- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#4264
PART 132
Gue menarik koper kulit berwarna hitam, sambil menghirup kopi panas dalam gelas di genggaman gue dan berjalan menyusuri koridor yang luas itu. Di samping gue ada Anin yang hari itu memakai mantel bulu, dan memegang tiket beserta paspor kami berdua, serta tas tangan miliknya. Setelah menemukan gate tempat dimana kami akan berangkat, kamipun mencari tempat duduk. Sambil menunggu, gue menoleh ke Anin.
Anin menjawab sambil mencari-cari sesuatu di tasnya.
13 jam kemudian, kami sudah ada di taksi yang menyusuri jalanan Mumbai yang gelap karena hari sudah malam mendekati dini hari. Gue melihat Anin di samping gue, wajahnya lelah. Wajarlah karena menempuh perjalanan panjang. Akhirnya kami sampai di sebuah bangunan apartemen di suatu daerah di Mumbai. Kami naik ke lantai 7, dan masuk ke dalam. Gue memandangi sekeliling, ternyata hampir mirip dengan unit apartemen gue di Jakarta, cuma yang di Mumbai ini ukurannya lebih kecil.
Anin kemudian beberes meja dan menyiapkan sedikit makanan buat kami berdua disitu. Gue memperhatikan wajahnya, dan merasa iba karena dia sebenarnya lelah.
Anin kemudian mandi, dan setelah mandi itu dia mengantarkan laptop yang mau gue pakai tadi ke meja depan TV. Sebelum gue mengurus kerjaan yang sudah lama terbengkalai, pertama-tama gue mengurus badan sendiri dulu. Gue membersihkan badan dulu. Keluar kamar mandi, gue liat Anin duduk di sofa sambil memakai kaos dan celana pendek, sementara rambutnya dibebat oleh gulungan handuk. Dia sambil meminum sesuatu dari cangkir.
Gue duduk di samping Anin, dan mengalungkan handuk di leher sambil membuka email. Banyak kerjaan gue yang tertunda. Sepertinya sekembalinya gue ke Indonesia, bakal nginep kantor nih, pikir gue. Anin yang duduk bersila di sebelah gue ikutan melihat isi email beserta pekerjaan gue, dan dia menggumam perlahan sambil memegang cangkir di pangkuannya.
Anin tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban asal gue itu, dan menyandarkan kepalanya ke punggung gue sambil tetap tertawa. Dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu gue sambil terus ikut memandangi pekerjaan gue. Sesekali dia bertanya-tanya tentang apa yang gue kerjakan. Gue menjelaskan kepadanya dengan telaten, dan Anin merupakan murid yang baik. Gue juga sesekali bertanya tentang detail pekerjaan dia disini, teman-teman sekantornya dan pengalamannya berdinas ke negara-negara yang sebelumnya belum pernah dia kunjungi. Lama kelamaan gue mendengar suaranya melemah, dan hilang. Gue menoleh ke samping, ternyata Anin tertidur bersandar di bahu gue.
Perlahan-lahan gue tutup laptop, kemudian gue gerakkan kepalanya, bersandar ke sofa yang empuk. Gue memandangi bidadari gue ini sambil tersenyum. Gue lepaskan balutan handuk di kepalanya, dan tampaklah rambut coklat kemerahan khas miliknya. Kemudian secara perlahan, gue bopong tubuhnya, masuk ke dalam kamar, dan gue selimuti dia. Sebelum keluar, gue mengecup keningnya lembut dan memandangi wajah cantiknya yang damai. Wajah yang selalu gue cintai hingga akhir gue menutup mata.
Gue menarik koper kulit berwarna hitam, sambil menghirup kopi panas dalam gelas di genggaman gue dan berjalan menyusuri koridor yang luas itu. Di samping gue ada Anin yang hari itu memakai mantel bulu, dan memegang tiket beserta paspor kami berdua, serta tas tangan miliknya. Setelah menemukan gate tempat dimana kami akan berangkat, kamipun mencari tempat duduk. Sambil menunggu, gue menoleh ke Anin.
Quote:
Anin menjawab sambil mencari-cari sesuatu di tasnya.
Quote:
13 jam kemudian, kami sudah ada di taksi yang menyusuri jalanan Mumbai yang gelap karena hari sudah malam mendekati dini hari. Gue melihat Anin di samping gue, wajahnya lelah. Wajarlah karena menempuh perjalanan panjang. Akhirnya kami sampai di sebuah bangunan apartemen di suatu daerah di Mumbai. Kami naik ke lantai 7, dan masuk ke dalam. Gue memandangi sekeliling, ternyata hampir mirip dengan unit apartemen gue di Jakarta, cuma yang di Mumbai ini ukurannya lebih kecil.
Anin kemudian beberes meja dan menyiapkan sedikit makanan buat kami berdua disitu. Gue memperhatikan wajahnya, dan merasa iba karena dia sebenarnya lelah.
Quote:
Anin kemudian mandi, dan setelah mandi itu dia mengantarkan laptop yang mau gue pakai tadi ke meja depan TV. Sebelum gue mengurus kerjaan yang sudah lama terbengkalai, pertama-tama gue mengurus badan sendiri dulu. Gue membersihkan badan dulu. Keluar kamar mandi, gue liat Anin duduk di sofa sambil memakai kaos dan celana pendek, sementara rambutnya dibebat oleh gulungan handuk. Dia sambil meminum sesuatu dari cangkir.
Gue duduk di samping Anin, dan mengalungkan handuk di leher sambil membuka email. Banyak kerjaan gue yang tertunda. Sepertinya sekembalinya gue ke Indonesia, bakal nginep kantor nih, pikir gue. Anin yang duduk bersila di sebelah gue ikutan melihat isi email beserta pekerjaan gue, dan dia menggumam perlahan sambil memegang cangkir di pangkuannya.
Quote:
Spoiler for OST:
Anin tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban asal gue itu, dan menyandarkan kepalanya ke punggung gue sambil tetap tertawa. Dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu gue sambil terus ikut memandangi pekerjaan gue. Sesekali dia bertanya-tanya tentang apa yang gue kerjakan. Gue menjelaskan kepadanya dengan telaten, dan Anin merupakan murid yang baik. Gue juga sesekali bertanya tentang detail pekerjaan dia disini, teman-teman sekantornya dan pengalamannya berdinas ke negara-negara yang sebelumnya belum pernah dia kunjungi. Lama kelamaan gue mendengar suaranya melemah, dan hilang. Gue menoleh ke samping, ternyata Anin tertidur bersandar di bahu gue.
Perlahan-lahan gue tutup laptop, kemudian gue gerakkan kepalanya, bersandar ke sofa yang empuk. Gue memandangi bidadari gue ini sambil tersenyum. Gue lepaskan balutan handuk di kepalanya, dan tampaklah rambut coklat kemerahan khas miliknya. Kemudian secara perlahan, gue bopong tubuhnya, masuk ke dalam kamar, dan gue selimuti dia. Sebelum keluar, gue mengecup keningnya lembut dan memandangi wajah cantiknya yang damai. Wajah yang selalu gue cintai hingga akhir gue menutup mata.
chanry dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: berapa lama ntar kita di Mumbai?
: ya tinggal obrak abrik kulkas, makanin es batu.
: aslinya aku juga lupa sih…
: banyak amat mas appointmentnya? Itu selama kamu di Eropa kemaren?
: mending lembur seminggu daripada gak dapet istri.