- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#3500
PART 121
Gue memandangi bangunan kampus di hadapan gue melalui kaca depan, sambil menyandarkan tubuh di setir. Baru kali ini gue ke Trisakti, melihat langsung dari dalam sebuah kampus yang jadi ikon perjuangan mahasiswa menuntut reformasi 1998. Gue melirik jam tangan, kemudian mengambil handphone di dekat persneling mobil.
20 menitan kemudian, gue melihat Sophia berjalan keluar dari gedung, melewati kanopi dan menuju mobil gue. Dandanannya persis Anin sewaktu kuliah. Hobinya pake kemeja yang digulung lengannya sedikit, sehingga memperlihatkan aksesoris tangan yang dia pake. Gue tanpa sadar tersenyum melihat Sophia, kadang dia mirip Shinta, kadang dia mirip Anin. Sebenernya cocok kalo kembar tiga, pikir gue geli. Sophia masuk mobil dan memandangi gue dengan aneh.
Hari itu gue emang sengaja jemput Sophia, soalnya ada beberapa hal yang harus gue bicarakan berdua dengannya. Dan waktu untuk berbicara berdua itu bisa gue dapatkan sewaktu kami terjebak macet di tol menuju ke rumah Sophia di daerah Cibubur sana.
Keesokan harinya, di siang hari, gue udah berada di Terminal 2D Soekarno Hatta dan berpamitan dengan nyokap dan kedua kakak gue. Banyak banget yang diucapkan nyokap waktu itu, semacam wejangan, jadi sepertinya gak perlu gue tuliskan disini ya. Setelah sejam nyokap dan kakak-kakak gue mengantar, kemudian mereka pulang. Pesawat gue masih 4 jam lagi, dan masih ada waktu 2 jam lagi sebelum check in keberangkatan. Dengan menggendong rucksack kanvas berwarna coklat tua, gue berjalan-jalan di sepanjang terminal, setelah dari toilet sebentar.
Ketika gue sedang berputar-putar itu, handphone di tangan gue berdenting. Gue melihat siapa yang ngechat, dan ternyata Tami.
Seketika gue menoleh, dan melihat Tami agak jauh di belakang gue, sambil memandangi gue dan memegang handphone. Gue berbalik, dan menghampiri Tami. Gue memegang kedua bahu Tami sambil bertanya-tanya.
Gue kemudian mengajak Tami duduk di salah satu bangku. Yang terjadi diantara kami justru kebisuan. Sambil memainkan tali rucksack yang gue letakkan diantara kedua kaki, gue memandangi langit cerah di hadapan kami.
Setengah jam kami berbicara, meskipun cuma sedikit-sedikit, tapi tatapan matanya sudah mengatakan segalanya. Dan gue paham itu. Gue melihat jam, dan sudah pukul 14.45. Kami berdua bangkit dari duduk, dan gue menggendong tas ransel di punggung. Kami berdiri berhadap-hadapan.
Ketika matahari sudah mulai terbenam, gue berada di atas pesawat Emirates yang menuju ke arah barat, puluhan ribu kilometer jauhnya. Di saat itulah gue merasa burung besi yang gue tumpangi itu bukan hanya membawa gue secara fisik, tapi sekaligus juga membawa mimpi gue ke terbang ke angkasa.
Dan secara ironis, membawa kesedihan bersamanya.
Gue memandangi bangunan kampus di hadapan gue melalui kaca depan, sambil menyandarkan tubuh di setir. Baru kali ini gue ke Trisakti, melihat langsung dari dalam sebuah kampus yang jadi ikon perjuangan mahasiswa menuntut reformasi 1998. Gue melirik jam tangan, kemudian mengambil handphone di dekat persneling mobil.
Quote:
20 menitan kemudian, gue melihat Sophia berjalan keluar dari gedung, melewati kanopi dan menuju mobil gue. Dandanannya persis Anin sewaktu kuliah. Hobinya pake kemeja yang digulung lengannya sedikit, sehingga memperlihatkan aksesoris tangan yang dia pake. Gue tanpa sadar tersenyum melihat Sophia, kadang dia mirip Shinta, kadang dia mirip Anin. Sebenernya cocok kalo kembar tiga, pikir gue geli. Sophia masuk mobil dan memandangi gue dengan aneh.
Quote:
Hari itu gue emang sengaja jemput Sophia, soalnya ada beberapa hal yang harus gue bicarakan berdua dengannya. Dan waktu untuk berbicara berdua itu bisa gue dapatkan sewaktu kami terjebak macet di tol menuju ke rumah Sophia di daerah Cibubur sana.
Quote:
Keesokan harinya, di siang hari, gue udah berada di Terminal 2D Soekarno Hatta dan berpamitan dengan nyokap dan kedua kakak gue. Banyak banget yang diucapkan nyokap waktu itu, semacam wejangan, jadi sepertinya gak perlu gue tuliskan disini ya. Setelah sejam nyokap dan kakak-kakak gue mengantar, kemudian mereka pulang. Pesawat gue masih 4 jam lagi, dan masih ada waktu 2 jam lagi sebelum check in keberangkatan. Dengan menggendong rucksack kanvas berwarna coklat tua, gue berjalan-jalan di sepanjang terminal, setelah dari toilet sebentar.
Ketika gue sedang berputar-putar itu, handphone di tangan gue berdenting. Gue melihat siapa yang ngechat, dan ternyata Tami.
Quote:
Seketika gue menoleh, dan melihat Tami agak jauh di belakang gue, sambil memandangi gue dan memegang handphone. Gue berbalik, dan menghampiri Tami. Gue memegang kedua bahu Tami sambil bertanya-tanya.
Quote:
Gue kemudian mengajak Tami duduk di salah satu bangku. Yang terjadi diantara kami justru kebisuan. Sambil memainkan tali rucksack yang gue letakkan diantara kedua kaki, gue memandangi langit cerah di hadapan kami.
Quote:
Setengah jam kami berbicara, meskipun cuma sedikit-sedikit, tapi tatapan matanya sudah mengatakan segalanya. Dan gue paham itu. Gue melihat jam, dan sudah pukul 14.45. Kami berdua bangkit dari duduk, dan gue menggendong tas ransel di punggung. Kami berdiri berhadap-hadapan.
Quote:
Ketika matahari sudah mulai terbenam, gue berada di atas pesawat Emirates yang menuju ke arah barat, puluhan ribu kilometer jauhnya. Di saat itulah gue merasa burung besi yang gue tumpangi itu bukan hanya membawa gue secara fisik, tapi sekaligus juga membawa mimpi gue ke terbang ke angkasa.
Dan secara ironis, membawa kesedihan bersamanya.
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3


: oke tunggu bentar yak.
: lama gak?
: paling sampe besok.
: sial.
: kenapa?
: semoga aja bukan yang terakhir.
: *nyubit gue*
: gue dapet apa?
: iye ntar gue oleh-olehin gantungan kunci.
: iya juga ya.