- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#4395
PART 135
Gue menoleh tepat ketika microwave di sudut dapur berdenting, dan mengeluarkan sup krim dari dalamnya. Sambil membawa mangkok berisi sup itu, gue bergerak ke sofa, kemudian menghirup sedikit-sedikit sambil mengganti-ganti channel TV. Gue melirik ke handphone yang tergeletak di meja, ternyata sepi gak ada apa-apa. Hari itu hari Sabtu, dan tepat seminggu sejak Anin balik ke Mumbai. Sendirian lagi gue disini, pikir gue.
Setelah gue menghabiskan sup itu, perhatian gue beralih ke beberapa lembar brosur wedding organizer. Dengan serius gue membaca-baca lagi isi brosur itu, meskipun sebenernya udah puluhan kali gue liat. Beberapa WO yang brosurnya ada di tangan gue ini adalah hasil dari rekomendasi Sophia. Gue, Anin dan Sophia sebenernya udah berdiskusi kecil-kecilan tentang ini, tapi memang belum ada solusi yang bulat. Keputusannya nunggu Anin balik ke Jakarta lagi, sekalian membicarakan acara lamaran resmi.
Gue merapikan kembali tumpukan brosur itu, dan kemudian perhatian gue terpusat ke acara variety show Running Man. Gara-gara Anin nih gue jadi demen nonton korea-koreaan, sampe sekarang. Hahaha. Beberapa waktu kemudian, handphone gue berbunyi. Gue membaca identitas penelepon, dan mengangkatnya.
Dan begitulah, telepon dari Anin itu berlangsung sekitar 30 menit, sebelum gue ultimatum dia untuk mandi. Di negara orang yang tetep males mandi ya cuma Anin itu, setau gue. Ketika gue udah selesai bertelepon dengan Anin, mendadak handphone gue berbunyi lagi. Gue melihat nama penelepon dan tertawa. Laris amat gue pagi ini.
Jam 12 siang tepat gue udah berada di dalam mobil Sophia, tapi kali ini gue yang ada di kursi penumpang. Wajarlah, gue gak tau kemana dia mau pergi, kalo gue sok tau ntar malah kesasar. Ternyata gue dibawa ke GI. Wah, diajak belanja nih gue, pikir gue sambil memandangi jalanan di samping gue dan mengusap-usap bibir. Di GI itu gue menemaninya beli sepatu. Karena penasaran, gue iseng nyeletuk.
Sesaat kemudian dia bersungut-sungut sambil memandangi deretan sepatu di rak yang terletak di hadapannya.
Setelah beberapa kali keluar masuk tenant yang ada, gue dan Sophia memutuskan berhenti di salah satu coffee shop yang gue yakin banyak pembaca yang tau. Sambil memandangi secangkir hazelnut latte yang diterangi oleh lampu diatas kepala, gue tersenyum ke Sophia, dan berkata lembut.
Sophia tersenyum dan mengaduk minumannya, kemudian mengibaskan rambutnya ke atas. Dia menyedot sedikit minumannya, sebelum menjawab gue.
Sophia memandangi gue dengan tatapan aneh.
Gue terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Sophia itu, kemudian gue tersenyum sambil menunduk. Gue menggelengkan kepala.
Gue tertawa kecil, dan meminum minuman gue sebelum menjawab pertanyaan Sophia. Gue berkata dengan lembut dan perlahan.
Gue menoleh tepat ketika microwave di sudut dapur berdenting, dan mengeluarkan sup krim dari dalamnya. Sambil membawa mangkok berisi sup itu, gue bergerak ke sofa, kemudian menghirup sedikit-sedikit sambil mengganti-ganti channel TV. Gue melirik ke handphone yang tergeletak di meja, ternyata sepi gak ada apa-apa. Hari itu hari Sabtu, dan tepat seminggu sejak Anin balik ke Mumbai. Sendirian lagi gue disini, pikir gue.
Setelah gue menghabiskan sup itu, perhatian gue beralih ke beberapa lembar brosur wedding organizer. Dengan serius gue membaca-baca lagi isi brosur itu, meskipun sebenernya udah puluhan kali gue liat. Beberapa WO yang brosurnya ada di tangan gue ini adalah hasil dari rekomendasi Sophia. Gue, Anin dan Sophia sebenernya udah berdiskusi kecil-kecilan tentang ini, tapi memang belum ada solusi yang bulat. Keputusannya nunggu Anin balik ke Jakarta lagi, sekalian membicarakan acara lamaran resmi.
Gue merapikan kembali tumpukan brosur itu, dan kemudian perhatian gue terpusat ke acara variety show Running Man. Gara-gara Anin nih gue jadi demen nonton korea-koreaan, sampe sekarang. Hahaha. Beberapa waktu kemudian, handphone gue berbunyi. Gue membaca identitas penelepon, dan mengangkatnya.
Quote:
Dan begitulah, telepon dari Anin itu berlangsung sekitar 30 menit, sebelum gue ultimatum dia untuk mandi. Di negara orang yang tetep males mandi ya cuma Anin itu, setau gue. Ketika gue udah selesai bertelepon dengan Anin, mendadak handphone gue berbunyi lagi. Gue melihat nama penelepon dan tertawa. Laris amat gue pagi ini.
Quote:
Jam 12 siang tepat gue udah berada di dalam mobil Sophia, tapi kali ini gue yang ada di kursi penumpang. Wajarlah, gue gak tau kemana dia mau pergi, kalo gue sok tau ntar malah kesasar. Ternyata gue dibawa ke GI. Wah, diajak belanja nih gue, pikir gue sambil memandangi jalanan di samping gue dan mengusap-usap bibir. Di GI itu gue menemaninya beli sepatu. Karena penasaran, gue iseng nyeletuk.
Quote:
Sesaat kemudian dia bersungut-sungut sambil memandangi deretan sepatu di rak yang terletak di hadapannya.
Quote:
Setelah beberapa kali keluar masuk tenant yang ada, gue dan Sophia memutuskan berhenti di salah satu coffee shop yang gue yakin banyak pembaca yang tau. Sambil memandangi secangkir hazelnut latte yang diterangi oleh lampu diatas kepala, gue tersenyum ke Sophia, dan berkata lembut.
Quote:
Sophia tersenyum dan mengaduk minumannya, kemudian mengibaskan rambutnya ke atas. Dia menyedot sedikit minumannya, sebelum menjawab gue.
Quote:
Sophia memandangi gue dengan tatapan aneh.
Quote:
Gue terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Sophia itu, kemudian gue tersenyum sambil menunduk. Gue menggelengkan kepala.
Quote:
Gue tertawa kecil, dan meminum minuman gue sebelum menjawab pertanyaan Sophia. Gue berkata dengan lembut dan perlahan.
Quote:
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
2


: Halooo…
: Halo dengan Pak Baskoro? Ini dari polsek pak.
: polsek Maharashtra… Kejauhan yak?
: hahahahaha dibilangin juga apa, pasti kena virusnya deh.
: abis ngegym nih…
: hehehehe kok tau syiih…
: halooo….
: aish, pasti ngaco deh. Di rumah?
: emang dia tau gue?
: buset gue dibilang gila. Emang kenapa gitu? 
: cowok gue tuh ya, kalo udah liat mbak Anin, matanya gak bisa diem! Kan kesel gue jadinya…