- Beranda
- Stories from the Heart
KISAH HORROR - Mereka Ada di Setiap Rumah! (TRUE STORY)
...
TS
novelajualkomik
KISAH HORROR - Mereka Ada di Setiap Rumah! (TRUE STORY)
Gan, perkenalkan. Namaku Ella. Sekarang aku sudah berusia 27 tahun. Aku lima bersaudara, kakak dan adik pertamaku adalah perempuan, sedangkan adik kedua dan ketigaku adalah laki-laki. Di sini, aku hendak menceritakan berbagai kisah mistis yang pernah aku alami pada saat usiaku masih lebih belia dari saat ini. Kejadiannya di beberapa rumah yang sempat aku tinggali sebelumnya. Sekarang aku sudah pindah ke rumah baru dan sekarang syukurnya sudah tidak banyak terjadi kejadian mistis, ya paling hanya beberapa saja yang tidak jadi masalah sama sekali buatku.
Sebelumnya, bagi siapapun yang menganggap bahwa cerita-ceritaku ini hanyalah hoax / karangan fiksi, keputusan aku kembalikan pada kalian masing-masing. Di sini aku hanya mau sharing pengalaman ghaib-ku, bukan memaksa orang untuk percaya. Hanya satu hal yang aku minta, jangan kasih aku bata jika telat update ceritanya, ya. Karena di Kaskus, aku lebih aktif sebagai seller di FJB yang masih merintis. Sebaliknya, cendol atau rate bintang 5 sangat diharapkan. Terimakasih.
Mohon maaf juga jika aku lambat dalam meng-update thread ini karena aku cukup sibuk di dunia nyata dan kejadian-kejadian yang harus aku ceritakan sudah cukup lama sehingga aku perlu waktu untuk mengingat dan menuliskannya dengan tepat tanpa ada satu hal-pun yang ditambah-tambahkan. Syukuri apa yang ada dulu ya, gan. Mudah-mudahan aku dapat menyelesaikan thread ini dengan bertahap walau membutuhkan waktu yang lama. Terimakasih.
*Buat yang nanya nama-nama kompleks dalam ceritaku, mohon maaf karena aku tidak akan memberitahukannya baik di thread ini ataupun melalui PM (PM cuma buat yang mau nanya atau beli daganganku di lapak
). Semua pertanyaan yang berkaitan dengan hal tersebut tidak akan aku respon. Aku tidak mau dianggap menjelek-jelekan suatu kompleks perumahan dan merugikan pihak-pihak tertentu. Niatku hanya sekedar share pengalaman mistis saja, tidak perlu diusut lebih mendalam ya, gan. Yang jelas, semua kompleks yang aku sebutkan di dalam cerita ini letaknya di Bekasi Utara. Jadi terka-terka sendiri aja dari berbagai petunjuk yang aku beri, ya. Mohon maaf juga jika ada komentar ataupun pertanyaan lainnya yang tidak sempat aku balas / terlewat, ya. Yang jelas, semua komentar agan pasti akan aku baca semuanya, kok 
Sebelumnya, bagi siapapun yang menganggap bahwa cerita-ceritaku ini hanyalah hoax / karangan fiksi, keputusan aku kembalikan pada kalian masing-masing. Di sini aku hanya mau sharing pengalaman ghaib-ku, bukan memaksa orang untuk percaya. Hanya satu hal yang aku minta, jangan kasih aku bata jika telat update ceritanya, ya. Karena di Kaskus, aku lebih aktif sebagai seller di FJB yang masih merintis. Sebaliknya, cendol atau rate bintang 5 sangat diharapkan. Terimakasih.
Mohon maaf juga jika aku lambat dalam meng-update thread ini karena aku cukup sibuk di dunia nyata dan kejadian-kejadian yang harus aku ceritakan sudah cukup lama sehingga aku perlu waktu untuk mengingat dan menuliskannya dengan tepat tanpa ada satu hal-pun yang ditambah-tambahkan. Syukuri apa yang ada dulu ya, gan. Mudah-mudahan aku dapat menyelesaikan thread ini dengan bertahap walau membutuhkan waktu yang lama. Terimakasih.

*Buat yang nanya nama-nama kompleks dalam ceritaku, mohon maaf karena aku tidak akan memberitahukannya baik di thread ini ataupun melalui PM (PM cuma buat yang mau nanya atau beli daganganku di lapak
). Semua pertanyaan yang berkaitan dengan hal tersebut tidak akan aku respon. Aku tidak mau dianggap menjelek-jelekan suatu kompleks perumahan dan merugikan pihak-pihak tertentu. Niatku hanya sekedar share pengalaman mistis saja, tidak perlu diusut lebih mendalam ya, gan. Yang jelas, semua kompleks yang aku sebutkan di dalam cerita ini letaknya di Bekasi Utara. Jadi terka-terka sendiri aja dari berbagai petunjuk yang aku beri, ya. Mohon maaf juga jika ada komentar ataupun pertanyaan lainnya yang tidak sempat aku balas / terlewat, ya. Yang jelas, semua komentar agan pasti akan aku baca semuanya, kok 
Quote:
Diubah oleh novelajualkomik 21-04-2015 20:27
wisudajuni dan 5 lainnya memberi reputasi
6
432.6K
2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
novelajualkomik
#1240
CERITA VI – ENDING (PART 2)
Pak Adi tidak percaya begitu saja. Ia meminta Kuntilanak itu untuk bersumpah dan mengancam akan membinasakannya jika makhluk tersebut ingkar. Sesudahnya, pemuda itu terkulai lemas dan doa dilafalkan untuk membuatnya kembali tersadar. Pemuda tersebut disuruh minum banyak air putih untuk mengembalikan kondisi tubuhnya yang sudah cukup lemah saat itu. “Sudah aman,” kata pak Adi kepada kami sambil membenahi diri. Sepertinya prosesi telah selesai.
Anggota keluarga kami saling berpandangan satu sama lain, antara percaya atau tidak dengan perkataan bapak tua itu barusan. “Hanya dua makhluk tadi?” tanyaku dalam hati. Namun sepertinya pak Adi dapat membaca kegelisahan hati kami kala itu. “Sebenarnya masih ada beberapa makhluk ghaib lagi di rumah ini. Tapi sebaiknya mereka tidak diusir karena mereka juga sebenarnya tidak mengganggu,” pak Adi memberitahu kami. “Di dekat pojokan sana, ada 1. Wujudnya kakek-kakek, tapi ‘dia’ tidak pernah mengganggu. Malah suka menasehati makhluk ghaib lainnya agar tidak mengganggu keluarga kalian. ‘Dia’ memang sengaja ditempatkan di sana oleh penghuni rumah terdahulu untuk menjaga rumah”, jelas pak Adi sambil menunjuk ke arah tumpukan kardus di depan kamar mandi luar. “Dia kagum sama keberanian mbak ini dan suka menyapanya,” tambahnya sambil mengarahkan tangannya ke arahku. DEG!! Entah kenapa, aku langsung teringat insiden kipas sate terbang dan hantu bayi di atas jok motor yang lokasi kejadiannya persis di dekat spot yang ditunjuk oleh pak Adi itu. Atau mungkin ketukan di pintu selama ini juga merupakan salah satu bentuk sapaan-‘nya’ kepadaku? Oh, sosok yang kujumpai di lorong dapur, kemungkinan besar juga makhluk ghaib yang dimaksud. Namun bisa saja semua perkiraanku itu salah. Ingin bertanya, tapi aku terlalu takut saat itu.
“Ada lagi, di dekat tempat jemuran di lantai atas. Genderuwo. Tapi tidak mengganggu kalau tidak diganggu.” Aku dan ibu langsung saling berpandangan. Nampaknya beliau juga masih ingat kejadian aneh sewaktu aku menemaninya menjemur pakaian pada malam hari. “Kuntilanak yang tadi saya usir, sukanya menyisir rambut sambil menyanyi di depan teras tiap malam untuk membuat adik kecil ini tertarik sama ‘dia’. Tapi karena kayaknya mbak ini suka berdoa tiap malam, Kuntilanak tadi merasa terganggu” Aku mulai bisa mengambil benang merah dari perkataan Kuntilanak tadi yang tidak menyukaiku.
“Yang siluman monyet tadi?” tanya ibuku. “Rajanya sudah saya bakar, pasukannya juga sudah kembali pada pengirimnya. Ada saudara yang benci sama keluarga kalian, itu mereka yang kirim pakai jasa dukun,” jawab pak Adi. “Kalau sering ada barang yang hilang, ya itu ulah para siluman monyet itu,” tambahnya lagi. Kami berbincang-bincang perihal berbagai kejadian mistis di rumah itu dan bagaimana seharusnya kami bertindak agar dijauhkan dari gangguan ghaib. Pak Adi menyarankan agar lampu di setiap kamar mandi dan dapur jangan dimatikan sepanjang malam karena biasanya di sanalah tempat favorit para makhluk ghaib berkumpul tiap malam. Juga jangan sampai terbujuk tipu muslihat karena ‘mereka’ sangat licik.
Akhirnya setelah bercakap-cakap cukup lama, pak Adi dan kawanannya pamit pulang. Ibu menyelipkan sejumlah uang ke genggaman tangan bapak tua itu ketika bersalaman sebagai bentuk rasa terimakasih. Pak Adi juga berpesan agar kami jangan pernah sungkan jika sewaktu-waktu membutuhkan bantuannya lagi. Kami pun mengantar mereka hingga pintu pagar sambil tak henti-hentinya berterimakasih. Sesaat sebelum mereka beranjak pergi, pak Adi berkata pelan kepada ibu, “Oh iya, bu. Di dalam sana masih ada 1 makhluk lagi yang tidak saya sebut dan tidak akan saya bahas. ‘Dia’ tidak membahayakan, tapi saya sarankan keluarga ibu untuk mencari tempat tinggal lain yang lebih baik dari rumah ini.”
Mendengar pernyataannya itu, aku kembali bertanya-tanya. Tapi berulang kali pak Adi meyakinkan kami bahwa rumah itu sudah aman. Sepulangnya mereka, kami semua kembali masuk ke dalam rumah dan duduk bersama di ruang tamu. Semua wajah nampak begitu lega, berharap bahwa semua cobaan keluarga kami kini sudah benar-benar berakhir. Beberapa lama kemudian, ayah pulang. Kami menceritakan semuanya dan ayah nampak begitu puas dengan berita yang baru saja ia dengar tersebut. Malam itu, aku tertidur dengan sangat pulas.
Selama beberapa hari ke depan setelah ritual tersebut, tidak ada lagi hal aneh yang kujumpai di rumah. Semua tampak begitu normal dan wajar. Bahkan sampai aku pun merasa aneh dengan segala kewajaran tersebut. Tak pernah lagi kudengar senandung suara perempuan pada malam hari yang tiba-tiba berubah menjadi tangisan di depan teras ataupun munculnya kelebatan bayangan hitam yang mengganggu pandangan. Sepertinya perkataan pak Adi benar, rumahku kini sudah ‘bersih’. Paling tidak kepercayaanku tersebut bertahan hingga malam itu, tatkala ketukan di pintu kini mulai kembali terdengar. Tak hanya di pintu kamar tidurku, melainkan kini juga pintu kamar tidur orang tuaku menjadi lebih sering diketuk dari sebelumnya. Memang tidak membahayakan, namun cukup mengganggu, paling tidak menurutku. Mungkin makhluk ghaib inilah yang dimaksud oleh pak Adi sesaat sebelum ia pulang ke rumahnya malam itu. Aku juga sebenarnya tidak yakin, hanya menduga-duga. Namun secara keseluruhan, para makhluk ghaib penunggu asli di rumah itu sudah tidak lagi terlalu berusaha untuk menunjukkan eksistensinya.
Beberapa bulan kemudian, adikku lulus SMU dari sekolahnya. Mengingat kini ibuku pun tengah hamil muda, akhirnya keluargaku memutuskan untuk pindah dari rumah yang kami kontrak tersebut dan meninggalkan segala pengalaman pahit di dalamnya. Adikku yang masih SD pun terpaksa harus pindah sekolah karenanya. Kami pindah lumayan jauh dari kompleks sebelumnya untuk mencoba menikmati hidup baru nan tentram seperti yang selama ini kami idam-idamkan walau baru saat itu dapat segera diwujudkan. Ya, kami juga berhak hidup nyaman seperti orang-orang lain. Segala kejadian mistis yang pernah kami alami di rumah tersebut, memberikan pengalaman menarik untuk diceritakan ke banyak orang. Walau memang ada harga yang harus dibayar untuk itu semua.
SELESAI
Pak Adi tidak percaya begitu saja. Ia meminta Kuntilanak itu untuk bersumpah dan mengancam akan membinasakannya jika makhluk tersebut ingkar. Sesudahnya, pemuda itu terkulai lemas dan doa dilafalkan untuk membuatnya kembali tersadar. Pemuda tersebut disuruh minum banyak air putih untuk mengembalikan kondisi tubuhnya yang sudah cukup lemah saat itu. “Sudah aman,” kata pak Adi kepada kami sambil membenahi diri. Sepertinya prosesi telah selesai.
Anggota keluarga kami saling berpandangan satu sama lain, antara percaya atau tidak dengan perkataan bapak tua itu barusan. “Hanya dua makhluk tadi?” tanyaku dalam hati. Namun sepertinya pak Adi dapat membaca kegelisahan hati kami kala itu. “Sebenarnya masih ada beberapa makhluk ghaib lagi di rumah ini. Tapi sebaiknya mereka tidak diusir karena mereka juga sebenarnya tidak mengganggu,” pak Adi memberitahu kami. “Di dekat pojokan sana, ada 1. Wujudnya kakek-kakek, tapi ‘dia’ tidak pernah mengganggu. Malah suka menasehati makhluk ghaib lainnya agar tidak mengganggu keluarga kalian. ‘Dia’ memang sengaja ditempatkan di sana oleh penghuni rumah terdahulu untuk menjaga rumah”, jelas pak Adi sambil menunjuk ke arah tumpukan kardus di depan kamar mandi luar. “Dia kagum sama keberanian mbak ini dan suka menyapanya,” tambahnya sambil mengarahkan tangannya ke arahku. DEG!! Entah kenapa, aku langsung teringat insiden kipas sate terbang dan hantu bayi di atas jok motor yang lokasi kejadiannya persis di dekat spot yang ditunjuk oleh pak Adi itu. Atau mungkin ketukan di pintu selama ini juga merupakan salah satu bentuk sapaan-‘nya’ kepadaku? Oh, sosok yang kujumpai di lorong dapur, kemungkinan besar juga makhluk ghaib yang dimaksud. Namun bisa saja semua perkiraanku itu salah. Ingin bertanya, tapi aku terlalu takut saat itu.
“Ada lagi, di dekat tempat jemuran di lantai atas. Genderuwo. Tapi tidak mengganggu kalau tidak diganggu.” Aku dan ibu langsung saling berpandangan. Nampaknya beliau juga masih ingat kejadian aneh sewaktu aku menemaninya menjemur pakaian pada malam hari. “Kuntilanak yang tadi saya usir, sukanya menyisir rambut sambil menyanyi di depan teras tiap malam untuk membuat adik kecil ini tertarik sama ‘dia’. Tapi karena kayaknya mbak ini suka berdoa tiap malam, Kuntilanak tadi merasa terganggu” Aku mulai bisa mengambil benang merah dari perkataan Kuntilanak tadi yang tidak menyukaiku.
“Yang siluman monyet tadi?” tanya ibuku. “Rajanya sudah saya bakar, pasukannya juga sudah kembali pada pengirimnya. Ada saudara yang benci sama keluarga kalian, itu mereka yang kirim pakai jasa dukun,” jawab pak Adi. “Kalau sering ada barang yang hilang, ya itu ulah para siluman monyet itu,” tambahnya lagi. Kami berbincang-bincang perihal berbagai kejadian mistis di rumah itu dan bagaimana seharusnya kami bertindak agar dijauhkan dari gangguan ghaib. Pak Adi menyarankan agar lampu di setiap kamar mandi dan dapur jangan dimatikan sepanjang malam karena biasanya di sanalah tempat favorit para makhluk ghaib berkumpul tiap malam. Juga jangan sampai terbujuk tipu muslihat karena ‘mereka’ sangat licik.
Akhirnya setelah bercakap-cakap cukup lama, pak Adi dan kawanannya pamit pulang. Ibu menyelipkan sejumlah uang ke genggaman tangan bapak tua itu ketika bersalaman sebagai bentuk rasa terimakasih. Pak Adi juga berpesan agar kami jangan pernah sungkan jika sewaktu-waktu membutuhkan bantuannya lagi. Kami pun mengantar mereka hingga pintu pagar sambil tak henti-hentinya berterimakasih. Sesaat sebelum mereka beranjak pergi, pak Adi berkata pelan kepada ibu, “Oh iya, bu. Di dalam sana masih ada 1 makhluk lagi yang tidak saya sebut dan tidak akan saya bahas. ‘Dia’ tidak membahayakan, tapi saya sarankan keluarga ibu untuk mencari tempat tinggal lain yang lebih baik dari rumah ini.”
Mendengar pernyataannya itu, aku kembali bertanya-tanya. Tapi berulang kali pak Adi meyakinkan kami bahwa rumah itu sudah aman. Sepulangnya mereka, kami semua kembali masuk ke dalam rumah dan duduk bersama di ruang tamu. Semua wajah nampak begitu lega, berharap bahwa semua cobaan keluarga kami kini sudah benar-benar berakhir. Beberapa lama kemudian, ayah pulang. Kami menceritakan semuanya dan ayah nampak begitu puas dengan berita yang baru saja ia dengar tersebut. Malam itu, aku tertidur dengan sangat pulas.
Selama beberapa hari ke depan setelah ritual tersebut, tidak ada lagi hal aneh yang kujumpai di rumah. Semua tampak begitu normal dan wajar. Bahkan sampai aku pun merasa aneh dengan segala kewajaran tersebut. Tak pernah lagi kudengar senandung suara perempuan pada malam hari yang tiba-tiba berubah menjadi tangisan di depan teras ataupun munculnya kelebatan bayangan hitam yang mengganggu pandangan. Sepertinya perkataan pak Adi benar, rumahku kini sudah ‘bersih’. Paling tidak kepercayaanku tersebut bertahan hingga malam itu, tatkala ketukan di pintu kini mulai kembali terdengar. Tak hanya di pintu kamar tidurku, melainkan kini juga pintu kamar tidur orang tuaku menjadi lebih sering diketuk dari sebelumnya. Memang tidak membahayakan, namun cukup mengganggu, paling tidak menurutku. Mungkin makhluk ghaib inilah yang dimaksud oleh pak Adi sesaat sebelum ia pulang ke rumahnya malam itu. Aku juga sebenarnya tidak yakin, hanya menduga-duga. Namun secara keseluruhan, para makhluk ghaib penunggu asli di rumah itu sudah tidak lagi terlalu berusaha untuk menunjukkan eksistensinya.
Beberapa bulan kemudian, adikku lulus SMU dari sekolahnya. Mengingat kini ibuku pun tengah hamil muda, akhirnya keluargaku memutuskan untuk pindah dari rumah yang kami kontrak tersebut dan meninggalkan segala pengalaman pahit di dalamnya. Adikku yang masih SD pun terpaksa harus pindah sekolah karenanya. Kami pindah lumayan jauh dari kompleks sebelumnya untuk mencoba menikmati hidup baru nan tentram seperti yang selama ini kami idam-idamkan walau baru saat itu dapat segera diwujudkan. Ya, kami juga berhak hidup nyaman seperti orang-orang lain. Segala kejadian mistis yang pernah kami alami di rumah tersebut, memberikan pengalaman menarik untuk diceritakan ke banyak orang. Walau memang ada harga yang harus dibayar untuk itu semua.
SELESAI
padasw dan joker.laughing memberi reputasi
0