Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#3345
PART 118

Gue membuka handphone, untuk mencari alamat rumah Tami yang tadi udah dikirim lewat BBM. Rupanya alamat itu pun belum cukup buat gue untuk menemukan rumah tersebut. Gue masih harus beberapa kali nanya orang yang lewat dan tukang ojek yang mangkal untuk menemukan gang rumah Tami. Setelah setengah jam berputar-putar nanya kesana kemari, akhirnya gue menemukan gang rumah Tami dan mulai mengurutkan deretan rumah sambil memperhatikan nomor rumah-rumah itu.

Mobil gue kemudian berhenti di sebuah rumah cukup besar dengan halaman yang rapi, bercat krem dan berpagar tinggi berwarna hitam. Gue BBM Tami.

Quote:


Gak lama kemudian dari jendela mobil gue bisa melihat Tami keluar dari pintu garasi. Setelah menutup pagar dan menguncinya, Tami masuk ke mobil, sambil tersenyum ke gue. Gue pun membalas senyumannya.

Quote:


Kemudian kami sudah berada di sebuah restoran khas Manado di daerah Hang Lekir. Tami antusias banget meneliti makanan yang ada disana. Darah Manado nya meluap-luap disana. Hahaha. Iya lah dia apal banget soal makanan Manado, dan dia kuat banget makan makanan pedas. Beberapa kali dia menertawakan muka gue yang memerah dan bersimbah keringat gara-gara menahan rasa pedas, sementara dia masih cengar-cengir aja makan makanan yang sama.

Selesai makan, dia meminum es teh nya dan kemudian melipat tangannya di meja sambil memandangi gue yang sedang asik mengorek sisa-sisa makanan dengan tusuk gigi. Pandangannya membuat gue bertanya duluan sambil tetap menutupi mulut dengan satu tangan, sementara tangan yang lain mengorek-ngorek sela-sela gigi dengan tusuk gigi.

Quote:


Gue berhenti mengorek gigi, sambil meminum sisa-sisa es teh gue yang udah memasuki gelas ketiga. Gue melap mulut dengan tisu, sambil berpikir harus mulai darimana pembicaraan ini. Setelah diam beberapa detik, akhirnya gue menjawab.

Quote:


Gue memandangi Tami sambil sedikit memiringkan kepala dan mengetuk-ngetukkan ujung jari ke meja. Setelah menghela napas panjang, gue memutuskan menceritakan semuanya ke Tami.

Quote:


Selama gue bercerita itu sesekali Tami memandangi arah lain. Kentara sekali dia sedang berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Mungkin butuh banyak waktu baginya untuk mencerna segala omongan gue siang itu. Ketika gue udah selesai bercerita pun dia masih terdiam dan sesekali memandangi arah yang lain, meskipun dia tau kalo gue menunggu tanggapannya.

Kemudian Tami menarik kursinya maju, semakin menempel ke meja, dan dia melipat tangannya diatas meja sambil memandangi gue serius. Raut wajahnya tenang, sampe-sampe gue gak bisa menebak gimana kondisi emosinya waktu itu, apakah senang, sedih, marah dan sebagainya. Gue justru paling takut menghadapi seseorang yang ada di dalam kondisi seperti ini. Tenang tanpa ekspresi, tapi ini justru calm before the storm.

Quote:


Pikiran gue langsung melayang ke hubungan gue dan Anin yang udah berjalan 5 tahun. Gue tersenyum kecil, sambil memandangi tisu di hadapan gue dan memain-mainkannya.

Quote:


Tami mencondongkan tubuhnya ke depan dan tersenyum samar.

Quote:


Gue terdiam. Gue mulai bisa merasakan kemana arah omongan Tami ini. Sesuatu yang udah gue takutkan selama beberapa waktu belakangan ini. Sesuatu yang siap meletus bagaikan gunung api.

Quote:


Gue menarik napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke belakang. Kemudian gue berkata dengan pelan dan sangat berhati-hati.

Quote:


Tami tersenyum, bahkan sedikit lebih lebar daripada sebelumnya. Sampe kemudian gue menyadari bahwa senyumnya itu gak wajar. Benar aja, ada setitik air mata lembut mengalir di pipinya. Tapi dia tetap tersenyum, tanpa berusaha menghapus air matanya itu.

Quote:


Gue merasakan efek dari kata-kata “mencintai lo” yang selama ini belum pernah sekalipun dia katakan ke gue, entah itu untuk cowok lain, apalagi untuk gue. Tapi kali ini gue benar-benar melihat sisi lain dari Tami yang selama ini dipendamnya dengan begitu sempurna.

Quote:


Tami mengangguk lemah sambil tersenyum dan mengedipkan mata.

Quote:

Diubah oleh jayanagari 17-04-2015 21:14
khodzimzz
pulaukapok
pulaukapok dan khodzimzz memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.