- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#4634
PART 141 (END) – Bagian Dua
Resepsi telah usai, dan gue melihat beberapa orang dari catering berlalu lalang di hall yang luas di hadapan kami, sementara saudara-saudara gue berada di satu sisi ruangan dimana makanan untuk keluarga diperuntukkan. Gue dan Anin turun dari pelaminan, dengan Anin memegang lengan gue, sementara gue membantunya turun dengan busana yang sedemikian panjang.
Kami berdua turun, dan mencari dua sosok orang yang tadi kami temui. Anin yang pertama kali menemukan mereka duduk di salah satu sisi ruangan, sambil memandangi kami. Gue kemudian melambaikan tangan, dan memberikan isyarat pada mereka berdua untuk mengikuti kami menuju ke tempat makan. Akhirnya kami berempat duduk semeja dan cengengesan. Mungkin kami berempat gak menyangka akan bertemu lagi dalam situasi seperti ini.
Sambil menusuk seiris daging di piring kecil di hadapan gue, gue bertanya.
Bayu tertawa, kemudian menjawab.
Anin memandangi Tami, kemudian memandangi Bayu. Dia tersenyum, dan kemudian memegang telapak tangan Tami.
Gue sambil mengunyah langsung nimbrung.
Tami kemudian melirik jahil ke Bayu, dan kami bertiga tertawa terbahak melihat wajah Bayu yang dongkol karena ulah Tami itu. Tami kemudian memegang tangan Bayu sambil tertawa.
Gue dan Anin tertawa semakin ngakak, sampe-sampe gue menutup mata dengan sebelah tangan saking gelinya. Gue masih gak percaya, bahwa dua sahabat terbaik gue ini ternyata saling menambatkan hatinya. Gue gak bisa membayangkan ada orang lain yang lebih cocok mendampingi Tami selain Bayu.
Tami memandangi gue dengan heran, kemudian menoleh memandangi Bayu. Gue liat muka Bayu merah kayak abis makan kompor. Gue tertawa terbahak-bahak, karena gue tau cuma gue yang tau kalo Bayu udah memendam perasaan ke Tami sejak lama. Dulu Bayu cuma bisa curhat ke gue, karena menurut dia, gue lah yang paling dekat dengan Tami.
Gue dan Anin tersenyum, kemudian Anin menengahi dengan suaranya yang lembut.
Anin kemudian melepaskan beberapa untaian melati dari kepalanya, melipatnya menjadi beberapa bagian sehingga terlihat tebal, dan menjejalkannya ke genggaman tangan Tami. Tami kemudian memandangi Anin dengan heran.
Tami dan Bayu memandangi kami berdua dan tersipu malu. Gue dan Anin tertawa-tawa gak jelas melihat kedua sahabat terbaik kami yang sekarang menjadi sepasang kekasih ini.
Kami berempat tertawa bahagia. Gue memandangi lampu-lampu gantung raksasa yang menghiasi ruangan besar itu, dan menghela napas. Satu lembaran baru hidup gue telah resmi dimulai, dengan seorang wanita yang sangat gue cintai berada di sisi gue, sebagai istri gue. Dan gue meninggalkan lembaran lama hidup gue tanpa rasa sesal, dan tanpa rasa sedih, karena gue tahu semua akan berakhir indah pada waktunya.
Resepsi telah usai, dan gue melihat beberapa orang dari catering berlalu lalang di hall yang luas di hadapan kami, sementara saudara-saudara gue berada di satu sisi ruangan dimana makanan untuk keluarga diperuntukkan. Gue dan Anin turun dari pelaminan, dengan Anin memegang lengan gue, sementara gue membantunya turun dengan busana yang sedemikian panjang.
Kami berdua turun, dan mencari dua sosok orang yang tadi kami temui. Anin yang pertama kali menemukan mereka duduk di salah satu sisi ruangan, sambil memandangi kami. Gue kemudian melambaikan tangan, dan memberikan isyarat pada mereka berdua untuk mengikuti kami menuju ke tempat makan. Akhirnya kami berempat duduk semeja dan cengengesan. Mungkin kami berempat gak menyangka akan bertemu lagi dalam situasi seperti ini.
Sambil menusuk seiris daging di piring kecil di hadapan gue, gue bertanya.
Quote:
Bayu tertawa, kemudian menjawab.
Quote:
Anin memandangi Tami, kemudian memandangi Bayu. Dia tersenyum, dan kemudian memegang telapak tangan Tami.
Quote:
Gue sambil mengunyah langsung nimbrung.
Quote:
Tami kemudian melirik jahil ke Bayu, dan kami bertiga tertawa terbahak melihat wajah Bayu yang dongkol karena ulah Tami itu. Tami kemudian memegang tangan Bayu sambil tertawa.
Quote:
Gue dan Anin tertawa semakin ngakak, sampe-sampe gue menutup mata dengan sebelah tangan saking gelinya. Gue masih gak percaya, bahwa dua sahabat terbaik gue ini ternyata saling menambatkan hatinya. Gue gak bisa membayangkan ada orang lain yang lebih cocok mendampingi Tami selain Bayu.
Quote:
Tami memandangi gue dengan heran, kemudian menoleh memandangi Bayu. Gue liat muka Bayu merah kayak abis makan kompor. Gue tertawa terbahak-bahak, karena gue tau cuma gue yang tau kalo Bayu udah memendam perasaan ke Tami sejak lama. Dulu Bayu cuma bisa curhat ke gue, karena menurut dia, gue lah yang paling dekat dengan Tami.
Quote:
Gue dan Anin tersenyum, kemudian Anin menengahi dengan suaranya yang lembut.
Quote:
Anin kemudian melepaskan beberapa untaian melati dari kepalanya, melipatnya menjadi beberapa bagian sehingga terlihat tebal, dan menjejalkannya ke genggaman tangan Tami. Tami kemudian memandangi Anin dengan heran.
Quote:
Tami dan Bayu memandangi kami berdua dan tersipu malu. Gue dan Anin tertawa-tawa gak jelas melihat kedua sahabat terbaik kami yang sekarang menjadi sepasang kekasih ini.
Quote:
Kami berempat tertawa bahagia. Gue memandangi lampu-lampu gantung raksasa yang menghiasi ruangan besar itu, dan menghela napas. Satu lembaran baru hidup gue telah resmi dimulai, dengan seorang wanita yang sangat gue cintai berada di sisi gue, sebagai istri gue. Dan gue meninggalkan lembaran lama hidup gue tanpa rasa sesal, dan tanpa rasa sedih, karena gue tahu semua akan berakhir indah pada waktunya.
Ya, semua akan berakhir indah pada waktunya.
Diubah oleh jayanagari 15-05-2015 22:23
chanry dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: tadi udah makan apa aja? Makan lagi gih.
: iya mulut lo sama gilingan semen gak ada bedanya kan yak?
: serius dari 3 tahun yang lalu?
: enggg…yak…gimana yak….ya bener juga sih…hehehehe….
: kok gak bilang dari dulu?
: kirain dulu kamu sukanya sama Baskoro….
: diaminin gak nih?
: Kok ANIN? AMIN dong! Sekali lagi, AAAAAA…..
: nah, gitu kan pinter.