- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#4633
PART 141 (END) – Bagian Satu
Gue memicingkan mata ketika cahaya lampu sorot kamera tepat mengenai wajah gue. Sesekali gue membetulkan blangkon¸ tutup kepala adat Jawa, yang gue kenakan. Gue duduk tegak, sambil memegang satu pergelangan tangan gue dengan tangan yang lain. Gue menoleh ke samping, melihat ada salah satu kakak dari nyokap, yang menjadi saksi pernikahan ini, dan seorang penghulu dari KUA setempat, serta tentu saja om Harry, papa Anin.
Gue menoleh ke sisi dimana keluarga besar gue duduk, dan melihat kedua orang tua gue duduk berdampingan. Wajah beliau berdua samasekali gak tegang, justru tersenyum dengan bahagia. Gue menoleh ke sisi dimana keluarga besar Anin duduk, dan gue melihat Shinta dan Sophia duduk di barisan kedua, sambil tersenyum cantik. Kemudian gue melihat Tante Ayu, mama Anin, duduk di barisan terdepan, dan kemudian tersenyum ke gue sambil mengangguk pelan.
Gue melirik ke jam tangan yang gue kenakan, pukul 8.04 pagi. Gue tersenyum, memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Sebuah gemerisik elektrik dari microphone yang akan digunakan menyadarkan gue kembali. Gue berada di ambang satu titik paling menentukan di hidup. Gue melihat beberapa lembar kertas yang terletak di dalam map berwarna hitam. Di beberapa lembar kertas itulah yang akan menjadi penanda berubahnya arah hidup gue. Maka terjadilah apa yang memang sudah direncanakan.
Kata-kata tersebut meluncur dengan lancar dan mantap dari mulut gue, sementara tangan gue menggenggam tangan om Harry dengan erat. Ketika penghulu dan saksi-saksi menyatakan bahwa pernikahan ini sah, sontak para hadirin mengucapkan “Alhamdulillah” dan terdengar beberapa tepukan tangan dari belakang. Gue memejamkan mata, dan mencoba mencerna salah satu momen paling berharga dalam hidup gue yang barusan telah terlewati.
Ketika tiba waktunya penandatanganan buku nikah dan dokumen-dokumen yang harus dilengkapi untuk administrasi pernikahan, Anin keluar dari kamarnya, dengan diiringi oleh beberapa kakak dari Tante Ayu. Waktu itu rasanya dunia berhenti, dan gue melihat sesosok wanita cantik, dengan busana adat Jawa yang indah, dan wajah yang tersenyum bahagia keluar dari kamar. Wanita yang selalu ada di hati gue sejak awal pertemuan kami enam tahun lalu, dan sekarang dia telah menjadi istri gue.
Anin kemudian duduk di kursi di samping gue, dan kami berdua menandatangani buku nikah, serta beberapa dokumen lainnya. Di kesempatan itu gue juga mengikrarkan janji pernikahan di depan penghulu dan semua hadirin yang ada di acara tersebut. Gue sesekali memandangi Anin, dan tersenyum penuh syukur. Dari tatapan mata kami berdua, kami sama-sama sadar bahwa gue dan Anin pun masih belum bisa percaya sepenuhnya bahwa kini kami telah menjadi sepasang suami-istri.
Gue memasangkan cincin ka-win di jari manis tangan kanan Anin, dan begitu pula Anin, memakaikan cincin ka-win di jari gue. Anin kemudian mencium tangan gue lembut, dan gue balas dengan mencium keningnya. Perasaan gue waktu itu bener-bener susah digambarkan, dan gue yakin begitu pula dengan Anin.
Seluruh acara pernikahan kami itu berlangsung dengan lancar dan meriah. Gak terhitung teman-teman kami, baik mulai dari SMA, kuliah hingga rekan kerja datang mengalir untuk memberi ucapan selamat kepada kami. Meskipun capek, tapi gue sangat amat bersyukur punya kehidupan dan lingkungan seperti ini. Gue sangat bersyukur bisa mengenal teman-teman gue, dengan berbagai rupa emosi. Dari situlah gue bertumbuh dan belajar menjadi manusia di masyarakat.
Di antara barisan tamu yang akan naik ke panggung pelaminan untuk memberi selamat kepada kami berdua, gue melihat sesosok wanita yang sudah sangat gue kenal. Style nya memang berubah, tapi gaya nya tetap sangat gue kenal, dan gak berubah. Di sampingnya ada sesosok pria gagah, berpakaian batik elegan, dan bertubuh tinggi dan sudah sangat gue kenal juga. Gue tersenyum melihat mereka dari kejauhan. Ketika ada jeda aliran tamu, gue menyenggol lengan Anin pelan, dan mengarahkan dagu gue ke arah kedua sosok tadi. Anin paham, dan langsung tersenyum.
Ketika akhirnya tiba kedua orang itu menaiki panggung, bersalaman dengan kedua orang tua Anin terlebih dahulu, kemudian baru tiba kepada kami berdua. Gue tersenyum lembut. Sang wanita menggenggam tangan gue terlebih dahulu.
Gue kemudian menoleh ke cowok yang mendampingi Tami, gak lain dan gak bukan adalah Bayu, sohib gue sejak jaman awal kuliah. Bayu ngeliatin gue dengan gaya cengengesannya yang khas, dan membuat gue tertawa terbahak. Gue menjitak kepala Bayu pelan tapi dengan gemas.
Gue menggenggam tangan Bayu erat, dan kemudian kami berdua saling berangkulan.
Bayu kemudian bergeser, menyalami Anin, sementara Tami berdiri di sampingnya.
Karena aliran tamu undangan yang lain semakin banyak, maka kami gak bisa lama-lama ngobrol diatas pelaminan. Sebelum mereka turun, gue berteriak memanggil mereka.
Bayu menjawab dengan senyum lebar dan acungan jempol.
Gue memicingkan mata ketika cahaya lampu sorot kamera tepat mengenai wajah gue. Sesekali gue membetulkan blangkon¸ tutup kepala adat Jawa, yang gue kenakan. Gue duduk tegak, sambil memegang satu pergelangan tangan gue dengan tangan yang lain. Gue menoleh ke samping, melihat ada salah satu kakak dari nyokap, yang menjadi saksi pernikahan ini, dan seorang penghulu dari KUA setempat, serta tentu saja om Harry, papa Anin.
Gue menoleh ke sisi dimana keluarga besar gue duduk, dan melihat kedua orang tua gue duduk berdampingan. Wajah beliau berdua samasekali gak tegang, justru tersenyum dengan bahagia. Gue menoleh ke sisi dimana keluarga besar Anin duduk, dan gue melihat Shinta dan Sophia duduk di barisan kedua, sambil tersenyum cantik. Kemudian gue melihat Tante Ayu, mama Anin, duduk di barisan terdepan, dan kemudian tersenyum ke gue sambil mengangguk pelan.
Gue melirik ke jam tangan yang gue kenakan, pukul 8.04 pagi. Gue tersenyum, memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Sebuah gemerisik elektrik dari microphone yang akan digunakan menyadarkan gue kembali. Gue berada di ambang satu titik paling menentukan di hidup. Gue melihat beberapa lembar kertas yang terletak di dalam map berwarna hitam. Di beberapa lembar kertas itulah yang akan menjadi penanda berubahnya arah hidup gue. Maka terjadilah apa yang memang sudah direncanakan.
Quote:
Kata-kata tersebut meluncur dengan lancar dan mantap dari mulut gue, sementara tangan gue menggenggam tangan om Harry dengan erat. Ketika penghulu dan saksi-saksi menyatakan bahwa pernikahan ini sah, sontak para hadirin mengucapkan “Alhamdulillah” dan terdengar beberapa tepukan tangan dari belakang. Gue memejamkan mata, dan mencoba mencerna salah satu momen paling berharga dalam hidup gue yang barusan telah terlewati.
Ketika tiba waktunya penandatanganan buku nikah dan dokumen-dokumen yang harus dilengkapi untuk administrasi pernikahan, Anin keluar dari kamarnya, dengan diiringi oleh beberapa kakak dari Tante Ayu. Waktu itu rasanya dunia berhenti, dan gue melihat sesosok wanita cantik, dengan busana adat Jawa yang indah, dan wajah yang tersenyum bahagia keluar dari kamar. Wanita yang selalu ada di hati gue sejak awal pertemuan kami enam tahun lalu, dan sekarang dia telah menjadi istri gue.
Anin kemudian duduk di kursi di samping gue, dan kami berdua menandatangani buku nikah, serta beberapa dokumen lainnya. Di kesempatan itu gue juga mengikrarkan janji pernikahan di depan penghulu dan semua hadirin yang ada di acara tersebut. Gue sesekali memandangi Anin, dan tersenyum penuh syukur. Dari tatapan mata kami berdua, kami sama-sama sadar bahwa gue dan Anin pun masih belum bisa percaya sepenuhnya bahwa kini kami telah menjadi sepasang suami-istri.
Gue memasangkan cincin ka-win di jari manis tangan kanan Anin, dan begitu pula Anin, memakaikan cincin ka-win di jari gue. Anin kemudian mencium tangan gue lembut, dan gue balas dengan mencium keningnya. Perasaan gue waktu itu bener-bener susah digambarkan, dan gue yakin begitu pula dengan Anin.
Seluruh acara pernikahan kami itu berlangsung dengan lancar dan meriah. Gak terhitung teman-teman kami, baik mulai dari SMA, kuliah hingga rekan kerja datang mengalir untuk memberi ucapan selamat kepada kami. Meskipun capek, tapi gue sangat amat bersyukur punya kehidupan dan lingkungan seperti ini. Gue sangat bersyukur bisa mengenal teman-teman gue, dengan berbagai rupa emosi. Dari situlah gue bertumbuh dan belajar menjadi manusia di masyarakat.
Di antara barisan tamu yang akan naik ke panggung pelaminan untuk memberi selamat kepada kami berdua, gue melihat sesosok wanita yang sudah sangat gue kenal. Style nya memang berubah, tapi gaya nya tetap sangat gue kenal, dan gak berubah. Di sampingnya ada sesosok pria gagah, berpakaian batik elegan, dan bertubuh tinggi dan sudah sangat gue kenal juga. Gue tersenyum melihat mereka dari kejauhan. Ketika ada jeda aliran tamu, gue menyenggol lengan Anin pelan, dan mengarahkan dagu gue ke arah kedua sosok tadi. Anin paham, dan langsung tersenyum.
Ketika akhirnya tiba kedua orang itu menaiki panggung, bersalaman dengan kedua orang tua Anin terlebih dahulu, kemudian baru tiba kepada kami berdua. Gue tersenyum lembut. Sang wanita menggenggam tangan gue terlebih dahulu.
Quote:
Gue kemudian menoleh ke cowok yang mendampingi Tami, gak lain dan gak bukan adalah Bayu, sohib gue sejak jaman awal kuliah. Bayu ngeliatin gue dengan gaya cengengesannya yang khas, dan membuat gue tertawa terbahak. Gue menjitak kepala Bayu pelan tapi dengan gemas.
Quote:
Gue menggenggam tangan Bayu erat, dan kemudian kami berdua saling berangkulan.
Quote:
Bayu kemudian bergeser, menyalami Anin, sementara Tami berdiri di sampingnya.
Quote:
Karena aliran tamu undangan yang lain semakin banyak, maka kami gak bisa lama-lama ngobrol diatas pelaminan. Sebelum mereka turun, gue berteriak memanggil mereka.
Quote:
Bayu menjawab dengan senyum lebar dan acungan jempol.
Diubah oleh jayanagari 14-05-2015 23:29
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5


: gak kuliah gak nikah, lo selalu ninggalin gue.
: nah tuh ada Bayu.
: bangke looo, udah jadi suami orang masih aja gini kelakuannya.
: secepatnya deh hehehehe