agan Momod Satyabudi& arrrry atas bantuan dan supportnya.
agan co-TS : keboirex / garpubrewox / gevarasyarif , yg meluangkan waktunya untuk mengurus thread ini.
agan NugrozKhan & logan-sl3 atas sumbangan logo&vektor nya
dan semua agan/sista yg telah membantu terbentuknya dan meramaikan thread ini.
Diubah oleh id.wagonr 31-10-2014 06:20
bebeninfinix313 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
1.6M
Kutip
9.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Original Posted By Mazdanu►Selamat malam semua, mau melaporkan perjalanan Jakarta-Jambi nih...
Jarak: 840km darat.
Alutista: Wagon R GS NIK 2014 Lagoon Turquoise F1433EO
Lama perjalanan: 17 Jam (Jakarta Palembang), 7 Jam (Palembang-Jambi)
koleksi foto:
Spoiler for KM awal:
Spoiler for Tarif kapal:
Spoiler for di dalam kapal (abaikan orangnya):
Spoiler for Kondisi lintas sumatera:
Spoiler for KM Akhir:
Spoiler for Sampai di Jambi:
Nah ini review saya atas mobil saya sendiri selama perjalanan, mohon maaf apabila subjektif.
Spoiler for review pertama:
Tutup pintu, blebb... wuih nggak nyangka ternyata nggak se cempreng perkiraan saya.
Ceklek.. harus ngunci pintu manual, nggak autolock ternyata.
Kabin ternyata cukup lega untuk kami berdua (saya 174/75 dan adik 170/77) head room terasa lapang dan leg room baris pertama juga pas dengan sedikit menggeser kursi baris 1 ke belakang.
Driving position, hmm so so sih, kalau saya sih ok aja, stir cukup rendah karena seat tinggi, waktu istri (150) saya test drive pun bisa lihat moncong dengan jelas. Yang penting bagi saya sih dengkul nggak mentok dashboard seperti MPV sejuta umat yang biasa saya pakai.
Lekuk dashboard sisi penumpang depan cenderung memakan ruang kaki kanan penumpang sehingga mau nggak mau harus lebih mundur lagi.
Jarak antara pengemudi dan penumpang depan sangat “intim” dan di sela-selanya tidak terdapat console box.
Baris kedua meskipun dengan kondisi baris pertama dimundurkan masih terlihat manusiawi.
Jok, ini yang saya suka, bahan fabric, karena saya dan istri kurang suka leather sintetis, makanya kami pilih seri GS dibanding Dilago.
Bottle holder di depan ada 3, 2 buah di depan tuas perseneling, 1 di dashboard kanan setir, tidak ada space di doortrim, hanya muat untuk buku catatan perjalanan yang saya bawa. Baris 2 hanya ada 1 cup holder saja.
Seatbelt sampai baris kedua ada, aman.
Audio 2 din cukup lengkap walau displaynya belum LCD alias nggak bisa nyetel video bo’. Suara 4 speaker saya rasakan pas-pasan saja, tidak seburuk salah satu LCGC yang pernah saya coba, tidak juga bisa dibilang baik, tapi maklum lah untuk harga di bawah Rp100 juta. Mungkin sektor ini perlu modifikasi agar lebuh memuaskan.
Getaran mesin, wow terasa juga ya, apaladi kalau pintu terbuka, kayak “ngayun” pintunya, mungkin memang sudah bawaan orok mesin 3 silinder ya, sepertinya perlu tambahan peredam kabin untuk mengurangi “kehebohan” ini.
Akselerasi okelah untuk 998cc 3 silinder torsinya cukup mantep.
Spoiler for Review kedua:
Suspensi mobil ini cukup nyaman untuk jalan sehalus jalan tol
Berkat ban 175 ring 14 yang dipasang pada seri GS ini handling pada kecepatan tinggi juga cukup bagus, mungkin hanya kurang dari aerodinamikanya saja ya, haha,
Suara gesekan ban Chamipro Eco dengan aspal entah mengapa sangat terdengar berdengung di kabin, mungkin memang karakter bannya seperti itu, atau mungkin perlu tambah peredam rumah roda.
Setengah perjalanan, hujan mulai turun, nah di sini mulai tampak kekurangan mobil ini. Berisik, satu kata yang bisa menggambarkan, suara jatuhnya rejeki air ke atap dan cipratan air dari ban sungguh mengganggu, tapi saya memaklumi karena LCGC merk lain yang pernah saya coba bahkan untuk low MPV yang biasa saya pakai untuk kendaraan dinas juga sama berisiknya. Lagi-lagi terlintas untuk menambah peredam buat si Lagoon.
Untuk penerangan saya acungi dua jempol buat Suzuki, lampu dekat multireflektor dan lampu jauh projector bergantian bekerjasama dengan lampu kabut untuk membelah gelapnya jalan berbayar yang nyaris tanpa penerangan ini.
Spoiler for Review ketiga:
Suspensi cukup mumpuni untuk jalan rusak, tidak terlalu empuk memang tapi juga tidak sekeras yang saya bayangkan.
Ground clearence mengkhawatirkan (atau perasaan saya saja) agak was was waktu lewat jalan berlubang.
Kaca depan yang guedee membuat sunshade hampir tak bermanfaat, jurus tukang pijat pun keluar (kacamata item on).
“Layer” di dashboard. Entah apa maksudnya, keren sih dashboard jadi tidak flat, tapi terus terang cukup mengganggu pandangan dengan adanya refleksi garis di kaca depan, terutama saat siang hari.
Konsumsi BBM? pasti donk ada, note: saya nggak mengikuti GSI yaa, ampun deh jalannya jelek soalnya.
Spoiler for Konsumsi BBM:
Lampung: SPBU 24.345.110 di daerah Menggala, Lampung. Tripmeter menunjuk angka 310,8 km dan total pengisian pertamax full tank 18,41 liter. Hitungan 310,8 km /18,41 liter= 16,88 km/l tidak seirit perkiraan saya, tapi mengingat kondisi perjalanan stop and go dengan jalan hancur bisa jadi mempengaruhi konsumsi bbmnya.
Palembang: SPBU 24.301.15 Pertamax 16,10 liter dan tripmeter menunjuk angka 575,9 km. Itung-itungan lagi (575,9-310,8) km/16,10 liter= 16,46 km/l yaahh nggak jauh beda dengan sebelumnya, karena jalan yang dilewati memang hampir sama kondisinya.
Jambi: setelah dipakai 2 hari di dalam kota akhirnya isi pertamax lagi di kilometer 882,0, habis 18,94 liter. Hitung lagi ah (882,0-575,9)km/18,94 liter= 16,16 km/l yaah lagi-lagi nggak jauh beda, mungkin karena dipakai dalam kota juga, bagi saya masih irit kok.
sekian cerita saya, mohon maaf apabila kata-katanya berantakan.
selengkapnya bisa dilihat di blog saya di sini
kalau ada yang ketemu di Jambi boleh donk tetot tetot
salam gogon
Wah keren banget om, lengkap pula...
sayangnya konsumsi BBM GS sepertinya beda sedikit dengan Ertiga ya.
Dulu ane pernah bawa Ertiga ke Bukit tinggi, rata2 1:14-15, pake premium sih. itu juga kalo lagi berenti istirahat, mesin jarang dimatiin.
oiya waktu bensin 6500, sekali jalan Bekasi-BKT abisnya 650rb.
Maaf bukannya mau banding2in, mungkin driving style mempengaruhi.
tapi sebaiknya di cek ke beres aja om. Setau ane Mesin K10B rata2 diatas 1:20 CMIIW
Oiya om, itu jalur lintas timur sumatera sebelah mana ya? kok parah amat ya?