- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#4007
PART 130
Anin yang masih memegang sebelah tangan gue yang memegang kotak cincin itu, menangis keras, hingga gue panik. Gue takut kalo banyak orang yang mendengar, dan salah paham. Gue melihat ketiga orang yang foto-foto agak jauh di seberang kami menoleh ke arah kami berdua, dan memandangi dengan aneh. Gue memegang telapak tangan Anin yang tidak bersarung tangan itu, dan menyentuh kembali tangan yang sudah terpisah dari gue selama beberapa bulan. Satu sentuhan tangan yang selalu gue rindukan. Satu sentuhan tangan yang membuat gue merasa hangat hingga ke hati.
Gue berdiri, kemudian melangkah ke depan Anin yang masih duduk di bangku, kemudian berlutut di hadapannya. Berlutut dengan kedua lutut yang gue miliki, dan dengan segenap rasa cinta yang gue miliki. Gue mengulang lagi pertanyaan gue, kali ini dengan perlahan, dan sangat lembut.
Anin masih menangis. Kemudian secara tak terduga, dia membungkuk, meraih gue dari hadapannya, dan menarik gue untuk berdiri. Sambil menangis, dia kemudian menutup kotak cincin dari beludru yang ada di tangan gue, dan memegang tangan gue erat sambil menangis. Gue menunggu apa yang akan dikatakan olehnya, sebagai jawaban. Waktu itu rasanya waktu berhenti, dan segalanya menjadi sunyi. Ketika itu rasanya hanya ada gue dan Anin yang menjadi satu-satunya objek bergerak di dunia. Seakan dunia menunggu kelanjutan kisah kami berdua.
Kemudian gue mendengar Anin bersuara. Sebuah suara indah, yang akan selalu ada di hati gue, kemanapun gue pergi. Sebuah suara yang selalu mengingatkan gue untuk pulang kerumah.
Anin mengusap air matanya, dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, sebelum membukanya kembali. Kali ini tangisannya tak bisa ditahan, dan selama beberapa waktu suaranya hilang, digantikan oleh sedu-sedan tangisnya. Hingga akhirnya dia bisa berbicara lagi.
Seketika itu lenyaplah segala beban yang gue pikul selama ini. Segala rasa lelah, marah dan putus asa yang gue rasakan ketika menempuh perjalanan hingga ke titik ini, seakan lenyap tak berbekas. Yang bisa gue lakukan hanyalah menggerakkan bibir gue secara lembut, dan mengucap syukur, meskipun gue tau gak ada yang bisa menggambarkan betapa gue ingin bersyukur waktu itu.
Anin kemudian berdiri, dan kedua tangan kami saling berpegangan. Gue tersenyum dan sedikit menitikkan air mata, dan memandangi wanita yang menjadi tujuan hidup gue. Dia masih Anin yang dulu, yang selalu bawel dan manja, dan bisa menjadi dewasa dalam waktu yang sama. Dia masih wanita berambut coklat kemerahan yang rendah hati dan ramah. Dan dia masih Anin yang gue cintai, dan akan selalu gue cintai.
Kemudian Anin memeluk gue erat, dan tentunya gue balas itu dengan penuh cinta. Gue mengelus rambutnya, rambut coklat kemerahan kesayangan gue, yang selalu gue rindukan. Gue merasakan Anin menangis di bahu gue, dan itu membuat gue merasa telah kembali pulang. Gue udah pulang. Gue udah sampai dirumah.
Beberapa saat kemudian, kami berdua berjalan menyusuri jalan setapak di tepi danau Geneva. Suatu pemandangan yang kontras bagi orang-orang yang melihat. Sang wanita bergaya anggun dengan mantel hitam, scarf melingkar di lehernya dan menggunakan high heels, sementara sang laki-laki berpakaian lusuh, berjaket kotor dan menggendong ransel yang gak kalah lusuhnya pula.
Sampai kemudian kami berhenti di satu titik dimana kami bisa memandangi danau Geneva dalam keadaan terindahnya, dan kami berdiri berpegangan tangan. Kami melihat semburat matahari sore di hadapan kami, dan tersenyum. Gue berkata tanpa menoleh ke Anin.
Gue tersenyum dan memandangi riak air danau agak jauh di hadapan kami. Danau itu berkilau karena sinar cahaya matahari sore yang sangat indah.
Anin kemudian melepaskan gandengannya, dan memeluk lengan gue, seperti yang selalu dia lakukan selama ini. Gue tersenyum dan kembali mengarahkan pandangan gue ke matahari sore di hadapan kami. Perjalanan gue yang sebelumnya gelap dan dingin bagaikan malam di Berlin, sekarang telah mencapai titik akhir, dimana gue mencapai titik terang, bagaikan sinar matahari sore di Geneva ini. Gue kemudian bergumam perlahan.
Quote:
Anin yang masih memegang sebelah tangan gue yang memegang kotak cincin itu, menangis keras, hingga gue panik. Gue takut kalo banyak orang yang mendengar, dan salah paham. Gue melihat ketiga orang yang foto-foto agak jauh di seberang kami menoleh ke arah kami berdua, dan memandangi dengan aneh. Gue memegang telapak tangan Anin yang tidak bersarung tangan itu, dan menyentuh kembali tangan yang sudah terpisah dari gue selama beberapa bulan. Satu sentuhan tangan yang selalu gue rindukan. Satu sentuhan tangan yang membuat gue merasa hangat hingga ke hati.
Gue berdiri, kemudian melangkah ke depan Anin yang masih duduk di bangku, kemudian berlutut di hadapannya. Berlutut dengan kedua lutut yang gue miliki, dan dengan segenap rasa cinta yang gue miliki. Gue mengulang lagi pertanyaan gue, kali ini dengan perlahan, dan sangat lembut.
Quote:
Anin masih menangis. Kemudian secara tak terduga, dia membungkuk, meraih gue dari hadapannya, dan menarik gue untuk berdiri. Sambil menangis, dia kemudian menutup kotak cincin dari beludru yang ada di tangan gue, dan memegang tangan gue erat sambil menangis. Gue menunggu apa yang akan dikatakan olehnya, sebagai jawaban. Waktu itu rasanya waktu berhenti, dan segalanya menjadi sunyi. Ketika itu rasanya hanya ada gue dan Anin yang menjadi satu-satunya objek bergerak di dunia. Seakan dunia menunggu kelanjutan kisah kami berdua.
Kemudian gue mendengar Anin bersuara. Sebuah suara indah, yang akan selalu ada di hati gue, kemanapun gue pergi. Sebuah suara yang selalu mengingatkan gue untuk pulang kerumah.
Quote:
Anin mengusap air matanya, dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, sebelum membukanya kembali. Kali ini tangisannya tak bisa ditahan, dan selama beberapa waktu suaranya hilang, digantikan oleh sedu-sedan tangisnya. Hingga akhirnya dia bisa berbicara lagi.
Quote:
Seketika itu lenyaplah segala beban yang gue pikul selama ini. Segala rasa lelah, marah dan putus asa yang gue rasakan ketika menempuh perjalanan hingga ke titik ini, seakan lenyap tak berbekas. Yang bisa gue lakukan hanyalah menggerakkan bibir gue secara lembut, dan mengucap syukur, meskipun gue tau gak ada yang bisa menggambarkan betapa gue ingin bersyukur waktu itu.
Anin kemudian berdiri, dan kedua tangan kami saling berpegangan. Gue tersenyum dan sedikit menitikkan air mata, dan memandangi wanita yang menjadi tujuan hidup gue. Dia masih Anin yang dulu, yang selalu bawel dan manja, dan bisa menjadi dewasa dalam waktu yang sama. Dia masih wanita berambut coklat kemerahan yang rendah hati dan ramah. Dan dia masih Anin yang gue cintai, dan akan selalu gue cintai.
Quote:
Kemudian Anin memeluk gue erat, dan tentunya gue balas itu dengan penuh cinta. Gue mengelus rambutnya, rambut coklat kemerahan kesayangan gue, yang selalu gue rindukan. Gue merasakan Anin menangis di bahu gue, dan itu membuat gue merasa telah kembali pulang. Gue udah pulang. Gue udah sampai dirumah.
Beberapa saat kemudian, kami berdua berjalan menyusuri jalan setapak di tepi danau Geneva. Suatu pemandangan yang kontras bagi orang-orang yang melihat. Sang wanita bergaya anggun dengan mantel hitam, scarf melingkar di lehernya dan menggunakan high heels, sementara sang laki-laki berpakaian lusuh, berjaket kotor dan menggendong ransel yang gak kalah lusuhnya pula.
Sampai kemudian kami berhenti di satu titik dimana kami bisa memandangi danau Geneva dalam keadaan terindahnya, dan kami berdiri berpegangan tangan. Kami melihat semburat matahari sore di hadapan kami, dan tersenyum. Gue berkata tanpa menoleh ke Anin.
Quote:
Gue tersenyum dan memandangi riak air danau agak jauh di hadapan kami. Danau itu berkilau karena sinar cahaya matahari sore yang sangat indah.
Quote:
Anin kemudian melepaskan gandengannya, dan memeluk lengan gue, seperti yang selalu dia lakukan selama ini. Gue tersenyum dan kembali mengarahkan pandangan gue ke matahari sore di hadapan kami. Perjalanan gue yang sebelumnya gelap dan dingin bagaikan malam di Berlin, sekarang telah mencapai titik akhir, dimana gue mencapai titik terang, bagaikan sinar matahari sore di Geneva ini. Gue kemudian bergumam perlahan.
Quote:
chanry dan 4 lainnya memberi reputasi
5


: kenapa?