- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#217
Partitur no. 50 : One Year Later
Masih di sebuah tempat ketika aku mengetik ulang untuk bercerita mengenai awal kisah hidupku ini. Bedanya, sekarang kampus ini terasa lebih sesak dari biasanya. Aku harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan sebuah tempat duduk yang tersedia fasilitas colokan. Ya, mau di kantin ataupun perpustakaan yang menjadi favoritku untuk menulis ketika istirahat atau setelah selesai kelas, semuanya disibukkan oleh orang yang sedang membuat skripsi.
Semua meja terpakai; colokan pun dipakai untuk mengisi daya baterai laptop maupun handphone, buku-buku sedikit berkurang akibat di pakai untuk bahan referensi membuat skripsi. Setiap hari ketika tidak ada yang mengajakku pergi, aku menunggu ayahku yang sedang mengadakan bimbingan skripsi untuk para muridnya. Sementara, hari ini Kang Naufal absen kuliah karena sedang sakit.
Di perpustakaan yang ramai itu pun di pakai juga untuk para mahasiwa dan mahasiswi untuk berfoto, sebagai foto kenangan sebagaimana masa-masa SMA. Entah mengapa di kampus ini aura persahabatannya sangat kuat, tidak seperti yang guru-guruku bilang ketika SMA, bahwa perguruan tinggi itu orangnya sangat individualis.
Ah, mengingat kejadian ketika masa-masa SMA membuatku lebih bersemangat untuk menuliskan kisah hidupku sampai selesai!
***
Masih dalam rangka setahunan, pada hari sabtunya kami berencana bernostalgia apa yang kami lakukan tahun lalu di kala itu. Kami jarang sekali merayakan anniversarysetiap bulannya, kecuali jika ada sebuah event yang sangat kami suka waktu itu, seperti pada acara Paramore di bulan Juni kemarin.
Tempat ini sudah lama sekali tidak aku kunjungi bersamanya, padahal dulu tempat itu menjadi tempat favorit kami untuk menghabiskan hari-hari seperti pasangan yang lainnya. Setahun lalu, tempat ini menjadi sebuah keputusan yang tak pernah membuatku merasa menyesal.
“Rys, dari pada Harrys sendirian di rumah, ikut Kang Iman keluar aja mau, nggak?” ajakku kepada Harrys yang sedang serius bermain komputernya. Entah mengapa, belakangan ini rumahku kosong sekali, hanya aku berdua dengan Harrys.
“Emang mau kemana, Kang Iman?” tanya Harrys kepadaku.
“Ke Kalapa Gading, Rys” jawabku santai.
“Mau ngapain?” ujar Harrys menyelidiki.
“Jalan aja sama Kak Tasya, Rys. Ya dari pada Harrys sendirian di rumah..” bujukku kepada Harrys.
“Hm, yaudah, deh. Kang Iman ada uang, kan?”
“Ada, Rys. Yaudah cepet siap-siap sana. Udah mandi, belum?”
“Belum” Harrys menjawabnya dengan singkat.
“Yaudah mandi, ya. Jangan lama-lama!” kataku sambil membereskan barang-barang yang ingin kubawa. Harrys pun langsung mematikan komputer, dan mengambil baju yang ingin ia kenakan hari itu.
Entah mengapa, terkadang Harrys mandi dengan durasi yang sangat lama. Patut diakui, sebenarnya aku pun demikian. Tapi hanya terjadi ketika banyak waktu luang, atau tepatnya saat liburan. Aku teringat hari di mana aku pernah tertidur di dalam kamar mandi. Aku tidak ingat mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Yang kutahu, aku terbangun ketika Ibu ku menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Sekitar lima sampai sepuluh menit kemudian, aku terkejut ketika Harrys ternyata mematuhi perintahku untuk mandi dengan cepat. Bahkan, ia sudah mengenakan seluruh pakaiannya dengan cukup rapih. “Naik apa kesananya, Kang Iman?” tanya Harrys sambil memakai sepatu.
“Naik taksi aja, deh. Udah mepet banget soalnya” jawabku dengan keringat berkucuran.
“Pintu rumah udah di kunci semua?”
“Udah, Rys.”
Kami berdua berjalan menuju lampu merah dekat sebuah sekolah Katolik di ujung jalan rumahku untuk menunggu taksi yang kebetulan lewat. Seperti biasanya, mencari taksi di daerah ini cukup sulit, sehingga membutuhkan waktu yang relatif lebih lama ketimbang biasanya.
Sudah sering ketika aku menaiki taksi menuju ke Kelapa Gading, aku dibawa melalui jalan memutar agar tarif ongkosnya naik. Untungnya, aku sudah diberi tahu oleh ayahku ada jalan pintas untuk ke Kelapa Gading yang ternyata memang sangat dekat, namun terkadang penuh oleh kendaraan.
Setengah jam kemudian, kami sudah sampai di tempat itu. Tempat lautan manusia, persis seperti tahun lalu. Suasana yang aku rindukan. Bedanya, waktu itu bandku masih aktif, sekarang bandku sudah tidak jelas kabarnya. Lalu, jika waktu itu kami hanya bertiga, kali ini Tasya mengajak salah seorang sahabatnya yang pernah menaksir Afi dengan pacarnya untuk double date.
“Harrys!” teriak Tasya gembira ketika melihat Harrys ikut bersamaku. Tasya langsung memeluk Harrys dengan gemasnya, membuatku yang membawanya sangat iri.
“Yang ini nggak dipeluk sekalian?” kataku dengan nada iri.
“Nggak, ah. Gendut sih kamu abisnya” Tasya pun meledekku seperti biasanya.
“Katanya kamu mau ngajak Fira?” tanyaku sambil menggandeng Tasya untuk jalan. Rasanya seperti sudah berkeluarga. Aku yang bermuka boros seperti bapak-bapak, Tasya yang cukup memiliki muka yang sangat muda seperti istri-istri cantik di film-film, sementara membawa Harrys seperti membawa anak. Ah, ngomong apa sih aku ini. Pikiranku terlalu jauh.
“Iya, mereka lagi ngantri tiket, tadi aku udah mesen sama mereka buat pesenin dulu, soalnya aku mau jemput kamu disini” ah, entah mengapa, ia malah memeluk Harrys lagi.
“Emang kita mau kemana, sih?” tanya Harrys dengan muka bingung.
“Lho, emangnya Kang Iman belum bilang?” Tasya pun terheran-heran melirikku. Aku pun hanya menyengir bodoh.
“Iya, soalnya takut Harrys nya takut malah nggak mau ikut. Hehe” aku kembali tersenyum bodoh. “Kita mau ke Rumah Hantu, Rys.”
“Yah, terus Harrys gimana?” ujarnya dengan muka ketakutan.
“Nanti Harrys dijagain Kak Tasya di dalem. Kan Kak Tasya penakut, pasti nanti Harrys nggak bakal dilepas pelukannya sama Kak Tasya” Tasya pun sudah mencubit tanganku terlebih dahulu. “Eh, tapi serius, sayang. Jagain Harrys..” ujarku serius.
“Iya, sayang. Kan lumayan aku bisa peluk-peluk Harrys lagi, wlee” Tasya pun menjulurkan lidahnya untuk meledekku. Aku hanya bisa membalas mengelitikinya saja.
Tak lama, kami pun sudah bertemu Fira dan pacarnya yang bernama Oki yang sudah selesai mengantre. “Harrys!” teriak Fira kegirangan, dan lantas memeluk Harrys lagi. Duh, aku semakin iri.
“Kok cakepan adeknya ya dari pada kakaknya?” ledek Fira.
“Sebenernya ini juga minjem muka gw si Harrys. Makannya gantengan dia.” Tasya yang tak senang pun langsung mengelitiku.
“Mau langsung masuk?” Harrys mengucapkannya dengan nada masih takut walaupun sudah digenggam tangannya oleh Tasya.
“Nggak, Rys. Harus nunggu maghrib dulu baru bisa masuk.” ujar Tasya.
“Harrys jangan takut. Yang di dalem kan boongan semua, bukan beneran” aku mensugestikan Harrys agar ia tidak takut lagi. Harrys pun mengangguk menyatakan ia setuju.
***
Tak kusangka, orang yang datang kesini semakin banyak. Bahkan lebih banyak dari tahun lalu. Apa hanya karena tahun lalu aku datang di hari minggu? Sistem yang membuat kami masuk berdua-dua ini cukup membuat antrean semakin panjang.
Kami berada di tengah desakan orang yang sangat ramai itu. Aku di depan dengan orang yang bergabung denganku hanya untuk masuk, Tasya bersama Harrys, Fira bersama Oki. Kami semua berjalan perlahan-lahan ke depan menanti mendapat giliran untuk masuk ke dalam Rumah Hantu. Aku berharap bahwa kami dapat masuk secara bersamaan, aku tak tega melihat Harrys yang sebenarnya masih ketakutan di luar. Tapi, Tasya yang terus memeluknya membuat ekspresi ketakutan Harrys nampak hilang sedikit demi sedikit.
Perlahan tapi pasti, bau kemenyan semakin menusuk hidung kami dengan tajam, sementara cahaya rembulan yang terang berganti dengan cahaya redup dari dalam Rumah Hantu tersebut. Walaupun sudah dipeluk oleh Tasya, Harrys dan Tasya masing-masing memegang tangan dan pinggangku dengan sangat kencang, sehingga aku harus berjalan dengan cukup lama.
Anak-anak yang masuk bersamaku tadi membuat keributan dengan membawa rombongan yang masuk di belakang dan menggoda para hantunya. Di saat ruangan mulai menyempit, mereka berusaha kembali ke belakang karena ketakutan. Lantas, mereka berteriak, “Maju duluan, Om!” aku yang tidak menyadari bahwa seruan itu adalah untukku malah hanya berdiam saja. Awalnya kukira teriakan itu di tujukan untuk Oki.
“Woy, maju, dong!” seorang kru Rumah Hantu yang berperan menjadi pocong memarahi anak-anak tadi. Ya, sebuah kejadian yang jarang melihat seorang anak-anak di omeli oleh seocang ‘pocong’. Salah satu teman mereka yang perempuan tanpa sengaja memeluk Oki dan terlihat meminta sesuatu kepadanya. Karena di dalam sangat gelap, aku tak dapat melihat apa yang terjadi saat itu.
Sepertinya Tasya juga belum menyadari hal itu, dan terus berteriak bersama Harrys sambil dengan kencang memelukku. Akhirnya setelah cukup lama, kami keluar dari tempat tersebut dan mendapati muka Tasya sudah pucat. Persis seperti yang terjadi tahun lalu. Tapi, sepertinya, kali ini tidak bisa menertawakannya lagi seperti tahun lalu.
“Lho, Fira sama Oki kemana?” ujar Tasya kebingungan sambil melihat-lihat sekitar.
“Itu bukan?” aku menunjuk sepasang kekasih yang terlihat seperti sedang bertengkar. Tasya langsung melihat ke arah yang ku tunjuk barusan dengan ekspresi terkejut.
“Kenapa mereka?” Tasya langsung menarik aku dan Harrys agar mendekat ke arahnya. Ia terlihat sangat panik. Ketika kami mendekat, nampak Oki terlihat sangat kesal, sementara Fira memasang muka cuek.
“Hei, kalian kenapa?” Tasya mengeluarkan rasa simpatiknya dengan tampak gelisah.
Oki pun melempar sapu tangan milik Fira yang sedari tadi sudah ia pegang, “Ini, Sya! Gw mau nolongin anak-anak yang tadi, terus dia cemburu dan marah sama gw!” ia terlihat sangat ingin merasa meminta maaf atas ketidak salahan yang ia buat. Ia merasa ia melakukan tindakan yang tepat. Lantas, ia meninggalkan kami dengan perasaan sangat kesal. Fira pun menyusul Oki yang sudah pergi cukup jauh.
Tasya yang merasa bersimpatik itu tidak dapat melakukan apa-apa, hanya terdiam. Ya, sangat diam. Bahkan beberapa kali aku mendapati ia sedang melamun. Aku mengajaknya mengobrol, tapi ia hanya melamun saja, bahkan cenderung mengabaikan pertanyaanku.
“Harrys laper, nggak?” tanyaku kepada Harrys karena Tasya tak kunjung menjawab pertanyaanku.
“Lumayan, sih..” jawab Harrys yang cukup kaget dengan kejadian yang baru saja ia lihat.
“Makan di tempat yang biasa kita itu mau nggak?” ajakku kepada Harrys yang merujuk kepada sebuah minimarket bernuansa Jepang yang juga menjual beberapa makanan khas Jepang.
“Mau deh” kata Harrys dengan senang. Kami pun menuju ke minimarket tersebut yang tak jauh dari tempat kami sekarang. Aku pun memeluk Tasya yang masih terdiam karena masalah tadi, dan membawanya bersama Harrys.
Ia bahkan masih terdiam ketika aku meminta izin untuk membeli makanan dan minuman. “Kamu mau nitip nggak, sayang?” tanyaku padanya. Ia tak menoleh ke arahku. Aku anggap bahwa ia menyetujuinya, dan membelikan minuman teh kemasan kesukaannya.
Ketika kembali setelah membelikan makanan dan minuman, aku menaruh minuman kesukaannya itu di hadapannya. Akhirnya, ia menoleh ke arahku, dan kemudian tersenyum manis kembali seakan tak ada hal yang membuatnya terdiam sedari tadi. “Makasih ya, sayang..” ia membuka tutup botol itu lalu meminumnya dengan tenang. Namun tak menceritakaan apa yang terjadi padanya. Aku juga tak berani menanyakannya.
Kami pun berpisah sekitar pukul sepuluh malam, di mana Harrys sepertinya sudah cukup mengantuk. Di jam yang sudah cukup malam tersebut, tak mungkin untukku menaiki busway, sehingga harus menggunakan taksi seperti berangkat. “Jangan murung lagi ya, sayang..” ujarku sambil berpamitan. Ia menyalamiku, tepat persis seperti setahun lalu ketika aku ingin pulang dari tempat itu dengan menaiki taksi.
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan kejadian yang baru saja aku lihat tadi, sementara Harrys sudah tertidur pulas di dalam taksi dengan nyenyaknya.
“Sayang, aku baru nyampe rumah, nih..” tulisku di BBM.
Tak lama, ia membalasnya. “Maaf ya, dari tadi aku bengong terus.. Aku cuma bingung sama kejadian yang baru kita liat tadi.Aku nggak marah sama kamu atau kenapa-kenapa, cuma kepikiran aja, entah kenapa..”
Nampaknya aku cukup mengerti kesalah pahaman yang terjadi di sini. Rasa simpatik yang luar biasa dari Tasya terhadap sahabat karibnya sejak masa SMA tersebut. Aku iri pada mereka, yang ketika sudah lulus dan kerja pun masih bersahabat dengan akrab. Lantas, aku berpikir, ‘Akankah aku seperti ini juga dengan para sahabatku?’.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:53
0
