Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#269
Partitur no. 55: Desember


Desember; sebuah awal dari akhir tahun yang sangat menenyenangkan. Kami kembali menemui penghujung tahun, sebuah bulan yang sangat indah untuk menutup tahun yang paling berwarna dalam hidupku. Sebuah bulan yang menemani kami dengan rintikan hujan yang sangat kurindukan.

Beberapa bulan lalu, aku sudah tidak tinggal satu atap dengan Alvin, yang sekarang menempati salah satu rumah yang juga merupakan peninggalan nenekku. Rumah tua yang besar ini kembali sepi seperti biasa, namun potongan-potongan memori bersama Alvin, Afi, dan saudara-saudara lainnya tetap tertinggal di rumah ini. Kamar Alvin pun hanya menjadi tempat penyimpanan sekarang, tidak ada yang menempati kamar kenangan itu; Kamar yang menjadi saksi masa kecil kami.

Aku juga sudah tidak lagi mengikuti tim baseball buatan kami yang menjadi kegiatan favoritku itu karena sudah detik-detik menjelang Ujian Nasional, terlebih pelatihnya sedang melatih tim Indonesia yang akan berlaga di luar negeri.

Sebuah kejadian yang cukup mengejutkan namun menggelitik pun terjadi: Handphone milik Tasya tercebur ke dalam toilet, sehingga handphonenya rusak seketika. Kami merasakan susahnya berkomunikasi lagi, kembali seperti kami memulai hubungan ini. Hanya bedanya, kali ini Tasya yang tidak memiliki gadget untuk berkomunikasi ini.

Walaupun Tasya tak meminta, ia dibelikan lagi sebuah handphone oleh Papanya, dan Bang Ichy turut membantu mencari handphone itu. Ia akhirnya mendapatkan sebuah handphone dari sebuah produsen Jepang ternama, yang membuatku juga sangat iri. Tasya kemudian berencana mengganti uang Papanya setelah ia mendapatkan pekerjaan lagi, sedikit demi sedikit.

Berbicara tentang pekerjaan, sebelum ia wisuda, aku telah menanyakan kepada Bundaku, apakah di kantornya ada lowongan pekerjaan yang kosong untuk Tasya bisa bekerja. “Nanti Bunda kabarin kalo ada ya, Man.” Ujar Bundaku setelah kuberi tahu sekitar sebulan lalu.

“Iya, Nda. Tolong banget, ya.” Kataku dengan memohon.

“Emang Tasya mau masuk bagian apa, Man?” tanyanya kemudian, melihatku yang sedang memohon itu.

“Bagian administrasi, Nda,” jawabku.

“Masih kuliah atau udah lulus?” ucapnya menanyakan detail yang cukup penting.

“Tanggal 30 besok udah wisuda, Nda.” Aku sangat ingin membantu Tasya, terlebih, karena ia sudah cukup lama menganggur. Aku juga sempat mencari-cari lowongan pekerjaan di forum Kaskus dan di Koran-koran yang terbit setiap paginya. Walaupun aku tak bisa membantu banyak, tapi setidaknya aku telah berusaha sebisaku untuk membantunya.

***


Suatu ketika, di mana aku sedang beristirahat sehabis bermain bola dengan teman-teman kelasku di jam olahraga itu. Saat itu pukul sepuluh pagi, aku melihat dua missed call dari Bundaku. Karena jika sudah lebih dari satu kali Bundaku menelpon, mungkin itu hal yang cukup penting. Lantas, ketika aku sedang ingin menelpon balik, ternyata Bundaku sudah menelponku lagi.

“Kenapa, Nda?” tanyaku deg-degan.

“Tasya sekarang ada di mana?” ujar Bundaku langsung menuju inti permasalahannya.

“Belum tau deh, Nda. Kenapa emangnya?” kataku dengan hati-hati.

“Soal kerjaan, Man.” Pertama kali aku mendengar kalimat itu dari Bundaku, kesenangan tak terbendung dari dalam hatiku, ternyata Bundaku benar-benar mencarikannya untuk Tasya. “Tasya bisa nggak ke tempat makan di sebelah Kantor Bunda jam makan siang ini?”

“Iman tanya dulu ya, Nda. Nanti Iman kabarin lewat WhatsApp..”

“Ditunggu secepatnya ya, Man.” Tak lama, percakapan itu pun selesai.

Aku lantas langsung menelpon Tasya, karena telepon lebih cepat untuk menyampaikan informasi daripada menulis pesan tertulis. Beberapa kali kutelepon, namun tak kunjung diangkat. ‘Mungkin dia lagi membantu kerjaan Kantor Papanya.’ Ujarku dalam hati. Karena belum ada balasan juga, aku pun segera menuju Kantin, membeli segelas teh manis favoritku, sambil menunggu respon balik dari Tasya.

“Man, bilangin juga bawa Ijazahnya sama lamaran kerjanya,” tulis Bundaku melalui WhatsApp.

“Iya, Nda.” Balasku dengan cepat.

Tak lama, Tasya pun menelponku kembali. Untungnya aku belum melanjutkan bermain bola dengan teman-temanku.

“Halo, Ucing? Kenapa nelpon?” tanyanya dengan suara lucunya yang semakin lucu di telepon itu.

“Ngg, sekarang kamu lagi di mana?” kataku untuk melihat situasi, apakah tepat atau tidak.

“Lagi di rumah sakit sayang, kenapa emangnya?” suaranya menandakan ia masih bingung.

“Itu, Bunda ada kerjaan buat kamu. Katanya kamu disuruh temuin Bunda di tempat makan di sebelah Kantornya. Jangan lupa bawa ijazah sama surat lamaran kerja. Good luck ya, sayang!” kataku menyemangati Tasya suaranya yang tadi sedang lemas.

“Tapi aku lagi di Rumah Sakit..” ujarnya seperti ingin namun tak bisa meninggalkan hal yang sedang terjadi di rumah sakit itu.

“Emang siapa yang sakit, Ucing?” ujarku penasaran, karena aku sudah berusaha mencarikannya kerja.

“Mama aku..” jawabnya dengan melas. “Tapi aku tanya Mama dulu nih, semoga aja aku boleh pergi buat nemuin Bunda kamu..” katanya seperti tak ingin mengecewakanku.

“Oke, sayang. Semoga nanti aku dapat kabar baik dari kamu, ya. Good luck!” ucapku senang.

***


Keesokan harinya, di siang hari yang melelahkan itu, akhirnya bel pulang sekolah yang selalu ditunggu-tunggu para siswa pun berbunyi. Tapi bunyi pada jenjang akhir itu tak semenyenangkan bunyi biasanya, karena bunyi tersebut hanya menandakan untuk istirahat sebelum Pendalaman Materi. Ketika itu, untungnya aku hanya mengikuti kelas spesial untuk pelajaran Bahasa Inggris yang harus mendapat nilai terbaik dibanding siswa-siswa lainnya, walaupun itu menandakan kami tetap harus pulang lebih sore dari biasanya.

Sekolah kami tentunya sudah tidak menumpang di sekolah mantan gitarisku, Fadjri, sehingga kegiatan sehari-hari sudah berjalan dengan efektif, dan tak harus pulang lebih malam seperti dulu.

Dalam benakku kali itu, aku tak bisa membayangkan apa yang Tasya dan Bundaku lakukan kemarin, apakah Tasya akan mendapat pekerjaannya? Lalu, apa yang terjadi jika Tasya benar-benar masuk ke dalam Kantor Bunda? ‘Hubungan antara Bunda dan Tasya makin erat pasti’pikirku dengan naif. Sambil berhayal, aku tak sadar bahwa ternyata aku sudah ketinggalan cukup banyak bus kosong yang melintas.

Dan tanpa sadar juga, aku sudah berada di lampu merah dekat rumah, yang mengharuskanku turun dari bus yang sedang berhenti karena lampu merah itu. Aku segera membayar tarif bus yang sangat murah untuk ukuran anak sekolah, dan langsung turun menuju trotoar untukku berjalan menuju rumah yang tak jauh dari tempat turunnya bus itu.

Di tengah seharusnya orang berhenti menunggu lampu hijau untuk muncul, selalu ada oknum—mungkin satu atau dua orang yang ingin melanggar, sehingga mencelakakan orang. Dan akulah korbannya.

Saat berjalan di zebra cross, yang memang untuk orang menyebrang, dari arah turun dari bus tadi ada sebuah sepeda motor melaju dengan kencang, seperti ingin menerobos lampu merah yang menandakan seharusnya orang itu berhenti. Namun, dengan kecepatan yang sangat cepat, ia menabrakku sampai aku terpental cukup jauh. Dengan kesakitan, aku melihat motor itu langsung menancap gas dengan kencang, seolah ia tidak memiliki tanggung jawab terhadap orang yang baru saja ia tabrak. Untungnya, tukang gorengan yang biasa berjualan disuatu Kantor Bank dekat rumahku sampai meninggalkan jualannya untuk menolongku yang tergeletak begitu saja di jalanan.

Dengan kaki terseok-seok, aku tak menyadari adanya luka di tubuhku ini sampai aku sudah berada di depan gerbang rumah. Karena aku bukan tipe yang suka membuat susah orang lain, aku membersihkan sendiri darah luka yang berada di kaki, tangan, dan badanku dengan air yang kumiliki. Hanya satu hal yang susah untuk dibersihkan: noda pada baju batik itu. Untungnya, kepalaku tidak terluka, sehingga tidak ada masalah yang begitu besar, tidak sampai robek seperti halnya Kang Naufal terdahulu, dan yang pasti tidak perlu untuk dijahit.

Jika Bundaku mengetahui kejadian itu, ia pasti sudah sangat cemas. Maka dari itu, aku berusaha untuk tetap menyembunyikan tentang ditabrak lari tadi. Lalu, untuk menyembunyikannya lebih dalam, aku menuju warung depan rumahku itu untuk membeli sebuah plaster, dan sebuah kapas untuk menutup luka itu. Dengan sedikit mengeluarkan modal lebih, aku harus membeli obat merah agar tidak infeksi.

Ketika hendak membunyikan bel, aku terkaget-kaget karena Tasya membuka gerbang itu sebelum aku membunyikan belnya. Ia terlihat sangat gembira menyambutku, dan kulihat juga ada Bundaku di teras rumah. Lantas, aku tak berbicara soal tabrakan yang baru saja kualami, dan sebisa mungkin tidak memperlihatkan kepincangan itu, walaupun tetap saja ketahuan. "Kamu kenapa?" ia kebingungan melihatku yang berjalan dengan pincang. "Kok pincang jalannya?"

"Nggak, ini cuma nggak sengaja jatoh di sekolah tadi," ujarku menghindari pertanyaannya itu.

"Boong, ya?" tanyanya sambil melihat sekujur tubuhku. "Kok nggak kayak jatoh biasa, ya?" ternyata, ia tak begitu mudah dibohongi tentang masalah kecil ini.

"Emang jatohnya nggak biasa, ucing. Jatuh cinta sama kamu bukan hal yang biasa."

"Yee, malah gombal kamu!" dengan gemas ia sudah kembali mencakar tanganku seperti biasa. "Eiya, aku ada kabar bagus, lho!" ujarnya sambil berjalan menuju teras. Penyembunyian mengenai luka itu ternyata berhasil. Ia juga seperti Bundaku, jika tahu kejadian barusan, ia pasti akan sangat bawel.

"Berita bagus apa?" tanyaku, "Pantes dari tadi kayaknya kamu lagi seneng banget." kataku sambil melihat Tasya.

“Aku diterima di kantornya Bunda!” ujarnya dengan sangat senang. Aku cukup terkejut dengan ucapannya itu, ternyata Bundaku memang tak main-main untuk membantunya. Bundaku yang sedang duduk di teras itu hanya tersenyum sambil memainkan handphonenya. “Besok aku udah mulai masuk kerja. Tapi..” ia menyeritkan dahinya, seperti menandakan ada yang mengganjal dihatinya.

“Tapi kenapa sayang? Bukannya kamu harusnya seneng kalo kamu udah dapet kerjaan?”

“Tapi kita bisa jadi jarang ketemu, bisa jadi jarang jalan-jalan kayak dulu, soalnya aku juga kayak Bunda, cuma libur sehari dalam seminggu, itu liburnya juga belum nentu..” ia tampak sedikit murung.

Aku membalasnya dengan senyuman, “Nggak apa-apa sayang, lagian kantor kamu kan nggak jauh-jauh banget dari sini, nanti sesekali aku mampir ke sana sepulang kamu kerja.”

Mungkin, inilah tantangan berikutnya dalam hubungan kami selain perbedaan umur yang cukup jauh. Aku berada diperasaanku yang sangat labil, yang tak jelas entah kemana arahnya; disatu sisi aku merasa senang karena sudah membantu Tasya memulai karir lagi, dan disisi yang lain merasa sedih, karena tak bisa setiap saat bersama seperti dulu. Tapi, itulah jalan yang kupilih: membantunya menata masa depannya. Aku harus menghilangkan salah satu egoku. “Terima kasih udah selalu dukung aku,” ia melihat ke arahku dan tersenyum manis.


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:57
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.