- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#3416
PART 120
Tami memandangi gue, kemudian tertawa kecil sebelum membuang pandangannya ke arah lain. Gue menanti jawabannya sambil mencabuti rumput di sekitar jangkauan tangan.
Gue mendekap kedua lutut dan kemudian menoleh ke Tami. Ternyata dia mendongak sambil tersenyum, memandangi langit cerah di sela-sela dedaunan. Entah kenapa gue merasakan wajahnya damai, seolah semua beban yang dipanggulnya hilang menguap di siang hari itu. Mungkin beban terbesarnya adalah menanggung perasaan yang tak terucapkan. Mungkin.
Tami meluruskan kedua kakinya diatas rumput, kemudian membersihkan rerumputan yang menempel di kedua sisi betisnya. Dia menoleh lagi ke gue, dan gue menyadari bahwa matanya berkaca-kaca lagi. Sepertinya air matanya akan segera jatuh lagi.
Gue tersenyum, kemudian berpikir selama beberapa waktu. Gue sedang mencoba melihat kembali apa yang jadi kebahagiaan sejati gue waktu itu. Setelah terdiam beberapa saat, gue akhirnya tersenyum, dan memahami apa yang jadi tujuan gue waktu itu.
Tami tersenyum cantik, dan kemudian dengan satu gerakan yang gak gue duga samasekali, dia mencium pipi gue lembut. Gue bener-bener terpaku, samasekali gak menduga bahwa Tami akan mencium gue. Sebuah ciuman pertamanya, setelah 5 tahun berjuang memendam perasaan. Ketika Tami menarik diri, gue menoleh ke arahnya dan melihat dia masih tersenyum sambil berkaca-kaca.
Tami meraih tangan gue, dan membawanya ke pangkuannya. Kemudian gue mendengar dia berbicara dengan suara lembut sambil menunduk. Rambutnya jatuh menutupi kedua sisi pipinya.
Air mata Tami jatuh di atas punggung telapak tangan gue yang dia taruh di pangkuannya. Dia masih menunduk, dan sedikit sesenggukan.
Quote:
Tami memandangi gue, kemudian tertawa kecil sebelum membuang pandangannya ke arah lain. Gue menanti jawabannya sambil mencabuti rumput di sekitar jangkauan tangan.
Quote:
Gue mendekap kedua lutut dan kemudian menoleh ke Tami. Ternyata dia mendongak sambil tersenyum, memandangi langit cerah di sela-sela dedaunan. Entah kenapa gue merasakan wajahnya damai, seolah semua beban yang dipanggulnya hilang menguap di siang hari itu. Mungkin beban terbesarnya adalah menanggung perasaan yang tak terucapkan. Mungkin.
Quote:
Tami meluruskan kedua kakinya diatas rumput, kemudian membersihkan rerumputan yang menempel di kedua sisi betisnya. Dia menoleh lagi ke gue, dan gue menyadari bahwa matanya berkaca-kaca lagi. Sepertinya air matanya akan segera jatuh lagi.
Quote:
Gue tersenyum, kemudian berpikir selama beberapa waktu. Gue sedang mencoba melihat kembali apa yang jadi kebahagiaan sejati gue waktu itu. Setelah terdiam beberapa saat, gue akhirnya tersenyum, dan memahami apa yang jadi tujuan gue waktu itu.
Quote:
Tami tersenyum cantik, dan kemudian dengan satu gerakan yang gak gue duga samasekali, dia mencium pipi gue lembut. Gue bener-bener terpaku, samasekali gak menduga bahwa Tami akan mencium gue. Sebuah ciuman pertamanya, setelah 5 tahun berjuang memendam perasaan. Ketika Tami menarik diri, gue menoleh ke arahnya dan melihat dia masih tersenyum sambil berkaca-kaca.
Quote:
Tami meraih tangan gue, dan membawanya ke pangkuannya. Kemudian gue mendengar dia berbicara dengan suara lembut sambil menunduk. Rambutnya jatuh menutupi kedua sisi pipinya.
Quote:
Air mata Tami jatuh di atas punggung telapak tangan gue yang dia taruh di pangkuannya. Dia masih menunduk, dan sedikit sesenggukan.
Quote:
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3


: lo gak takut perasaan lo itu bakal mempengaruhi kehidupan lo kedepannya?
: iya sejak lo lulus duluan dan ninggalin gue membusuk di kampus sendirian.
: gak ada, gue cuma ngebantu lo aja kok.