- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#3553
PART 122 – Out of Nowhere
Penumpang disebelah gue adalah ibu-ibu setengah baya yang cukup ribet. Ibu ini bernama Nyonya Renee, berkewarganegaraan Belgia, dan tinggal di Brussels. Dia ke Indonesia karena ada urusan bisnis yang harus dia kerjakan di Bali. Dia di Indonesia selama 3 minggu. Hebat ya Nyonya Renee ini, bisa cerita ke gue sedemikian lengkapnya, padahal gue gak berniat mengorek-ngorek kehidupan pribadinya. Yah anggap aja nambah temen baru deh.
Di atas pesawat itu gue membekali diri dengan sebuah novel pemenang penghargaan Pulitzer karya Edward P. Jones yang berjudul The Known World. Sambil sesekali ngemil camilan yang gue beli di airport tadi, gue terbenam dalam bacaan gue ini hingga akhirnya transit di Dubai. Di Airport Dubai yang terkenal sangat megah itu gue kesasar. Bayangin aja ada mall segede gaban di dalem airport. Gue menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi toko dan berhenti di coffee shop beberapa waktu. Selama 9 jam gue berada di Dubai, dan keinginan untuk keluar dari airport dan menjelajahi Dubai semakin menggila. Sampe akhirnya gue menepuk pipi sendiri dan mengingatkan diri sendiri bahwa ada tujuan yang lebih besar lagi.
Ketika gue udah kembali mengudara menuju benua Eropa, gue tersenyum sendiri mengingat pengalaman gue beberapa bulan lalu ketika mendaki Aconcagua. Bedanya waktu itu gue transit di Doha, dan menuju ke benua Amerika Selatan. Gue menoleh dan membuka sedikit penutup jendela disebelah kepala gue, dan memandangi langit hitam. Betapa banyak yang gue alami di hidup akhir-akhir ini. Rasanya pingin gue pergi ke suatu tempat yang sunyi dan terpencil, kemudian menghabiskan waktu sendiri disana untuk menjernihkan hati dan pikiran.
Kemudian gue teringat akan Tami, sosok cewek yang telah hadir di hidup gue selama 5 tahun terakhir. Berawal dari sapaan mendadaknya ketika gue ketiduran di kelas waktu awal kuliah dulu, hingga sebuah pelukan terakhir sebelum gue melangkah masuk ke dalam ruang check in di airport. Jika gue bisa memutar sedikit waktu, gue ingin kembali sebelum gue berangkat tadi, untuk mengucapkan terimakasih atas segala yang sudah dilakukan Tami untuk gue. Untuk mengucapkan terimakasih atas pengorbanan hatinya, dan yang terpenting, untuk menegaskan kata maaf yang tak terucap.
Jika Tami memandang gue sebagai malaikatnya, pahlawannya, dan apapun itu, gue akan dengan tegas menunjuk Tami lah pahlawan dan malaikat yang sebenarnya. Jika ada yang memandang gue sebagai seseorang yang berhati teguh, Tami adalah sebuah tebing karang yang tak tergoyahkan. Gue sadar, bahwa gue bukanlah apa-apa dibandingkan dengan pencapaian yang telah Tami lakukan. Entah itu untuk kehidupan pribadinya, keluarganya, hingga hatinya. Di tengah carut marut suasana hati dan kehidupan pribadinya dulu, dia masih bisa menemukan keindahan dari menolong sesama. Seakan senyum sesama adalah dunia pelariannya. Sebuah sisi termanis kehidupan yang bisa ditemukan olehnya.
Gue gak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan, karena di hidup gue telah hadir 3 wanita luar biasa yang telah membentuk gue sampe dengan detik ini. Pertama tentu saja nyokap gue, yang paling besar jasanya dari semua orang yang pernah ada di hidup gue dan dengan sifat-sifat beliau yang diturunkan ke gue. Kedua adalah Anin, seorang wanita nyaris sempurna, yang mungkin menjadi impian semua orang, dan dengan cinta tulus dan murninya kepada seseorang yang telah dia pilih. Ketiga adalah Tami, sebuah kutub yang berlawanan dengan Anin. Sebuah batu karang yang teguh dan dingin, namun tetap memancarkan cinta dengan caranya sendiri. Satu kesamaan yang bisa gue tarik dari kedua wanita luarbiasa ini, yaitu konsistensi dan loyalitas.
Keduanya mungkin punya sifat yang sangat berlawanan. Anin yang supel, ramah dan menyenangkan, sementara Tami dengan sifat dingin, misterius dan kerasnya. Tapi ketika mereka berdua telah membuka hatinya, mereka menunjukkan ruang rahasia terdalam di hatinya, satu bagian paling berharga di jiwanya. Dan gue mendapatkan kehormatan untuk itu. Beberapa waktu terakhir ini, gue merasa gue berada di persimpangan paling menentukan di hidup gue. Sebuah kepingan puzzle terakhir. Sebuah bidak catur yang harus gue mainkan dengan tepat, agar semua berakhir dengan baik.
Mendadak gue merasa sangat merindukan Anin. Sosok yang selama ini selalu berada di hati gue, dan sekarang berada sangat jauh dari tempat seharusnya dia berada. Jika ada yang bertanya, apa yang ada di dalam diri Anin yang gue rindukan, gue akan menjawab, jiwanya. Kecantikannya suatu saat pasti akan memudar, fisiknya yang sempurna suatu saat pasti akan mengecil dan bungkuk, senyumnya yang cantik juga pasti akan berubah menjadi keriput. Tapi tidak dengan jiwanya. Gue harap jiwanya akan tetap selalu indah, selalu cantik, dan selalu hidup di dalam jiwa gue.
Gue merasakan rapuhnya perasaan gue semenjak Anin pergi. Gue merasa bukan menjadi gue yang dulu. Pertamanya gue merasa wajar ketika seseorang baru putus cinta, pasti akan merasakan hal yang sama seperti gue. Tapi lama kelamaan gue menyadari bahwa gue bagaikan orang yang melangkah tanpa arah, tanpa tujuan. Gue merasa seperti membutuhkan bintang utara untuk menunjukkan arah kemana gue harus melangkah.
Dan Anin adalah bintang utara gue.
Ketika gue melangkah keluar dari pesawat melewati garbarata, dan akhirnya memasuki bangunan airport, gue tahu bahwa disinilah perjuangan gue dimulai. Di Brussels, ibukota Belgia, sebuah negara di bagian Barat Laut Eropa, penentuan akhir dari hidup gue dimulai.
Penumpang disebelah gue adalah ibu-ibu setengah baya yang cukup ribet. Ibu ini bernama Nyonya Renee, berkewarganegaraan Belgia, dan tinggal di Brussels. Dia ke Indonesia karena ada urusan bisnis yang harus dia kerjakan di Bali. Dia di Indonesia selama 3 minggu. Hebat ya Nyonya Renee ini, bisa cerita ke gue sedemikian lengkapnya, padahal gue gak berniat mengorek-ngorek kehidupan pribadinya. Yah anggap aja nambah temen baru deh.
Di atas pesawat itu gue membekali diri dengan sebuah novel pemenang penghargaan Pulitzer karya Edward P. Jones yang berjudul The Known World. Sambil sesekali ngemil camilan yang gue beli di airport tadi, gue terbenam dalam bacaan gue ini hingga akhirnya transit di Dubai. Di Airport Dubai yang terkenal sangat megah itu gue kesasar. Bayangin aja ada mall segede gaban di dalem airport. Gue menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi toko dan berhenti di coffee shop beberapa waktu. Selama 9 jam gue berada di Dubai, dan keinginan untuk keluar dari airport dan menjelajahi Dubai semakin menggila. Sampe akhirnya gue menepuk pipi sendiri dan mengingatkan diri sendiri bahwa ada tujuan yang lebih besar lagi.
Ketika gue udah kembali mengudara menuju benua Eropa, gue tersenyum sendiri mengingat pengalaman gue beberapa bulan lalu ketika mendaki Aconcagua. Bedanya waktu itu gue transit di Doha, dan menuju ke benua Amerika Selatan. Gue menoleh dan membuka sedikit penutup jendela disebelah kepala gue, dan memandangi langit hitam. Betapa banyak yang gue alami di hidup akhir-akhir ini. Rasanya pingin gue pergi ke suatu tempat yang sunyi dan terpencil, kemudian menghabiskan waktu sendiri disana untuk menjernihkan hati dan pikiran.
Kemudian gue teringat akan Tami, sosok cewek yang telah hadir di hidup gue selama 5 tahun terakhir. Berawal dari sapaan mendadaknya ketika gue ketiduran di kelas waktu awal kuliah dulu, hingga sebuah pelukan terakhir sebelum gue melangkah masuk ke dalam ruang check in di airport. Jika gue bisa memutar sedikit waktu, gue ingin kembali sebelum gue berangkat tadi, untuk mengucapkan terimakasih atas segala yang sudah dilakukan Tami untuk gue. Untuk mengucapkan terimakasih atas pengorbanan hatinya, dan yang terpenting, untuk menegaskan kata maaf yang tak terucap.
Jika Tami memandang gue sebagai malaikatnya, pahlawannya, dan apapun itu, gue akan dengan tegas menunjuk Tami lah pahlawan dan malaikat yang sebenarnya. Jika ada yang memandang gue sebagai seseorang yang berhati teguh, Tami adalah sebuah tebing karang yang tak tergoyahkan. Gue sadar, bahwa gue bukanlah apa-apa dibandingkan dengan pencapaian yang telah Tami lakukan. Entah itu untuk kehidupan pribadinya, keluarganya, hingga hatinya. Di tengah carut marut suasana hati dan kehidupan pribadinya dulu, dia masih bisa menemukan keindahan dari menolong sesama. Seakan senyum sesama adalah dunia pelariannya. Sebuah sisi termanis kehidupan yang bisa ditemukan olehnya.
Gue gak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan, karena di hidup gue telah hadir 3 wanita luar biasa yang telah membentuk gue sampe dengan detik ini. Pertama tentu saja nyokap gue, yang paling besar jasanya dari semua orang yang pernah ada di hidup gue dan dengan sifat-sifat beliau yang diturunkan ke gue. Kedua adalah Anin, seorang wanita nyaris sempurna, yang mungkin menjadi impian semua orang, dan dengan cinta tulus dan murninya kepada seseorang yang telah dia pilih. Ketiga adalah Tami, sebuah kutub yang berlawanan dengan Anin. Sebuah batu karang yang teguh dan dingin, namun tetap memancarkan cinta dengan caranya sendiri. Satu kesamaan yang bisa gue tarik dari kedua wanita luarbiasa ini, yaitu konsistensi dan loyalitas.
Keduanya mungkin punya sifat yang sangat berlawanan. Anin yang supel, ramah dan menyenangkan, sementara Tami dengan sifat dingin, misterius dan kerasnya. Tapi ketika mereka berdua telah membuka hatinya, mereka menunjukkan ruang rahasia terdalam di hatinya, satu bagian paling berharga di jiwanya. Dan gue mendapatkan kehormatan untuk itu. Beberapa waktu terakhir ini, gue merasa gue berada di persimpangan paling menentukan di hidup gue. Sebuah kepingan puzzle terakhir. Sebuah bidak catur yang harus gue mainkan dengan tepat, agar semua berakhir dengan baik.
Mendadak gue merasa sangat merindukan Anin. Sosok yang selama ini selalu berada di hati gue, dan sekarang berada sangat jauh dari tempat seharusnya dia berada. Jika ada yang bertanya, apa yang ada di dalam diri Anin yang gue rindukan, gue akan menjawab, jiwanya. Kecantikannya suatu saat pasti akan memudar, fisiknya yang sempurna suatu saat pasti akan mengecil dan bungkuk, senyumnya yang cantik juga pasti akan berubah menjadi keriput. Tapi tidak dengan jiwanya. Gue harap jiwanya akan tetap selalu indah, selalu cantik, dan selalu hidup di dalam jiwa gue.
Gue merasakan rapuhnya perasaan gue semenjak Anin pergi. Gue merasa bukan menjadi gue yang dulu. Pertamanya gue merasa wajar ketika seseorang baru putus cinta, pasti akan merasakan hal yang sama seperti gue. Tapi lama kelamaan gue menyadari bahwa gue bagaikan orang yang melangkah tanpa arah, tanpa tujuan. Gue merasa seperti membutuhkan bintang utara untuk menunjukkan arah kemana gue harus melangkah.
Dan Anin adalah bintang utara gue.
Ketika gue melangkah keluar dari pesawat melewati garbarata, dan akhirnya memasuki bangunan airport, gue tahu bahwa disinilah perjuangan gue dimulai. Di Brussels, ibukota Belgia, sebuah negara di bagian Barat Laut Eropa, penentuan akhir dari hidup gue dimulai.
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3

