- Beranda
- Stories from the Heart
Aku mah gitu orangnya
...
TS
veronita
Aku mah gitu orangnya
Quote:
Quote:
Spoiler for penting:
Spoiler for index:
Diubah oleh veronita 23-07-2015 16:44
0
65.3K
469
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
veronita
#23
Part 6
“jessy sini peluk aku dulu…” kataku ketika memasuki kelas dan duduk disamping Jessy seperti biasa
“eh ada apa ini? Kamu kenapa?
” tanya Jessy kebingungan melihat sikapku
“makasih yah Jessy sayang”
“kamu nggak lagi kumat kan gilanya?”
“sialan kamu Jes” kataku sambil memukul pundak Jessy pelan
Ditinggalkan Papaku, lalu Rafi, dan sekarang Reno. Aku masih beruntung punya seorang sahabat seperti Jessy. itu saja yang masih bisa ku syukuri
************
Pulang sekolah hari ini aku sama sekali nggak berusaha mencari Reno. Terlintas dipikiranku pun nggak sama sekali. Yang aku ingat, hari ini seperti biasa Rafi menjemputku. Dan ternyata benar adanya, begitu digerbang depan sekolah aku sudah bisa melihat mobil Rafi terparkir dipinggir jalan depan sekolahku.
Sebenarnya aku kurang suka diantar jemput seperti ini. Aku merasa diperlakukan seperti anak TK. Belum lagi aku menjadi kurang bisa menikmati perjalanan karena harus bersebelahan duduk dengan Rafi didalam mobil.
“mau makan dulu atau…”
“langsung pulang” potongku sebelum Rafi melanjutkan pertanyaannya
“ok” kata Rafi lalu menyalakan mobilnya
Aku melayangkan pandangku kearah jalanan melalui kaca mobil disebelah kiri. Melihat ramainya jalanan yang dipenuhi remaja sebayaku berseragam putih abu-abu.
“gimana disekolah hari ini?” tanya Rafi mencoba berbasa-basi
“biasa aja” jawabku singkat tanpa menoleh kearah Rafi
“gimana dengan pacarmu itu?” tanya Rafi melanjutkan pertanyaannya
“putus” jawabku masih enggan menoleh kearah Rafi
“owh..”
Setelah itu kami berdua kembali terdiam, nggak ada lagi percakapan berarti. Aku mencoba berpikir dan mengingat apa yang menjadi alasannya membenci Rafi. Aku benci karena ditinggalkan begitu saja tanpa kabar. Aku merasa aku ini seolah nggak ada arti bagi Rafi. Tapi sepertinya sudah cukup setahun lebih ini aku membenci Rafi. Sudah saatnya aku berdamai dengan masa lalu. Bagaimana pun Rafi adalah orang berarti dihidupku.
Aku menghela nafas panjang. Mengikhlaskan dan memaafkan Rafi.
“kenapa?” tanyaku masih tetap memandang kesisi kiri
“maksud kamu?” tanya Rafi kebingungan
“kenapa ninggalin aku tanpa kabar? Kenapa semua lelaki bisanya Cuma meninggalkan? Papa, kamu, dan sekarang Reno, kalian semua sama!”
Akhirnya pecah juga tangisku. Rafi menepikan mobilnya, agar bisa lebih intens berbicara denganku.
“maaf..” kata Rafi lemah lalu menggenggam tanganku
“aku pikir nggak akan bisa ketemu kamu lagi, dan aku nggak bisa berjanji apa pun untukmu saat itu. Aku mengakui itu salahku, aku bodoh”
“lalu, apa papa juga berpikir sama sepertimu? Saat dia lebih memilih pergi dengan wanita lain?”
Aku memukul-mukul dada Rafi melampiaskan kekesalanku. Mungkin aku bisa selalu terlihat tegar dan ceria. Tapi kenyataannya, beginilah aku sebenarnya.
“apa cowok itu menyakitimu? Siapa namanya? Reno? Hah?” tanya Rafi mencoba mencari kambing hitam
“kamu yang menyakitiku, katamu kita nggak akan pisah, kamu mau jagain aku… mana buktinya?” kataku mulai sesenggukan
“sekali lagi aku minta maaf”
Aku mengambil nafas panjang, lalu menghembuskan perlahan.
“sudahlah, ayo pulang, aku capek, aku mau istirahat”
Rafi lalu menyalakan kembali mobilnya. Terkadang menatapku dengan rasa bersalah yang begitu besar.
“kamu kenapa putus dengan cowok itu?”
“mungkin dia udah nggak tahan denganku”
“kenapa?”
“kalian semua sama, sudah jangan banyak tanya lagi”
“Ta, kamu harus bisa mengikhlaskan sikap papa kamu dan nggak berpikir semua cowok itu sama. Pikirkan orang yang sayang dengan kamu, bukan yang menyakiti kamu”
“termasuk kamu?” tanyaku sembari melirik Rafi
“sekali lagi maaf, aku sayang padamu”
“makasih”
Aku dan Rafi kembali terdiam hingga sampai di rumahku. Aku langsung masuk kekamar dan membenamkan wajahku dibantal berbentuk love kesayanganku. Aku masih ingat dengan jelas, bantal itu kado dari Rafi dihari ulang tahunku yang ke 12. Air mataku kembali tumpah. Aku nggak bisa lagi terlihat tegar. “aku kangen Papa…” kataku dengan lirih.
Akhirnya semua perasaan yang kupendam selama ini tak bisa dihindari lagi. sesungguhnya aku hanya rindu dengan Papaku. Aku rindu dengan Rafi. Tapi semuanya terlalu pedih untuk diingat.
“jessy sini peluk aku dulu…” kataku ketika memasuki kelas dan duduk disamping Jessy seperti biasa
“eh ada apa ini? Kamu kenapa?
” tanya Jessy kebingungan melihat sikapku“makasih yah Jessy sayang”
“kamu nggak lagi kumat kan gilanya?”
“sialan kamu Jes” kataku sambil memukul pundak Jessy pelan
Ditinggalkan Papaku, lalu Rafi, dan sekarang Reno. Aku masih beruntung punya seorang sahabat seperti Jessy. itu saja yang masih bisa ku syukuri
************
Pulang sekolah hari ini aku sama sekali nggak berusaha mencari Reno. Terlintas dipikiranku pun nggak sama sekali. Yang aku ingat, hari ini seperti biasa Rafi menjemputku. Dan ternyata benar adanya, begitu digerbang depan sekolah aku sudah bisa melihat mobil Rafi terparkir dipinggir jalan depan sekolahku.
Sebenarnya aku kurang suka diantar jemput seperti ini. Aku merasa diperlakukan seperti anak TK. Belum lagi aku menjadi kurang bisa menikmati perjalanan karena harus bersebelahan duduk dengan Rafi didalam mobil.
“mau makan dulu atau…”
“langsung pulang” potongku sebelum Rafi melanjutkan pertanyaannya
“ok” kata Rafi lalu menyalakan mobilnya
Aku melayangkan pandangku kearah jalanan melalui kaca mobil disebelah kiri. Melihat ramainya jalanan yang dipenuhi remaja sebayaku berseragam putih abu-abu.
“gimana disekolah hari ini?” tanya Rafi mencoba berbasa-basi
“biasa aja” jawabku singkat tanpa menoleh kearah Rafi
“gimana dengan pacarmu itu?” tanya Rafi melanjutkan pertanyaannya
“putus” jawabku masih enggan menoleh kearah Rafi
“owh..”
Setelah itu kami berdua kembali terdiam, nggak ada lagi percakapan berarti. Aku mencoba berpikir dan mengingat apa yang menjadi alasannya membenci Rafi. Aku benci karena ditinggalkan begitu saja tanpa kabar. Aku merasa aku ini seolah nggak ada arti bagi Rafi. Tapi sepertinya sudah cukup setahun lebih ini aku membenci Rafi. Sudah saatnya aku berdamai dengan masa lalu. Bagaimana pun Rafi adalah orang berarti dihidupku.
Aku menghela nafas panjang. Mengikhlaskan dan memaafkan Rafi.
“kenapa?” tanyaku masih tetap memandang kesisi kiri
“maksud kamu?” tanya Rafi kebingungan
“kenapa ninggalin aku tanpa kabar? Kenapa semua lelaki bisanya Cuma meninggalkan? Papa, kamu, dan sekarang Reno, kalian semua sama!”
Akhirnya pecah juga tangisku. Rafi menepikan mobilnya, agar bisa lebih intens berbicara denganku.
“maaf..” kata Rafi lemah lalu menggenggam tanganku
“aku pikir nggak akan bisa ketemu kamu lagi, dan aku nggak bisa berjanji apa pun untukmu saat itu. Aku mengakui itu salahku, aku bodoh”
“lalu, apa papa juga berpikir sama sepertimu? Saat dia lebih memilih pergi dengan wanita lain?”
Aku memukul-mukul dada Rafi melampiaskan kekesalanku. Mungkin aku bisa selalu terlihat tegar dan ceria. Tapi kenyataannya, beginilah aku sebenarnya.
“apa cowok itu menyakitimu? Siapa namanya? Reno? Hah?” tanya Rafi mencoba mencari kambing hitam
“kamu yang menyakitiku, katamu kita nggak akan pisah, kamu mau jagain aku… mana buktinya?” kataku mulai sesenggukan
“sekali lagi aku minta maaf”
Aku mengambil nafas panjang, lalu menghembuskan perlahan.
“sudahlah, ayo pulang, aku capek, aku mau istirahat”
Rafi lalu menyalakan kembali mobilnya. Terkadang menatapku dengan rasa bersalah yang begitu besar.
“kamu kenapa putus dengan cowok itu?”
“mungkin dia udah nggak tahan denganku”
“kenapa?”
“kalian semua sama, sudah jangan banyak tanya lagi”
“Ta, kamu harus bisa mengikhlaskan sikap papa kamu dan nggak berpikir semua cowok itu sama. Pikirkan orang yang sayang dengan kamu, bukan yang menyakiti kamu”
“termasuk kamu?” tanyaku sembari melirik Rafi
“sekali lagi maaf, aku sayang padamu”
“makasih”
Aku dan Rafi kembali terdiam hingga sampai di rumahku. Aku langsung masuk kekamar dan membenamkan wajahku dibantal berbentuk love kesayanganku. Aku masih ingat dengan jelas, bantal itu kado dari Rafi dihari ulang tahunku yang ke 12. Air mataku kembali tumpah. Aku nggak bisa lagi terlihat tegar. “aku kangen Papa…” kataku dengan lirih.
Akhirnya semua perasaan yang kupendam selama ini tak bisa dihindari lagi. sesungguhnya aku hanya rindu dengan Papaku. Aku rindu dengan Rafi. Tapi semuanya terlalu pedih untuk diingat.
Diubah oleh veronita 30-05-2015 08:32
pulaukapok memberi reputasi
1

