- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#232
Partitur no. 52 : SIGNS
Setelah kejadian itu, banyak hal baru yang terjadi. Acara promosi sebelum eventutama tribute Muse yang diundur itu diadakan di salah satu Kafe di daerah Kemang yang mengambil konsep akustik. Lalu, dalam rangka ulang tahun komunitas breaking benjamin, aku mengadakan wacana untuk membuat kaos breaking benjamin untuk para penggemarnya di Indonesia, walaupun cenderung membutuhkan waktu yang cukup lama.
Tasya dibantu Bang Ichy sedang sibuk mengerjakan Tugas Akhir untuk sidangnya yang bisa menghitung hari. Kami, pelajar SMA mulai disibukkan dengan pendalaman materi. Aku dipilih menjadi sekitar sepuluh atau dua puluh orang di sekolah yang dilatih untuk mendapatkan nilai bahasa Inggris di atas 9.
Intensitas pertemuanku dengan Tasya sambil membawa Harrys juga semakin sering. Mulai dari kami menonton film Paranormal Activity 4, lalu ketika kami hunting CD band favorit kami di sebuah record store yang menjadi hobi baruku itu, sampai kejadian ketika aku tercebur got karena tak sadar aku sedang di goda oleh seorang banci yang sedang mengamen.
Ah, rasanya tak perlu diceritakan mengapa aku bisa tercebur, yang kuingat Tasya dan Harrys antara tega dan tak tega untuk mentertawaiku yang sedang asyik mengobrol secara tiba-tiba tercebur itu. Untungnya, hanya muka ku saja yang tidak kotor. Walaupun kacamataku sempat terjatuh entah di mana sehingga harus mencarinya lagi.
***
Jika berbicara tentang musik, pasti sudah tak asing lagi dalam pikiran kita bahwa suatu lagu yang kita dengarkan bisa saja membuat kita mengingat momen-momen pada saat kita mendengarkannya, atau suatu kejadian yang sedang kita alami memiliki kemiripan dalam suatu hal yang diceritakan dalam lagu. Entah itu momen yang baik atau yang buruk. Hal itu kusebut salah satu kekuatan yang terkandung dalam musik. Tanpa sengaja, ketika lagu itu terputar, seluruh kenangan itu muncul dalam benak kita. Entah, bagaimana korelasinya sehingga keajaiban seperti ini bisa terjadi.
Dulu aku adalah orang yang sangat closed-mindeddalam segala hal, termasuk dalam dunia musik. Dengan bodohnya aku sering menganggap bahwa orang yang tak satu selera denganku langsung ku hakimi bahwa mereka tidak mengetahui selera musik yang bagus (jangan ditiru), walaupun sebenarnya semua itu relatif. Dulu saja aku pernah mendengarkan satu band saja selama enam tahun. Dan temanku yang menyukai musik bilang begini padaku: 'Kalo pengen jadi musisi, jangan cuma dengerin satu band aja, Man.'
Ada sebuah kisah unik tentang salah satu band favoritku ini, sebuah cerita bagaimana aku bisa menyukainya.
Jika bisa dibilang, dulu aku paling membenci sebuah band yang sekitar tahun 2011 itu diperkenalkan oleh Afi kepadaku. “Man, dengerin, deh. Ini bandnya main efek juga kayak Muse,” ujar Afi dengan mantap sambil mencari lagu yang ia maksud di YouTube. Ia memperkenalkanku kepada sebuah band bernama Angels & Airwaves, atau yang lebih akrab di panggil AVA, sebuah band space-rock, salah satu cabang dari rock alternatif. Kini, aku baru tahu kalau itu adalah bandnya Tom DeLonge, mantan gitaris dan vokalis dari blink-182.
Setelah mendengarkan sekitar dua sampai tiga lagu, aku langsung menyuruhnya berhenti. “Ini band apaan? Kok musiknya bikin ngantuk, ya? Mana space-rock nya? Musiknya mirip banget U2..” ujarku. Afi tampak pasrah dengan ucapanku barusan. Waktu itu, menurutku tolak ukur lagu space-rock itu seperti salah satu lagu simfoni dari Muse yang berjudul Exogenesis Symphony : Part 1 (Overture), atau salah satu dari band indie Indonesia favoritku, Project Cyrios yang berjudul Philadelphia Experiment, bahkan lagu-lagu dari The Mars Volta.
Aku membenci band itu hingga sekarang, entah mengapa, tanpa alasan yang jelas. Mungkin karena waktu itu menurutku tidak ada band lagi yang bisa menyamai Muse. Padahal sudah jelas kalau itu masuk ke ranah selera.
Sampai suatu saat, ketika aku tidak menghapus lagu yang diberikan Afi di dalam komputer Harrys, sebuah lagu berjudul ‘The Flight Of Apollo’ tanpa sengaja terputar dalam playlist yang membuatku tercengang. Aku sampai membuka player itu untuk memastikan siapa yang membawakan lagu itu. Lalu, aku langsung mendengarkan seluruh album yang terdapat lagu ‘The Flight Of Apollo’ tersebut, sampai ke seluruh albumnya. Mendengarkan albumnya sejak itu membuatku teradiksi. Aku ingin mengakuinya kepada Afi bahwa aku terkena karma, walaupun aku sudah lama tak berkomunikasi dengannya lagi paska keluarnya ia dari bandku.
***
Ketika aku sedang mencari CD di salah satu record storeyang cukup lengkap di daerah Kelapa Gading, aku langsung mencari CD dari Angels & Airwaves. Tasya mengikutiku mencarinya, sementara Harrys sedang mencari CD Muse yang lengkap di sana.
“Aku baru-baru ini suka sama band ini deh, sayang.. Kamu pernah dengerin band ini, nggak?” aku pun membuka pembicaraan .
“Kalo AVA pernah sih beberapa kali, tapi nggak masuk di kuping aku lagu-lagunya..” ujarnya dengan muka polosnya. Lagi-lagi, muka polosnya.
“Sama kayak aku dulu dong,” ujarku terkekeh-kekeh, “Tapi beberapa hari lalu aku dengerin salah satu lagunya ada yang enak banget. Eh, ini kan album yang aku cari!” aku menemukan CD album kedua dari band itu, I-Empire.
“Hihi kamu beli, dong..” kata Tasya dengan nada menggoda.
“Di sini ada lagu yang cocok buat selera kamu kayaknya, deh,” aku pun melihat susunan lagu yang ada di belakang CD tersebut. “Nah, ini judulnya, Breathe. Ada lirik favoritku di lagu ini: ‘Did you know that i love you? Come and lay with me. I love you’” kataku sambil menyanyikan penggalan lirik tersebut.
Tasya pun memperhatikanku dengan serius, lalu berkata, “Kayaknya itu bakal nyantol deh di kuping aku..” ujarnya sambil membayangkan.
Naas, aku tak jadi membeli album tersebut ketika itu. Aku malah berebut dengan Tasya siapa yang akan mendapatkan album pertama dari paramore yang tersisa satu di dalam record store tersebut. Sementara Harrys tetap anteng sambil memilah CD Muse mana yang ingin ia beli terlebih dahulu.
***
Suatu ketika, Tasya datang ke rumahku karena ia sedang bosan di rumah. Ia datang sekitar pukul tiga sore, tepat ketika aku baru selesai menyantap makan siangku yang sudah cukup dingin, langsung aku menjemputnya di Halte depan Rumah Sakit itu.
Seperti biasa, kami selalu menikmati perjalanan itu. Pernah suatu kali aku menjemputnya menggunakan sepeda, lalu hampir terjatuh ketika sudah dekat rumah karena ia mengelitiku.
Karena kami lewat belakang rumah, kami selalu bertemu dengan kucing anggora peliharaan tanteku, yang diberi nama Kitty. “Sayang, aku mau megang kucingnya tapi takut..” ujar Tasya dengan sangat gemas.
“Masa takut? Lucu tau..” jawabku sambil iseng membuka kandang si Kitty dan menggendongnya.
“Ih, kamu mah! Aku suka kucing tapi nggak berani megangnya..” katanya sambil agak menjauh dariku. Lantas, aku pun menaruh Kitty kembali ke kandangnya.
Kami pun menuju teras yang menjadi tempat favorit kami ketika ia sedang main ke rumah. Aku membuatkannya minum. Kali ini bukan teh, namun kopi. Entah sejak kapan, aku mulai menyukai meminum kopi karena Tasya. “Nih kopinya.. Dua-duanya ku racunin.” ucapku bercanda.
“Racun apa?” tanyanya menyelidik.
“Yang satu racun cinta, yang satu racun tikus..” jawabku dengan asal.
“Kamu sempet-sempetnya gombali lagi!” katanya sambil menjitakku. Setelah kabur habis dijitak, aku kembali mengambil gitar akustik kecilku, dan membawa laptop ayahku yang sedang tidak terpakai. Ternyata, Tasya juga menghadiahkanku kue buatannya yang menjadi favoritku. "Taraa!" ucapnya dengan senang.
“Kemaren iseng aku nyari soal AVA lagi, dan nemu video fanmadebagus banget, pasti kamu suka” ujarku sambil mengetik di YouTube video yang kumaksud. Aku tak kunjung menemukannya, dan memutar video yang berbeda. “Duh, mana ya..”
Setelah beberapa lama mencari, lama-lama aku pun pasrah. Aku meminum kopiku, memakan dengan lahap kue buatan Tasya, dan memainkan gitar sekenanya saja. Tiba-tiba, saat aku mengetik judul lagu yang lain, yang menjadi favoritku juga, secara ajaib video itu muncul. Ternyata hanya karena aku salah mengetik judul lagunya saja. “Ini dia videonya!” seruku kepada Tasya.
“Dih, teledor nih si Wapol..” ledek Tasya sambil mengelus perutku seperti biasanya. Ia juga meminum kopinya, lalu ikut menonton dengan serius. Aku sangat yakin Tasya akan menyukainya, karena walaupun ia tomboy, tapi hatinya tetap saja seorang wanita yang menyukai hal-hal berbau romantis. Aku teringat ketika sedang study tour sebelum kenaikan kelas 12, aku sempat membelikannya kalung dengan inisial nama aslinya Tasya, ia sangat senang dan selalu memakainya.
Menurutku, film pendek yang dibuat menjadi video fanmade salah satu lagu dari Angels & Airwaves itu sangat menarik, kalau menurut ayahku, video ini memiliki originalitas. Temanya tentang percintaan, di mana saling jatuh cinta di kantor yang bersebelahan. Mereka melakukan pendekatan di saat jam kerja, hanya melalui tulisan di kertas untuk berkomunikasi, tidak pernah berkomunikasi verbal secara langsung. Tasya melihatnya dengan sangat serius, sekaligus terharu. “Lagunya enak, videonya juga bagus! Unik! Aku suka, yang meranin cewenya bagus, dapet banget feel nya..” ujarnya antusias.
“Asik, kan? Hehe” ujarku sambil mengacungkan jempolku.
“Mulai sekarang, itu bakal jadi lagu favoritku! Judulnya apa tadi?” tanyanya sambil ingin mendengarkan lagunya ulang.
“All That We Are..” jawabku dengan mantap. Kami berbincang sampai malam seperti biasanya, kami selalu lupa waktu ketika sudah bersama, sehingga lupa kalau Tasya harus pulang ke rumahnya yang sangat jauh itu. Andaikan saja aku bisa dan sudah boleh mengendarai kendaraan sendiri, aku akan mengantarkannya sampai rumah.
“Dadah, ucing!” ujarku meledeknya sambil memegang Kitty sebelum Tasya berpamitan dengan keluarga ku. Ia pun mengelitiku kembali. Aku mendekatkan Kitty kepada Tasya sampai ia pura-pura ngambek. “Dih ngambek!”
“Dasar ucing!” balas Tasya kepadaku sambil kembali mengelitiku ketika aku mengejarnya yang hendak keluar dari rumahku. Seperti biasanya, aku mengantarkannya naik busway. Di sepanjang perjalanan itu, kami selalu meledeki satu sama lain dengan kata ‘Ucing’, yang entah bagaimana ceritanya menjadikan itu kebiasaanku untun memanggil Tasya.
Sebuah panggilan sayang? Mungkin, tapi tidak seperti panggilan sayang. Setidaknya untukku lebih baik dari pada yang memanggil ‘Papa-Mama’ ketika masih berpacaran.
Hari itu juga, lagu All That We Are itu menjadi lagu favorit kami berdua. Sebuah dentuman nada yang unik, yang menjadi saksi sejarah kami berdua. Tasya selalu menginginkan, jika suatu saat aku sudah tumbuh besar, dan siap untuk memikirkan hubungan lebih lanjut, ia ingin lagu All That We Are ini di mainkan saat pernikahan. Namun tetap saja, itu masih jauh sekali.
Jika Ari dan Meva dalam Sepasang Kaos Kaki Hitam menjadikan lagu Enless Love dari Lionel Richie dan Diana Ross sebagai lagu favorit mereka berdua, aku dan Tasya memilih lagu All That We Are ini.
Sesampainya di rumah, ia mengirimkan sebuah link ke twitter ku, film pendek asli dari video fanmade itu yang berjudul ‘SIGNS’
Spoiler for signs:
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:55
0
