- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#18
F Part 2
Setiap hari gue sengaja untuk tidak terlalu lama berada di rumah. Gue berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah dan pulang larut-selarutnya ke rumah. Tujuannya satu, hanya untuk menghindar dari orang rumah. Gue bosan berurusan dengan ibu gue yang mendadak sok perhatian dengan gue, males menanggapi si Ani yang mencoba mendekati gue dan juga tidak mau tahu tentang si Burhan.
Gue sengaja pulang jam 7 malam. Hp gue sengaja gue non-aktifkan. Ketika gue sampai di rumah dan menutup pintu yang gue harapkan adalah orang rumah sudah tidur. Tapi nyatanya tidak, mereka menunggu gue dan sepertinya khawatir. Ibu langsung menghampiri gue saat itu.
“Darimana saja kamu?”
“Kamu darimana? Kami sangat khawatir” Kata Burhan yang menghampiri kemudian.
“Kenapa emang? Gak boleh?”
“Kamu itu kan anak perempuan, ibu khawatir kalau terjadi apa-apa sama kamu, Fe.”
“Habis main dari rumah Andrea, kok.”
“Yasudah, sekarang mari kita makan malam. Tadi ibu sama Ani sengaja masak masakan favorit kamu.”
“Gak laper.”
“Ayolah jangan begitu, mubadzir entar masakanya, sayang.”
Ibu langsung menarik tangan gue dan membawa gue ke meja makan. Gue terpaksa menurut kemauan ibu gue. Disana sudah berada Ani si gadis polos beserta masakan yang dimasaknya. Gue kemudian duduk di sebelah Ani berhadapan dengan ibu dan Burhan di depan gue. Gue sengaja mengambil nasi sedikit supaya gue bisa cepat-cepat keluar dari neraka ini. Gue tidak nyaman bersama orang-orang yang gue gak sukai.
“Hallo, kak Fe. Maaf ya kalau masakanya kuang begitu enak. Ini aku baru pertama kali belajar masak disini dibantu ibu.”
Gue mengerutkan dahi lalu memandangi si bocah kurang ajar ini. Enak saja ngaku-ngaku ibu. Siapa elu? Gue hanya tersenyum sinis ke arah dia lalu melanjutkan makan. Malam itu di meja makan tampak ibu dan Burhan sangat menikmati obrolan mereka mengenai rencana liburan nanti. Lagi-lagi bocah yang bernama Ani sangat bersemangat menanggapi obrolan mereka. Gue ketika ditanya hanya “Iyaaaa.”
“Ya..” “uh-huh, “Terserah”, dsb. Sikap gue yang cuek tentu dirasakan oleh manusia baru di rumah dan sekali lagi gue bodo amat.
“Oh ya, Felisha, nanti kuliah mau ngambil jurusan apa?” Burhan sepertinya mulai sok dekat.
“Akuntansi.”
“Sayang, papa mu ini dulunya kuliah di akuntansi loh.”
Terus gue peduli gitu dengar omongan ibu mengenai latar belakang si Burhan ini? Lagian gak geli juga gue denger kata “papa”. Ampun ibu, aku akan segera pergi dari sini.
“Iya, sekali-kali, saya ajarin kamu Akuntansi Fe.”
“Kapan-kapan.”
Gue langsung pergi meninggalkan meja makan menyisakan sedikit makanan yang belum gue habisin. Gue pengen beristirahat dan terlalu lelah untuk bersama mereka bertiga. Gue langsung ke kamar gue dan segera mengganti baju sekolah yang masih gue kenakan.
Tok…Tok…Tok…
“Kakak, Fe.”
………………….
“Ada apa?” Gue membuka pintu dan sedikit memberikan ruang kepada Ani.
“Aku boleh masuk?”
“Lu gak baca itu stiker?”
“Do not enter?”
“Iya.” Dengan tegas gue menutup pintu kamar gue. Walaupun tidak terlalu keras tapi cukup untuk memberikan sinyal penolakan gue kepada Ani.
Gue sengaja pulang jam 7 malam. Hp gue sengaja gue non-aktifkan. Ketika gue sampai di rumah dan menutup pintu yang gue harapkan adalah orang rumah sudah tidur. Tapi nyatanya tidak, mereka menunggu gue dan sepertinya khawatir. Ibu langsung menghampiri gue saat itu.
“Darimana saja kamu?”
“Kamu darimana? Kami sangat khawatir” Kata Burhan yang menghampiri kemudian.
“Kenapa emang? Gak boleh?”
“Kamu itu kan anak perempuan, ibu khawatir kalau terjadi apa-apa sama kamu, Fe.”
“Habis main dari rumah Andrea, kok.”
“Yasudah, sekarang mari kita makan malam. Tadi ibu sama Ani sengaja masak masakan favorit kamu.”
“Gak laper.”
“Ayolah jangan begitu, mubadzir entar masakanya, sayang.”
Ibu langsung menarik tangan gue dan membawa gue ke meja makan. Gue terpaksa menurut kemauan ibu gue. Disana sudah berada Ani si gadis polos beserta masakan yang dimasaknya. Gue kemudian duduk di sebelah Ani berhadapan dengan ibu dan Burhan di depan gue. Gue sengaja mengambil nasi sedikit supaya gue bisa cepat-cepat keluar dari neraka ini. Gue tidak nyaman bersama orang-orang yang gue gak sukai.
“Hallo, kak Fe. Maaf ya kalau masakanya kuang begitu enak. Ini aku baru pertama kali belajar masak disini dibantu ibu.”
Gue mengerutkan dahi lalu memandangi si bocah kurang ajar ini. Enak saja ngaku-ngaku ibu. Siapa elu? Gue hanya tersenyum sinis ke arah dia lalu melanjutkan makan. Malam itu di meja makan tampak ibu dan Burhan sangat menikmati obrolan mereka mengenai rencana liburan nanti. Lagi-lagi bocah yang bernama Ani sangat bersemangat menanggapi obrolan mereka. Gue ketika ditanya hanya “Iyaaaa.”
“Ya..” “uh-huh, “Terserah”, dsb. Sikap gue yang cuek tentu dirasakan oleh manusia baru di rumah dan sekali lagi gue bodo amat.
“Oh ya, Felisha, nanti kuliah mau ngambil jurusan apa?” Burhan sepertinya mulai sok dekat.
“Akuntansi.”
“Sayang, papa mu ini dulunya kuliah di akuntansi loh.”
Terus gue peduli gitu dengar omongan ibu mengenai latar belakang si Burhan ini? Lagian gak geli juga gue denger kata “papa”. Ampun ibu, aku akan segera pergi dari sini.
“Iya, sekali-kali, saya ajarin kamu Akuntansi Fe.”
“Kapan-kapan.”
Gue langsung pergi meninggalkan meja makan menyisakan sedikit makanan yang belum gue habisin. Gue pengen beristirahat dan terlalu lelah untuk bersama mereka bertiga. Gue langsung ke kamar gue dan segera mengganti baju sekolah yang masih gue kenakan.
Tok…Tok…Tok…
“Kakak, Fe.”
………………….
“Ada apa?” Gue membuka pintu dan sedikit memberikan ruang kepada Ani.
“Aku boleh masuk?”
“Lu gak baca itu stiker?”
“Do not enter?”
“Iya.” Dengan tegas gue menutup pintu kamar gue. Walaupun tidak terlalu keras tapi cukup untuk memberikan sinyal penolakan gue kepada Ani.
itkgid memberi reputasi
1
