Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
delet3Avatar border
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#4446
PART 137

Waktu berputar dan berlalu begitu cepat dalam hidup, seakan siap meninggalkan siapa saja yang gak bisa mengikuti ritmenya. Dan memang benar bahwa waktu selalu menjadi yang paling bijaksana terhadap hidup kita. Serahkan aja semua kepada waktu, nanti dia lah yang akan menjawab semuanya.

Kalau gue menghitung kembali skala tentang apa yang udah gue capai dalam hidup ini, dalam angka satu sampai dengan sepuluh, hitungan gue pasti akan berantakan. Karena akan selalu ada mimpi-mimpi baru yang menggantikan mimpi lama yang telah terwujud, atau tertunda. Waktu memang gak akan berjalan mundur, dan udah merupakan takdir kita untuk menyikapinya dengan mengisi waktu yang akan selalu berlalu itu dengan mimpi-mimpi kita.

Dan gue menyadari, bahwa Anin bukanlah mimpi gue. Anin bukanlah mimpi gue, melainkan dialah pembentuk mimpi gue. Kalau di masa-masa yang lalu gue bermimpi ingin membahagiakan Anin dengan segenap hati gue, maka sekarang gue mulai bisa bermimpi untuk bisa memiliki Anin seumur hidup gue. Mimpi gue suatu saat akan lenyap dan digantikan oleh mimpi yang baru, tapi gue berharap Anin tetap menjadi alasan gue untuk selalu bermimpi.

Gue mengangkat cangkir yang berisi teh di hadapan gue, sebelum sebuah suara membuyarkan lamunan.

Quote:


Gue menghirup sedikit isi cangkir, dan meletakkannya kembali. Gue memandangi Sophia, yang kali itu memakai celana pendek, dan kaos oblong seadanya. Rambutnya tergerai acak-acakan di bahu. Wajar kalau dia berpakaian seperti itu, karena sekarang kami berada di halaman belakang rumah Tante Ratna.

Quote:


Sophia membetulkan rambutnya yang acak-acakan, menguncirnya ke belakang, dan bertanya ke gue.

Quote:


Gue mengangkat bahu sedikit, kemudian tersenyum sambil memandangi kolam renang yang beriak lembut di hadapan kami. Suasana sunyi, yang terdengar hanyalah suara binatang malam dan nafas kami berdua.

Quote:


Sophia terlihat berpikir, dan memandangi kolam renang. Gue diam-diam tersenyum, melihat transformasi cewek bernama Sophia ini. Di awal pertemuan kami, layaknya segala pertemuan dimana aja, masih terasa canggung. Kemudian ada insiden yang membuat dia membenci gue, tapi di sisi lain dia juga satu-satunya orang yang masih mau mendengarkan gue. Kemudian ada waktu dimana dia menjadi satu-satunya orang yang bisa menolong gue, dan dia melakukannya. Dan sekarang, dia jadi orang yang paling dekat dengan gue, selain kakaknya, tentu saja.

Sophia, yang punya insting tajam seperti elang, menyadari kalo gue memandangi dia sambil tersenyum.

Quote:


Gue tertawa lembut sambil memandangi kebun dan kolam renang di hadapan gue. Sophia bertanya ulang.

Quote:


Sophia tersenyum, kemudian memainkan karet gelang di tangannya. Dia menarik napas dan kemudian menghembuskannya dengan cepat lewat mulut.

Quote:


Gue tersenyum, kemudian menjelaskan kepadanya sambil bertopang dagu.

Quote:


Sophia kemudian menggeser duduknya, dan bertopang dagu persis sama seperti gue. Sehingga sekarang kami berdua saling berhadap-hadapan dengan bertopang dagu. Dia tersenyum.

Quote:


Gue tersenyum.

Quote:


Gue menjawabnya dengan menaikkan alis gue. Gue kemudian tertawa perlahan.

Quote:


Sophia tertawa, dan kemudian gue menyadari bahwa pipinya sedikit bersemu merah. Dia kemudian menyilangkan kakinya diatas bantalan kursi, dan memandangi langit malam, yang waktu itu sedang bulan purnama.

Quote:


Gue terdiam, dan tersenyum. Butuh beberapa detik buat gue untuk menjawabnya.

Quote:

jenggalasunyi
xxxochezxxx
pulaukapok
pulaukapok dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.