendala ane di modal gak ada!
Boro-boro buat publish keseharian ane juga susah.
Ngiklanin rumah buat modal di fjb.
Ampe capek nyundulnya belum ketemu jodohnya tuh rumah.
Entah kenapa ane yakin aja kalo ini jadi novel, pasti laris.
emoticon-Hammer2
impianya sih kalo jadi novel.
Taruh di sekolahan, yayasan narkoba atau HIV AIDS.
Taruh dirumah sakit tempat HIV AIDS.
Kalo bisa di toko buku apalagi.
Yah cuma harapan.
Mudah-mudah dikabulkan allah, aamiin.

dan agan sista ada yang tertarik.
Apalagi dilirik penerbit.
"kenapa gak langsung ngirim ke penerbit gan?"
"karena tulisan ane,ane ngerasa berantakan perlu di poles.. Perlu ada yang ngeditorin.
Penerbit mana mau nerima tulisan mentah ane!"
emoticon-Mewek

"emang tulisanya udah tamat gan?"
"boro-boro,. Males-malesan nulisnya. Kalo ada yang nerbitin tuh! Baru semangat"
sebetulnya sih tokoh utamanya bukan cuma Rudi.
Banyak tokoh utama lainya.
Termasuk pembaca ane sebut tokoh utama juga disini.


cerita ini agan-sista
Bakal nemuin 3type orang HIV
emoticon-army

Ini pakai pengamatan ane sendiri dan bahasa ane seadanya:
Jadi gak bakal ketemu kalo search di google.
emoticon-Ngakak (S)

emoticon-Hammer2

1: saver: orang yang terkena HIV dan sadar akan HIVnya!
2. Invite: orang terkena HIV tapi dendam!
Dan membahayakan orang lain.
Menyebarkan HIV ke orang lain!
Biasanya faktornya adalah type invite ini terkena HIV tapi gak terima!
Masih bisa disadarkan type yang ini.
3. Zero: orang ini terkena HIV tapi ia gak tahu!
Ini yang paling berbahaya!
Ia gak tahu.
Yang terkena gak tahu!
Semua gak tahu.
Tahu-tahu pada kena HIV.

Sedikit saran dan percobaan buat agan-sista.
Supaya lebih bersyukur atas nikmat Allah
Kalo agan-sista di rumah sendiri.
Terserah mau malem boleh, siang juga boleh.
Coba lakuin kegiatan sambil di tutup pake apa aja matanya.
Sejam aja coba rasain.abis itu agan-sista renungin.
Seberapa nikmat Allah yang diberikan.
Banyak yang nyoba saran ane ini.
Nanti pandangan agan-sista berubah, setelah melakukan percobaan di atas.
emoticon-Shakehand2

Index setelah pariwara berikut ini:yang mau bergabung di FHD (fans hati malaikat darah iblis)
Invite pin: 5AB07E99

Mau memberikan donasi silakan
Rekening btpn.
Kode bank 213
Norek:
90010415858
Atas nama Rudi hermawan

Call/sms/whatsapp:
08128886670
Update add line:
@masternagato

selamat membaca
emoticon-Selamat
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
’BLACK WORLD’
Mau membeli buku ini?

Mau memberikan donasi untuk membantu tulisan ini
:thubup
Menjadi novel
emoticon-Malu

emoticon-Malu
"apa yang didapetin kalo ngasih donasi gan?"
"gak ada! Ente dapet ucapan terimakasih sedalamnya dari lubuk hati ane!"
emoticon-Mewek
Mudah-mudahan dengan donasi gotong royong seikhlasnya.

Bisa menerbitkan tulisan busuk ane.
aamiin..
Bisa di bilang ini sumbangan lebih tepatnya kale
emoticon-Malu
Rekening btpn.
Norek:
90010415858
Rudi hermawan.


DAFTAR ISI:

Update langsung ad line:
@masternagato

BAB1: KABUKI

BAB2 BAGIAN1: PENGANTIN KOPLAK

BAB2 BAGIAN2: PENGANTIN KOPLAK



BAB SIDE STORY: PENCARIAN SAHABAT 12 TAHUN

BAB3 BAGIAN1: TULISAN BERBICARA

BAB3 BAGIAN2: TULISAN BERBICARA

BAB4 BAGIAN1: OTAK MAFIA
BAB4 BAGIAN2: OTAK MAFIA

BAB5 BAGIAN1: PRODUK GAGAL

BAB5 BAGIAN2: PRODUK GAGAL

BAB6: SAVE HOUSE



BAB7: OTAK ATIK



BAB8: TEKAD BLENDER



BAB9 BAGIAN1: EMOTION



BAB9 BAGIAN2: EMOTION


BAB WARNING: WAJIB BACA


BAB WARNING: WAJIB BACA



BAB10: LATIHAN MEMBUNUH

BAB11 BAGIAN1: UNDER THE INFLUENCE



BAB11 BAGIAN2: UNDER THE INFLUENCE



BAB : warning2: galaw gak penting!



BAB12 BAGIAN1: CANDIED MANGO MISERABLE



BAB12 BAGIAN2: CANDIED MANGO MISERABLE



BAB13: NGENES AWARDS



BAB14: TULISANKU ATAU KELUARGAKU

BAB15 BAGIAN1: HEY MAN



BAB15 BAGIAN2: HEY MAN



update FHD16: koberlaw



BAB16 BAGIAN1: RIP



BAB16 BAGIAN2: RIP




BAB WARNING3: PETUNJUK ARAH



BAB17 BAGIAN1: LOVE NOTES FOR MY DRUGS



BAB17 BAGIAN2: LOVE NOTES FOR MY DRUGS



BAB18 BAGIAN1: POCONG VS KUNTILANAK



BAB18 BAGIAN2: POCONG VS KUNTILANAK



BAB19 BAGIAN1: FROZEN HEART




BAB19 BAGIAN2: FROZEN HEART



REHAT



BAB WARNING4: FHD LEGOWO


BAB20: MENGECOH HITUNGAN LANGIT



BAB21 BAGIAN1: BIG MOM



BAB21 BAGIAN2: BIG MOM



BAB22: SATU TITIK X SEPULUH=SEPULUH



BAB23 BAGIAN1: FOUR GODFATHER




BAB23 BAGIAN2: FOUR GODFATHER



BAB24 BAGIAN1: ROLLER HEARTS




BAB24 BAGIAN2: ROLLER HEARTS



BAB25: VIRGIN SEGAW


BAB26 BAGIAN1: MASIH HIJAU

BAB26 BAGIAN2: MASIH HIJAU



BAB27 BAGIAN1: FIRST JACKPOT



BAB27 BAGIAN2: FIRST JACKPOT


BAB28 BAGIAN1: FOR SENTIMENTAL REASON


BAB28 BAGIAN2: FOR SENTIMENTAL REASON

BAB28 BAGIAN3: FOR SENTIMENTAL REASON


video zamirah monster kecil


wait yo!
IN PROGRESS
emoticon-I Love Kaskus
emoticon-I Love Indonesia
Kontak:

WA: 08128886670

Pin bbm: 5AB07E99
line:
@masternagato

Twitter: @masternagato
Diubah oleh masternagato 24-03-2017 22:20
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
256.6K
1.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
masternagatoAvatar border
TS
masternagato
#1126
BAB27-1
HATI MALAIKAT DARAH IBLIS
BAB 27-1:
FIRST JACKPOT
SUMBER:
masternagato.com
*******
Angin bertiup; debu, daun-daun, karcis tol, plastik minuman. Terseret-berjalan-bergerak-terdorong-angin.
Tak punya beban terbawa angin; debu-asap bermutasi-membuat bumi sesak.
Angin tak peduli, terus mendorong...
Udara tak berwarna tapi ada... Udara tak berbentuk tapi ada... Kekosongan berisi kehidupan.
Setiap detik... Setiap saat... Ada-peranan-; ada-aktor-tercipta;
garis-garis terbias di udara, garis benang membawa skenario untuk pemeran sejati.
Skenario satu takkan tertukar dengan skenario lainya.
Masing-masing skenario tertiup angin, mengikuti garis-benang-menuju-pemeranya.
Satu skenario terbang-melebihi kecepatan cahaya-menuju-masuk-berbisik-pada pria tua-berjanggut mendorong gerobak bakso.
Skenario bertuliskan:
’ia akan pulang dengan dagangan laris-diborong siswa-siswi SMA. Ia akan menjadi pacar wanita tak dikenal selama tiga menit.’
skenario meliuk-liuk terbawa angin, menuju-wanita muda-mengendarai-motor.
Skenario bertuliskan:
’ia akan terus tersenyum... Sampai mobil toyota menabraknya-sampai-tewas.’
tapi sebelum skenario itu masuk membisiki wanita itu...
Skenario terbakar cahaya.
Cahaya ini mengajukan data-data kebaikan wanita muda.
Skenario-mengerti-merubah-menulis-kembali:
’ia akan terus tersenyum... Sampai mobil toyota menabraknya-sampai-mendapatkan-luka-luka-ringan.’
sementara tak terhitung jumlah: skenario-skenario berterbangan menuju ke para pemeran.

Garangnya matahari bertengger di singgasananya; memberi tatapan menyengat.
Panasnya matahari, tak menghentikan para aktor-untuk-menjalankan-peranannya.
Satu skenario terbang perlahan... Masuk-berbisik-pada-pemuda yang baru turun dari taksi.
*******

kepalaku masih berat--mengingat-ngingat kenapa aku bisa tiduran di sofa kamarku?
Terhuyung-huyung berdiri: melihat jam 22:10
perut keroncongan, melangkah perlahan ke kamar mandi: cuci muka, lebih terasa segar-masih rada berat kepala (seperti ada pemberat di leher)
sendiri di meja makan, melahap dengan nafsu (kaya berhari-hari kagak ketemu makanan)
baru otak loading mencerna kejadian hari ini.
Sisa minuman kukasih Meidina? Besok sabtu disuruh maen ke rumah Redaya?
Karena ingat besok mau ke tempat Jimbo--jadi terpaksa baru sabtu depan bisa ke rumah Redaya.
Mengingat senyum Meidina--mengingat tulang selangkanya.
Otak comberan menghayal hal-hal menyenangkan.
Tapi kenyataan membuatku terhempas-pesimis.
Gak mungkin... Aku cuma anak SMP--Meidina... Dah kuliah!
Bayangan wujud iblis Meidina--tanduk--bersayap--tangan banyak.
Siaaal! Masih seminggu lagi? Tapi otakku sudah meraung-raung mau ketemu Meidina!
-------
Penjelasan-penjelasan Redaya, membuatku tergelitik; rasa gatal yang bukan harus digaruk--rasa gatal keinginan untuk memasuki dunia baru--memasuki babak serbuk putih.
Walaupun panjang penjelasan Redaya, sudah menjadi bakatku; kalau mata pelajaran susah bener masuk otak? Tapi soal beginian? Aku serasa menjadi siswa teladan!
Mungkin kalau ada mata pelajaran heroin? Aku yakin bisa mendapatkan beasiswa sampai mati!
Karena kamar mau di rombak Qinoy.
Aku,Redaya, mengobrol di ruang tamu--; sambil menunggu kedatangan Kk-nya Redaya.
"Jadi Kk lo dah kuliah?" tanyaku, tiduran di bangku Garuda.
"yaa... Dua-duanya dah pada kuliah," jawabnya, memperhatikan koleksi minuman ibuku di buffet.
"bokap lo hoby koleksi minuman? Kk gua liat bisa ngiler nih."
"Bokap? Bukan! Itu... Koleksi nyokap gue-" sahutku mengernyit, merasa sayang; punya koleksi minuman tapi gak berani minum, takut ketahuan.
"-nyokap?"
"Yah, nyokap gue, demen ama botolnye." jawabku, mengangkat bahu.
"ASYIK nih? Lo bisa ngerasain semua minuman ini?" tanyanya, menyeringai jahil.
"Asyik? Muke lo jauh! Gue belon pernah ngerasain satupun..."
"Kenapa?" ia memandang tak percaya? Pandanganya mengejek; mungkin ia pikir ucapanku cuma kentut?
"Coba lo lokit?" kataku, bangun--berdiri disebelahnya--mengambil botol minuman bening dari buffet; isinya berwarna biru laut, dengan label:
’RAMBO’
"Nih lo ceck! Kalo gue buka, bakal ketauan ama bonyok gue man!" memberinya botol, sambil jariku mengetuk-ngetuk penutup botol.
(seperti penutup botol sirup yang harus di putar untuk membukanya)
"Terus? Masalahnya apa?" tanyanya heran, raut wajah ngeselin.
Masalahnya apa? Masalahnya apa? Monyet nih anak! Masalahnya ngapain gue nolongin lo tadi!
"Masalahnyaa-" perlahan, menarik nafas-mengumpulkan kesabaranku;
"-Kan ketauan kalo gue buka! Gimane sih lo? Bingung gue MAN!" sahutku keki.
"Nah disini sekali lagi... Keliatan kaya soal putaw tadi! Level gua di atas lo man," ucapnya santai--senyum menyenangkan--langsung memukul telak egoku.
Sialan! Makin lama makin nambah ngeselin nih monyet!
Mentang-mentang abis nguliahinku tadi.
Padahal si idiot ini, lebih menang di pengalaman heroin saja; yang benar saja? Apa ia pikir heroin barang terenak di dunia?
Aku tak menjawab, hanya mendengus, merasa sial monyet ini punya pengalaman diatasku.
"kk gua... Bisa ngambil isi botol ini-" ia menyentil botol:
"-Tanpa membuka penutup botol."ucapnya bangga.
Apa? Siapa yang bodoh disini? Apa ia pikir aku bocah kemaren sore?
Bisa dibodohi dengan omong kosong seperti itu!
Mengambil botol biru gelap: bertuliskan warna emas melingkar-lingkar.
’Chivas regal’
bentuk botolnya lurus selinder, dengan segel penutup gabus.
"Oke! Gue anggep kk lo bisa, buka botol tadi tanpa... What ever lah! Nah? Kalo yang ini gimane?" memberikan botol Chivas, pandanganku mencela (mau ngomong apa lagi coba nih monyet?)
"Bisa..." ucapnya sederhana.
"selama ada penutup botol, kk gua bisa kok..." ia rada geli, duduk memegang dua botol--mengambil bakwan goreng.
"Jadi penasaran gue... Cowok kaya gimane kk lo?" ucapku perlahan-penuh kedengkian.
"Apa kk lo punya tanduk? Jenggot semeter? Bersayap? Atau... Punya tangan sembilan?"benaku menggambarkan sosok monster: gagal bentuk--sedang berusaha membuka botol Chivas.
Menghempaskan diriku ke tempat duduk; mengambil tempe goreng (memakan sekaligus tiga, membayangkan yang kumakan kk nya)
"Yang jelas... Gak berjenggot..." sahutnya menahan geli.
"biar lo gak kaget, gua kasih tau sekarang...." ia mengulur-ngulur, berharap aku bertanya? Aku tak mempedulikanya, masih mengunyah tiga gorengan seperti hewan buas, membaca komik Golden boy.
"...yang paling tua namanya Astrid, satu lagi... Meidina-"
aku menengok cepat kearahnya (sampai nyeri leher)
"Wawaho wewek?" tanyaku tak jelas, penuh gorengan.
"Kk lo CEWEK?" tanyaku lagi, rada serak (tenggorrokan perih-menelan gorengan sekaligus)
"kalo kk kan berarti... Cewek? Kalo gua bilang abang, tuh... Baru cowok."
"AH! Gak lah! Waktu gue masih di asrama, gue wajib manggil senior cowok... Kk man!"
ia sedikit memperbaiki perban di kepalanya; (jadi makin berantakan)
"kan pas di taksi, waktu nelpon gua bilang k Mei... Lo gak denger?"
"gak tuh... Gak gue perhatiin omongan lo. Yang gue tau lo yang ngerasa levelnya di atas gue-abis nelpon nangis." sahutku kejam, menyeringai puas: melihatnya seperti terpental dari ring-knock-out.
-------
Redaya membuka pintu--menyambut kedatangan kk-nya.
"yang pake rok itu Astrid, jeans robek Meidina." jelas Redaya sebelum keluar.
Astrid; berkulit gelap, menggunakan rok mini berenda manik-manik penuh warna buah-buahan, penuhcorak, payet, ikat pinggang tipis dengan rantai biru metalic.
Rok itu penuh detail membuat mata selalu menatap kesana? Walaupun semua detail itu tak penting dibandingkan bemper sportnya!
atasan dengan blazer yang tak berhasil menutupi air-bag; harus kena kartu merah karena offside.
Ia memeluk Redaya penuh perhatian.
Walaupun Astrid begitu gurih, menggiurkan, melebihi iklan mie spesial kari ayam!
Mataku SILAUU! Melihat Medina berdiri dibelakang Astrid. Aku menatapnya terpesona:

Celana jeans bulukan; ada robekan sengaja di tempat-tempat yang ta seharusnya--kaos longgar, menurutku kebesaran? Tapi sepertinya ia sengaja? Berstruktur v-neck memperlihatkan leher--tulang selangkanya dengan jelas. (membuat perutku mengeras)
perlahan... Ia menggerakan matanya--menatapku--lirikan mematikan.
Dalam sedetik? Melebihi kecepatan senano-cahaya?
Meidina mengeluarkan tanduk melengkung dikepalanya; cahaya berpendar--sayap api--bagai bulu phoenix--berwarna perak--mengepak-ngepak dibelakang tubuhnya.
Tangan-tangan bermunculan-dari tubuhnya: beberapa tangan melambai--sebagian berkeliaran, meraba-perlahan-mengelus-meremas-tubuhnya.
Setiap kepakan api perak membuatku terinfeksi udara yang memabukan.
Segala sesuatu tampak terdistorsi: setiap kepakan sayap tampak berpendar eksotis, udara yang keluar dari sayapnya--kepakan api perak berhenti perlahan--udara serasa menipis.
Meidina sekarang lebih mencolok, sementara Redaya, Astrid, sekitarku mulai memudar.
Sekelilingku--menjadi bintik-bintik--berubah; membentuk--awan awan yang mengambang di sekitar Meidina.
Mataku menyusut menjadi garis kelabu samar di bawah tatapanya.
"WOI! Bengong lo!" ucap Redaya geli, mengagetkanku.
Serasa terplintir balik dari lamunanku...
"HAH? Gak... Kok-" sahutku berusaha tenang; dari tatapan mereka bertiga yang geli terhadapku.
"-tapi... Gue rada melayang liat kecantikan kk lo!" timpalku tanpa malu--melirik Medina.
"Dua-duanya cantik..." tambahku buru-buru, melirik Astrid sekilas.
"Cantik? Duh... Lucu banget sih lo... Makasih ya," kata Meidina, dengan nada merdu; selembut udara.
"Thanks ya dah nolongin Reda."ia mengecup pipiku--aku bisa melihat tulang selangkanya lebih jelas. Semerbak wangi memabukan menembus hidung--processor memanas.

Organ-organ ditubuhku serasa bekerja pada kantor yang salah: jantungku-kehabisan udara. Paru-paruku-tak bisa berpikir. Otakku berdebar-debar.
"ga... Gak kok... Eh... Sama-sama, cuma kebetulan aje gue ketemu Reda."
Astrid memberiku pelukan rasa kari ayam spesial? Masih terasa sampai tetesan terakhir?
Mengajak mereka masuk, mengobrol di ruang tamu--aku melihat kilauan sekilas di mata Meidina dan Astrid yang sedang mengaggumi dua botol minuman di meja.
Siti membawakan jus, kue, tanpa dipinta.
Sialanya, redaya membahas obrolanku yang tak percaya; kalo kk nya bisa membuka botol minuman tanpa merusak segelnya.
"emang bisa? Gimana caranya? Coba buka." tanyaku, masih dengan nada tak percaya.
"penasaran ya? Tapi ngomong-ngomong Red? Pala lo gak kenapa-napa-kan? Ngeri banget perbanya?" sahut Astrid, ngeri: memegangi perban Redaya yang melebihi mummy.
Aku bergerak-gerak gelisah; mulai merasa perban itu sangat konyol.
Untungnya Redaya cukup tahu diri-tak memperpanjang hasil perbanku.

"lo punya sirup yang sama warnanya, ama ini?" tanya Meidina menunjuk botol Rambo.
"sirup warna biru gini..." sahutku mengingat-ngingat.
"...gak ada kayanya."
"kalo gitu yang ini gak bisa dibuka..." jawab Meidina, santai.
"kenapa gak bisa? Apa hubunganya ama sirup?" sambarku, menjadi yakin kalo mereka cuma membual.
Walaupun rasa tak percayaku menghilang begitu melihat tatapan Meidina: kalo ia bilang bisa terbang, aku juga pasti percaya!
"yah sirupnya nanti buat ganti isinya..-" jelas Meidina--perlahan-seperti menjelaskan satu tambah satu sama dengan dua.
"-kalo botol chivas ini kan gelap, diisi air putih-juga gak ketauan."
samar-samar aku mulai mengerti konsepnya--walaupun masih penasaran gimana cara membuka tutup botolnya?
Meidina mengambil bungkus rokok dari tas Astrid.
"sisa sebatang Trid," ucap Meidina-membakar rokok-meremas bungkusnya.
Seperti biasa: aku melongo heran? Kebiasaan monolog yang jelek. Sering aku melihat acil-acilku, dan beberapa jabs di hotel Astral merokok-tapi melihat cewek merokok-mengobrol denganku? Ini pertama kalinya-berhadapan langsung.
Lebih heran lagi, yang ia hisap? Filter?
"Dih! Tinggal sebatang juga? Malah lo abisin?" sewot Astrid.
"Kenapa? Baru liat cewek ngerokok?" tanya Meidina tersenyum-merapihkan rambut:: tak peduli dengan ocehan Astrid.
Pada detik ini, aku merasakan betapa kerenya cewek perokok? Dan mulai menyukai cewek perokok!
"Ah gak... Biasanya cewek mild kan? Eh gak deng... Acil gue ngisep sokam." sahutku, grogi.
"Acil? Siapa tuh? Temen lo?" tanya Redaya, membaca komik golden boy.
"Acil maksudnya tante, bahasa Kalimantan." jawabku, membakar rokok.
"yang lo maksud... Biasanya cewek? Cewek dimana?" tanya Meidina,memutar bola mata: mencondongkan badan kedepan.
Waduh? Gak mungkin kan? Ku jawab-jabs di hotel Astral.
"Temen gue... Ada cewek--rokoknya mild." jawabku cepat.
Meidina mengangkat satu alis, bibirnya berkedut mau mengucapkan sesuatu.
"Warung disini, dimana?" tanya Astrid.
"Sekalian aja lo beli sirup, yang warnanya sama ama ini." saran Redaya, semangat: memegang botol Rambo.
"Sirup ape yang warna biru?" tanggapku, bodoh.
"Pepsi aja, kali!" timpal Astrid, geli: melihat kebodohan wajahku.
*******
’Hai Shorty?’ ’Whatsapp!’
’Aku perokok’ ’aku juga!’
’Aku peminum’ ’aku juga!’
’Aku pemakai’ ’aku lebih ahli!’
’maen yuk’ ’All right’ jawabmu-melepas...
Aku cuma anak kemaren sore-mendapatkan pengalaman darimu!
Aku cuma anak kemaren sore? Semua serasa tak ada apa-apanya dibandingkan denganku?
Aku pemberani... Semua orang pengecut!
Aku kaya? Menghamburkan uang semudah ku meludah!
Aku paling pintar? Semua orang bodoh mengikutiku!
Aku paling hebat? Paling keren? Paling wow? Paling-paling?
Tak ada yang bisa menghentikan bocah dibawah lima belas tahun sepertiku?
Aku di padang pasir-aku di tengah laut-tanpa-makanan? Tanpa minuman?
Jejalkan aku tantangan--aku akan meminumnya tanpa ragu--walau tahu itu adalah racun!
Jejalkan aku-sesuatu yang baru--aku akan memakanya dengan lahap--walaupun aku tahu itu kotoran kerbau!
Aku cuma anak kemaren sore? Aku bagaikan mobil sport-tanpa setir-tanpa rem-tanpa spion!
Saat-saat paling kursial dalam hidupku?
Pertanyaanya? Dimana ayahku? Ibuku? Kalau kau?
Perhatikan anakmu! Bukan uangmu!
Saat-saat paling kursial dalam hidupku?
Pertanyaanya?
Dimana teman? Dimana sahabat? Dimana musuh? Dimana penikam dari belakang? Kalau kau?
Perhatikan dirimu sendiri! Bukan musuhmu!
Perhatikan dirimu sendiri? Kenapa ada yang menusukmu!
Perhatikan dirimu sendiri? Apa kau pantas punya teman? Punya sahabat?
Aku cuma anak kemaren sore? Dalam semalam kau membuatku menjadi pria dewasa!
Membuatku ketergantungan dengan rasa baru-kecanduan-berharap selalu bermalam denganmu!

Aku cuma anak kemaren sore?
Aku berubah man? Membuat perencanaan-dalam-permainan-yang-baru: menjadikanmu pacar-memegang tanganmu-membuatmu meneriakan namaku-bermain-bermain-lagi-dan-lagi.
Sayangnya buatku ini yang pertama--buatmu yang..??

Kau? Membuatku mengerti--betapa drugs bisa menghancurkan hidup dalam sepuluh detik!
Aku... Tak peduli! Merasa dibohongi! Karena aku hancur dalam tujuh detik!
’Hai mei?’ ’Whatsapp!’
’Visualize like as I do--All I want to do is like be inside you!’
’Well--baby-boy-just-shut up and sleep with me.’
*******
"gimana Boerju! Percaya lo sekarang?" tanya Redaya, skeptis.
Empat botol berjejer dimeja: Chivas berisi air putih, Rambo berisi pepsi--dua botol plastik berisi Chivas dan Rambo.
Sebelah botol plastik; ada peralatan bekas sabotase tadi: botol baby oil, botol bening merah tanpa label, beberapa katenbat, dan Swiss army knife (senjata andalan Macgyver)
sekali lagi, aku meneliti dengan seksama (kakiku bergerak-seperti-drumer-handal) hasil sabotasenya: sungguh keahlihan yang handal! Tutup botol Rambo yang bekas di congkel-congkel tampak seperti semula. Sementara yang Chivas juga terlihat sempurna tanpa cacat di segelnya.
"Borju...?" kata Meidina: memperhatikan gelangku.
"bukan Borju... Tapi Boerju," tanggapku membetulkan.
"Borju..."
"...bukaan... Boerju!"
"ya, ya, Borju-Boerju-borju- apa-apaan tuh? Apa lo boros poeju-" timpal Redaya terbahak-bahak: menepuk kakiku.
"kaki kaya mesin jahit man!"
Astrid, Meidina ikut-ikutan geli.
"Kenapa panggilan lo, Boerju?" tanya Meidina, menahan tawa.
"yah... Waktu gue kelas satu... Gue demen lagu Neo borju. Gak tau siapa yang mulai. Temen-temen gue pada manggil Boerju."
"dah cukup soal boros poejunya! Gimana menurut lo keahlian kk gua?" tanya Redaya memaksa-pengakuanku.

"Cool! Mesti di rayain nih," kataku, semangat: mengambil gelas kristal wine di buffet (gelas pajangan yang tak pernah terpakai)
"kepala lo kan sakit? Gak usah minum lo!" tegur Astrid; memelototi Redaya.
"Tiba-tiba gua sembuh k." sahut Redaya, menyeringai.
Meidina menuang Rambo ke gelas masing-masing: sebelum bersulang ia menyulut api (dengan korek gas) disetiap gelas.
Aku terkagum-kagum, sampai tak bisa berbicara--kami berempat bersulang dengan api yang masih menari-nari.
Dentingan gelas menjadi perjanjianku dengan maut!
Merasa bodoh memegang gelas dengan api-yang-menari-nari.
Entah mengapa aku merasa Meidina selalu memperhatikanku? Sumpah mungkin aku keren (menghayal)
Meidina meniup gelas--menenggak dengan cepat (kaya minum jamu?)
tanpa basa-basi; mengikuti caranya--tiup--tenggak... Aku terbatuk-batuk, sampai mengeluarkan air mata.
Sialnya ditambah tawa Redaya, Astrid yang terbahak-bahak.
Meidina menahan geli: menepuk-nepuk bahuku--memberikan air putih.
"Slowly boy, liat tuh Reda... Pelan-pelan minumnya," kata Meidina.
Masih terbatuk-batuk, tenggorokan serasa terbakar, melirik Redaya: ia tersenyum bangga (seolah ia bilang? Level gua di atas lo!) gelasnya masih penuh.
Pantang menyerah, penuh tekad, mencoba sekali lagi (dengan perlahan)
"emang lo baru pertama kali minum?" tanya Astrid; membuka blazer.
"kalo vodka ama mansion sih... Sering." jawabku, mengambil rokok.

Atmosfir ruangan memanas, padahal AC kusetel mode-kutub-utara.
Mataku memang tak bisa lepas dari midi dress dengan air-bag offside Astrid! Tapi aku lebih focus di lengannya yang tadi tertutup blazer (lekukan siku lengan ada bercak bintik dan luka koreng kecil-kecil)
tak mau memandang terlalu lama--memperhatikan lengan Meidina; lekukan siku lengan tampak mulus (tapi bekas-bekas yang sama ada dibagian punggung pergelangan tangan)
bekas luka apa ya? Bodo amat lah-yang penting minum dulu.
*******
ke bagian2
Diubah oleh masternagato 16-05-2015 08:56
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.