- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#3595
PART 124
Gue langsung celingukan mencari orang yang bisa gue tanyai letak jalan Auguste Orts itu. Akhirnya gue menemukan seorang pedagang souvenir agak jauh dari gue, yang gue bisa memastikan bahwa dia orang Brussels asli. Gue dekati pria setengah baya itu, dan bertanya dengan bahasa Inggris.
Gue langsung melesat berlari menyeberangi Grand Place yang luas itu, kemudian mengamati sekeliling dalam sekejap, dan menemukan Rue au Beurre. Gue berlari kecil melewati Rue au Beurre, hingga beberapa orang memperhatikan gue karena sebegitu kentaranya diantara para turis yang sedang berjalan. Ransel gue yang berat waktu itu seperti tidak terasa, karena terburu-burunya gue waktu itu. Yang gue rasakan justru tapak kaki gue seperti berdebam diatas jalan yang terbuat dari batu tersebut.
Gue merasakan jalan itu panjang sekali, seperti tak berujung. Tepat waktu ketika gue ingin berhenti mengambil napas, gue melihat ujung Rue au Beurre itu, dan melihat sebuah jalan. Gue berhenti tepat di bawah palang nama jalan diatas kepala, dan tertulis Rue de Tabora. Lalu dimana Rue Auguste Orts? Rasa bingung dan panik segera melanda, pertama karena gue gak bisa menemukan Rue Auguste Orts, kedua karena gue takut kalo tersesat. Gue mulai gak percaya sama pedagang souvenir tadi.
Gue menarik napas, mencoba mengatur kembali ritme napas, dan berpikir lebih jernih. Setelah beberapa waktu gue ingat bahwa tadi pedagang itu mengatakan satu hal lagi .
Seketika gue menyadari bahwa gue belum melihat apa yang disebut Scientastic Museum itu. Entah gue terlewat, atau memang belum sampai pada tempatnya. Waktu itu gue samasekali gak kepikiran untuk mengecek handphone kembali. Pikiran gue hanyalah segera menemukan hotel yang dimaksud. Gue kemudian berjalan kembali ke arah Grand Place sedikit, untuk melihat kembali apakah gue sudah melewati Scientastic Museum. Ternyata sepanjang yang gue lihat, belum ada tanda-tanda eksistensi Scientastic Museum.
Gue kemudian berjalan menyeberangi Rue de Tabora, dan tiba di sebuah jalan kecil, yang setelah gue baca palang namanya adalah Rue de la Bourse (Beurstraat). Pastilah Scientastic Museum itu berada di jalan ini, berarti gue belum melewatkannya, pikir gue lega. Setelah menarik napas, gue kemudian berlari lagi menyusuri Rue de la Bourse, melesat lebih cepat dari sebelumnya. Beberapa menit kemudian gue telah sampai di ujung jalan Rue Auguste Orts, dan berdiri sambil bernapas lega. Rue Auguste Orts ini ternyata gak lurus persis di ujung Rue de la Bourse, tetapi gue harus menyeberang Anspachlaan dan berjalan beberapa puluh meter ke selatan baru menemukan Rue Auguste Orts.
Gue kemudian berlari lagi menyusuri Rue Auguste Orts, dan akhirnya menemukan hotel yang dimaksud. Gue mengatur napas, kemudian masuk ke lobby hotel tersebut dengan sedikit goyah. Gue melangkah masuk ke lobby yang mewah dan didominasi cahaya berwarna kuning tersebut. Setelah celingukan sebentar, gue menemukan meja resepsionis yang terbuat dari marmer hitam, dan berhadapan dengan seorang wanita berambut pirang yang tinggi dan berwajah cantik. Dia tersenyum dan memiringkan kepala ke gue.
Gue terdiam cukup lama, dan akhirnya setelah gue sadar kembali, gue mengucapkan terima kasih kepada petugas resepsionis itu, dan berjalan keluar hotel dengan gontai. Di luar hotel gue mengambil handphone dari kantong, dan berniat mengabari Sophia. Ternyata masih ada chat dari Sophia yang belum gue baca.
Gue mengerang membaca chat Sophia itu dan kemudian berjongkok saking keselnya. Coba gue baca dari tadi. Sampe gue menyadari bahwa ada beberapa orang yang memperhatikan tingkah gue itu. Karena malu, gue buru-buru masuk ke restoran fastfood McDonalds yang terletak disamping Marriott. Beberapa waktu kemudian gue udah duduk di sebuah meja kecil untuk 2 orang, yang terletak di samping jendela. Sambil melihat jam dibalik jaket, gue chat Sophia.
Gue menghirup kopi panas yang tadi gue pesan, dan mengunyah beberapa batang french fries. Gue memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di samping gue, melewati Rue Auguste Orts yang ternyata indah. Tadi sewaktu datang gue gak sempet memperhatikan, karena terburu-buru.
Seketika itu barulah gue inget, kalo gue dari Indonesia memang membawa cincin yang gue peruntukkan buat Anin. Gue membuka ransel, merogoh salah satu bagian terdalamnya, dan menemukan sebuah tempat cincin yang berlapis kain beludru berwarna biru tua. Gue membuka tutupnya, dan tampaklah cincin platinum bertatahkan berlian yang berkilau dengan indah. Sesuatu yang menjadi salah satu pendorong gue melakukan perjalanan hingga kemari.
Gue kemudian menghirup kopi gue, dan memejamkan mata. It’s a long way to back home.
Quote:
Gue langsung celingukan mencari orang yang bisa gue tanyai letak jalan Auguste Orts itu. Akhirnya gue menemukan seorang pedagang souvenir agak jauh dari gue, yang gue bisa memastikan bahwa dia orang Brussels asli. Gue dekati pria setengah baya itu, dan bertanya dengan bahasa Inggris.
Quote:
Gue langsung melesat berlari menyeberangi Grand Place yang luas itu, kemudian mengamati sekeliling dalam sekejap, dan menemukan Rue au Beurre. Gue berlari kecil melewati Rue au Beurre, hingga beberapa orang memperhatikan gue karena sebegitu kentaranya diantara para turis yang sedang berjalan. Ransel gue yang berat waktu itu seperti tidak terasa, karena terburu-burunya gue waktu itu. Yang gue rasakan justru tapak kaki gue seperti berdebam diatas jalan yang terbuat dari batu tersebut.
Gue merasakan jalan itu panjang sekali, seperti tak berujung. Tepat waktu ketika gue ingin berhenti mengambil napas, gue melihat ujung Rue au Beurre itu, dan melihat sebuah jalan. Gue berhenti tepat di bawah palang nama jalan diatas kepala, dan tertulis Rue de Tabora. Lalu dimana Rue Auguste Orts? Rasa bingung dan panik segera melanda, pertama karena gue gak bisa menemukan Rue Auguste Orts, kedua karena gue takut kalo tersesat. Gue mulai gak percaya sama pedagang souvenir tadi.
Gue menarik napas, mencoba mengatur kembali ritme napas, dan berpikir lebih jernih. Setelah beberapa waktu gue ingat bahwa tadi pedagang itu mengatakan satu hal lagi .
Quote:
Seketika gue menyadari bahwa gue belum melihat apa yang disebut Scientastic Museum itu. Entah gue terlewat, atau memang belum sampai pada tempatnya. Waktu itu gue samasekali gak kepikiran untuk mengecek handphone kembali. Pikiran gue hanyalah segera menemukan hotel yang dimaksud. Gue kemudian berjalan kembali ke arah Grand Place sedikit, untuk melihat kembali apakah gue sudah melewati Scientastic Museum. Ternyata sepanjang yang gue lihat, belum ada tanda-tanda eksistensi Scientastic Museum.
Gue kemudian berjalan menyeberangi Rue de Tabora, dan tiba di sebuah jalan kecil, yang setelah gue baca palang namanya adalah Rue de la Bourse (Beurstraat). Pastilah Scientastic Museum itu berada di jalan ini, berarti gue belum melewatkannya, pikir gue lega. Setelah menarik napas, gue kemudian berlari lagi menyusuri Rue de la Bourse, melesat lebih cepat dari sebelumnya. Beberapa menit kemudian gue telah sampai di ujung jalan Rue Auguste Orts, dan berdiri sambil bernapas lega. Rue Auguste Orts ini ternyata gak lurus persis di ujung Rue de la Bourse, tetapi gue harus menyeberang Anspachlaan dan berjalan beberapa puluh meter ke selatan baru menemukan Rue Auguste Orts.
Gue kemudian berlari lagi menyusuri Rue Auguste Orts, dan akhirnya menemukan hotel yang dimaksud. Gue mengatur napas, kemudian masuk ke lobby hotel tersebut dengan sedikit goyah. Gue melangkah masuk ke lobby yang mewah dan didominasi cahaya berwarna kuning tersebut. Setelah celingukan sebentar, gue menemukan meja resepsionis yang terbuat dari marmer hitam, dan berhadapan dengan seorang wanita berambut pirang yang tinggi dan berwajah cantik. Dia tersenyum dan memiringkan kepala ke gue.
Quote:
Gue terdiam cukup lama, dan akhirnya setelah gue sadar kembali, gue mengucapkan terima kasih kepada petugas resepsionis itu, dan berjalan keluar hotel dengan gontai. Di luar hotel gue mengambil handphone dari kantong, dan berniat mengabari Sophia. Ternyata masih ada chat dari Sophia yang belum gue baca.
Quote:
Gue mengerang membaca chat Sophia itu dan kemudian berjongkok saking keselnya. Coba gue baca dari tadi. Sampe gue menyadari bahwa ada beberapa orang yang memperhatikan tingkah gue itu. Karena malu, gue buru-buru masuk ke restoran fastfood McDonalds yang terletak disamping Marriott. Beberapa waktu kemudian gue udah duduk di sebuah meja kecil untuk 2 orang, yang terletak di samping jendela. Sambil melihat jam dibalik jaket, gue chat Sophia.
Quote:
Gue menghirup kopi panas yang tadi gue pesan, dan mengunyah beberapa batang french fries. Gue memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di samping gue, melewati Rue Auguste Orts yang ternyata indah. Tadi sewaktu datang gue gak sempet memperhatikan, karena terburu-buru.
Quote:
Seketika itu barulah gue inget, kalo gue dari Indonesia memang membawa cincin yang gue peruntukkan buat Anin. Gue membuka ransel, merogoh salah satu bagian terdalamnya, dan menemukan sebuah tempat cincin yang berlapis kain beludru berwarna biru tua. Gue membuka tutupnya, dan tampaklah cincin platinum bertatahkan berlian yang berkilau dengan indah. Sesuatu yang menjadi salah satu pendorong gue melakukan perjalanan hingga kemari.
Quote:
Gue kemudian menghirup kopi gue, dan memejamkan mata. It’s a long way to back home.
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3


: serius dia ke Berlin?
: iya, dia ke Berlin ntar malem, masak gue boong sih.
: lo udah nanya alamat kantornya dia yang disini? Atau hotelnya gitu?
: berapa lama dia disini?
: ya? Gue ngantuk nih.
: hampir jam 11.
: kenapa? Lo ragu? Baru mulai udah ragu? Cemen ah lo.
: Duit bisa dicari, tapi lo sendiri kan yang bilang kalo mbak Anin cuma satu?
: hah? Buka ransel?