- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#160
A Part 11
Untung saja kak Fe mengajakku pulang, aku sudah ngantuk berat. Aku sudah tidak bisa berpikiri jernih. Pikiranku hanya kasur, bantal, dan guling. Ya, aku ingin tidur. Aku capek!.
Setelah pamitan sama ayah, aku sama kak Fe langsung pergi. Waktu itu pukul 21.40 aku lihat jam digital di mobil, aku penasaran dan kecoplosan ngomong tentang sikap kak Fe kepada ibu.
“Kak..Fe. Aku kira kak Fe sudah tidak peduli lagi dengan ibu.”
Seketika aku hampir terlempar dari posisi duduku yang nyaman ketika kak Fe mengerem secara mendadak. Jantungku hampir copot waktu itu. Dia memandanngiku tajam seolah-olah kesal dan marah. Tapi nyatanya memang dia marah. Aku sendiri malah bengong dan heran, apa yang aku ucapkan salah ?
Dengan nada tinggi dia menyuruhku untuk turun dari mobil, dia juga menyodorkan uang 50ribuan kepadaku, dia bilang aku harus pulang ke rumah naik taksi atau ojek saja. Aku makin tambah bingung, aku takut pulang sendirian malam-malam gini. Tapi dia terus saja membentak, aku yang lemah ketika dibentak oleh seseorang terpaksa menurutinya. Aku keluar dari mobil. Dia sekarang pergi meninggalkanku dan sekarang aku entah berada dimana.
Jalanan sepi dan cuaca yang cukup dingin, aku berjalan sendirian, aku yang tadinya ngantuk sekarang menjadi melek dan waspada, takut terjadi apa-apa denganku. Untung saja tidak jauh aku berjalan aku menemukan tukang pecel ayam dan didekatnya ada tukang ojek. Aku mampir dulu sebentar di tukang pecel ayam, yah asal tau saja aku belum makan dari siang. Aku membeli pecel ayam waktu itu, karena aku lapar. Setelah selesai makan, aku segera menemui tukang ojek dan menanyakan apakah dia bisa mengantarku pulang ke rumah. Ternyata aku tidak jauh dari rumah, hanya beberapa kilometer saja dari tempatku berada saat ini. Aku pun pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku baru ingat, kalau aku tidak memegang kunci. Gawat kalau sampai aku tidur diluar. Aku pun segera menuju pintu, aku berdoa, aku berharap semoga pintunya tidak dikunci oleh kak Fe.
Dan…
Syukurlah… masih ada kebaikan dari kak Fe, dia tidak mengunci pintu depan rumah. Aku pun masuk perlahan. Lampu dimatikan sehingga kondisi ruang tamu gelap, tapi aku melihat sosok perempuan berambut panjang dengan pakaian warna putih terlihatsedang berdiri di dekat meja foto, dia memegang sesuatu. Aku sempat reuwas (kaget), aku kira itu jurig (hantu), kuntilanak. Tadinya aku mau teriak tapi aku putuskan untuk menyalakan lampu.
Dan…
Ternyata… itu kak Fe yang sedang memegangi sebuah bingkai foto.. Dia tampak kaget dan langsung melihat ke arahku ketika aku sudah menyalakan lampu ruang tamu. Wajahnya terutama hidungnya tampak merah dan basah, ya wajahnya sepertinya diguyur airmata. Dia tampak panik ketika aku melihatnya dengan kondisi seperti itu. Dan aku pun baru melihat kak Fe menangis.
Setelah aku memergokinya menangis di ruang tamu, dia langsung menaruh kembali foto itu pada tempatnya. Dia langsung berlari menaiki tangga dan menuju kamarnya. Entah kenapa aku merasa tidak enak hati, dan iba melihat kak Fe seperti itu. Aku pun segera melihat foto apa yang tadi dilihat kak Fe, ternyata itu foto dirinya dan ibunya ketika dia masih kecil. Foto pelukan dari ibunya dan senyum manis dirinya ketika di foto. Lucu yah, batinku.
Hoamz.. aku mengantuk, jam menunjukan pukul 11.10, aku pun pergi ke kamarku, tadinya aku berniat untuk mengetuk pintu kamar kak Fe. Tapi tidak jadi, nanti aku malah dimarahi lagi. Aku putuskan untuk langsung saja masuk ke kamarku. Aku ganti pakaianku, aku jatuhkan badanku ke kasur.
Selamat tidur, semoga sehat kembali ibu, dan semoga kak Fe baik-baik saja. Doaku sebelum aku menutup mata.
Setelah pamitan sama ayah, aku sama kak Fe langsung pergi. Waktu itu pukul 21.40 aku lihat jam digital di mobil, aku penasaran dan kecoplosan ngomong tentang sikap kak Fe kepada ibu.
“Kak..Fe. Aku kira kak Fe sudah tidak peduli lagi dengan ibu.”
Seketika aku hampir terlempar dari posisi duduku yang nyaman ketika kak Fe mengerem secara mendadak. Jantungku hampir copot waktu itu. Dia memandanngiku tajam seolah-olah kesal dan marah. Tapi nyatanya memang dia marah. Aku sendiri malah bengong dan heran, apa yang aku ucapkan salah ?
Dengan nada tinggi dia menyuruhku untuk turun dari mobil, dia juga menyodorkan uang 50ribuan kepadaku, dia bilang aku harus pulang ke rumah naik taksi atau ojek saja. Aku makin tambah bingung, aku takut pulang sendirian malam-malam gini. Tapi dia terus saja membentak, aku yang lemah ketika dibentak oleh seseorang terpaksa menurutinya. Aku keluar dari mobil. Dia sekarang pergi meninggalkanku dan sekarang aku entah berada dimana.
Jalanan sepi dan cuaca yang cukup dingin, aku berjalan sendirian, aku yang tadinya ngantuk sekarang menjadi melek dan waspada, takut terjadi apa-apa denganku. Untung saja tidak jauh aku berjalan aku menemukan tukang pecel ayam dan didekatnya ada tukang ojek. Aku mampir dulu sebentar di tukang pecel ayam, yah asal tau saja aku belum makan dari siang. Aku membeli pecel ayam waktu itu, karena aku lapar. Setelah selesai makan, aku segera menemui tukang ojek dan menanyakan apakah dia bisa mengantarku pulang ke rumah. Ternyata aku tidak jauh dari rumah, hanya beberapa kilometer saja dari tempatku berada saat ini. Aku pun pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku baru ingat, kalau aku tidak memegang kunci. Gawat kalau sampai aku tidur diluar. Aku pun segera menuju pintu, aku berdoa, aku berharap semoga pintunya tidak dikunci oleh kak Fe.
Dan…
Syukurlah… masih ada kebaikan dari kak Fe, dia tidak mengunci pintu depan rumah. Aku pun masuk perlahan. Lampu dimatikan sehingga kondisi ruang tamu gelap, tapi aku melihat sosok perempuan berambut panjang dengan pakaian warna putih terlihatsedang berdiri di dekat meja foto, dia memegang sesuatu. Aku sempat reuwas (kaget), aku kira itu jurig (hantu), kuntilanak. Tadinya aku mau teriak tapi aku putuskan untuk menyalakan lampu.
Dan…
Ternyata… itu kak Fe yang sedang memegangi sebuah bingkai foto.. Dia tampak kaget dan langsung melihat ke arahku ketika aku sudah menyalakan lampu ruang tamu. Wajahnya terutama hidungnya tampak merah dan basah, ya wajahnya sepertinya diguyur airmata. Dia tampak panik ketika aku melihatnya dengan kondisi seperti itu. Dan aku pun baru melihat kak Fe menangis.
Setelah aku memergokinya menangis di ruang tamu, dia langsung menaruh kembali foto itu pada tempatnya. Dia langsung berlari menaiki tangga dan menuju kamarnya. Entah kenapa aku merasa tidak enak hati, dan iba melihat kak Fe seperti itu. Aku pun segera melihat foto apa yang tadi dilihat kak Fe, ternyata itu foto dirinya dan ibunya ketika dia masih kecil. Foto pelukan dari ibunya dan senyum manis dirinya ketika di foto. Lucu yah, batinku.
Hoamz.. aku mengantuk, jam menunjukan pukul 11.10, aku pun pergi ke kamarku, tadinya aku berniat untuk mengetuk pintu kamar kak Fe. Tapi tidak jadi, nanti aku malah dimarahi lagi. Aku putuskan untuk langsung saja masuk ke kamarku. Aku ganti pakaianku, aku jatuhkan badanku ke kasur.
Selamat tidur, semoga sehat kembali ibu, dan semoga kak Fe baik-baik saja. Doaku sebelum aku menutup mata.
Diubah oleh natashyaa 04-05-2015 20:17
0
