Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
delet3Avatar border
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#3679
PART 126

Gue turun dari kereta dan menyusuri Berlin Hauptbahnhof atau Berlin Central Station kemudian naik bus jurusan Potsdamer Platz – Brandenburger Tor. Selama di bus menuju Potsdamer Platz itu gue bengong memandangi kota Berlin sewaktu malam. Kemudian gue menyadari bahwa kaca bus yang gue tumpangi basah oleh titik-titik hujan. Gue mengancingkan jaket, memasang kupluk hitam gue, dan memakai sarung tangan. Gue menyesal kenapa gak bawa jaket waterproof yang biasa gue pakai ketika mendaki gunung.

Gue turun di Potsdamer Platz setelah melewati Brandenburger Tor. Gue berjalan menyusuri Leipzigerstrasse, sambil memasukkan tangan ke kantong jaket dan sedikit menggigil kedinginan. Gue lapar. Kemudian gue menyadari melupakan satu hal esensial, SIM card untuk handphone. Gue kemudian mencari Wi-Fi yang bisa gue pergunakan. Ngabarin Sophia jam segini juga percuma soalnya di Indonesia pasti pagi-pagi buta, dan dia pasti masih tidur.

Gue lapar, dan gak lama kemudian gue menemukan gerai McDonalds lagi di subway station samping Leipziger Platz. Gue merasa gak ada pilihan lain selain makan fastfood tersebut, karena disamping gue udah lapar banget, sekaligus untuk menghemat biaya. Disitu gue makan dengan lahap, sekaligus memanfaatkan toilet dan colokan listrik yang ada. Setelah makan, gue menyadari bahwa gerai itu gak buka 24 jam, melainkan tutup 3,5 jam lagi. Lumayanlah bisa tidur 3,5 jam, pikir gue. Toh tadi di kereta juga gue tidur terus.

Tas ransel kanvas gue letakkan di kursi bagian dalam sehingga gue pikir cukup aman, kemudian gue lipat jaket di atas meja. Yang gue lakukan setelah itu adalah tidur dengan berbantalkan jaket yang cukup tebal. Buat sebagian orang, tidur di restoran fastfood adalah hal yang biasa. Tapi kali ini agak tidak biasa soalnya gue tidur di restoran fastfood, di negeri orang pula, dan sendirian.

Sekitar jam setengah 2 pagi gue keluar dari restoran itu, dan kemudian berjalan ke arah Timur, menyusuri Leipzigerstrasse. Dengan udara basah yang sangat dingin, napas gue mengeluarkan uap air, dan hidung gue mulai berair. Gue berjalan cukup cepat, agar hangat, tapi ternyata itu cukup menguras tenaga gue. Waktu itu kadang-kadang gue ingin menangis, sambil sesekali menyapu hidung yang berair. What the hell I’m doing here, gitu pikir gue waktu itu. Akhir dari perjalanan gue ini masih gelap, segelap jalanan dan langit malam di hadapan gue.

Selama satu setengah jam gue berjalan menyusuri Leipzigerstrasse itu, akhirnya gue sampai di jembatan. Gue celingukan mencari identitas dari sungai gelap di hadapan gue, dan ternyata itu adalah Sungai Spree yang terkenal itu. Menurut cerita yang pernah gue baca, Martin Bormann, sekjen Partai Nazi itu juga ditembak dan jatuh di Sungai Spree. Gue berjalan ke tepi pagar di sepanjang sungai itu, dan berpegangan di pagar sambil menggigil kedinginan. Selama beberapa waktu gue berada di posisi yang sama. Gue kedinginan, dan kesepian.

Gue kemudian mencari tempat duduk, dan cukup lama menghabiskan waktu di tepi sungai Spree itu, sampai sebuah denting handphone menyadarkan gue dari lamunan. Suara denting handphone itu terasa begitu indah di telinga gue. Akhirnya ada seseorang yang bisa gue ajak bicara. Gue merogoh tas mencari handphone, dan kemudian melihat layar. Gue tersenyum lebar melihat nama Sophia tertera disana. Belum pernah gue sebahagia ini melihat nama seseorang di handphone, nama Anin sekalipun.

Quote:


Gue menutup mata dengan sebelah tangan, dan kemudian melanjutkan pembicaraan gue dengan Sophia hingga matahari terbit. Dinginnya luar biasa di pagi hari itu. Sambil chat Sophia gue berputar-putar sekedar agar badan jadi hangat. Gue kemudian berjalan ke seberang sungai dan menemukan sebuah rotisserie yang baru akan buka, dan gue segera menyela ke dalam. Gue membeli roti dan kopi untuk menghangatkan badan dan perut gue setelah semalaman dihajar udara dingin.

Gue duduk sejenak di depan rotisserie itu dan menikmati segelas kopi yang kali itu adalah kopi terenak yang pernah gue minum. Mungkin karena gue kedinginan. Kemudian handphone gue berdenting lagi.

Quote:


Gue segera membuang gelas kertas yang udah kosong di tempat sampah dan melesat melewati Leipzigerstrasse lagi menuju Potsdamer Platz. Gila, semalem gue turun disitu, dan ternyata Anin juga ada disitu. Gue mengerahkan seluruh kekuatan gue yang masih tersisa untuk berlari sekuat tenaga melalui Leipzigerstrasse yang panjang itu. Akhirnya gue sampai di Potsdamer Platz dan celingukan, bertanya-tanya dimana Marriott Hotel itu.

Gue bertanya ke salah satu orang yang lewat di samping gue, dan untungnya orang itu adalah orang Jerman, sehingga dia tau dimana letak Marriott Hotel. Setelah mendapatkan arah yang pasti, gue berlari menuju hotel tersebut yang ternyata hanya terletak di belakang Leipziger Platz tempat restoran fastfood gue semalam. Jaraknya masih cukup jauh ternyata, sampai akhirnya gue memasuki bagian depan Berlin Marriott Hotel. Dan gue melihat sosok yang sangat gue kenal berdiri di kejauhan.

Anin.

Sosok wanita tinggi berambut coklat kemerahan dengan mantel berwarna hitam itu berdiri sekitar 50 meter dari gue, dan sebelum gue berteriak memanggilnya, dia telah masuk mobil. Gue kemudian berteriak memanggilnya, tapi terlambat. Mobil itu telah berjalan meninggalkan gue. Dan begitu juga dengan mimpi gue.
khodzimzz
jenggalasunyi
pulaukapok
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.