- Beranda
- Stories from the Heart
Aku mah gitu orangnya
...
TS
veronita
Aku mah gitu orangnya
Quote:
Quote:
Spoiler for penting:
Spoiler for index:
Diubah oleh veronita 23-07-2015 16:44
0
65.3K
469
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
veronita
#113
Part 13
Di sekolahku ada sebuah liga basket antar kelas. Hari ini adalah final, kelas Reno berhadapan dengan kelas yang mempunyai reputasi buruk. Banyak anak ekskul pecinta alam dikelas ini, termasuk sang ketua ekskulnya Doni.
Aku duduk manis dipinggir lapangan dibekali segelas es jeruk dan beberapa cemilan. Aku sadar bukan hanya aku disini yang datang untuk menonton Reno. Ada juga sekretaris OSIS yang sepertinya naksir dengan Reno.
“liat deh Jes itu sekretaris OSIS, norak banget yah” kataku sambil menunjuk kearah sekretaris OSIS
Sekretaris OSIS ini bernama Lidya. Aku nggak tau kesal karena cemburu atau yang lainnya. Mungkin takut tersaingi.
“kamu nggak sadar dulu lebih norak?” kata Jessy dengan santainya
“masa sih Jes?
”
Semakin seru pertandingan, semakin bising juga teriakan Lidya sang sekretaris OSIS. Ingin kutimpuk dengan gelas ini rasanya.
Terlihat beberapa kali Reno melirik kearahku. Tapi tak lama, kemudian dia kembali fokus. Skor pertandingan berbeda tipis. Membuat pertandingan semakin sengit dan kasar. Aksi dorong dan sesekali terdengar kata-kata kasar.
Akhirnya peluit tanda waktu telah habis berbunyi. Kelas Reno menang dengan tipis. Aku ingin sekedar kasih ucapan selamat. Tapi sepertinya sudah keduluan oleh Lidya. Benar-benar menyebalkan.
“udah yuk Jes, balik aja” kataku kesal
“cemburu?” tanya Jessy menowelku
“tau ah”
Wajar Reno banyak yang suka, mungkin dulu juga banyak yang memandangku kesal ketika mengejar Reno dengan norak.
“mau kemana my princess?” tanya suara dari arah belakangku, dan aku yakin itu Reno
“balik” jawabku singkat tanpa menoleh kebelakang
“aku anter ya”
“nggak usah, bisa sendiri”
Reno mendahuluiku dan berhenti berhadapan tepat didepanku. Terlihat nafasnya masih terengah-engah, keringatnya pun masih bercucuran.
“Ta, kamu mau jadi pacar aku? Bukan main-main, tapi serius”
Aku deg-degan ketika Reno berkata seperti itu. Tiba-tiba entah datang darimana, aku dan Reno jadi tontonan. Sepertinya ulah Ridho yang sengaja mengumpulkan massa. Aku masih terdiam, antara tersipu dan grogi.
“Ta, mau ya jadi pacar aku” Reno menumpukan sebelah lututnya dihadapanku, tangannya menggenggam tanganku. Duh mimpi apa aku semalam?
“TERIMA..!! TERIMA..!! TERIMA..!!”
Disekelilingku berteriak bersorak. Aku bener-bener merasa terharu, Reno menembakku dihadapan orang banyak begini
“iya aku mau…” kataku seraya mengangguk
“tapi ada syaratnya” mendengar lanjutan ucapanku Reno memandangku penasaran
“apa syaratnya?” tanya Reno tak sabar
“sekali jadi pacar aku nggak ada kata putus” kataku menirukan ucapan Reno ketika pertama kali dulu
“hahaha kamu bisa aja” kata Reno tertawa lebar seraya mengacak rambutku
“eh aku serius, satu lagi, harus nurut sama pacar”
“iya iya my princess…” kata Reno berusaha merangkulku
“jauh-jauh sana, keringetan gitu”
“deket-deket pacar nggak boleh?”
“katanya mau nurut sama pacar, jauh-jauh sana hus”
Aku nggak tega mengerjai Reno seperti dulu dia memperlakukanku. Rasanya sudah cukup usaha Reno meyakinkanku bahwa dia nggak main-main.
“nggak kok becanda, sini-sini, nih pake aja nggak apa-apa kok” kataku lalu mengeluarkan saputangan dari tasku
“makasih ya my princess, kantin yuk haus”
“uhuk makan-makan” kata Ridho menyindir kami berdua
“uhuk traktir” ditambah lagi Jessy yang masih setia menonton kemesraanku dengan Reno
Aku jadi teringat Ridho pernah keceplosan bilang suka dengan Jessy kepadaku.
“beneran mau traktir Dho? Kayaknya dulu ada yang pernah keceplosan bilang suka sama seseorang deh”
“eh nggak Ta, becanda, nggak usah ditraktir nggak apa-apa, aku yang traktir deh buat ucapan selamat” kata Ridho panik takut kubongkar
Reno dan jessy terlihat bingung Ridho menjadi berubah pikiran seperti itu.
“nah gitu dong, itu kan namanya temen yang baik”
Hari ini aku gembira, aku (beneran) jadian dengan Reno. Ya, Reno itu pacar pertamaku.
Di sekolahku ada sebuah liga basket antar kelas. Hari ini adalah final, kelas Reno berhadapan dengan kelas yang mempunyai reputasi buruk. Banyak anak ekskul pecinta alam dikelas ini, termasuk sang ketua ekskulnya Doni.
Aku duduk manis dipinggir lapangan dibekali segelas es jeruk dan beberapa cemilan. Aku sadar bukan hanya aku disini yang datang untuk menonton Reno. Ada juga sekretaris OSIS yang sepertinya naksir dengan Reno.
“liat deh Jes itu sekretaris OSIS, norak banget yah” kataku sambil menunjuk kearah sekretaris OSIS
Sekretaris OSIS ini bernama Lidya. Aku nggak tau kesal karena cemburu atau yang lainnya. Mungkin takut tersaingi.

“kamu nggak sadar dulu lebih norak?” kata Jessy dengan santainya
“masa sih Jes?
”Semakin seru pertandingan, semakin bising juga teriakan Lidya sang sekretaris OSIS. Ingin kutimpuk dengan gelas ini rasanya.

Terlihat beberapa kali Reno melirik kearahku. Tapi tak lama, kemudian dia kembali fokus. Skor pertandingan berbeda tipis. Membuat pertandingan semakin sengit dan kasar. Aksi dorong dan sesekali terdengar kata-kata kasar.
Akhirnya peluit tanda waktu telah habis berbunyi. Kelas Reno menang dengan tipis. Aku ingin sekedar kasih ucapan selamat. Tapi sepertinya sudah keduluan oleh Lidya. Benar-benar menyebalkan.

“udah yuk Jes, balik aja” kataku kesal
“cemburu?” tanya Jessy menowelku
“tau ah”
Wajar Reno banyak yang suka, mungkin dulu juga banyak yang memandangku kesal ketika mengejar Reno dengan norak.

“mau kemana my princess?” tanya suara dari arah belakangku, dan aku yakin itu Reno
“balik” jawabku singkat tanpa menoleh kebelakang
“aku anter ya”
“nggak usah, bisa sendiri”
Reno mendahuluiku dan berhenti berhadapan tepat didepanku. Terlihat nafasnya masih terengah-engah, keringatnya pun masih bercucuran.
“Ta, kamu mau jadi pacar aku? Bukan main-main, tapi serius”
Aku deg-degan ketika Reno berkata seperti itu. Tiba-tiba entah datang darimana, aku dan Reno jadi tontonan. Sepertinya ulah Ridho yang sengaja mengumpulkan massa. Aku masih terdiam, antara tersipu dan grogi.
“Ta, mau ya jadi pacar aku” Reno menumpukan sebelah lututnya dihadapanku, tangannya menggenggam tanganku. Duh mimpi apa aku semalam?

“TERIMA..!! TERIMA..!! TERIMA..!!”
Disekelilingku berteriak bersorak. Aku bener-bener merasa terharu, Reno menembakku dihadapan orang banyak begini
“iya aku mau…” kataku seraya mengangguk
“tapi ada syaratnya” mendengar lanjutan ucapanku Reno memandangku penasaran
“apa syaratnya?” tanya Reno tak sabar
“sekali jadi pacar aku nggak ada kata putus” kataku menirukan ucapan Reno ketika pertama kali dulu
“hahaha kamu bisa aja” kata Reno tertawa lebar seraya mengacak rambutku
“eh aku serius, satu lagi, harus nurut sama pacar”
“iya iya my princess…” kata Reno berusaha merangkulku
“jauh-jauh sana, keringetan gitu”
“deket-deket pacar nggak boleh?”
“katanya mau nurut sama pacar, jauh-jauh sana hus”
Aku nggak tega mengerjai Reno seperti dulu dia memperlakukanku. Rasanya sudah cukup usaha Reno meyakinkanku bahwa dia nggak main-main.
“nggak kok becanda, sini-sini, nih pake aja nggak apa-apa kok” kataku lalu mengeluarkan saputangan dari tasku
“makasih ya my princess, kantin yuk haus”
“uhuk makan-makan” kata Ridho menyindir kami berdua
“uhuk traktir” ditambah lagi Jessy yang masih setia menonton kemesraanku dengan Reno
Aku jadi teringat Ridho pernah keceplosan bilang suka dengan Jessy kepadaku.
“beneran mau traktir Dho? Kayaknya dulu ada yang pernah keceplosan bilang suka sama seseorang deh”
“eh nggak Ta, becanda, nggak usah ditraktir nggak apa-apa, aku yang traktir deh buat ucapan selamat” kata Ridho panik takut kubongkar

Reno dan jessy terlihat bingung Ridho menjadi berubah pikiran seperti itu.
“nah gitu dong, itu kan namanya temen yang baik”
Hari ini aku gembira, aku (beneran) jadian dengan Reno. Ya, Reno itu pacar pertamaku.

Diubah oleh veronita 30-05-2015 08:37
pulaukapok dan gijoe.malaw memberi reputasi
2
