- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#3579
PART 123
Sesuai kebiasaan gue ketika sampai di suatu negara, hal pertama yang gue lakukan adalah membeli nomor provider setempat. Provider yang gue pilih di Belgia ini adalah Proximus. Kabarnya provider satu ini adalah yang terbaik di Belgia. Untung proses pembelian nomor baru ini gak begitu ribet seperti di Argentina. Gue mengenakan jaket tebal yang gue bawa dari Indonesia, dan membaca sebuah buku panduan. Gue mendongak dan celingukan mencari LED sign dan sebuah papan kaca bertuliskan “WELCOME TO THE STATION OF BRUSSEL NATIONAL AIRPORT”. Di stasiun itu untungnya ada mesin penjual tiket otomatis yang bisa pake kartu kredit.
Gue mencari-cari stasiun tujuan gue di tombol yang ada, dan akhirnya menemukan Gare de Bruxelles Central atau Brussel Centraal. Akan lebih baik kalo gue berada di tengah kota, dan dari situ gue mulai menjelajahi negara ini. Ketika melihat tarif tiket kereta yang seharga 8.50 euro, gue menggelengkan kepala dan secara otomatis mengkonversikan kedalam mata uang rupiah. Mahal ternyata, sehingga gue mulai saat itu gak akan mengkonversikan apapun ke rupiah. Takut makan ati.
Kereta yang akan gue tumpangi menuju Brussel Centraal ini ternyata ada beberapa kali dalam sejam, jadi gue gak perlu lama-lama menunggu. Diatas kereta pun terasa nyaman dan lapang. Gue mengganti nomor handphone, dan hal pertama yang gue lakukan adalah menghubungi Sophia.
Gue membetulkan ransel kanvas gue di pangkuan, dan gak lama kemudian datang balasan dari Sophia.
Akhirnya kereta gue sampai di stasiun tujuan, yaitu Gare de Bruxelles Central. Gue bergegas keluar dari kereta dan mencari jalan menuju pintu keluar. Ketika keluar dari pintu, gue terkejut karena hawa dingin yang menerpa tubuh gue. Sambil menahan dingin, gue melangkah menuju salah satu sudut, dan mengeluarkan sarung tangan, dan mengancingkan jaket gue. Dengan memasukkan kedua tangan ke kantong jaket dan berkacamata hitam, gue berjalan menuju ke salah satu pusat destinasi di Brussel, yaitu Grand Place.
Jalur terdekat menuju Grand Place adalah menyeberangi Rue de la Madeleine dan memasuki jalan kecil diantara bangunan dan menuju Rue de la Colline. Dari Rue de la Colline gue bisa langsung sampai di Grand Place. Siang itu cukup ramai, dan sepertinya selalu ramai. Gue memandangi deretan toko sambil berjalan diatas trotoar. Sambil sesekali menarik napas di hidung gue yang berair, gue berjalan cukup cepat.
Setelah melewati berderet-deret toko, akhirnya gue berbelok ke kiri dan sampailah gue di Grand Place atau Grote Markt. Sebuah pelataran yang sangat luas, yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan tinggi dan megah. Grand Place ini sudah ada selama seribu tahun. Gue memandangi Grand Place dengan takjub, meskipun suasana ini sedikit terganggu oleh banyaknya turis yang juga berada disitu.
Gue berdiri di salah satu sudut Grand Place sambil membuka roti sandwich yang tadi gue beli di Rue de Madeleine. Sambil mengunyah, gue mengeluarkan handphone, melihat apakah Sophia udah menjawab. Dan ternyata udah.
Gue gondok melihat chat Sophia itu, dan memutar bola mata ke atas. Ini anak, dimintain tolong nanyain, malah balik nanya. Gue ketikkan balasan chat tersebut.
Gue jadi semakin bersemangat mendengar berita dari Sophia itu.
Begitu gue membaca kata “Berlin” itu, gue mengulang kata "Ber-lin" tanpa suara dan mendongak memandangi Town Hall megah di hadapan gue dengan kosong. Rasanya kemegahan bangunan itu hilang gak berbekas.
Spoiler for Brussels Airport:
Sesuai kebiasaan gue ketika sampai di suatu negara, hal pertama yang gue lakukan adalah membeli nomor provider setempat. Provider yang gue pilih di Belgia ini adalah Proximus. Kabarnya provider satu ini adalah yang terbaik di Belgia. Untung proses pembelian nomor baru ini gak begitu ribet seperti di Argentina. Gue mengenakan jaket tebal yang gue bawa dari Indonesia, dan membaca sebuah buku panduan. Gue mendongak dan celingukan mencari LED sign dan sebuah papan kaca bertuliskan “WELCOME TO THE STATION OF BRUSSEL NATIONAL AIRPORT”. Di stasiun itu untungnya ada mesin penjual tiket otomatis yang bisa pake kartu kredit.
Gue mencari-cari stasiun tujuan gue di tombol yang ada, dan akhirnya menemukan Gare de Bruxelles Central atau Brussel Centraal. Akan lebih baik kalo gue berada di tengah kota, dan dari situ gue mulai menjelajahi negara ini. Ketika melihat tarif tiket kereta yang seharga 8.50 euro, gue menggelengkan kepala dan secara otomatis mengkonversikan kedalam mata uang rupiah. Mahal ternyata, sehingga gue mulai saat itu gak akan mengkonversikan apapun ke rupiah. Takut makan ati.
Kereta yang akan gue tumpangi menuju Brussel Centraal ini ternyata ada beberapa kali dalam sejam, jadi gue gak perlu lama-lama menunggu. Diatas kereta pun terasa nyaman dan lapang. Gue mengganti nomor handphone, dan hal pertama yang gue lakukan adalah menghubungi Sophia.
Quote:
Gue membetulkan ransel kanvas gue di pangkuan, dan gak lama kemudian datang balasan dari Sophia.
Quote:
Akhirnya kereta gue sampai di stasiun tujuan, yaitu Gare de Bruxelles Central. Gue bergegas keluar dari kereta dan mencari jalan menuju pintu keluar. Ketika keluar dari pintu, gue terkejut karena hawa dingin yang menerpa tubuh gue. Sambil menahan dingin, gue melangkah menuju salah satu sudut, dan mengeluarkan sarung tangan, dan mengancingkan jaket gue. Dengan memasukkan kedua tangan ke kantong jaket dan berkacamata hitam, gue berjalan menuju ke salah satu pusat destinasi di Brussel, yaitu Grand Place.
Jalur terdekat menuju Grand Place adalah menyeberangi Rue de la Madeleine dan memasuki jalan kecil diantara bangunan dan menuju Rue de la Colline. Dari Rue de la Colline gue bisa langsung sampai di Grand Place. Siang itu cukup ramai, dan sepertinya selalu ramai. Gue memandangi deretan toko sambil berjalan diatas trotoar. Sambil sesekali menarik napas di hidung gue yang berair, gue berjalan cukup cepat.
Spoiler for Rue de la Madeleine:
Spoiler for Rue de La Madeleine:
Setelah melewati berderet-deret toko, akhirnya gue berbelok ke kiri dan sampailah gue di Grand Place atau Grote Markt. Sebuah pelataran yang sangat luas, yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan tinggi dan megah. Grand Place ini sudah ada selama seribu tahun. Gue memandangi Grand Place dengan takjub, meskipun suasana ini sedikit terganggu oleh banyaknya turis yang juga berada disitu.
Spoiler for Grand Place:
Spoiler for Grand Place:
Spoiler for Grand Place:
Gue berdiri di salah satu sudut Grand Place sambil membuka roti sandwich yang tadi gue beli di Rue de Madeleine. Sambil mengunyah, gue mengeluarkan handphone, melihat apakah Sophia udah menjawab. Dan ternyata udah.
Quote:
Gue gondok melihat chat Sophia itu, dan memutar bola mata ke atas. Ini anak, dimintain tolong nanyain, malah balik nanya. Gue ketikkan balasan chat tersebut.
Quote:
Gue jadi semakin bersemangat mendengar berita dari Sophia itu.
Quote:
Begitu gue membaca kata “Berlin” itu, gue mengulang kata "Ber-lin" tanpa suara dan mendongak memandangi Town Hall megah di hadapan gue dengan kosong. Rasanya kemegahan bangunan itu hilang gak berbekas.
Diubah oleh jayanagari 22-04-2015 10:26
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3


: Pi, gue udah di Brussel nih.
: di kereta, dari airport mau ke Gare de Bruxelles Central. Disono jam berapa?
: eh kampret, gue tanyain udah makan apa belom sekali aja langsung senengnya kayak dapet lotere lo.
: ya wajar lah, udah lama gue gak ditanyain gitu sama kakak lo. Tapi sama lo juga boleh deh.
: emang.
: ish, seriusan. Lo dimana?
: Anin beneran masih di Brussels kan? Beneran? Sekarang dia dimana? Tanyain alamatnya dong, ya?
: apaan?