- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#3381
PART 119
Gue memandangi Tami dengan termangu-mangu. Meskipun gue telah lama mengantisipasi hal semacam ini, tapi tetep aja gue terkejut ketika dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Gue memperhatikan cewek didepan gue. Tami, seorang cewek tertangguh yang pernah gue kenal. Cewek cuek yang hanya memiliki sedikit teman selama kuliah, karena sifatnya yang keras, yang mungkin terbentuk oleh beban hidupnya selama ini. Cewek cantik yang banyak membuat penasaran cowok-cowok, meskipun gak ada satupun yang bisa mendapatkan hatinya. Cewek galak, tapi sangat memperhatikan orang lain, dengan caranya sendiri, tentu saja. Dan buat gue, salah satu orang terbaik yang pernah ada di hidup gue.
Sekarang dia menangis di hadapan gue, tapi tetap dengan senyum mengembang di bibirnya. Barusan aja dia mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya ke gue. Perasaan yang sesungguhnya udah lama gue ketahui, dan dia juga tahu bahwa gue tahu, dan hanya kami simpan dalam diam. Setangguh-tangguhnya dia sebagai seorang manusia, tetap ada bagian dari hatinya yang rapuh. Ada masanya dia sekeras baja, ada masanya dia rapuh bagaikan kertas basah.
Gue memanggil pelayan, dan meminta bill. Setelah menyelesaikan pembayaran, gue meraih tangan Tami yang masih duduk membisu di hadapan gue, dan menggandengnya menuju mobil. Gue kemudian membawa dia ke sebuah taman yang berjarak gak begitu jauh dari tempat kami makan. Gue turun duluan, dan kemudian membukakan pintu mobil untuknya. Gue menggandengnya keluar, dan menuju ke salah satu sudut taman yang teduh dan sepi. Gue duduk dibawah salah satu pohon rindang, beralaskan rumput, dan menyuruhnya untuk duduk juga dengan bahasa tubuh. Gue kemudian menoleh ke Tami yang duduk di samping gue dengan membisu.
Tami menoleh memandangi gue, dan kemudian menggeleng pelan.
Tami tersenyum dan kemudian mencabuti rumput di sekitar kakinya secara lembut.
Gue membetulkan posisi duduk gue, dan kemudian gue mendengar Tami berbicara lagi.
Gue tertawa, dan kemudian membersihkan rerumputan yang menempel di celana jeans gue.
Gue terdiam, bener-bener gak bisa berkata apa-apa. Gue gak pernah menyangka bahwa perasaan Tami ke gue telah tumbuh sedemikian dalam. Gue kemudian berpikir, betapa rumitnya perjalanan cinta manusia. Seandainya gue bisa memutar waktu kembali ke masa lalu, mungkin gue akan mengurangi intensitas hubungan gue ke Tami, tapi itu berarti akan mengurangi kebahagiaannya juga. Sampai kemudian gue sadar, bahwa apapun yang telah terjadi hingga hari ini adalah hal yang terbaik yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta.
Gue tersenyum ke Tami, dan kemudian mendongak, memandangi pohon di atas kepala gue. Sambil mendongak, gue bertanya sesuatu ke Tami.
Gue menurunkan kepala, dan kemudian memandangi Tami di sebelah gue. Dia tersenyum.
Gue memandangi Tami dengan termangu-mangu. Meskipun gue telah lama mengantisipasi hal semacam ini, tapi tetep aja gue terkejut ketika dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Gue memperhatikan cewek didepan gue. Tami, seorang cewek tertangguh yang pernah gue kenal. Cewek cuek yang hanya memiliki sedikit teman selama kuliah, karena sifatnya yang keras, yang mungkin terbentuk oleh beban hidupnya selama ini. Cewek cantik yang banyak membuat penasaran cowok-cowok, meskipun gak ada satupun yang bisa mendapatkan hatinya. Cewek galak, tapi sangat memperhatikan orang lain, dengan caranya sendiri, tentu saja. Dan buat gue, salah satu orang terbaik yang pernah ada di hidup gue.
Sekarang dia menangis di hadapan gue, tapi tetap dengan senyum mengembang di bibirnya. Barusan aja dia mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya ke gue. Perasaan yang sesungguhnya udah lama gue ketahui, dan dia juga tahu bahwa gue tahu, dan hanya kami simpan dalam diam. Setangguh-tangguhnya dia sebagai seorang manusia, tetap ada bagian dari hatinya yang rapuh. Ada masanya dia sekeras baja, ada masanya dia rapuh bagaikan kertas basah.
Gue memanggil pelayan, dan meminta bill. Setelah menyelesaikan pembayaran, gue meraih tangan Tami yang masih duduk membisu di hadapan gue, dan menggandengnya menuju mobil. Gue kemudian membawa dia ke sebuah taman yang berjarak gak begitu jauh dari tempat kami makan. Gue turun duluan, dan kemudian membukakan pintu mobil untuknya. Gue menggandengnya keluar, dan menuju ke salah satu sudut taman yang teduh dan sepi. Gue duduk dibawah salah satu pohon rindang, beralaskan rumput, dan menyuruhnya untuk duduk juga dengan bahasa tubuh. Gue kemudian menoleh ke Tami yang duduk di samping gue dengan membisu.
Quote:
Tami menoleh memandangi gue, dan kemudian menggeleng pelan.
Quote:
Tami tersenyum dan kemudian mencabuti rumput di sekitar kakinya secara lembut.
Quote:
Gue membetulkan posisi duduk gue, dan kemudian gue mendengar Tami berbicara lagi.
Quote:
Gue tertawa, dan kemudian membersihkan rerumputan yang menempel di celana jeans gue.
Quote:
Gue terdiam, bener-bener gak bisa berkata apa-apa. Gue gak pernah menyangka bahwa perasaan Tami ke gue telah tumbuh sedemikian dalam. Gue kemudian berpikir, betapa rumitnya perjalanan cinta manusia. Seandainya gue bisa memutar waktu kembali ke masa lalu, mungkin gue akan mengurangi intensitas hubungan gue ke Tami, tapi itu berarti akan mengurangi kebahagiaannya juga. Sampai kemudian gue sadar, bahwa apapun yang telah terjadi hingga hari ini adalah hal yang terbaik yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta.
Quote:
Gue tersenyum ke Tami, dan kemudian mendongak, memandangi pohon di atas kepala gue. Sambil mendongak, gue bertanya sesuatu ke Tami.
Quote:
Gue menurunkan kepala, dan kemudian memandangi Tami di sebelah gue. Dia tersenyum.
Quote:
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: maksud lo?
: bukan gitu maksud gue…