- Beranda
- Stories from the Heart
KISAH HORROR - Mereka Ada di Setiap Rumah! (TRUE STORY)
...
TS
novelajualkomik
KISAH HORROR - Mereka Ada di Setiap Rumah! (TRUE STORY)
Gan, perkenalkan. Namaku Ella. Sekarang aku sudah berusia 27 tahun. Aku lima bersaudara, kakak dan adik pertamaku adalah perempuan, sedangkan adik kedua dan ketigaku adalah laki-laki. Di sini, aku hendak menceritakan berbagai kisah mistis yang pernah aku alami pada saat usiaku masih lebih belia dari saat ini. Kejadiannya di beberapa rumah yang sempat aku tinggali sebelumnya. Sekarang aku sudah pindah ke rumah baru dan sekarang syukurnya sudah tidak banyak terjadi kejadian mistis, ya paling hanya beberapa saja yang tidak jadi masalah sama sekali buatku.
Sebelumnya, bagi siapapun yang menganggap bahwa cerita-ceritaku ini hanyalah hoax / karangan fiksi, keputusan aku kembalikan pada kalian masing-masing. Di sini aku hanya mau sharing pengalaman ghaib-ku, bukan memaksa orang untuk percaya. Hanya satu hal yang aku minta, jangan kasih aku bata jika telat update ceritanya, ya. Karena di Kaskus, aku lebih aktif sebagai seller di FJB yang masih merintis. Sebaliknya, cendol atau rate bintang 5 sangat diharapkan. Terimakasih.
Mohon maaf juga jika aku lambat dalam meng-update thread ini karena aku cukup sibuk di dunia nyata dan kejadian-kejadian yang harus aku ceritakan sudah cukup lama sehingga aku perlu waktu untuk mengingat dan menuliskannya dengan tepat tanpa ada satu hal-pun yang ditambah-tambahkan. Syukuri apa yang ada dulu ya, gan. Mudah-mudahan aku dapat menyelesaikan thread ini dengan bertahap walau membutuhkan waktu yang lama. Terimakasih.
*Buat yang nanya nama-nama kompleks dalam ceritaku, mohon maaf karena aku tidak akan memberitahukannya baik di thread ini ataupun melalui PM (PM cuma buat yang mau nanya atau beli daganganku di lapak
). Semua pertanyaan yang berkaitan dengan hal tersebut tidak akan aku respon. Aku tidak mau dianggap menjelek-jelekan suatu kompleks perumahan dan merugikan pihak-pihak tertentu. Niatku hanya sekedar share pengalaman mistis saja, tidak perlu diusut lebih mendalam ya, gan. Yang jelas, semua kompleks yang aku sebutkan di dalam cerita ini letaknya di Bekasi Utara. Jadi terka-terka sendiri aja dari berbagai petunjuk yang aku beri, ya. Mohon maaf juga jika ada komentar ataupun pertanyaan lainnya yang tidak sempat aku balas / terlewat, ya. Yang jelas, semua komentar agan pasti akan aku baca semuanya, kok 
Sebelumnya, bagi siapapun yang menganggap bahwa cerita-ceritaku ini hanyalah hoax / karangan fiksi, keputusan aku kembalikan pada kalian masing-masing. Di sini aku hanya mau sharing pengalaman ghaib-ku, bukan memaksa orang untuk percaya. Hanya satu hal yang aku minta, jangan kasih aku bata jika telat update ceritanya, ya. Karena di Kaskus, aku lebih aktif sebagai seller di FJB yang masih merintis. Sebaliknya, cendol atau rate bintang 5 sangat diharapkan. Terimakasih.
Mohon maaf juga jika aku lambat dalam meng-update thread ini karena aku cukup sibuk di dunia nyata dan kejadian-kejadian yang harus aku ceritakan sudah cukup lama sehingga aku perlu waktu untuk mengingat dan menuliskannya dengan tepat tanpa ada satu hal-pun yang ditambah-tambahkan. Syukuri apa yang ada dulu ya, gan. Mudah-mudahan aku dapat menyelesaikan thread ini dengan bertahap walau membutuhkan waktu yang lama. Terimakasih.

*Buat yang nanya nama-nama kompleks dalam ceritaku, mohon maaf karena aku tidak akan memberitahukannya baik di thread ini ataupun melalui PM (PM cuma buat yang mau nanya atau beli daganganku di lapak
). Semua pertanyaan yang berkaitan dengan hal tersebut tidak akan aku respon. Aku tidak mau dianggap menjelek-jelekan suatu kompleks perumahan dan merugikan pihak-pihak tertentu. Niatku hanya sekedar share pengalaman mistis saja, tidak perlu diusut lebih mendalam ya, gan. Yang jelas, semua kompleks yang aku sebutkan di dalam cerita ini letaknya di Bekasi Utara. Jadi terka-terka sendiri aja dari berbagai petunjuk yang aku beri, ya. Mohon maaf juga jika ada komentar ataupun pertanyaan lainnya yang tidak sempat aku balas / terlewat, ya. Yang jelas, semua komentar agan pasti akan aku baca semuanya, kok 
Quote:
Diubah oleh novelajualkomik 21-04-2015 20:27
wisudajuni dan 5 lainnya memberi reputasi
6
432.7K
2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
novelajualkomik
#620
CERITA V – KEPUTUSAN YANG NEKAT
Siapapun yang tahu bahwa rumahku angker dan mendengar keputusanku untuk menjaga rumah selama 1 minggu seorang diri mungkin akan menganggapku gila. Namun itulah kenyataannya yang terjadi saat itu. Sudah kubilang sejak awal, kalau aku ini mungkin tergolong anak yang paling pemberani di keluargaku. Sesungguhnya, tidak seberani yang kalian pikirkan.
Ayah memberiku Rp250.000 untuk uang pegangan selama ditinggal seminggu di rumah. Sekardus mie instan dan 1 kilo telur ayam juga sudah tersedia di dapur untuk bahan persediaan makanan jika aku sedang malas membeli makanan di luar. Karena di kamarku hanya terdapat kipas angin (ceiling fan), ayah menyarankan agar aku tidur di kamarnya saja selama keluarga pergi mudik. Kamar tidurku adalah satu-satunya kamar yang tidak menggunakan pendingin ruangan (AC) di rumah itu. Boleh juga, pikirku.
Mereka berangkat pagi-pagi buta. Setelah berpamitan, aku pun kembali masuk ke dalam rumah. Kupindahkan semua buku pelajaran dan perlengkapan lainnya yang biasa kugunakan sehari-hari dari kamarku ke kamar orang tuaku. Subuh itu tak nampak ada yang aneh. Mungkin karena sebenarnya mataku juga masih setengah mengantuk saat itu. Sesudahnya, aku kembali melanjutkan tidur di kamar orang tua. Hari itu, aku bangun siang. Belum ada kabar bahwa keluargaku telah sampai di tujuannya. Aku membuka pintu depan agar bagian dalam rumah mendapat penerangan tambahan dari sinar matahari lalu pergi mandi di kamar mandi di dalam kamar tidur orang tuaku.
Setelahnya, aku pun pergi ke dapur untuk memasak mie instan karena perut mulai merasa lapar. Masih belum ada yang aneh. Walau dalam hati sebenarnya ada perasaan takut, aku bertingkah pura-pura santai dan berani agar ‘mereka’ tidak berniat mengusiliku. Oh iya, di dapur ini ada sebuah lorong yang ujungnya berbatasan dengan tembok kamar tidur orang tuaku. Lorong itu cukup panjang dan begitu gelap karena tidak ada penerangan di sana. Di bagian tengah lorong ada tempat mencuci piring yang dilengkapi kran (kitchen sink) tapi karena rusak jadi tidak pernah digunakan. Sedangkan di ujung lorong tidak ada apapun.
Aku kembali ke kamar orang tuaku untuk menikmati mie instan sambil menonton TV. Saat itu, aku juga sedang libur kuliah panjang sehingga bisa sepanjang hari di dalam rumah setiap harinya. Dari siang hingga malam, aku hanya berbaring di atas kasur sambil nonton TV dan sesekali berselancar ke dunia maya dengan HP-ku. Tentu aku juga tak melupakan mandi di sore hari. Ketika ada tukang mie tek-tek yang melintas di depan rumah, aku langsung keluar untuk membelinya sebagai lauk makan malam. Sama sekali tidak ada yang aneh di rumah sepanjang hari itu. Dan aku berharap semoga keadaan seperti itu terus berlangsung hingga keluargaku kembali ke rumah lagi pada minggu depan. Sesaat sebelum tidur, aku berdoa selama 1 jam seperti biasa. Malam itu, aku dapat tidur dengan cepat dan nyenyak.
Hari kedua menjaga rumah seorang diri. Aku bangun lebih pagi dan segera mandi karena hari ini aku dan teman-teman dekatku berencana untuk pergi berwisata ke Taman Buah Mekarsari. Jam 9 pagi kami sudah harus berkumpul di rumah seorang teman untuk berangkat beriringan dari sana. Setelah kupastikan seluruh keadaan rumah dalam keadaan aman, aku pun mengunci pintu dan pergi ke rumah temanku pada pukul setengah 9 pagi. Kami berangkat bersama dalam rombongan beberapa buah motor dan menghabiskan waktu hingga sore di tempat wisata itu. Sekembalinya aku ke rumah, hari mulai menjelang malam. Bodohnya, pagi tadi sebelum berangkat, aku lupa membiarkan seluruh lampu-lampu di rumahku menyala. Jadilah aku harus masuk ke dalam rumah yang gelap gulita tersebut untuk menyalakan lampu di seluruh bagian rumah.
Lampu pertama yang harus aku nyalakan adalah lampu teras. Ini tak sulit karena letak tombolnya tepat di bagian tembok sebelah kanan begitu aku mulai membuka pintu depan dan masuk ke dalamnya. Berbekal sedikit penerangan dari teras, aku juga berhasil menyalakan lampu ruang tamu yang tombolnya berada di dekat TV dan juga lampu kamar mandi di dekat ruang tamu tersebut. Aku kembali ke depan ruang tamu dan masuk ke dalam kamar tidur orang tuaku. Belum sempat lampu kunyalakan, tiba-tiba TV yang berada di atas lemari itu menyala sendiri. Anehnya, ia menyala dengan volume yang amat keras dan tampilan layarnya hanya berupa bintik hitam dan putih (gambar ‘semut’). “BZZZZZT!” Kira-kira seperti itulah bunyi yang sangat mengagetkan itu kudengar. Aku langsung buru-buru menyalakan lampu kamar dan bersamaan dengan itu, TVpun kembali mati dengan sendirinya. Saat itu aku menganggap kalau itu hanyalah gangguan arus listrik yang menyebabkan TVku menyala sendiri.
Kemudian kunyalakan lampu kamar mandi di dalam kamar tidur orang tuaku lalu juga lampu kamar tidurku yang tombolnya berada di tembok luar kamar. Setelahnya, aku kembali berjalan menuju ruang makan dan dapur untuk menyalakan lampu di sana. Tidak ada lampu dari ruang lainnya manapun yang membantu memberikan penerangan ke area di bagian belakang rumah ini. Gelap, benar-benar gelap. Tombol lampu ada di tembok bagian tengah di antara ruang makan dan dapur. Pelan-pelan aku menyusuri ruangan itu sambil tanganku meraba ke sana-ke mari agar tidak menubruk apapun. Di saat jantungku juga sedang berdesir karena takut, tiba-tiba kurasakan ada sebuah tangan yang menepuk punggungku. Begitu nyata hingga dapat kurasakan beberapa jarinya. Tubuhku langsung kaku ketakutan. Ingin kutolehkan kepala pun saat itu sedang gelap gulita. Ingin kutanya “Siapa?” pun, sebenarnya aku tak mau mendengar jawaban apapun di saat aku merasa memang sedang sendirian di dalam rumah itu.
Akhirnya kuputuskan untuk kembali melangkah walaupun saat itu kaki terasa amat berat. Lampu ruang makan pun berhasil kunyalakan dan aku segera menoleh ke tempat di mana aku merasakan tepukan tadi. Namun tidak ada seorang pun di atas sana. Karena nyaliku sudah terlanjur ciut, aku memutuskan untuk tidak menyalakan lampu-lampu di lantai atas. Aku kembali ke kamar tidur orang tuaku dengan melewati ruang tamu setelah sebelumnya menggembok pintu pagar dan mengunci pintu depan rumah. Aku mengunci kedua pintu di dalam kamar tidur itu karena ketakutan. Kuputuskan untuk segera tidur tanpa mandi, namun kusempatkan untuk mengganti pakaian. Di saat aku berdoa menjelang tidur, samar-samar aku mendengar suara tangisan perempuan dari jendela di kamar itu. Sama seperti suara tangisan yang biasa kudengar dari jendela di kamarku yang mengarah ke teras. Saat itu padahal jam masih menunjukkan pukul 10 kurang. Namun karena sudah terlalu letih, aku mengabaikannya dan memaksakan tubuhku untuk segera beristirahat.
Hari ketiga, aku kembali bangun siang karena tubuhku sangat lemas pada hari sebelumnya. Pegal-pegal kurasakan ketika berusaha beranjak dari tempat tidur untuk mandi. Namun setelah mandi, pegalnya sedikit berkurang. Aku ke dapur untuk memasak mie instan. Kulihat beberapa buah telur telah jatuh dan pecah di lantai. Telur lainnya masih utuh di dalam kantong plastik yang tergeletak aman di atas meja makan. Mungkin ulah tikus, pikirku positif. Walau aku tahu kalau tidak mungkin itu ulah tikus. Kantong plastiknya masih tergeletak dengan rapi, kalau memang tikus yang menjatuhkan telur-telur tersebut, tentunya kantong plastiknya sudah berantakan. Tak apalah, aku tak mau ambil pusing saat itu. Setelah kubersihkan, aku pun menggoreng telur dan membuat mie instan untuk makan siang.
Siang hingga sore, aku hanya bermalas-malasan di atas kasur sambil membaca buku pelajaran karena akan ada serangkaian Test ketika aku kembali masuk kuliah nanti. Ketika hari makin gelap, aku menyalakan semua lampu di rumah seperti biasa. Tidak ada gangguan saat itu. Aku kembali ke kamar dan pergi mandi. Setelahnya, aku kembali melanjutkan bacaan. Saking seriusnya belajar, aku tak menyadari kalau malam semakin larut. “CTAK!” Jendela kamar orang tuaku ditimpuk kerikil. Kusibakan gorden untuk mengintip, namun kosong di luar sana. Aku kembali belajar walau konsentrasiku terganggu dengan kejadian barusan. Di saat aku sedang kembali fokus, tiba-tiba TV kembali menyala sendiri dengan volume yang sangat keras dan gambar ‘semut’. Jika volume 10-12 adalah standar normal untuk volume TV di ruangan itu, mungkin yang kudengar saat itu adalah volume 20-30. Sangat keras hingga aku pun langsung terperanjat dan refleks melempar buku yang sedang kubaca. Tak sampai 5 detik, TV itu kembali mati dengan sendirinya. Aku mencoba untuk mengecek TV dengan kembali menyalakannya. Karena remote tidak kunjung kutemukan, kunyalakan TV dengan menekan tombol yang ada pada bagian bawahnya dengan agak ketakutan. TV menyala dengan volume normal dan gambar siaran TV yang juga tidak ada masalah. Aku coba untuk mengganti siaran dari satu saluran ke saluran lainnya, juga tidak ada masalah. Akhirnya TV kembali kumatikan dan aku mengirim SMS pada ibuku untuk menanyakan perihal TV tersebut. Ibu memberitahu kalau ia tidak pernah mengalami kejadian seperti itu.
Tiba-tiba lagi, aku mendengar ada seseorang yang sedang mandi di dalam kamar mandi di dalam kamar itu yang pintunya tengah tertutup. Suara gayung yang beradu dengan keramik, juga suara siraman air langsung memompa jantungku. Aku langsung mengadukan hal itu pada ibuku lagi, dan beliau menyuruhku untuk mengecek ke dalam kamar mandi. Aku tak punya cukup nyali untuk melakukannya. Setelah saling terus mengirimkan SMS, ibu bilang bahwa mereka akan kembali ke rumah lebih cepat dari jadwal semula. Aku pun berusaha sekuat tenaga untuk dapat tidur malam itu namun amat sulit. Ketika kudengar jendela kamar kembali ditimpuk dengan kerikil, entah oleh siapa, akhirnya aku memutuskan untuk kembali tidur di kamar tidurku sendiri saja. Setelah menelungkupkan badan dan menutup kepalaku rapat-rapat dengan bantal di atas kasurku seperti biasanya, aku pun akhirnya tertidur. Selama di rumah itu, aku memang tidak pernah menggunakan bantal sebagai alas ketika tidur, melainkan kujadikan sebagai penutup kepala untuk menutupi penglihatanku bilamana terbangun di tengah malam.
Hari keempat, aku bangun siang seperti biasanya. Sore nanti akan ada acara yang hendak diadakan oleh seorang teman dekatku. Acara tersebut juga merupakan acara perpisahan sebelum keluarganya pindah ke Palembang. Itulah sebabnya aku memilih untuk tidak ikut keluarga mudik daripada harus melewatkan acara penting tersebut. Siang sampai sore, aku hanya membersihkan rumah. Merapikan segala sesuatunya agar ibu tidak mengomel ketika pulang nanti karena melihat rumah berantakan. ‘Mereka’ tidak berulah saat itu dan aku bersyukur karenanya. Pukul 4 sore, aku menyalakan seluruh lampu di rumah dan berangkat menuju rumah temanku dengan berjalan kaki. Letaknya tidak terlalu jauh, cukup 10-15 menit dengan berjalan kaki. Di sana sudah berkumpul teman-teman dekatku yang lain dan kami berpesta kecil-kecilan sampai malam.
Usai acara, aku kembali pulang ke rumah dan langsung masuk kamar untuk tidur. Keluargaku akan pulang esok hari. Berangkat sore dari Purwokerto dan akan sampai Bekasi sekitar subuh lusa harinya. Aku sangat lega karena akan segera kembali berkumpul dengan keluarga. Mungkin karena terlalu banyak minuman bersoda, kini aku merasakan ingin buang air kecil. Sudah malam, sendirian pula. Hatiku agak galau antara ingin buang air kecil atau menahannya saja hingga pagi. Kalau menumpang buang air kecil di kamar orang tuaku, aku takut karena teringat ada yang ‘mandi’ di sana pada malam sebelumnya. Kalau kamar mandi luar di dekat ruang tamu, aku takut kalau bertemu dengan bayi jadi-jadian waktu itu lagi. Tapi karena sudah benar-benar tak dapat aku tahan lagi, aku pun memberanikan diri untuk menumpang buang air kecil di kamar orang tuaku. Baru kubuka pintu kamarku dan berjalan sedikit, sebuah penampakan menyambut.
Sekelebatan bayangan yang biasa kulihat berlompatan mirip monyet itu nampaknya memang benar berwujud monyet. Jauh di ujung sana, di bawah meja makan, ada seekor makhluk mirip monyet kecil berwarna hitam sedang duduk di lantai sambil tubuhnya mengarah kepadaku. Bagian wajahnya sangat hitam dan nyaris tak dapat kulihat dengan jelas mukanya. Tak lama kemudian, ia melompat ke atas meja dan menghilang. Niatku untuk ingin buang air kecil pun langsung hilang seketika. Dengan cepat, aku kembali masuk ke kamar dan mengunci pintunya, berusaha tidur sambil tak henti-hentinya berdoa dalam hati.
Tak satu pun teman perempuanku yang bersedia menginap di rumahku ketika kuajak ketika sedang berkumpul tadi. Mereka semua sudah tahu kalau rumahku angker dan tak satupun dari mereka yang berani ambil resiko. Namun ketika mereka menawarkanku untuk menginap di rumahnya, gantian aku yang menolak. Aku tak mau merepotkan keluarga orang lain. Dan juga ada amanat yang harus aku jalani yaitu menjaga rumah dengan baik. Namun saat itu, aku menyesal telah menolak tawaran temanku tadi.
Hari ini adalah hari terakhir bagiku menjaga rumah seorang diri karena esok subuh keluargaku akan kembali sampai di rumah jika tidak ada halangan berarti. Aku begitu bersemangat dan hampir melupakan semua perjuanganku menjaga rumah seorang diri selama sepekan itu. Pagi itu aku beli makan di luar, membersihkan rumah, kembali belajar hingga sore, makan malam dengan mie instan dan semuanya berlangsung tanpa ada keanehan apapun. Ketika malam menjelang, aku menyalakan seluruh lampu di rumah dan berencana untuk tidur lebih awal supaya dapat terbangun untuk membukakan pintu bagi keluargaku esok subuh. Tengah malam menjelang subuh, aku terbangun karena di teras ada suara yang cukup gaduh. “Ah, keluargaku sudah pulang!” pikirku girang dalam hati. Untuk memastikannya, aku membuka gorden jendela kamar dan berniat untuk mengintip ke arah teras. Namun aku kaget sewaktu jendela bagian luar ternyata ditutupi oleh kain panjang berwarna putih. Aku tidak pernah ingat kalau ada kain apapun yang dipakai untuk menutupi jendela kamarku. Ingin kubuka jendela kamar saat itu untuk memeriksanya, tapi aku takut. Akhirnya aku langsung beranjak ke kamar orang tuaku. Dari sana, aku berusaha mengintip dari jendela kamar orang tuaku ke jendela kamar tidurku yang letaknya di sebelah barat laut dari pandangan saat itu. Tidak ada kain apapun yang menutupi jendela kamar tidurku saat kali ini kulihat. Aku jadi mungkin bingung. Mungkin salah lihat karena mata masih mengantuk, pikirku untuk menenangkan diri.
Aku bergegas ke ruang tamu. Sesampainya di sana, aku langsung menyibakkan gorden untuk mengintip ada siapa di luar. Kosong. Keluargaku ternyata belum pulang. Kutengok jam dinding saat itu ternyata baru menunjukkan pukul 2 pagi. Karena merasa haus dan botol air minum yang kusimpan di dalam kamar pun sudah habis airnya, aku pun pergi menuju kulkas yang ada di dapur. Letak kulkas ini tepat di depan lorong kosong. Aku mengambil gelas dari rak piring lalu membuka kulkas untuk menuangkan air minum ke dalam gelas kosong tadi. Sewaktu aku sedang menuangkan air, tiba-tiba tengkuk-ku merasa merinding. Aku merasa seperti ada yang sedang mengawasiku dari belakang. Aku menoleh ke ujung lorong yang gelap di belakangku namun tidak melihat apapun di sana. Aku meneguk air minum dan meletakan kembali botol ke dalam kulkas lalu menutupnya. Tetap saja aku merasa seperti sedang diperhatikan.
Setelah puas minum, aku membalikkan sedikit tubuhku dan berniat untuk kembali ke kamar. Sesaat sebelum melangkahkan kaki, aku kembali menoleh ke ujung lorong itu dan melihat penampakan paling mengerikan yang pernah aku lihat selama ini. Sebuah sosok hitam mirip bayangan setinggi orang dewasa namun sedikit lebih tinggi lagi, sedang berdiri di pojok lorong yang gelap itu. Yang membuatku sangat ketakutan adalah karena makhluk itu sedang melambai-lambaikan tangannya ke arahku, seakan ingin menyapa.
Gelas terjatuh dari genggamanku dan menggelinding ke lantai. Tidak pecah karena yang aku ambil saat itu adalah gelas plastik. Aku berlari sekencang mungkin ke dalam kamar. Kaki kananku sempat terantuk anak tangga dan berdarah karena tepian kuku jempolnya menancap ke dalam daging. Di dalam kamar, aku terus berdoa sambil meringis kesakitan. Tak henti-hentinya aku berdoa sampai akhirnya keluargaku benar-benar pulang. Aku hampir menangis ketika menyambut kedatangan mereka karena begitu senangnya. Saat itu sekitar jam 4 kurang. Tanpa peduli mereka masih lelah karena perjalanan jauh atau tidak, aku menceritakan semua pengalaman aneh yang kualami selama menunggu rumah, terutama kejadian mistis terakhir yang aku alami tadi. Aku menceritakan sosok makhluk yang kulihat tadi dan mati-matian berusaha membuat mereka percaya. Ibu percaya dan berkata kalau nanti sore akan mencari ‘orang pintar’ lainnya untuk menyudahi semua keanehan ini sementara komentar ayah hanya singkat, “Jadi makhluk di lorong itu masih berani muncul lagi, ya.” “Lagi?” aku kebingungan.
Siapapun yang tahu bahwa rumahku angker dan mendengar keputusanku untuk menjaga rumah selama 1 minggu seorang diri mungkin akan menganggapku gila. Namun itulah kenyataannya yang terjadi saat itu. Sudah kubilang sejak awal, kalau aku ini mungkin tergolong anak yang paling pemberani di keluargaku. Sesungguhnya, tidak seberani yang kalian pikirkan.
Ayah memberiku Rp250.000 untuk uang pegangan selama ditinggal seminggu di rumah. Sekardus mie instan dan 1 kilo telur ayam juga sudah tersedia di dapur untuk bahan persediaan makanan jika aku sedang malas membeli makanan di luar. Karena di kamarku hanya terdapat kipas angin (ceiling fan), ayah menyarankan agar aku tidur di kamarnya saja selama keluarga pergi mudik. Kamar tidurku adalah satu-satunya kamar yang tidak menggunakan pendingin ruangan (AC) di rumah itu. Boleh juga, pikirku.
Mereka berangkat pagi-pagi buta. Setelah berpamitan, aku pun kembali masuk ke dalam rumah. Kupindahkan semua buku pelajaran dan perlengkapan lainnya yang biasa kugunakan sehari-hari dari kamarku ke kamar orang tuaku. Subuh itu tak nampak ada yang aneh. Mungkin karena sebenarnya mataku juga masih setengah mengantuk saat itu. Sesudahnya, aku kembali melanjutkan tidur di kamar orang tua. Hari itu, aku bangun siang. Belum ada kabar bahwa keluargaku telah sampai di tujuannya. Aku membuka pintu depan agar bagian dalam rumah mendapat penerangan tambahan dari sinar matahari lalu pergi mandi di kamar mandi di dalam kamar tidur orang tuaku.
Setelahnya, aku pun pergi ke dapur untuk memasak mie instan karena perut mulai merasa lapar. Masih belum ada yang aneh. Walau dalam hati sebenarnya ada perasaan takut, aku bertingkah pura-pura santai dan berani agar ‘mereka’ tidak berniat mengusiliku. Oh iya, di dapur ini ada sebuah lorong yang ujungnya berbatasan dengan tembok kamar tidur orang tuaku. Lorong itu cukup panjang dan begitu gelap karena tidak ada penerangan di sana. Di bagian tengah lorong ada tempat mencuci piring yang dilengkapi kran (kitchen sink) tapi karena rusak jadi tidak pernah digunakan. Sedangkan di ujung lorong tidak ada apapun.
Aku kembali ke kamar orang tuaku untuk menikmati mie instan sambil menonton TV. Saat itu, aku juga sedang libur kuliah panjang sehingga bisa sepanjang hari di dalam rumah setiap harinya. Dari siang hingga malam, aku hanya berbaring di atas kasur sambil nonton TV dan sesekali berselancar ke dunia maya dengan HP-ku. Tentu aku juga tak melupakan mandi di sore hari. Ketika ada tukang mie tek-tek yang melintas di depan rumah, aku langsung keluar untuk membelinya sebagai lauk makan malam. Sama sekali tidak ada yang aneh di rumah sepanjang hari itu. Dan aku berharap semoga keadaan seperti itu terus berlangsung hingga keluargaku kembali ke rumah lagi pada minggu depan. Sesaat sebelum tidur, aku berdoa selama 1 jam seperti biasa. Malam itu, aku dapat tidur dengan cepat dan nyenyak.
Hari kedua menjaga rumah seorang diri. Aku bangun lebih pagi dan segera mandi karena hari ini aku dan teman-teman dekatku berencana untuk pergi berwisata ke Taman Buah Mekarsari. Jam 9 pagi kami sudah harus berkumpul di rumah seorang teman untuk berangkat beriringan dari sana. Setelah kupastikan seluruh keadaan rumah dalam keadaan aman, aku pun mengunci pintu dan pergi ke rumah temanku pada pukul setengah 9 pagi. Kami berangkat bersama dalam rombongan beberapa buah motor dan menghabiskan waktu hingga sore di tempat wisata itu. Sekembalinya aku ke rumah, hari mulai menjelang malam. Bodohnya, pagi tadi sebelum berangkat, aku lupa membiarkan seluruh lampu-lampu di rumahku menyala. Jadilah aku harus masuk ke dalam rumah yang gelap gulita tersebut untuk menyalakan lampu di seluruh bagian rumah.
Lampu pertama yang harus aku nyalakan adalah lampu teras. Ini tak sulit karena letak tombolnya tepat di bagian tembok sebelah kanan begitu aku mulai membuka pintu depan dan masuk ke dalamnya. Berbekal sedikit penerangan dari teras, aku juga berhasil menyalakan lampu ruang tamu yang tombolnya berada di dekat TV dan juga lampu kamar mandi di dekat ruang tamu tersebut. Aku kembali ke depan ruang tamu dan masuk ke dalam kamar tidur orang tuaku. Belum sempat lampu kunyalakan, tiba-tiba TV yang berada di atas lemari itu menyala sendiri. Anehnya, ia menyala dengan volume yang amat keras dan tampilan layarnya hanya berupa bintik hitam dan putih (gambar ‘semut’). “BZZZZZT!” Kira-kira seperti itulah bunyi yang sangat mengagetkan itu kudengar. Aku langsung buru-buru menyalakan lampu kamar dan bersamaan dengan itu, TVpun kembali mati dengan sendirinya. Saat itu aku menganggap kalau itu hanyalah gangguan arus listrik yang menyebabkan TVku menyala sendiri.
Kemudian kunyalakan lampu kamar mandi di dalam kamar tidur orang tuaku lalu juga lampu kamar tidurku yang tombolnya berada di tembok luar kamar. Setelahnya, aku kembali berjalan menuju ruang makan dan dapur untuk menyalakan lampu di sana. Tidak ada lampu dari ruang lainnya manapun yang membantu memberikan penerangan ke area di bagian belakang rumah ini. Gelap, benar-benar gelap. Tombol lampu ada di tembok bagian tengah di antara ruang makan dan dapur. Pelan-pelan aku menyusuri ruangan itu sambil tanganku meraba ke sana-ke mari agar tidak menubruk apapun. Di saat jantungku juga sedang berdesir karena takut, tiba-tiba kurasakan ada sebuah tangan yang menepuk punggungku. Begitu nyata hingga dapat kurasakan beberapa jarinya. Tubuhku langsung kaku ketakutan. Ingin kutolehkan kepala pun saat itu sedang gelap gulita. Ingin kutanya “Siapa?” pun, sebenarnya aku tak mau mendengar jawaban apapun di saat aku merasa memang sedang sendirian di dalam rumah itu.
Akhirnya kuputuskan untuk kembali melangkah walaupun saat itu kaki terasa amat berat. Lampu ruang makan pun berhasil kunyalakan dan aku segera menoleh ke tempat di mana aku merasakan tepukan tadi. Namun tidak ada seorang pun di atas sana. Karena nyaliku sudah terlanjur ciut, aku memutuskan untuk tidak menyalakan lampu-lampu di lantai atas. Aku kembali ke kamar tidur orang tuaku dengan melewati ruang tamu setelah sebelumnya menggembok pintu pagar dan mengunci pintu depan rumah. Aku mengunci kedua pintu di dalam kamar tidur itu karena ketakutan. Kuputuskan untuk segera tidur tanpa mandi, namun kusempatkan untuk mengganti pakaian. Di saat aku berdoa menjelang tidur, samar-samar aku mendengar suara tangisan perempuan dari jendela di kamar itu. Sama seperti suara tangisan yang biasa kudengar dari jendela di kamarku yang mengarah ke teras. Saat itu padahal jam masih menunjukkan pukul 10 kurang. Namun karena sudah terlalu letih, aku mengabaikannya dan memaksakan tubuhku untuk segera beristirahat.
Hari ketiga, aku kembali bangun siang karena tubuhku sangat lemas pada hari sebelumnya. Pegal-pegal kurasakan ketika berusaha beranjak dari tempat tidur untuk mandi. Namun setelah mandi, pegalnya sedikit berkurang. Aku ke dapur untuk memasak mie instan. Kulihat beberapa buah telur telah jatuh dan pecah di lantai. Telur lainnya masih utuh di dalam kantong plastik yang tergeletak aman di atas meja makan. Mungkin ulah tikus, pikirku positif. Walau aku tahu kalau tidak mungkin itu ulah tikus. Kantong plastiknya masih tergeletak dengan rapi, kalau memang tikus yang menjatuhkan telur-telur tersebut, tentunya kantong plastiknya sudah berantakan. Tak apalah, aku tak mau ambil pusing saat itu. Setelah kubersihkan, aku pun menggoreng telur dan membuat mie instan untuk makan siang.
Siang hingga sore, aku hanya bermalas-malasan di atas kasur sambil membaca buku pelajaran karena akan ada serangkaian Test ketika aku kembali masuk kuliah nanti. Ketika hari makin gelap, aku menyalakan semua lampu di rumah seperti biasa. Tidak ada gangguan saat itu. Aku kembali ke kamar dan pergi mandi. Setelahnya, aku kembali melanjutkan bacaan. Saking seriusnya belajar, aku tak menyadari kalau malam semakin larut. “CTAK!” Jendela kamar orang tuaku ditimpuk kerikil. Kusibakan gorden untuk mengintip, namun kosong di luar sana. Aku kembali belajar walau konsentrasiku terganggu dengan kejadian barusan. Di saat aku sedang kembali fokus, tiba-tiba TV kembali menyala sendiri dengan volume yang sangat keras dan gambar ‘semut’. Jika volume 10-12 adalah standar normal untuk volume TV di ruangan itu, mungkin yang kudengar saat itu adalah volume 20-30. Sangat keras hingga aku pun langsung terperanjat dan refleks melempar buku yang sedang kubaca. Tak sampai 5 detik, TV itu kembali mati dengan sendirinya. Aku mencoba untuk mengecek TV dengan kembali menyalakannya. Karena remote tidak kunjung kutemukan, kunyalakan TV dengan menekan tombol yang ada pada bagian bawahnya dengan agak ketakutan. TV menyala dengan volume normal dan gambar siaran TV yang juga tidak ada masalah. Aku coba untuk mengganti siaran dari satu saluran ke saluran lainnya, juga tidak ada masalah. Akhirnya TV kembali kumatikan dan aku mengirim SMS pada ibuku untuk menanyakan perihal TV tersebut. Ibu memberitahu kalau ia tidak pernah mengalami kejadian seperti itu.
Tiba-tiba lagi, aku mendengar ada seseorang yang sedang mandi di dalam kamar mandi di dalam kamar itu yang pintunya tengah tertutup. Suara gayung yang beradu dengan keramik, juga suara siraman air langsung memompa jantungku. Aku langsung mengadukan hal itu pada ibuku lagi, dan beliau menyuruhku untuk mengecek ke dalam kamar mandi. Aku tak punya cukup nyali untuk melakukannya. Setelah saling terus mengirimkan SMS, ibu bilang bahwa mereka akan kembali ke rumah lebih cepat dari jadwal semula. Aku pun berusaha sekuat tenaga untuk dapat tidur malam itu namun amat sulit. Ketika kudengar jendela kamar kembali ditimpuk dengan kerikil, entah oleh siapa, akhirnya aku memutuskan untuk kembali tidur di kamar tidurku sendiri saja. Setelah menelungkupkan badan dan menutup kepalaku rapat-rapat dengan bantal di atas kasurku seperti biasanya, aku pun akhirnya tertidur. Selama di rumah itu, aku memang tidak pernah menggunakan bantal sebagai alas ketika tidur, melainkan kujadikan sebagai penutup kepala untuk menutupi penglihatanku bilamana terbangun di tengah malam.
Hari keempat, aku bangun siang seperti biasanya. Sore nanti akan ada acara yang hendak diadakan oleh seorang teman dekatku. Acara tersebut juga merupakan acara perpisahan sebelum keluarganya pindah ke Palembang. Itulah sebabnya aku memilih untuk tidak ikut keluarga mudik daripada harus melewatkan acara penting tersebut. Siang sampai sore, aku hanya membersihkan rumah. Merapikan segala sesuatunya agar ibu tidak mengomel ketika pulang nanti karena melihat rumah berantakan. ‘Mereka’ tidak berulah saat itu dan aku bersyukur karenanya. Pukul 4 sore, aku menyalakan seluruh lampu di rumah dan berangkat menuju rumah temanku dengan berjalan kaki. Letaknya tidak terlalu jauh, cukup 10-15 menit dengan berjalan kaki. Di sana sudah berkumpul teman-teman dekatku yang lain dan kami berpesta kecil-kecilan sampai malam.
Usai acara, aku kembali pulang ke rumah dan langsung masuk kamar untuk tidur. Keluargaku akan pulang esok hari. Berangkat sore dari Purwokerto dan akan sampai Bekasi sekitar subuh lusa harinya. Aku sangat lega karena akan segera kembali berkumpul dengan keluarga. Mungkin karena terlalu banyak minuman bersoda, kini aku merasakan ingin buang air kecil. Sudah malam, sendirian pula. Hatiku agak galau antara ingin buang air kecil atau menahannya saja hingga pagi. Kalau menumpang buang air kecil di kamar orang tuaku, aku takut karena teringat ada yang ‘mandi’ di sana pada malam sebelumnya. Kalau kamar mandi luar di dekat ruang tamu, aku takut kalau bertemu dengan bayi jadi-jadian waktu itu lagi. Tapi karena sudah benar-benar tak dapat aku tahan lagi, aku pun memberanikan diri untuk menumpang buang air kecil di kamar orang tuaku. Baru kubuka pintu kamarku dan berjalan sedikit, sebuah penampakan menyambut.
Sekelebatan bayangan yang biasa kulihat berlompatan mirip monyet itu nampaknya memang benar berwujud monyet. Jauh di ujung sana, di bawah meja makan, ada seekor makhluk mirip monyet kecil berwarna hitam sedang duduk di lantai sambil tubuhnya mengarah kepadaku. Bagian wajahnya sangat hitam dan nyaris tak dapat kulihat dengan jelas mukanya. Tak lama kemudian, ia melompat ke atas meja dan menghilang. Niatku untuk ingin buang air kecil pun langsung hilang seketika. Dengan cepat, aku kembali masuk ke kamar dan mengunci pintunya, berusaha tidur sambil tak henti-hentinya berdoa dalam hati.
Tak satu pun teman perempuanku yang bersedia menginap di rumahku ketika kuajak ketika sedang berkumpul tadi. Mereka semua sudah tahu kalau rumahku angker dan tak satupun dari mereka yang berani ambil resiko. Namun ketika mereka menawarkanku untuk menginap di rumahnya, gantian aku yang menolak. Aku tak mau merepotkan keluarga orang lain. Dan juga ada amanat yang harus aku jalani yaitu menjaga rumah dengan baik. Namun saat itu, aku menyesal telah menolak tawaran temanku tadi.
Hari ini adalah hari terakhir bagiku menjaga rumah seorang diri karena esok subuh keluargaku akan kembali sampai di rumah jika tidak ada halangan berarti. Aku begitu bersemangat dan hampir melupakan semua perjuanganku menjaga rumah seorang diri selama sepekan itu. Pagi itu aku beli makan di luar, membersihkan rumah, kembali belajar hingga sore, makan malam dengan mie instan dan semuanya berlangsung tanpa ada keanehan apapun. Ketika malam menjelang, aku menyalakan seluruh lampu di rumah dan berencana untuk tidur lebih awal supaya dapat terbangun untuk membukakan pintu bagi keluargaku esok subuh. Tengah malam menjelang subuh, aku terbangun karena di teras ada suara yang cukup gaduh. “Ah, keluargaku sudah pulang!” pikirku girang dalam hati. Untuk memastikannya, aku membuka gorden jendela kamar dan berniat untuk mengintip ke arah teras. Namun aku kaget sewaktu jendela bagian luar ternyata ditutupi oleh kain panjang berwarna putih. Aku tidak pernah ingat kalau ada kain apapun yang dipakai untuk menutupi jendela kamarku. Ingin kubuka jendela kamar saat itu untuk memeriksanya, tapi aku takut. Akhirnya aku langsung beranjak ke kamar orang tuaku. Dari sana, aku berusaha mengintip dari jendela kamar orang tuaku ke jendela kamar tidurku yang letaknya di sebelah barat laut dari pandangan saat itu. Tidak ada kain apapun yang menutupi jendela kamar tidurku saat kali ini kulihat. Aku jadi mungkin bingung. Mungkin salah lihat karena mata masih mengantuk, pikirku untuk menenangkan diri.
Aku bergegas ke ruang tamu. Sesampainya di sana, aku langsung menyibakkan gorden untuk mengintip ada siapa di luar. Kosong. Keluargaku ternyata belum pulang. Kutengok jam dinding saat itu ternyata baru menunjukkan pukul 2 pagi. Karena merasa haus dan botol air minum yang kusimpan di dalam kamar pun sudah habis airnya, aku pun pergi menuju kulkas yang ada di dapur. Letak kulkas ini tepat di depan lorong kosong. Aku mengambil gelas dari rak piring lalu membuka kulkas untuk menuangkan air minum ke dalam gelas kosong tadi. Sewaktu aku sedang menuangkan air, tiba-tiba tengkuk-ku merasa merinding. Aku merasa seperti ada yang sedang mengawasiku dari belakang. Aku menoleh ke ujung lorong yang gelap di belakangku namun tidak melihat apapun di sana. Aku meneguk air minum dan meletakan kembali botol ke dalam kulkas lalu menutupnya. Tetap saja aku merasa seperti sedang diperhatikan.
Setelah puas minum, aku membalikkan sedikit tubuhku dan berniat untuk kembali ke kamar. Sesaat sebelum melangkahkan kaki, aku kembali menoleh ke ujung lorong itu dan melihat penampakan paling mengerikan yang pernah aku lihat selama ini. Sebuah sosok hitam mirip bayangan setinggi orang dewasa namun sedikit lebih tinggi lagi, sedang berdiri di pojok lorong yang gelap itu. Yang membuatku sangat ketakutan adalah karena makhluk itu sedang melambai-lambaikan tangannya ke arahku, seakan ingin menyapa.
Gelas terjatuh dari genggamanku dan menggelinding ke lantai. Tidak pecah karena yang aku ambil saat itu adalah gelas plastik. Aku berlari sekencang mungkin ke dalam kamar. Kaki kananku sempat terantuk anak tangga dan berdarah karena tepian kuku jempolnya menancap ke dalam daging. Di dalam kamar, aku terus berdoa sambil meringis kesakitan. Tak henti-hentinya aku berdoa sampai akhirnya keluargaku benar-benar pulang. Aku hampir menangis ketika menyambut kedatangan mereka karena begitu senangnya. Saat itu sekitar jam 4 kurang. Tanpa peduli mereka masih lelah karena perjalanan jauh atau tidak, aku menceritakan semua pengalaman aneh yang kualami selama menunggu rumah, terutama kejadian mistis terakhir yang aku alami tadi. Aku menceritakan sosok makhluk yang kulihat tadi dan mati-matian berusaha membuat mereka percaya. Ibu percaya dan berkata kalau nanti sore akan mencari ‘orang pintar’ lainnya untuk menyudahi semua keanehan ini sementara komentar ayah hanya singkat, “Jadi makhluk di lorong itu masih berani muncul lagi, ya.” “Lagi?” aku kebingungan.
0