- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#4422
PART 136
Orang-orang dengan menarik koper atau menggendong tas berlalu lalang di depan gue. Sambil memasukkan jemari ke kantong jeans, gue berdiri memandangi pintu dan sesekali melihat layar di atasnya. Gue melirik jam tangan, sudah waktunya. Setelah beberapa waktu, tampaklah orang yang gue tunggu-tunggu. Seorang wanita cantik berambut coklat kemerahan, dengan baju terusan berwarna putih selutut. Di punggung dan bahunya membelit pashmina berwarna pastel yang ujung-ujungnya terlihat di tepi tubuhnya. Salah satu tangannya membawa tas berwarna coklat tua. Dan itu masih ditambah dengan heels yang menghiasi kakinya.
Dia menyadari gue ada disitu, dan langsung menghampiri gue sambil tersenyum dan membentangkan tangannya. Gue tersenyum dan menyambut pelukannya, dan mencium keningnya lembut. Gue memandangi wanita disamping gue ini, kemudian tertawa sendiri.
Anin meringis kemudian menggigit sedikit bibir bawahnya. Mukanya jahil bener. Dia kemudian menggandeng lengan gue, dan kami berdua menuju ke parkiran mobil yang letaknya cukup jauh. Selama di mobil itu gue dan Anin ngobrol layaknya pasangan seperti biasa. Gue antarkan Anin ke rumah Tante Ratna, dan kemudian gue berjanji nanti malam gue akan main kesana.
Malamnya, gue, Anin, Sophia dan Tante Ratna duduk di gazebo di tepi kolam renang sambil ngobrol, ditemani dengan berbagai makanan ringan di hadapan kami. Tujuan Anin pulang ya sebenarnya ini, membicarakan banyak hal dengan keluarganya. Malam ini agendanya adalah ngobrolin acara lamaran, yang disarankan oleh Tante Ratna untuk dilakukan secepatnya. Anin duduk di samping gue sambil mengunyah keripik singkong, sampe dia menyadari kalo gue memandanginya. Dia sadar arti pandangan gue itu, dan kemudian meringis manja sambil menutup stoples berisi keripik singkong itu.
Tante Ratna yang menyadari apa yang terjadi antara gue dan Anin, tertawa gemas.
Seketika Anin bersemangat lagi, matanya berbinar-binar sambil memegangi lengan gue.
Malam itu, banyak hal telah kami sepakati. Mulai dari tanggal, konsep hingga tamu-tamu yang akan diundang di acara sederhana itu. Sophia disitu bertugas sebagai notulis, sementara tiga yang lain bertugas sebagai pembicara dan tukang ngemil. Menjelang tengah malam, gue berpamitan dan pulang.
Sejak saat itu, segalanya terasa cepat bagi gue dan Anin. Rutinitas hidup kami berdua membuat waktu berjalan tanpa kami sadari. Tahu-tahu gue sudah berada di salah satu hari terpenting di hidup gue, yaitu hari lamaran gue dan Anin. Perhelatan sederhana itu mengambil tempat di rumah Anin, yang sepertinya para pembaca gue sudah pada menyadari dimana letak kotanya. Satu tempat yang sudah lama gak gue kunjungi, dan membangkitkan banyak kenangan bagi kami berdua.
Gue memakai baju batik berlengan panjang berwarna merah kehitaman, sementara kedua orang tua gue juga memakai batik kembar yang senada. Kakak-kakak gue juga hadir, bersama keponakan gue yang waktu itu baru berusia beberapa bulan. Keluarga gue disertai dengan beberapa kerabat lain datang di rumah Anin, dan disambut dengan sangat ramah.
Selama acara itu berlangsung, gue yang duduk di antara kedua orang tua gue, memandangi Anin yang duduk di sudut sambil tersenyum. Sesekali gue mengedipkan sebelah mata, dan dia tertawa sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Di acara itu otomatis gue banyak terdiam, dan menjadi penonton, meskipun aslinya itu adalah acara lamaran gue. Gue juga melihat Sophia dan Shinta duduk bersebelahan, dan tersenyum ketika menyadari gue memandangi mereka. Gue mengangguk perlahan, dan tertawa.
Ketika akhirnya acara itu selesai, gue menyempatkan diri untuk bertemu mereka berdua.
Gak lama kemudian, Anin datang sambil menggendong Raja, keponakan gue yang baru berusia beberapa bulan. Di belakang Anin gue liat mbak Novi juga ikut bergabung. Anin tersenyum lebar ketika melihat gue menoleh ke arahnya.
Anin menciumi Raja yang memang mukanya bulat seperti bola itu. Kami semua tertawa melihat Anin sebegitu gemasnya sama si kecil Raja itu. Mendadak muncul niat iseng gue. Gue celingukan.
Meskipun gue udah tau mbak Novi ada disitu, tapi karena badannya dia paling kecil diantara kami berlima, makanya gue kerjain. Dan itu sukses membuat dia nyubitin gue dengan kesel, kemudian bersungut-sungut ke gue sambil menyeringai gemas.
Gue kemudian tersenyum memandangi semua orang yang ada di sekeliling gue ini. Gue memperhatikan mereka berbicara, bercanda dan tertawa satu sama lain. Gue sadar, mereka semua disini adalah karena gue dan Anin. Lewat kami berdua, mereka semua dipertemukan dan menjadi akrab. Gue sangat bersyukur karenanya. Mendadak mata gue menemukan satu sosok yang sudah sangat lama gak gue liat. Pembantu rumah tangga Anin yang sejak lama gue kenal, Mbok Nah.
Gue berjalan meninggalkan mereka, dan menuju ke dapur, tempat mbok Nah berada bersama beberapa orang lain yang membantu jalannya acara. Mbok Nah kaget melihat gue datang, dan berdiri. Gue tersenyum, memberikan isyarat kedua tangan kepada mbok Nah untuk tetap duduk. Gue kemudian berjongkok di depan ibu tua yang baik hati dan setia itu.
Gue tersenyum, memandangi wajah mbok Nah yang semakin menua dan renta. Dulu waktu pertama kali gue kemari, 5 tahun yang lalu, beliau juga sudah cukup tua. Sekarang, wajahnya semakin menua, dan giginya semakin jarang. Gue masih berjongkok di depan mbok Nah yang duduk di bangku plastik, sambil memegang tangannya dengan kedua tangan gue.
Gue menyadari bahwa mata mbok Nah berkaca-kaca. Betapa gue sangat menghormati sosok beliau ini. Sosok yang nyaris selalu ada di setiap kehidupan Anin, tapi mungkin gak dikenal oleh banyak orang. Beliau mencintai Anin, layaknya anak sendiri, tanpa mengharapkan balasan apapun. Gue menggenggam erat tangan beliau, dan berkata dengan sungguh-sungguh.
Mbok Nah kemudian menghapus air matanya yang telah mengalir di pipinya yang keriput dan merenta itu, kemudian tanpa gue duga, dia memeluk gue. Gue balas memeluk beliau, dan mengelus punggung beliau pelan. Gue tahu, tangisan beliau itu adalah tangis haru dan tangis sedih. Haru, karena akhirnya anak yang dia ikut besarkan semenjak kecil hampir menapaki satu masa baru. Sedih, karena beliau menyadari bahwa mungkin perannya akan semakin berkurang, dan dia akan semakin terlupakan dalam roda hidup manusia.
Waktu itu gue menyadari, sekali lagi gue mendapatkan pelajaran dari ketulusan cinta manusia. Betapa mbok Nah menyayangi Anin dan Shinta, dua anak perempuan yang bukan darah dagingnya, seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan mungkin melebihi.
Orang-orang dengan menarik koper atau menggendong tas berlalu lalang di depan gue. Sambil memasukkan jemari ke kantong jeans, gue berdiri memandangi pintu dan sesekali melihat layar di atasnya. Gue melirik jam tangan, sudah waktunya. Setelah beberapa waktu, tampaklah orang yang gue tunggu-tunggu. Seorang wanita cantik berambut coklat kemerahan, dengan baju terusan berwarna putih selutut. Di punggung dan bahunya membelit pashmina berwarna pastel yang ujung-ujungnya terlihat di tepi tubuhnya. Salah satu tangannya membawa tas berwarna coklat tua. Dan itu masih ditambah dengan heels yang menghiasi kakinya.
Dia menyadari gue ada disitu, dan langsung menghampiri gue sambil tersenyum dan membentangkan tangannya. Gue tersenyum dan menyambut pelukannya, dan mencium keningnya lembut. Gue memandangi wanita disamping gue ini, kemudian tertawa sendiri.
Quote:
Anin meringis kemudian menggigit sedikit bibir bawahnya. Mukanya jahil bener. Dia kemudian menggandeng lengan gue, dan kami berdua menuju ke parkiran mobil yang letaknya cukup jauh. Selama di mobil itu gue dan Anin ngobrol layaknya pasangan seperti biasa. Gue antarkan Anin ke rumah Tante Ratna, dan kemudian gue berjanji nanti malam gue akan main kesana.
Malamnya, gue, Anin, Sophia dan Tante Ratna duduk di gazebo di tepi kolam renang sambil ngobrol, ditemani dengan berbagai makanan ringan di hadapan kami. Tujuan Anin pulang ya sebenarnya ini, membicarakan banyak hal dengan keluarganya. Malam ini agendanya adalah ngobrolin acara lamaran, yang disarankan oleh Tante Ratna untuk dilakukan secepatnya. Anin duduk di samping gue sambil mengunyah keripik singkong, sampe dia menyadari kalo gue memandanginya. Dia sadar arti pandangan gue itu, dan kemudian meringis manja sambil menutup stoples berisi keripik singkong itu.
Tante Ratna yang menyadari apa yang terjadi antara gue dan Anin, tertawa gemas.
Quote:
Seketika Anin bersemangat lagi, matanya berbinar-binar sambil memegangi lengan gue.
Quote:
Malam itu, banyak hal telah kami sepakati. Mulai dari tanggal, konsep hingga tamu-tamu yang akan diundang di acara sederhana itu. Sophia disitu bertugas sebagai notulis, sementara tiga yang lain bertugas sebagai pembicara dan tukang ngemil. Menjelang tengah malam, gue berpamitan dan pulang.
Sejak saat itu, segalanya terasa cepat bagi gue dan Anin. Rutinitas hidup kami berdua membuat waktu berjalan tanpa kami sadari. Tahu-tahu gue sudah berada di salah satu hari terpenting di hidup gue, yaitu hari lamaran gue dan Anin. Perhelatan sederhana itu mengambil tempat di rumah Anin, yang sepertinya para pembaca gue sudah pada menyadari dimana letak kotanya. Satu tempat yang sudah lama gak gue kunjungi, dan membangkitkan banyak kenangan bagi kami berdua.
Gue memakai baju batik berlengan panjang berwarna merah kehitaman, sementara kedua orang tua gue juga memakai batik kembar yang senada. Kakak-kakak gue juga hadir, bersama keponakan gue yang waktu itu baru berusia beberapa bulan. Keluarga gue disertai dengan beberapa kerabat lain datang di rumah Anin, dan disambut dengan sangat ramah.
Selama acara itu berlangsung, gue yang duduk di antara kedua orang tua gue, memandangi Anin yang duduk di sudut sambil tersenyum. Sesekali gue mengedipkan sebelah mata, dan dia tertawa sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Di acara itu otomatis gue banyak terdiam, dan menjadi penonton, meskipun aslinya itu adalah acara lamaran gue. Gue juga melihat Sophia dan Shinta duduk bersebelahan, dan tersenyum ketika menyadari gue memandangi mereka. Gue mengangguk perlahan, dan tertawa.
Ketika akhirnya acara itu selesai, gue menyempatkan diri untuk bertemu mereka berdua.
Quote:
Gak lama kemudian, Anin datang sambil menggendong Raja, keponakan gue yang baru berusia beberapa bulan. Di belakang Anin gue liat mbak Novi juga ikut bergabung. Anin tersenyum lebar ketika melihat gue menoleh ke arahnya.
Quote:
Anin menciumi Raja yang memang mukanya bulat seperti bola itu. Kami semua tertawa melihat Anin sebegitu gemasnya sama si kecil Raja itu. Mendadak muncul niat iseng gue. Gue celingukan.
Quote:
Meskipun gue udah tau mbak Novi ada disitu, tapi karena badannya dia paling kecil diantara kami berlima, makanya gue kerjain. Dan itu sukses membuat dia nyubitin gue dengan kesel, kemudian bersungut-sungut ke gue sambil menyeringai gemas.
Quote:
Spoiler for OST:
Gue kemudian tersenyum memandangi semua orang yang ada di sekeliling gue ini. Gue memperhatikan mereka berbicara, bercanda dan tertawa satu sama lain. Gue sadar, mereka semua disini adalah karena gue dan Anin. Lewat kami berdua, mereka semua dipertemukan dan menjadi akrab. Gue sangat bersyukur karenanya. Mendadak mata gue menemukan satu sosok yang sudah sangat lama gak gue liat. Pembantu rumah tangga Anin yang sejak lama gue kenal, Mbok Nah.
Gue berjalan meninggalkan mereka, dan menuju ke dapur, tempat mbok Nah berada bersama beberapa orang lain yang membantu jalannya acara. Mbok Nah kaget melihat gue datang, dan berdiri. Gue tersenyum, memberikan isyarat kedua tangan kepada mbok Nah untuk tetap duduk. Gue kemudian berjongkok di depan ibu tua yang baik hati dan setia itu.
Quote:
Gue tersenyum, memandangi wajah mbok Nah yang semakin menua dan renta. Dulu waktu pertama kali gue kemari, 5 tahun yang lalu, beliau juga sudah cukup tua. Sekarang, wajahnya semakin menua, dan giginya semakin jarang. Gue masih berjongkok di depan mbok Nah yang duduk di bangku plastik, sambil memegang tangannya dengan kedua tangan gue.
Quote:
Gue menyadari bahwa mata mbok Nah berkaca-kaca. Betapa gue sangat menghormati sosok beliau ini. Sosok yang nyaris selalu ada di setiap kehidupan Anin, tapi mungkin gak dikenal oleh banyak orang. Beliau mencintai Anin, layaknya anak sendiri, tanpa mengharapkan balasan apapun. Gue menggenggam erat tangan beliau, dan berkata dengan sungguh-sungguh.
Quote:
Mbok Nah kemudian menghapus air matanya yang telah mengalir di pipinya yang keriput dan merenta itu, kemudian tanpa gue duga, dia memeluk gue. Gue balas memeluk beliau, dan mengelus punggung beliau pelan. Gue tahu, tangisan beliau itu adalah tangis haru dan tangis sedih. Haru, karena akhirnya anak yang dia ikut besarkan semenjak kecil hampir menapaki satu masa baru. Sedih, karena beliau menyadari bahwa mungkin perannya akan semakin berkurang, dan dia akan semakin terlupakan dalam roda hidup manusia.
Waktu itu gue menyadari, sekali lagi gue mendapatkan pelajaran dari ketulusan cinta manusia. Betapa mbok Nah menyayangi Anin dan Shinta, dua anak perempuan yang bukan darah dagingnya, seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan mungkin melebihi.
Diubah oleh jayanagari 03-05-2015 13:37
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3


: kenapa?
: ah masak sih? kayaknya disana aku ngegym terus deh.
: ya ngegym tapi abis itu makan rogan josh semangkok pake nasi ya sama aja, sayang.
: kayaknya saya perlu bikin satu gudang sendiri buat camilan…
: wah salah ngomong aku….
: kok tumben ganteng amat mas?
: maaasss, Raja lucu banget yaaa! Emesh emesh emesh hiiihh!
: punya adek satu kok durhaka gini hiiih