- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#3838
PART 128
5 jam kemudian.
Gue udah berada di dalam pesawat, sambil memejamkan mata dan meringkuk ke salah satu sisi. Kebetulan gue berada di kursi pojok dekat jendela, jadi gue bisa menyandarkan tubuh ke salah satu sisi tanpa takut mengganggu penumpang yang lain. Gue memasukkan tangan ke kantong jaket gue yang sudah lusuh, dan mencari posisi senyaman mungkin untuk tidur. Masih ada waktu 1,5 jam buat gue untuk tidur.
Kenapa gue hanya punya waktu 1,5 jam untuk tidur? Semuanya karena Sophia.
-----
5 jam yang lalu.
Gue sedang berjalan menyusuri terminal Airport Tegel sambil menggigit sebatang coklat. Setelah mencuci muka di toilet, gue kemudian duduk di salah satu bangku, sambil harap-harap cemas menunggu jawaban dari Sophia. Akhirnya 15 menit kemudian, datanglah denting handphone yang gue tunggu-tunggu beserta denting notifikasi email. Ini pasti tiket yang gue minta tadi, pikir gue. Gue melihat layar, dan membaca chat dari Sophia.
Gue gak membuka chat dari Sophia itu melainkan langsung membuka email yang berisi tiket online pesanan gue tadi. Ketika gue membaca itinerary yang tertera di tiket itu, mata gue membelalak, dan gue gak percaya apa yang gue baca. Gue sampe membutuhkan 4 kali membaca ulang tiket online itu, supaya gue bener-bener yakin bahwa tiket itu diperuntukkan buat gue. Langsung gue mengetikkan chat ke Sophia.
Begitulah. Jadi gue udah di dalam pesawat menuju ke Zurich, yang dipesan oleh Sophia. Ketika akhirnya gue udah mendarat di Zurich, hal pertama yang gue lakukan adalah membeli nomor dan memesan tiket kereta secara online. Waktu itu di Zurich udah pukul 3 sore. Setelah semua beres, gue bergegas ke stasiun kereta yang ada di Zurich Flughafen itu, dan menunggu kereta Eurocites untuk ke Geneva.
Sekitar pukul 6 gue sampe di stasiun Geneva, waktu itu gue gak begitu memperhatikan nama stasiunnya, kalo gak salah sih Gare de Cornavin, di tepi Lake Geneva. Begitu sampai, gue langsung menghubungi Sophia, meskipun gue tau di Indonesia sudah larut malam. Tapi gue gak peduli. Gue melihat handphone, dan ternyata ada satu chat Sophia yang belum gue baca.
Gue liat chat itu bertanda 40 menit yang lalu. Satu-satunya harapan gue adalah Anin tetap di pinggir danau itu, hingga sekarang. Masalahnya adalah, danau Geneva atau Lake Geneva adalah danau terbesar di Swiss yang bahkan wilayahnya mencakup Prancis, Belgia dan Jerman. Sekarang semua gue serahkan ke keberuntungan gue. Berharap masih ada sisa-sisa dari keberuntungan gue di dalam tubuh yang sudah lelah ini.
Ketika gue berjalan keluar stasiun, dan semi berlari menuju ke arah danau Geneva berada, gue berdoa dalam hati.
Ya Allah, jika memang dia jodoh hamba, pertemukanlah.
Gue berjalan dengan cepat, melewati deretan bangunan-bangunan khas Eropa, kemudian melewati sebuah jembatan kecil, hingga jauh kemudian akhirnya gue sampai di tepi danau Geneva. Selama beberapa saat gue menyusuri tepi danau Geneva. Gue benar-benar mengharapkan keajaiban. Menemukan seseorang di tepi danau seluas 3 negara ini benar-benar merupakan suatu hal yang mustahil, apabila tidak ada campur tangan Sang Pencipta dan takdir yang sudah diatur oleh-Nya.
Gue melewati banyak kerumunan orang, yang mayoritas sedang menikmati pemandangan indah dari danau Geneva. Gue sebenarnya sangat ingin berhenti sejenak untuk menikmati, barangkali hati gue bisa lebih damai setelahnya. Tapi otak gue ternyata lebih kuat. Gue memutuskan untuk tetap mencari, dengan probabilitas yang sangat kecil. Selama gue mencari itu, bibir gue gak henti-hentinya melafalkan nama Allah, berharap Dia hadir bersama gue. Betapa gue merasa sangat kecil waktu itu. Gue merasa tak berdaya, dan memohon perlindungan-Nya.
Dan ternyata Allah SWT mendengarkan doa gue.
Jika dalam hidup gue harus menyebutkan apa anugerah-Nya yang terbesar buat gue, salah satunya gue akan menunjuk ini. Keajaiban itu ada.
Gue melewati beberapa kerumunan, dan sekali lagi, gue merasakan ada kekuatan tak terlihat yang memaksa gue melihat ke satu sisi danau di hadapan gue, dan melihat satu kerumunan orang. Ada tiga orang berdiri dan berfoto-foto, sementara ada satu yang duduk di bangku sambil memandangi danau yang berkilau di hadapannya. Orang yang duduk memandangi danau itu adalah Anin.
Gue mempercepat langkah gue, dengan hati berdebar, dan perasaan syukur, gembira dan haru yang bercampur menjadi satu. Campuran rasa itu membuat dada gue serasa ingin meledak saking gembiranya. Waktu itu rasanya waktu di sekeliling gue berhenti, dan mempersilakan gue mendekati satu sosok wanita berambut coklat kemerahan dan bermantel hitam tebal, yang duduk bersandar di bangku, sambil memasukkan kedua tangannya ke kantong.
Gue mendekatinya, dan berdiri sekitar 3 meter di belakangnya. Dia sedekat ini, pikir gue terharu. Satu sosok yang selama ini bisa gue raih dengan mudah karena dia selalu ada di samping gue, tapi kali ini gue harus menempuh perjalanan belasan ribu kilometer, dengan segala perjuangan dan airmata yang jatuh untuk bisa melihatnya sedekat ini. Pada waktu itulah gue baru benar-benar merasakan betapa berharganya Anin untuk gue, seperti yang nyokap gue bilang. Dan waktu itulah gue benar-benar merasakan arti dari ungkapan “kita baru akan mengerti betapa berharganya seseorang ketika orang itu sudah meninggalkan kita.” Anin berada di depan gue. Dengan seluruh mimpi dan jiwa gue yang gue titipkan kepadanya.
Gue melepas ransel dari punggung, dan membawanya dengan satu tangan, kemudian bergerak menuju ke bangku tempat Anin duduk. Gue duduk di ujung bangku yang satunya, sehingga ada jarak cukup lebar diantara kami berdua. Gue kemudian menaruh ransel di antara kaki, dan mencondongkan badan ke depan, memandangi danau di depan. Sesaat kemudian gue menoleh ke samping kanan. Anin menatap gue dengan tatapan tak percaya. Gue tersenyum.
Quote:
5 jam kemudian.
Gue udah berada di dalam pesawat, sambil memejamkan mata dan meringkuk ke salah satu sisi. Kebetulan gue berada di kursi pojok dekat jendela, jadi gue bisa menyandarkan tubuh ke salah satu sisi tanpa takut mengganggu penumpang yang lain. Gue memasukkan tangan ke kantong jaket gue yang sudah lusuh, dan mencari posisi senyaman mungkin untuk tidur. Masih ada waktu 1,5 jam buat gue untuk tidur.
Kenapa gue hanya punya waktu 1,5 jam untuk tidur? Semuanya karena Sophia.
-----
5 jam yang lalu.
Gue sedang berjalan menyusuri terminal Airport Tegel sambil menggigit sebatang coklat. Setelah mencuci muka di toilet, gue kemudian duduk di salah satu bangku, sambil harap-harap cemas menunggu jawaban dari Sophia. Akhirnya 15 menit kemudian, datanglah denting handphone yang gue tunggu-tunggu beserta denting notifikasi email. Ini pasti tiket yang gue minta tadi, pikir gue. Gue melihat layar, dan membaca chat dari Sophia.
Quote:
Gue gak membuka chat dari Sophia itu melainkan langsung membuka email yang berisi tiket online pesanan gue tadi. Ketika gue membaca itinerary yang tertera di tiket itu, mata gue membelalak, dan gue gak percaya apa yang gue baca. Gue sampe membutuhkan 4 kali membaca ulang tiket online itu, supaya gue bener-bener yakin bahwa tiket itu diperuntukkan buat gue. Langsung gue mengetikkan chat ke Sophia.
Quote:
Begitulah. Jadi gue udah di dalam pesawat menuju ke Zurich, yang dipesan oleh Sophia. Ketika akhirnya gue udah mendarat di Zurich, hal pertama yang gue lakukan adalah membeli nomor dan memesan tiket kereta secara online. Waktu itu di Zurich udah pukul 3 sore. Setelah semua beres, gue bergegas ke stasiun kereta yang ada di Zurich Flughafen itu, dan menunggu kereta Eurocites untuk ke Geneva.
Sekitar pukul 6 gue sampe di stasiun Geneva, waktu itu gue gak begitu memperhatikan nama stasiunnya, kalo gak salah sih Gare de Cornavin, di tepi Lake Geneva. Begitu sampai, gue langsung menghubungi Sophia, meskipun gue tau di Indonesia sudah larut malam. Tapi gue gak peduli. Gue melihat handphone, dan ternyata ada satu chat Sophia yang belum gue baca.
Quote:
Gue liat chat itu bertanda 40 menit yang lalu. Satu-satunya harapan gue adalah Anin tetap di pinggir danau itu, hingga sekarang. Masalahnya adalah, danau Geneva atau Lake Geneva adalah danau terbesar di Swiss yang bahkan wilayahnya mencakup Prancis, Belgia dan Jerman. Sekarang semua gue serahkan ke keberuntungan gue. Berharap masih ada sisa-sisa dari keberuntungan gue di dalam tubuh yang sudah lelah ini.
Ketika gue berjalan keluar stasiun, dan semi berlari menuju ke arah danau Geneva berada, gue berdoa dalam hati.
Ya Allah, jika memang dia jodoh hamba, pertemukanlah.
Gue berjalan dengan cepat, melewati deretan bangunan-bangunan khas Eropa, kemudian melewati sebuah jembatan kecil, hingga jauh kemudian akhirnya gue sampai di tepi danau Geneva. Selama beberapa saat gue menyusuri tepi danau Geneva. Gue benar-benar mengharapkan keajaiban. Menemukan seseorang di tepi danau seluas 3 negara ini benar-benar merupakan suatu hal yang mustahil, apabila tidak ada campur tangan Sang Pencipta dan takdir yang sudah diatur oleh-Nya.
Gue melewati banyak kerumunan orang, yang mayoritas sedang menikmati pemandangan indah dari danau Geneva. Gue sebenarnya sangat ingin berhenti sejenak untuk menikmati, barangkali hati gue bisa lebih damai setelahnya. Tapi otak gue ternyata lebih kuat. Gue memutuskan untuk tetap mencari, dengan probabilitas yang sangat kecil. Selama gue mencari itu, bibir gue gak henti-hentinya melafalkan nama Allah, berharap Dia hadir bersama gue. Betapa gue merasa sangat kecil waktu itu. Gue merasa tak berdaya, dan memohon perlindungan-Nya.
Dan ternyata Allah SWT mendengarkan doa gue.
Jika dalam hidup gue harus menyebutkan apa anugerah-Nya yang terbesar buat gue, salah satunya gue akan menunjuk ini. Keajaiban itu ada.
Gue melewati beberapa kerumunan, dan sekali lagi, gue merasakan ada kekuatan tak terlihat yang memaksa gue melihat ke satu sisi danau di hadapan gue, dan melihat satu kerumunan orang. Ada tiga orang berdiri dan berfoto-foto, sementara ada satu yang duduk di bangku sambil memandangi danau yang berkilau di hadapannya. Orang yang duduk memandangi danau itu adalah Anin.
Gue mempercepat langkah gue, dengan hati berdebar, dan perasaan syukur, gembira dan haru yang bercampur menjadi satu. Campuran rasa itu membuat dada gue serasa ingin meledak saking gembiranya. Waktu itu rasanya waktu di sekeliling gue berhenti, dan mempersilakan gue mendekati satu sosok wanita berambut coklat kemerahan dan bermantel hitam tebal, yang duduk bersandar di bangku, sambil memasukkan kedua tangannya ke kantong.
Gue mendekatinya, dan berdiri sekitar 3 meter di belakangnya. Dia sedekat ini, pikir gue terharu. Satu sosok yang selama ini bisa gue raih dengan mudah karena dia selalu ada di samping gue, tapi kali ini gue harus menempuh perjalanan belasan ribu kilometer, dengan segala perjuangan dan airmata yang jatuh untuk bisa melihatnya sedekat ini. Pada waktu itulah gue baru benar-benar merasakan betapa berharganya Anin untuk gue, seperti yang nyokap gue bilang. Dan waktu itulah gue benar-benar merasakan arti dari ungkapan “kita baru akan mengerti betapa berharganya seseorang ketika orang itu sudah meninggalkan kita.” Anin berada di depan gue. Dengan seluruh mimpi dan jiwa gue yang gue titipkan kepadanya.
Gue melepas ransel dari punggung, dan membawanya dengan satu tangan, kemudian bergerak menuju ke bangku tempat Anin duduk. Gue duduk di ujung bangku yang satunya, sehingga ada jarak cukup lebar diantara kami berdua. Gue kemudian menaruh ransel di antara kaki, dan mencondongkan badan ke depan, memandangi danau di depan. Sesaat kemudian gue menoleh ke samping kanan. Anin menatap gue dengan tatapan tak percaya. Gue tersenyum.
Quote:
chanry dan 6 lainnya memberi reputasi
7


: Kenapa? Ada apa? Apa yang bisa gue bantu?
: astaga….