- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#4342
PART 134
Gue memandangi sepatu berbahan kanvas yang gue kenakan, dan memandangi danau buatan yang terhampar di hadapan gue. Sore itu cuaca cukup berawan, dengan angin yang cukup kencang menerpa. Gue duduk di sebuah bangku dari semen, dan sesekali memandang ke beberapa orang yang lewat di samping gue, dan melintas di balik punggung gue. Agak di kejauhan, gue melihat dua orang wanita, berjalan berdampingan melintasi jalan setapak di tepi danau. Mereka berbicara, sesekali tertawa, dan tersenyum. Ketika salah satu dari mereka melihat ke arah gue, dan diikuti oleh wanita yang satu lagi, gue balas tersenyum dan sedikit melambaikan tangan.
Kedua wanita itu tertawa kecil, dan berlalu dari hadapan gue, hingga sampai ke sebuah dermaga kecil di salah satu ujung danau. Dari kejauhan gue melihat mereka berdua bersandar di pagar dermaga yang terbuat dari kayu, dan rambut mereka berkibar karena angin yang bertiup kencang. Dari raut wajah mereka, gue bisa mengetahui kira-kira apa yang mereka bicarakan. Gue kemudian mengalihkan pandangan ke langit yang tertutupi oleh awan tipis.
Satu simpul dalam hidup gue dan Anin sudah terselesaikan, yaitu keluarga Anin. Sekarang satu simpul lain, yang menurut gue gak kalah sulitnya, Tami. Sore ini, untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, Anin dan Tami bertemu. Gue sengaja menarik diri dari pembicaraan mereka berdua, dan membiarkan kedua wanita ini memiliki quality time nya sendiri. Gue yakin, mereka telah sama-sama dewasa, dan bisa saling mengerti satu sama lain, ditambah lagi dengan sifat-sifat yang mereka miliki.
Gue memandangi anak perempuan gendut berambut pendek, yang dengan bahagia memegang setangkai gula-gula kapas berwarna merah jambu, sambil memegang tangan ibunya erat. Wajah anak itu begitu damai, begitu murni dan bahagia. Dunia masih akan menjadi tempat yang ramah baginya, setidaknya untuk beberapa masa ke depan. Diam-diam, gue merindukan masa-masa kecil gue, dimana tangan gue berada di genggaman tangan bokap atau nyokap, dan gue tertawa bahagia ketika setangkai gulali berada di tangan gue yang lain. Gue tersenyum kecil dan diam-diam bersyukur atas senyum yang mengembang di bibir anak perempuan itu.
Gue menghela napas panjang, dan mencoba membayangkan jalan yang akan gue lalui kedepan. Gue mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi di hidup gue beberapa bulan terakhir ini, dan hal itu membuat gue tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan. Gue masih takjub, betapa Tuhan menorehkan suatu kisah di hidup gue, suatu pengalaman yang akan terus berharga bagi hidup dan jiwa gue selamanya.
Tanpa gue sadari, ternyata Anin dan Tami melangkah mendekat ke arah gue. Sambil tersenyum bersyukur, gue memandangi mereka berjalan berdampingan, dengan tawa lembut menghiasi kebersamaan mereka. Dua wanita yang bersifat bagai kutub, ternyata ada satu masa dimana mereka bisa bersatu. Mereka kemudian duduk di sebelah gue, dengan posisi Anin ada di tengah. Kemudian gue mendengar Tami berbicara lembut.
Gue tersenyum sambil memainkan kaki gue. Entah apa yang harus gue katakan saat ini. Gue yakin Anin juga sedang memilah-milah kata di pikirannya, untuk merangkai sebuah kalimat yang ingin diucapkannya.
Tami tertawa kecil dan menyibakkan rambutnya ke belakang. Gue memperhatikan, ternyata rambutnya dia sudah tumbuh cukup panjang, gak sependek dulu sewaktu masih kuliah.
Tami kemudian memandangi Anin sambil tersenyum dan memegang sebelah tangannya.
Kami bertiga tertawa, dan merasakan satu atmosfer yang damai. Satu keadaan yang akhirnya datang kepada kami, dengan tidak mudah. Dengan penuh pengorbanan, air mata dan doa yang selalu terucap dari setiap hening kami. Gue menarik napas panjang, dan menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.
Tami tersenyum memandangi Anin. Dan, sesaat kemudian, mereka berpelukan, dengan tangis haru di pundak masing-masing. Perasaan anak manusia memang bisa selalu berubah. Dulu, mereka bagaikan musuh, sekarang mereka bagaikan saudara yang tak terpisahkan.
Spoiler for OST:
Gue memandangi sepatu berbahan kanvas yang gue kenakan, dan memandangi danau buatan yang terhampar di hadapan gue. Sore itu cuaca cukup berawan, dengan angin yang cukup kencang menerpa. Gue duduk di sebuah bangku dari semen, dan sesekali memandang ke beberapa orang yang lewat di samping gue, dan melintas di balik punggung gue. Agak di kejauhan, gue melihat dua orang wanita, berjalan berdampingan melintasi jalan setapak di tepi danau. Mereka berbicara, sesekali tertawa, dan tersenyum. Ketika salah satu dari mereka melihat ke arah gue, dan diikuti oleh wanita yang satu lagi, gue balas tersenyum dan sedikit melambaikan tangan.
Kedua wanita itu tertawa kecil, dan berlalu dari hadapan gue, hingga sampai ke sebuah dermaga kecil di salah satu ujung danau. Dari kejauhan gue melihat mereka berdua bersandar di pagar dermaga yang terbuat dari kayu, dan rambut mereka berkibar karena angin yang bertiup kencang. Dari raut wajah mereka, gue bisa mengetahui kira-kira apa yang mereka bicarakan. Gue kemudian mengalihkan pandangan ke langit yang tertutupi oleh awan tipis.
Satu simpul dalam hidup gue dan Anin sudah terselesaikan, yaitu keluarga Anin. Sekarang satu simpul lain, yang menurut gue gak kalah sulitnya, Tami. Sore ini, untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, Anin dan Tami bertemu. Gue sengaja menarik diri dari pembicaraan mereka berdua, dan membiarkan kedua wanita ini memiliki quality time nya sendiri. Gue yakin, mereka telah sama-sama dewasa, dan bisa saling mengerti satu sama lain, ditambah lagi dengan sifat-sifat yang mereka miliki.
Gue memandangi anak perempuan gendut berambut pendek, yang dengan bahagia memegang setangkai gula-gula kapas berwarna merah jambu, sambil memegang tangan ibunya erat. Wajah anak itu begitu damai, begitu murni dan bahagia. Dunia masih akan menjadi tempat yang ramah baginya, setidaknya untuk beberapa masa ke depan. Diam-diam, gue merindukan masa-masa kecil gue, dimana tangan gue berada di genggaman tangan bokap atau nyokap, dan gue tertawa bahagia ketika setangkai gulali berada di tangan gue yang lain. Gue tersenyum kecil dan diam-diam bersyukur atas senyum yang mengembang di bibir anak perempuan itu.
Gue menghela napas panjang, dan mencoba membayangkan jalan yang akan gue lalui kedepan. Gue mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi di hidup gue beberapa bulan terakhir ini, dan hal itu membuat gue tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan. Gue masih takjub, betapa Tuhan menorehkan suatu kisah di hidup gue, suatu pengalaman yang akan terus berharga bagi hidup dan jiwa gue selamanya.
Tanpa gue sadari, ternyata Anin dan Tami melangkah mendekat ke arah gue. Sambil tersenyum bersyukur, gue memandangi mereka berjalan berdampingan, dengan tawa lembut menghiasi kebersamaan mereka. Dua wanita yang bersifat bagai kutub, ternyata ada satu masa dimana mereka bisa bersatu. Mereka kemudian duduk di sebelah gue, dengan posisi Anin ada di tengah. Kemudian gue mendengar Tami berbicara lembut.
Quote:
Gue tersenyum sambil memainkan kaki gue. Entah apa yang harus gue katakan saat ini. Gue yakin Anin juga sedang memilah-milah kata di pikirannya, untuk merangkai sebuah kalimat yang ingin diucapkannya.
Quote:
Tami tertawa kecil dan menyibakkan rambutnya ke belakang. Gue memperhatikan, ternyata rambutnya dia sudah tumbuh cukup panjang, gak sependek dulu sewaktu masih kuliah.
Quote:
Tami kemudian memandangi Anin sambil tersenyum dan memegang sebelah tangannya.
Quote:
Kami bertiga tertawa, dan merasakan satu atmosfer yang damai. Satu keadaan yang akhirnya datang kepada kami, dengan tidak mudah. Dengan penuh pengorbanan, air mata dan doa yang selalu terucap dari setiap hening kami. Gue menarik napas panjang, dan menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.
Quote:
Tami tersenyum memandangi Anin. Dan, sesaat kemudian, mereka berpelukan, dengan tangis haru di pundak masing-masing. Perasaan anak manusia memang bisa selalu berubah. Dulu, mereka bagaikan musuh, sekarang mereka bagaikan saudara yang tak terpisahkan.
chanry dan 4 lainnya memberi reputasi
5


: ada cewek mana lagi yang belum kamu ceritain mas?