- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#254
Partitur no. 54 : La Distance Entre Nous
Berada di jenjang akhir mungkin memang menyenangkan, karena kita bisa segera mewujudkan impian masa depan kita secara perlahan. Kita bisa satu langkah lebih maju dalam kehidupan yang kita tuju.
Tapi, berada di jenjang akhir juga berarti kita harus besiap menghadapi tantangan berikutnya, yang belum tentu menyenangkan. Lalu, kita juga harus dihadapkan ke sebuah jenjang yang tidak semua orang inginkan, yaitu perpisahan. Kita harus berpisah dengan sahabat seperjuangan, beserta cerita kisah indah pada tahun-tahun menyenangkan itu. Kami bersiap untuk bertemu dengan orang baru, dan berkumpul dengan teman lama sambil menceritakan pencapaian masa-masa yang akan datang.
Di sebuah Sabtu yang menyenangkan, aku diajak Tasya menuju Kampusnya untuk melihat sebuah jadwal, sebagai ganti di mana aku pernah mengajaknya untuk melihat daerah kehidupan masa-masa SMP ku. Jadwal itu membuat jarak yang cukup jauh di antara kami: seorang anak SMA yang baru akan lulus dengan seorang perempuan yang akan segera di wisuda.
Tasya sudah melewati masa-masa merevisi Tugas Akhir-nya yang sangat di bantu oleh Bang Ichy, hingga mereka berdua menyelesaikannya sampai larut malam. Ia juga disidang sekitar dua kali, yang pertama dengan sebuah revisi, dan yang kedua dengan sebuah kabar keberhasilan yang sangat membahagiakan. “Sukses untuk semuanya ya, sayang!” kataku menyemangati Tasya.
“Hihi makasih sayang.. Ya ampun, aku masih nggak nyangka, lho!” jawab Tasya menceritakan kejadian ketika persiapan sidang itu ketika kami berada di dalam bus. “Aku deg-degan banget padahal. Aku siang malem bener-bener nyoba pahamin Tugas Akhir yang aku buat ini,”
“Aku selalu support kamu kok!” kataku dengan tersenyum. “Karena kamu fresh graduate, semoga bisa cepet dapet kerja, ya.”
“Iya, abis wisuda itu aku mau langsung nyoba kirim lamaran lagi kok,” ujar Tasya. “Makasih ya udah selalu support aku dari awal banget nyampe sekarang..”
“Haha itu udah kewajiban aku kok, sayang” jawabku dengan mantap. Tak lama, kami sudah berhenti di sebuah Halte, di mana menandakan kami harus turun di sini. Ternyata, kampusnya Tasya sangat dekat dengan tempat di mana aku pernah manggung di acara Kaskus beberapa bulan silam.
Ia memelukku dengan erat sambil keluar dari Halte busway itu, dan mulai menuju ke kampusnya yang baru kali pertamanya aku berada di sana. Suasana di lingkungan ini sangat tak asing bagiku, hanya saja aku baru mengetahui bahwa ada sebuah kampus di sana. Kampus yang cukup besar, walau tidak sebesar sebuah Universitas yang waktu itu aku kunjungi dengan Tasya dan Mbak Sari.
“Ini beneran nggak apa-apa aku masuk?” tanyaku dengan ragu.
“Nggak apa-apa kok, sayang. Lagipula kan kamu pernah ngajak aku ke lingkungan SMP kamu,” katanya sambil membimbingku masuk dari pintu depan.
“Tapi kan waktu itu nggak nyampe masuk ke SMP aku,” ujarku yang masih di tarik oleh Tasya menuju lantai atas Kampus itu.
“Udah nggak apa-apa,” ucapnya membujukku. Kau tahu, jika Tasya sudah membujuk seperti itu, aku tak pernah bisa menolaknya sama sekali.
Di lantai atas cukup dipenuhi oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang juga sepertinya sepantaran dengan Tasya, seperti sedang mengantre sesuatu, “Ya ampun Tasya, apa kabar?” sapa salah satu seorang mahasiswi kepada Tasya dengan gembira sambil memegang satu folder kertas, terlihat seperti dokumen yang cukup penting.
“Baik, ya ampun, udah lama juga ya kita nggak ketemu,” ujar Tasya dengan senang sambil memeluk mahasiswi itu.
“Gimana sidangnya kemaren?” tanya mahasiswi itu.
“Lancar, sist..” jawab Tasya dengan ekspresi muka terharu, bertemu teman kuliahnya dulu.
“Syukur deh kalo begitu.. Udah dapet tanggal wisuda nya?” tanya mahasisi itu lagi.
“Ini baru mau ngambil, sist..” jawab Tasya sumringah.
“Oke kalo begitu, sukses terus ya, Sya,” ujar mahasiswi itu. “Oh iya, ini pacar lo?” lanjut mahasiswi itu lagi.
“Iya, sist. Kenalin, namanya Iman,” Tasya mengucapkannya dengan senang.
“Iman,” kataku sambil mengulurkan tangannya. Ia juga memperkenalkan dirinya, namun sayangnya aku tak bisa mengingat namanya, karena hanya itu pertemuan kami.
“Hoo, kuliah di mana dia, Sya?” deg! Sebuah pertanyaan yang sudah kutakuti sejak aku diajak Tasya menemaninya ke Kampus hari ini. Karena, banyak yang kurang merestui sebuah hubungan di mana sang laki-laki lebih muda di banding sang perempuannya.
“Masih SMA dia, sist” Tasya memperkenalkanku tanpa rasa malu dibenaknya.
“Hoo masih SMA..” Ia mengeluarkan ekspresi terkejut. Kami pun berpamitan untuk segera melihat jadwal wisuda Tasya, dan beberapa dokumen yang terlihat penting.
Tasya begitu senang melihat bahwa tanggal wisudanya cukup dekat dari hari itu: ia akan di wisuda pada tanggal 30 November ini, yang hanya berkisar sekitar dua minggu lagi.
“Kamu bisa dateng nggak? Aku seneng banget kalo kamu bisa dateng!” ujar Tasya gembira. Aku segera melihat kalender, berharap bahwa tanggal 30 November 2012 tidak jatuh pada hari Sekolah.
“Hmm, kayaknya nggak bisa sayang, tanggal 30 hari Sekolah,” kataku dengan melas. “Maaf banget, ya..”
“Nggak apa-apa kok sayang, lagian kan kalo bisa doang hehe,” katanya dengan santai. Sebenarnya aku sangat ingin menghadirinya, apalagi itu adalah hari penting dalam hidup Tasya. “Aku lapar, nih. Makan, yuk?” ajak Tasya.
“Sama, nih. Hehe,” angguk ku langsung setuju.
“Kamu mah emang laper mulu,” ujar Tasya sambil memeletkan lidahnya. Kami pun segera turun menuju surga yang sama seperti pada sekolah-sekolah, yaitu Kantin. Hanya saja, kantin di Kampusnya Tasya terasa lebih lengkap daripada Kantin di Sekolahku. Aku segera memesan salah satu makanan favoritku: Nasi Padang. Tasya juga memesan makanan yang sama denganku, begitu pula dengan minumnya, yaitu teh anget manis.
“Eh, Tasya, apa kabar?” kali ini ada seseorang mahasiswi lagi yang menghampiri Tasya di tengah makan siang ini. Ia menggunakan kerudung, putih, dan tingginya hampir sama denganku.
“Ya ampun, apa kabar, nggun?” Tasya segera meletakkan sendok dan garpunya kembali ke piringnya, meminum sedikit tehnya, mengambil tissue untuk membersihkan tangannya, dan bersalaman dengannya.
“Baik.. Hehe lo gimana? Udah dapet tanggal wisudanya?” tanya mahasiswi itu.
“Udah, Nggi, tanggal 30 November besok. Lo sendiri gimana?” ujar Tasya bertanya balik.
“Wah, sama dong. Hehe” ia melihat Tasya dengan perasaan sangat senang. “Ini pacar lo itu, Sya?”
“Iya, kenalin, ini Iman..” lagi-lagi, Tasya memperkenalkanku tanpa rasa malu. Aku langsung membersihkan tanganku dengan tissue.
“Iman,” ujarku sambil mengulurkan tangan.
“Anggi,” ia segera menjabat tanganku dengan halus.
“Kuliah di mana dia, Sya?” lagi-lagi, pertanyaan ini kembali muncul. Dan aku hanya tersenyum, sepertinya muka ku memang sudah cocok untuk anak perkuliahan.
“Masih SMA dia, Nggi.” Bedanya, Anggi tidak memperlihatkan ekspresi kaget. Ia hanya tersenyum, “Selamat ya, Sya. Akhirnya..” ujarnya dengan lega.
“Hehe” Tasya hanya bisa tersipu malu. “Gimana lo sekarang? Udah ‘isi’ belum?” itu salah satu pertanyaan Tasya yang cukup membuatku terkejut. Sepertinya Anggi memang memilih untuk membangun bahtera Rumah Tangga sedari muda.
“Udah, Sya. Hehe” ujarnya dengan semangat.
“Selamat, ya..” Tasya pun memeluk Anggi dengan sangat erat, melambangkan eratnya juga persahabatan mereka sejak Tasya mulai kuliah.
“Yaudah, gw duluan ya, Sya, Man,” ujarnya melambaikan tangan. “Lanjutin atuh makannya, maaf ya ganggu. Hehe”
“Dah..” Tasya juga melambaikan tangannya. Aku terharu, aku benar-benar sudah di bawa asuk ke dalam dunianya Tasya. Kami pun segera menyantap habis makanan kami itu dengan nikmatnya. Terutama, ketika Tasya menyisihkan makannya karena sudah kenyang.
“Sekarang kita mau kemana?” tanyaku sambil melihat jam yang ternyata sudah sekitar jam 4 sore. Pantas saja tadi aku terasa lapar.
“Pulang aja, yuk?” usul Tasya. Aku pun menyetujuinya, walaupun aku masih ingin bersama dengannya. Ketika keluar dari Kantin, kami kembali disapa oleh teman dari Tasya yang sedang duduk di sebrang Kantin itu.
“Tasya!” teriak seorang perempuan dari sebrang yang menggunakan kerudung itu. Tasya segera menoleh dan kembali menunjukkan sifatnya yang gembira.
“Hai,” ujar Tasya sambil memeluk perempuan itu. “Kenalin, Pe. Ini cowok gw,” kata Tasya dengan sangat bangga memperkenalkanku.
“Iman,” aku pun segera mengulurkan tanganku, dan mencoba akrab dengan teman-temannya yang duduk itu.
“Syifa..” ia menjabat tanganku dengan halus. “Ini cowok lo yang dari dulu lo ceritain itu, Sya? Akhirnya ketemu juga ya sama gw!” katanya dengan senang.
“Iya, Pe. Hehe,” jawab Tasya dengan pipi memerah.
“Cocok ya lo berdua..” mendengar ucapan itu, aku dan Tasya saling berpandang-pandangan, kemudian tersenyum bersama. Mereka berdua pun berbincang-bincang dengan serunya, sementara aku mengakrabkan diri dengan dua orang lelaki yang berada di deket Syifa.
“Yaudah, gw pamit dulu ya, Pe,” ujar Tasya kepada Syifa. Setahuku, intensitas pertemuan Tasya dan Syifa masih sangat sering, dan dari semua sahabatnya, hanya dengan Syifa sepertinya terlihat anteng-anter terus. Kami pun berpamitan dengan mereka semua, kemudian kami segera menuju Halte Busway tempat kami datang tadi.
“Salah satu yang cowok tadi itu mantan aku pas kuliah, lho,” ujar Tasya seperti dengan sengaja membawa topik itu. “Kamu cemburu, nggak?” tanyanya kemudian.
“Nggak kok, kenapa emangnya?” aku memasang muka tenang dan tetap santai. “Lagian ngapain perlu cemburu, kan kamu udah sama aku sekarang, kecuali kamu ada apa-apa.” Lanjutku.
Ia tertawa pelan. “Syukur deh, aku cuma pengen lebih terbuka sama kamu aja, biar nggak ada rahasia-rahasiaan lagi sama kamu. Malah kamu yang nggak mau cerita-cerita.” Kami berdua terdiam, saling berpandang-pandangan untuk beberapa saat.
“Buat aku,” katanya pelan-pelan. “Masa-masa kuliah itu paling seru, lho.” ujar Tasya dengan senang di perjalanan pulang, memecah kesunyian itu.
“Padahal kata guru-guru ku di kuliah itu individualis gitu, ya? Itu bener apa nggak, sih?” tanyaku penasaran.
“Kalo di aku sih nggak kok, sayang. Malah asik banget. Jadi pengen kuliah lagi hehe” ujarnya dengan terharu.
“Kuliah psikologi kayak yang kamu mau aja,” usulku meyakinkannya.
“Hmm kayaknya nggak bakal mungkin terjadi deh, kamu tau sendiri..” jawabnya putus asa. “Mau nggak mau aku cari kerja dulu aja..”
“Aku seneng deh tadi kamu nggak malu ngenalin aku,” ujarku dengan senang.
“Kenapa mesti malu?” tanyanya keheranan.
“Kamu tau sendiri kan perbedaan umur kita? Ya, nggak semua orang open-minded soal ini, kan..” ucapku
“Sayang, jangan bahas soal ini lagi.. Kan aku dulu pernah bilang, lagipula kan kita yang jalanin, bukan mereka..” kata Tasya meyakinkan.
“...” aku hanya bisa terdiam.
“Eiya, aku jadi nggak sabar liat kamu kalo udah gede gimana, ya? Pasti bakal lebih ganteng dari sekarang!” katanya dengan tersenyum.
“Apalagi bentar lagi kamu udah kuliah, seru banget pasti. Masa depan kamu pasti cerah!”
“Tapi, muka aku emangnya udah keliatan tua banget, ya? Dari tadi temen-temen kamu ngiranya aku udah kuliah semua,” kataku sambil menggaruk-garuk rambut yang padahal sama sekali tidak gatal.
“Emang tua, kan yang mudanya aku!” Ledek Tasya lagi sambil menjulurkan lidahnya.
Aku hanya tersenyum mendengar itu, dengan berharap bahwa semoga ia tetap menemaniku di masa yang akan aku jalani berikutnya. Kami berdua benar-benar berada di jenjang akhir di masa kami. Aku mulai menjelang Ulangan Akhir Semester menuju semester dua di Sekolah, sementara Tasya akan segera di wisuda oleh kampusnya, sebagai tanda kelulusan. Jarak di antara kami berdua semakin jauh. Bukan jarak dalam hubungan, namun sebuah jarah realita perbedaan umur kami. Sedari dulu, aku selalu menakuti tentang hal ini. Ah, aku benci ketika kami harus dipisahkan Halte Busway yang memisahkan arah kami.
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:56
0
