- Beranda
- Stories from the Heart
KISAH HORROR - Mereka Ada di Setiap Rumah! (TRUE STORY)
...
TS
novelajualkomik
KISAH HORROR - Mereka Ada di Setiap Rumah! (TRUE STORY)
Gan, perkenalkan. Namaku Ella. Sekarang aku sudah berusia 27 tahun. Aku lima bersaudara, kakak dan adik pertamaku adalah perempuan, sedangkan adik kedua dan ketigaku adalah laki-laki. Di sini, aku hendak menceritakan berbagai kisah mistis yang pernah aku alami pada saat usiaku masih lebih belia dari saat ini. Kejadiannya di beberapa rumah yang sempat aku tinggali sebelumnya. Sekarang aku sudah pindah ke rumah baru dan sekarang syukurnya sudah tidak banyak terjadi kejadian mistis, ya paling hanya beberapa saja yang tidak jadi masalah sama sekali buatku.
Sebelumnya, bagi siapapun yang menganggap bahwa cerita-ceritaku ini hanyalah hoax / karangan fiksi, keputusan aku kembalikan pada kalian masing-masing. Di sini aku hanya mau sharing pengalaman ghaib-ku, bukan memaksa orang untuk percaya. Hanya satu hal yang aku minta, jangan kasih aku bata jika telat update ceritanya, ya. Karena di Kaskus, aku lebih aktif sebagai seller di FJB yang masih merintis. Sebaliknya, cendol atau rate bintang 5 sangat diharapkan. Terimakasih.
Mohon maaf juga jika aku lambat dalam meng-update thread ini karena aku cukup sibuk di dunia nyata dan kejadian-kejadian yang harus aku ceritakan sudah cukup lama sehingga aku perlu waktu untuk mengingat dan menuliskannya dengan tepat tanpa ada satu hal-pun yang ditambah-tambahkan. Syukuri apa yang ada dulu ya, gan. Mudah-mudahan aku dapat menyelesaikan thread ini dengan bertahap walau membutuhkan waktu yang lama. Terimakasih.
*Buat yang nanya nama-nama kompleks dalam ceritaku, mohon maaf karena aku tidak akan memberitahukannya baik di thread ini ataupun melalui PM (PM cuma buat yang mau nanya atau beli daganganku di lapak
). Semua pertanyaan yang berkaitan dengan hal tersebut tidak akan aku respon. Aku tidak mau dianggap menjelek-jelekan suatu kompleks perumahan dan merugikan pihak-pihak tertentu. Niatku hanya sekedar share pengalaman mistis saja, tidak perlu diusut lebih mendalam ya, gan. Yang jelas, semua kompleks yang aku sebutkan di dalam cerita ini letaknya di Bekasi Utara. Jadi terka-terka sendiri aja dari berbagai petunjuk yang aku beri, ya. Mohon maaf juga jika ada komentar ataupun pertanyaan lainnya yang tidak sempat aku balas / terlewat, ya. Yang jelas, semua komentar agan pasti akan aku baca semuanya, kok 
Sebelumnya, bagi siapapun yang menganggap bahwa cerita-ceritaku ini hanyalah hoax / karangan fiksi, keputusan aku kembalikan pada kalian masing-masing. Di sini aku hanya mau sharing pengalaman ghaib-ku, bukan memaksa orang untuk percaya. Hanya satu hal yang aku minta, jangan kasih aku bata jika telat update ceritanya, ya. Karena di Kaskus, aku lebih aktif sebagai seller di FJB yang masih merintis. Sebaliknya, cendol atau rate bintang 5 sangat diharapkan. Terimakasih.
Mohon maaf juga jika aku lambat dalam meng-update thread ini karena aku cukup sibuk di dunia nyata dan kejadian-kejadian yang harus aku ceritakan sudah cukup lama sehingga aku perlu waktu untuk mengingat dan menuliskannya dengan tepat tanpa ada satu hal-pun yang ditambah-tambahkan. Syukuri apa yang ada dulu ya, gan. Mudah-mudahan aku dapat menyelesaikan thread ini dengan bertahap walau membutuhkan waktu yang lama. Terimakasih.

*Buat yang nanya nama-nama kompleks dalam ceritaku, mohon maaf karena aku tidak akan memberitahukannya baik di thread ini ataupun melalui PM (PM cuma buat yang mau nanya atau beli daganganku di lapak
). Semua pertanyaan yang berkaitan dengan hal tersebut tidak akan aku respon. Aku tidak mau dianggap menjelek-jelekan suatu kompleks perumahan dan merugikan pihak-pihak tertentu. Niatku hanya sekedar share pengalaman mistis saja, tidak perlu diusut lebih mendalam ya, gan. Yang jelas, semua kompleks yang aku sebutkan di dalam cerita ini letaknya di Bekasi Utara. Jadi terka-terka sendiri aja dari berbagai petunjuk yang aku beri, ya. Mohon maaf juga jika ada komentar ataupun pertanyaan lainnya yang tidak sempat aku balas / terlewat, ya. Yang jelas, semua komentar agan pasti akan aku baca semuanya, kok 
Quote:
Diubah oleh novelajualkomik 21-04-2015 20:27
wisudajuni dan 5 lainnya memberi reputasi
6
432.1K
2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
novelajualkomik
#2
CERITA I - OPENING
Ini adalah rumah pertamaku di Bekasi setelah pindah dari Jakarta. Lokasinya menurutku cukup strategis, di tengah kompleks, dekat dengan danau yang selalu ramai tiap sorenya. Saat itu aku masih duduk di kelas VI SD. Tidak banyak keanehan yang terjadi di sana karena fokus ceritaku sebenarnya adalah pada rumahku berikutnya yang sangat angker. Tapi aku mau share sedikit kisah mistis di rumahku yang satu ini sebagai pembukaan.
Aku mungkin dapat dikatakan sebagai orang yang paling sensitif dan berani di keluargaku. Hawa ataupun wewangian aneh yang tidak dirasakan oleh orang lain, aku dapat merasakannya dengan amat jelas. Tapi hal ghaib yang terjadi di rumah ini ternyata dapat dirasakan oleh semua orang di rumah, kecuali orang tuaku, karena mereka baru akan berada di rumah ketika malam sudah tiba karena pekerjaannya.
Lokasi rumahku di dalam suatu kompleks perumahan di Bekasi Utara, letak rumahku di paling pojok (hook) yang sebelah kirinya adalah tanah kosong, dan di sebelah kirinya lagi adalah tembok tinggi pembatas kompleks perumahanku dengan perumahan yang lain
.
Singkat cerita, bertahun-tahun aku tinggal di sana, nyaman dan aman saja tanpa ada masalah ataupun kejadian aneh yang berarti. Hingga saat aku sudah duduk di kelas 1 SMU, nampaknya penghuni di sana baru mulai berniat untuk iseng. Konon kudengar, kompleks perumahanku dibangun di atas lahan pembuangan mayat pada zaman penjajahan Belanda dulu. Dari desas-desus yang kudengar dari banyak tetangga, sudah banyak kisah penampakan tentara Belanda ataupun wanita Belanda dengan gaunnya yang mengembang itu.
Cukup dengan rumor, kini fokus kembali ke rumahku. Pada saat itu, rumahku memiliki 2 lantai. Sedangkan rumah di sekelilingku sama sekali tidak ada yang bertingkat 2. Aku tidak bermaksud sombong, karena kisah mistis yang akan kuceritakan akan berhubungan dengan lantai atas rumahku.
Jadi sebenarnya, selama bertahun-tahun itu kamar-kamar di lantai 2 rumahku tidak ada yang menempati. Di sana hanya terdapat balkon, ruang keluarga yang sangat luas, 2 buah kamar, satu adalah kamar tidur utama orang tuaku yang cukup luas, dan satu lagi adalah kamar pembantu yang lebih kecil. Kamar pembantu ini akhirnya dijadikan gudang karena ibuku tidak pernah betah jika memiliki pembantu Rumah Tangga (PRT), terutama karena kasus yang terjadi pada PRT terakhir kami yang ternyata menyukai ayahku sehingga membuat ibuku sangat berang dan tak mau lagi memiliki PRT sejak saat itu.
Kamar orang tuaku juga dibiarkan kosong karena mereka berdua ternyata tidak cukup berani untuk menempati kamar tersebut. Akhirnya mereka tinggal dalam satu kamar di lantai 1 bersama adik laki-laki pertamaku yang paling kecil, saat itu ia masih balita. Jadilah lantai 2 rumahku selalu dan selalu kosong setiap harinya selama bertahun-tahun walau masih sering dijaga juga kebersihannya. Lampu juga terkadang tidak dinyalakan sama sekali ketika malam tiba. Lantai tersebut paling hanya digunakan ketika sedang banyak saudara yang datang berkunjung.
Nah, yang aneh adalah karena tiap malam, dari lantai 2 selalu terdengar bunyi yang sangat aneh. Bunyi aneh ini dapat didengar baik olehku, kakak-ku maupun adik-ku dari lantai 1. Bunyinya terdengar seperti sofa yang sedang digeser. Sofa-sofa di lantai 2 sangatlah besar dan berat, aku jamin, satu orang takkan kuat untuk mengangkatnya. Paling hanya dapat memindahkannya dengan cara menarik ataupun mendorong. Geseran tersebut akan menimbulkan getaran ke lantai bawah dan bunyi yang cukup terdengar jelas seperti “KRIEEETTT...” karena gesekan antara kayu pada sofa dengan lantai keramik.
Masalahnya, bunyi tersebut hanya muncul ketika malam sudah tiba (terutama ketika lampu sedang tidak dinyalakan) dan tidak ada seorang pun di atas sana. Aku pernah mencoba untuk memastikannya pada suatu siang. Kakak dan adik kusuruh untuk menggeser salah satu sofa di lantai atas, sementara aku mencoba untuk mendengarkan bunyi yang dihasilkannya dari lantai bawah. Dan, bunyi itu benar-benar persis sama seperti yang selalu kami dengar tiap malam. Berapa kali kami memberitahukan hal ini pada orang tua pun, mereka tidak pernah percaya.
Akhirnya bunyi itu sudah menjadi hal biasa yang sudah tidak pernah kami hiraukan lagi. Namun ternyata tak lama setelah dimulainya bunyi aneh itu, kini tiap malam juga terdengar bunyi aneh yang lain lagi. Kali ini bunyinya adalah seperti banyak orang yang sedang berlarian di lantai 2. Sangat jelas. “DUK! DUK! DUK! DUK!” Suara langkah kaki beberapa orang yang sedang berlari dengan kencang, sehingga dentumannya amat terasa hingga ke lantai bawah. Terkadang ketika bunyi itu muncul, kami semua hanya bisa menatap langit-langit lantai 1 sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sempat aku berpikir, apa mungkin bunyi-bunyi tersebut berasal dari rumah tetanggaku yang merambat hingga ke rumahku? Tapi anggapan ini begitu dapat dengan mudah ditepis. Bunyi tersebut jelas berasal dari lantai atas sedangkan tetangga di sekelilingku tidak ada yang rumahnya bertingkat. Lagipula, getarannya sangat dapat dirasakan dari lantai bawah. Terlebih lagi setelah kejadian selanjutnya.
OK, aku pikir misteri ini harus dipecahkan. Suatu malam, ketika kedua bunyi tersebut sedang terdengar dengan jelas. Bermodalkan nekat, kami bertiga memutuskan untuk mengecek ke lantai atas pada saat itu juga. Kami berjalan mengendap-endap menyusuri tangga, berharap ketika sampai di lantai atas, kami akan menangkap basah orang ataupun makhluk yang menimbulkan bunyi aneh itu tiap malamnya. Setiap anak tangga yang kami naiki akan menambah jelas bunyi-bunyian tersebut di telinga kami.
Hampir sampai ke lantai atas, baru kami sadari kalau ternyata lampu sedang tidak dinyalakan. Suasana di sana sangat gelap (pitch black), tak nampak apapun yang dapat kami lihat saking gelapnya. Untungnya, tombol untuk menyalakan lampu ada di dekat situ. Bunyi tersebut kini terdengar sangat jelas di depan kami. Bunyi sofa yang sedang diseret-seret sehingga lantainya bergetar, juga bunyi orang yang sesekali terdengar sedang berlari menjauh ataupun mendekati kami lalu menghilang begitu saja. Peluhku mulai menetes dan degup jantungku sudah tidak dapat diatur. Apapun yang akan kami lihat malam itu, maling ataupun hantu, aku sudah siap mental.
“BLAR!” Aku berhasil menyalakan lampu dan saat itu juga bunyi-bunyian tersebut lenyap. Dari apa yang aku lihat, semua posisi sofa masih pada tempatnya semula. Bukan hanya itu, semua posisi benda lainnya pun tidak ada yang berubah. Aku bingung, lantas bunyi seretan tersebut berasal dari mana? Dan ke mana bunyi orang-orang yang berlarian tadi? Belum habis rasa bingungku, tiba-tiba kami dikejutkan oleh bunyi gayung jatuh dari dalam kamar mandi di dalam ruang tidur orang tuaku yang berada di lantai tersebut. Kamar tersebut sudah bertahun-tahun tidak ditempati walaupun di dalamnya sudah dilengkapi berbagai perabot.
Kepalang tanggung, kami memutuskan untuk mengeceknya juga untuk menuntaskan rasa penasaran kami. Saat itu pintu kamar masih tertutup walau tidak dikunci. Setelah kami buka dan lampu dinyalakan, tidak ada hal aneh yang kami lihat. Perhatian kami kembali tertuju pada kamar mandi asal bunyi yang sempat mengagetkan kami tadi. Perlahan kami mendekati kamar mandi yang masih gelap itu. Maling? “Tidak mungkin ada manusia yang dapat menembus pintu ataupun tembok kamar tidur lalu bersembunyi di dalam kamar mandi,” pikirku saat itu.
Dan benar saja, ketika lampu dinyalakan, kami hanya mendapati gayung yang tergeletak di lantai kamar mandi tanpa ada seorang atau apapun di sana. Karena misteri belum dapat dipecahkan, kami memutuskan untuk kembali turun ke lantai bawah dengan membiarkan semua lampu menyala di lantai atas. Dan begitu kami kembali ke ruang tamu di bawah, bunyi-bunyian aneh di lantai atas tersebut kembali terdengar seperti biasa. Pikirku, mungkin itu hantu anak-anak yang sedang bermain bersama teman-temannya karena ruang keluarga di atas sangat lapang sehingga bisa dijadikan tempat bermain kejar-kejaran untuk anak-anak.
Berulang kali kami berusaha untuk menangkap basah, hal nihil-lah yang selalu kami dapatkan hingga terkadang kami bosan dan berusaha untuk tidak menghiraukannya walau bunyi-bunyian tersebut sebenarnya cukup mengganggu, apalagi ketika aku sedang belajar di dalam kamar. Dan berkali-kali kami mengadukannya ke orang tua pun, mereka tidak pernah percaya.
Hingga akhirnya, pada suatu malam, ketika aku pulang ke rumah bersama ibu, kakak dan adikku dari rumah saudara, kami mendapati ayah yang sedang duduk tertegun sendirian di ruang tamu dengan tatapan kosong. Begitu ditanya, ia tidak mau menjawab dan megajak ibu untuk masuk ke kamar serta menyuruh kami, para anak-anak, untuk segera tidur karena hari sudah mulai larut malam. Esok harinya pun kami masih belum tahu mengapa ayah berperilaku aneh kemarin malam. Beberapa hari kemudian, ibu kami baru memberitahukan kejadian sebenarnya yang dialami ayah pada malam itu.
Katanya, pada malam itu, saat ayah sedang menonton TV sendirian di ruang tamu, ia mendengar bunyi-bunyian yang selama ini kami dengar. Ayahku ini sebenarnya penakut, namun ia ingin membuktikan perkataan anak-anaknya selama ini yang tidak pernah ia percaya. Akhirnya ia pun menyusuri tangga, naik perlahan menuju lantai 2. Saat itu juga katanya lampu sedang tidak dinyalakan. Ayahku terus mendengar bunyi sofa yang diseret-seret dan orang-orang berlarian ke sana-kemari. Tiba-tiba ayahku berteriak ketika ada seseorang yang berteriak sangat keras tepat di depan kupingnya, “HAAAAGG!” begitu kira-kira suara yang ia dengar saat itu.
Panik, ayahku langsung segera menyalakan lampu dan sama seperti kami, ia pun tidak mendapati apapun di sana saat itu. Bunyi-bunyian tadi juga seketika itu menghilang. Karena ketakutan, ayahku segera turun ke lantai bawah. Setelah berada di lantai 1, ayahku merasa seperti ada orang yang mengikutinya. Karenanya, ketika sudah berada di samping tangga, ayahku menoleh ke arah tangga dan memastikan bahwa tidak ada apapun di sana. Namun akhirnya pandangan matanya tertahan pada anak tangga paling atas menuju lantai 2. Cukup lama ia pandangi anak tangga itu dari samping seolah akan ada seseorang yang akan turun dari sana.
Dan benar saja, kata ayahku, saat cukup lama memperhatikan dan berniat untuk meninggalkan tempat itu, tiba-tiba muncul sebuah kaki berwarna pucat dari lantai atas dan berhenti menapak di anak tangga paling atas. Dalam keterkejutannya, ayahku hendak memeriksa siapa pemilik kaki itu. Dan ketika ia baru melangkahkan kakinya satu langkah kembali menuju tangga, nyalinya kembali diciutkan dengan munculnya kaki-kaki lain yang juga turun dari lantai atas dan berhenti menapak di anak tangga paling atas. Semuanya berwarna pucat. Dan akhirnya ayahku mengurungkan niatnya, ia segera meninggalkan dapur tempat tangga itu berada. Sesaat sebelum meninggalkan area dapur, ayahku kembali menoleh ke anak tangga paling atas dan dilihatnya semua kaki tersebut kembali ditarik naik ke lantai atas dengan serentak.
Nah, ‘berkat’ kejadian tersebut, akhirnya orang tua kami (paling tidak, ayah kami), akhirnya bisa percaya pada perkataan kami selama ini. Selang beberapa bulan setelah kejadian tersebut, keluargaku bertengkar hebat dengan keluarga saudaraku yang juga menetap di kompleks itu dan ditonton banyak tetangga. Kejadian yang memalukan tersebut, ditambah dengan suasana rumah yang memang mulai tidak nyaman, akhirnya membuat kami semua memutuskan untuk pindah rumah untuk mencari suasana dan lingkungan baru yang lebih menenangkan. Dan ternyata, rumah baru kami jauh lebih angker dari rumah sebelumnya. Di sanalah kesensitifan dan keberanianku benar-benar akan diuji, puluhan kejadian mistis tak masuk diakal terus menghantui keluarga kami selama tinggal di sana. Rumah tersebutlah fokus cerita yang sebenarnya ingin aku share kepada kalian semua.
N.B
(Oh iya, setelah pindah rumah bertahun-tahun, tak pernah sekalipun aku kembali ke kompleks itu untuk sekedar melihat rumah lamaku itu. Tapi beberapa bulan yang lalu, aku sempat kembali mengunjungi dan melihat rumah itu lagi bersama temanku. Kompleks perumahannya kini jauh lebih memprihatinkan, lampu-lampu jalan banyak yang tidak berfungsi sehingga pada malam itu, mobil kami bagai menyusuri kuburan. Tidak ada aktifitas apapun dari para penghuninya di luar rumah. Semua bagian jalan terlihat sepi. Dan kabarnya, kudengar belakangan ini kompleks tersebut sedang digemparkan dengan seringnya kemunculan Kuntilanak yang iseng hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya dan mengerjai orang yang lewat pada malam hari. Kalau lagi pindah pohon dengan terbang, katanya suara ketawa Miss K ini kencang banget sehingga bisa didengar cukup banyak orang. Sudah banyak pengaduan petugas ronda yang dikerjai ataupun sekedar ditertawakan Miss K ini dari atas pohon yang tentunya langsung membuat mereka lari terbirit-birit. Kabar ini kudapat dari saudaraku yang masih tinggal di kompleks itu, tapi bukan dari keluarga saudara yang bertengkar hebat dengan keluarga itu, ya. Dulu waktu keluargaku masih tinggal di kompleks itu, di sana ada 5 keluarga lainnya dari saudaraku yang menetap berdekatan juga di sana. Tapi sekarang tinggal 2 keluarga saja.)
Ini adalah rumah pertamaku di Bekasi setelah pindah dari Jakarta. Lokasinya menurutku cukup strategis, di tengah kompleks, dekat dengan danau yang selalu ramai tiap sorenya. Saat itu aku masih duduk di kelas VI SD. Tidak banyak keanehan yang terjadi di sana karena fokus ceritaku sebenarnya adalah pada rumahku berikutnya yang sangat angker. Tapi aku mau share sedikit kisah mistis di rumahku yang satu ini sebagai pembukaan.
Aku mungkin dapat dikatakan sebagai orang yang paling sensitif dan berani di keluargaku. Hawa ataupun wewangian aneh yang tidak dirasakan oleh orang lain, aku dapat merasakannya dengan amat jelas. Tapi hal ghaib yang terjadi di rumah ini ternyata dapat dirasakan oleh semua orang di rumah, kecuali orang tuaku, karena mereka baru akan berada di rumah ketika malam sudah tiba karena pekerjaannya.
Lokasi rumahku di dalam suatu kompleks perumahan di Bekasi Utara, letak rumahku di paling pojok (hook) yang sebelah kirinya adalah tanah kosong, dan di sebelah kirinya lagi adalah tembok tinggi pembatas kompleks perumahanku dengan perumahan yang lain
.
Singkat cerita, bertahun-tahun aku tinggal di sana, nyaman dan aman saja tanpa ada masalah ataupun kejadian aneh yang berarti. Hingga saat aku sudah duduk di kelas 1 SMU, nampaknya penghuni di sana baru mulai berniat untuk iseng. Konon kudengar, kompleks perumahanku dibangun di atas lahan pembuangan mayat pada zaman penjajahan Belanda dulu. Dari desas-desus yang kudengar dari banyak tetangga, sudah banyak kisah penampakan tentara Belanda ataupun wanita Belanda dengan gaunnya yang mengembang itu.
Cukup dengan rumor, kini fokus kembali ke rumahku. Pada saat itu, rumahku memiliki 2 lantai. Sedangkan rumah di sekelilingku sama sekali tidak ada yang bertingkat 2. Aku tidak bermaksud sombong, karena kisah mistis yang akan kuceritakan akan berhubungan dengan lantai atas rumahku.
Jadi sebenarnya, selama bertahun-tahun itu kamar-kamar di lantai 2 rumahku tidak ada yang menempati. Di sana hanya terdapat balkon, ruang keluarga yang sangat luas, 2 buah kamar, satu adalah kamar tidur utama orang tuaku yang cukup luas, dan satu lagi adalah kamar pembantu yang lebih kecil. Kamar pembantu ini akhirnya dijadikan gudang karena ibuku tidak pernah betah jika memiliki pembantu Rumah Tangga (PRT), terutama karena kasus yang terjadi pada PRT terakhir kami yang ternyata menyukai ayahku sehingga membuat ibuku sangat berang dan tak mau lagi memiliki PRT sejak saat itu.
Kamar orang tuaku juga dibiarkan kosong karena mereka berdua ternyata tidak cukup berani untuk menempati kamar tersebut. Akhirnya mereka tinggal dalam satu kamar di lantai 1 bersama adik laki-laki pertamaku yang paling kecil, saat itu ia masih balita. Jadilah lantai 2 rumahku selalu dan selalu kosong setiap harinya selama bertahun-tahun walau masih sering dijaga juga kebersihannya. Lampu juga terkadang tidak dinyalakan sama sekali ketika malam tiba. Lantai tersebut paling hanya digunakan ketika sedang banyak saudara yang datang berkunjung.
Nah, yang aneh adalah karena tiap malam, dari lantai 2 selalu terdengar bunyi yang sangat aneh. Bunyi aneh ini dapat didengar baik olehku, kakak-ku maupun adik-ku dari lantai 1. Bunyinya terdengar seperti sofa yang sedang digeser. Sofa-sofa di lantai 2 sangatlah besar dan berat, aku jamin, satu orang takkan kuat untuk mengangkatnya. Paling hanya dapat memindahkannya dengan cara menarik ataupun mendorong. Geseran tersebut akan menimbulkan getaran ke lantai bawah dan bunyi yang cukup terdengar jelas seperti “KRIEEETTT...” karena gesekan antara kayu pada sofa dengan lantai keramik.
Masalahnya, bunyi tersebut hanya muncul ketika malam sudah tiba (terutama ketika lampu sedang tidak dinyalakan) dan tidak ada seorang pun di atas sana. Aku pernah mencoba untuk memastikannya pada suatu siang. Kakak dan adik kusuruh untuk menggeser salah satu sofa di lantai atas, sementara aku mencoba untuk mendengarkan bunyi yang dihasilkannya dari lantai bawah. Dan, bunyi itu benar-benar persis sama seperti yang selalu kami dengar tiap malam. Berapa kali kami memberitahukan hal ini pada orang tua pun, mereka tidak pernah percaya.
Akhirnya bunyi itu sudah menjadi hal biasa yang sudah tidak pernah kami hiraukan lagi. Namun ternyata tak lama setelah dimulainya bunyi aneh itu, kini tiap malam juga terdengar bunyi aneh yang lain lagi. Kali ini bunyinya adalah seperti banyak orang yang sedang berlarian di lantai 2. Sangat jelas. “DUK! DUK! DUK! DUK!” Suara langkah kaki beberapa orang yang sedang berlari dengan kencang, sehingga dentumannya amat terasa hingga ke lantai bawah. Terkadang ketika bunyi itu muncul, kami semua hanya bisa menatap langit-langit lantai 1 sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sempat aku berpikir, apa mungkin bunyi-bunyi tersebut berasal dari rumah tetanggaku yang merambat hingga ke rumahku? Tapi anggapan ini begitu dapat dengan mudah ditepis. Bunyi tersebut jelas berasal dari lantai atas sedangkan tetangga di sekelilingku tidak ada yang rumahnya bertingkat. Lagipula, getarannya sangat dapat dirasakan dari lantai bawah. Terlebih lagi setelah kejadian selanjutnya.
OK, aku pikir misteri ini harus dipecahkan. Suatu malam, ketika kedua bunyi tersebut sedang terdengar dengan jelas. Bermodalkan nekat, kami bertiga memutuskan untuk mengecek ke lantai atas pada saat itu juga. Kami berjalan mengendap-endap menyusuri tangga, berharap ketika sampai di lantai atas, kami akan menangkap basah orang ataupun makhluk yang menimbulkan bunyi aneh itu tiap malamnya. Setiap anak tangga yang kami naiki akan menambah jelas bunyi-bunyian tersebut di telinga kami.
Hampir sampai ke lantai atas, baru kami sadari kalau ternyata lampu sedang tidak dinyalakan. Suasana di sana sangat gelap (pitch black), tak nampak apapun yang dapat kami lihat saking gelapnya. Untungnya, tombol untuk menyalakan lampu ada di dekat situ. Bunyi tersebut kini terdengar sangat jelas di depan kami. Bunyi sofa yang sedang diseret-seret sehingga lantainya bergetar, juga bunyi orang yang sesekali terdengar sedang berlari menjauh ataupun mendekati kami lalu menghilang begitu saja. Peluhku mulai menetes dan degup jantungku sudah tidak dapat diatur. Apapun yang akan kami lihat malam itu, maling ataupun hantu, aku sudah siap mental.
“BLAR!” Aku berhasil menyalakan lampu dan saat itu juga bunyi-bunyian tersebut lenyap. Dari apa yang aku lihat, semua posisi sofa masih pada tempatnya semula. Bukan hanya itu, semua posisi benda lainnya pun tidak ada yang berubah. Aku bingung, lantas bunyi seretan tersebut berasal dari mana? Dan ke mana bunyi orang-orang yang berlarian tadi? Belum habis rasa bingungku, tiba-tiba kami dikejutkan oleh bunyi gayung jatuh dari dalam kamar mandi di dalam ruang tidur orang tuaku yang berada di lantai tersebut. Kamar tersebut sudah bertahun-tahun tidak ditempati walaupun di dalamnya sudah dilengkapi berbagai perabot.
Kepalang tanggung, kami memutuskan untuk mengeceknya juga untuk menuntaskan rasa penasaran kami. Saat itu pintu kamar masih tertutup walau tidak dikunci. Setelah kami buka dan lampu dinyalakan, tidak ada hal aneh yang kami lihat. Perhatian kami kembali tertuju pada kamar mandi asal bunyi yang sempat mengagetkan kami tadi. Perlahan kami mendekati kamar mandi yang masih gelap itu. Maling? “Tidak mungkin ada manusia yang dapat menembus pintu ataupun tembok kamar tidur lalu bersembunyi di dalam kamar mandi,” pikirku saat itu.
Dan benar saja, ketika lampu dinyalakan, kami hanya mendapati gayung yang tergeletak di lantai kamar mandi tanpa ada seorang atau apapun di sana. Karena misteri belum dapat dipecahkan, kami memutuskan untuk kembali turun ke lantai bawah dengan membiarkan semua lampu menyala di lantai atas. Dan begitu kami kembali ke ruang tamu di bawah, bunyi-bunyian aneh di lantai atas tersebut kembali terdengar seperti biasa. Pikirku, mungkin itu hantu anak-anak yang sedang bermain bersama teman-temannya karena ruang keluarga di atas sangat lapang sehingga bisa dijadikan tempat bermain kejar-kejaran untuk anak-anak.
Berulang kali kami berusaha untuk menangkap basah, hal nihil-lah yang selalu kami dapatkan hingga terkadang kami bosan dan berusaha untuk tidak menghiraukannya walau bunyi-bunyian tersebut sebenarnya cukup mengganggu, apalagi ketika aku sedang belajar di dalam kamar. Dan berkali-kali kami mengadukannya ke orang tua pun, mereka tidak pernah percaya.
Hingga akhirnya, pada suatu malam, ketika aku pulang ke rumah bersama ibu, kakak dan adikku dari rumah saudara, kami mendapati ayah yang sedang duduk tertegun sendirian di ruang tamu dengan tatapan kosong. Begitu ditanya, ia tidak mau menjawab dan megajak ibu untuk masuk ke kamar serta menyuruh kami, para anak-anak, untuk segera tidur karena hari sudah mulai larut malam. Esok harinya pun kami masih belum tahu mengapa ayah berperilaku aneh kemarin malam. Beberapa hari kemudian, ibu kami baru memberitahukan kejadian sebenarnya yang dialami ayah pada malam itu.
Katanya, pada malam itu, saat ayah sedang menonton TV sendirian di ruang tamu, ia mendengar bunyi-bunyian yang selama ini kami dengar. Ayahku ini sebenarnya penakut, namun ia ingin membuktikan perkataan anak-anaknya selama ini yang tidak pernah ia percaya. Akhirnya ia pun menyusuri tangga, naik perlahan menuju lantai 2. Saat itu juga katanya lampu sedang tidak dinyalakan. Ayahku terus mendengar bunyi sofa yang diseret-seret dan orang-orang berlarian ke sana-kemari. Tiba-tiba ayahku berteriak ketika ada seseorang yang berteriak sangat keras tepat di depan kupingnya, “HAAAAGG!” begitu kira-kira suara yang ia dengar saat itu.
Panik, ayahku langsung segera menyalakan lampu dan sama seperti kami, ia pun tidak mendapati apapun di sana saat itu. Bunyi-bunyian tadi juga seketika itu menghilang. Karena ketakutan, ayahku segera turun ke lantai bawah. Setelah berada di lantai 1, ayahku merasa seperti ada orang yang mengikutinya. Karenanya, ketika sudah berada di samping tangga, ayahku menoleh ke arah tangga dan memastikan bahwa tidak ada apapun di sana. Namun akhirnya pandangan matanya tertahan pada anak tangga paling atas menuju lantai 2. Cukup lama ia pandangi anak tangga itu dari samping seolah akan ada seseorang yang akan turun dari sana.
Dan benar saja, kata ayahku, saat cukup lama memperhatikan dan berniat untuk meninggalkan tempat itu, tiba-tiba muncul sebuah kaki berwarna pucat dari lantai atas dan berhenti menapak di anak tangga paling atas. Dalam keterkejutannya, ayahku hendak memeriksa siapa pemilik kaki itu. Dan ketika ia baru melangkahkan kakinya satu langkah kembali menuju tangga, nyalinya kembali diciutkan dengan munculnya kaki-kaki lain yang juga turun dari lantai atas dan berhenti menapak di anak tangga paling atas. Semuanya berwarna pucat. Dan akhirnya ayahku mengurungkan niatnya, ia segera meninggalkan dapur tempat tangga itu berada. Sesaat sebelum meninggalkan area dapur, ayahku kembali menoleh ke anak tangga paling atas dan dilihatnya semua kaki tersebut kembali ditarik naik ke lantai atas dengan serentak.
Nah, ‘berkat’ kejadian tersebut, akhirnya orang tua kami (paling tidak, ayah kami), akhirnya bisa percaya pada perkataan kami selama ini. Selang beberapa bulan setelah kejadian tersebut, keluargaku bertengkar hebat dengan keluarga saudaraku yang juga menetap di kompleks itu dan ditonton banyak tetangga. Kejadian yang memalukan tersebut, ditambah dengan suasana rumah yang memang mulai tidak nyaman, akhirnya membuat kami semua memutuskan untuk pindah rumah untuk mencari suasana dan lingkungan baru yang lebih menenangkan. Dan ternyata, rumah baru kami jauh lebih angker dari rumah sebelumnya. Di sanalah kesensitifan dan keberanianku benar-benar akan diuji, puluhan kejadian mistis tak masuk diakal terus menghantui keluarga kami selama tinggal di sana. Rumah tersebutlah fokus cerita yang sebenarnya ingin aku share kepada kalian semua.
N.B
(Oh iya, setelah pindah rumah bertahun-tahun, tak pernah sekalipun aku kembali ke kompleks itu untuk sekedar melihat rumah lamaku itu. Tapi beberapa bulan yang lalu, aku sempat kembali mengunjungi dan melihat rumah itu lagi bersama temanku. Kompleks perumahannya kini jauh lebih memprihatinkan, lampu-lampu jalan banyak yang tidak berfungsi sehingga pada malam itu, mobil kami bagai menyusuri kuburan. Tidak ada aktifitas apapun dari para penghuninya di luar rumah. Semua bagian jalan terlihat sepi. Dan kabarnya, kudengar belakangan ini kompleks tersebut sedang digemparkan dengan seringnya kemunculan Kuntilanak yang iseng hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya dan mengerjai orang yang lewat pada malam hari. Kalau lagi pindah pohon dengan terbang, katanya suara ketawa Miss K ini kencang banget sehingga bisa didengar cukup banyak orang. Sudah banyak pengaduan petugas ronda yang dikerjai ataupun sekedar ditertawakan Miss K ini dari atas pohon yang tentunya langsung membuat mereka lari terbirit-birit. Kabar ini kudapat dari saudaraku yang masih tinggal di kompleks itu, tapi bukan dari keluarga saudara yang bertengkar hebat dengan keluarga itu, ya. Dulu waktu keluargaku masih tinggal di kompleks itu, di sana ada 5 keluarga lainnya dari saudaraku yang menetap berdekatan juga di sana. Tapi sekarang tinggal 2 keluarga saja.)
1