- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#212
Partitur no. 49 : You Made My Day!
Apa kamu pernah merasakan sesuatu yang tidak bisa kamu lupakan bersama para sahabatmu? Mungkin tentang kegilaan bersama para sahabatmu ketika masa SMA? Aku yakin, semua orang pernah merasakannya.
Masa-masa SMA ku bisa dibilang sesuatu yang menyenangkan. Entah, sejak kapan, salah satu sahabatku yang juga mengikuti klub baseball dadakan itu, Qays, setiap hari menjajaniku sebuah nasi bungkus dengan segelas air putih mulai dari kelas sebelas. Aku tidak memalakinya, ia yang menjajaniku atas kemauannya sendiri tanpa beban.
Qays adalah murid pindahan dari SMA yang jaraknya juga tak jauh dari sekolahku. Ia seseorang yang sangat pintar dalam hal matematika yang menjadi salah satu kekuranganku, ia sangat membantuku memahami hal-hal yang tidak dapat kumengerti. Sayangnya, ia juga dijuluki polos sepertiku. Ketika sedang ada ulangan matematika, ia tidak mengumpuli duluan hasil ujian yang sebenarnya ia sudah menyelesaikannya pertama. Ia memberi contekan kepada teman-temanku di kelas.
Suatu hari, ia pernah tertangkap memberi sebuah jawaban kepada salah satu seorang temanku, sehingga ia yang seharusnya mendapat ranking satu sekelas, menjadi tidak masuk dalam sepuluh besar. Teman-temanku yang menyontek lah yang memasuki urutan sepuluh besar. Entah, terkadang dunia sekolah itu terkadang tidak adil.
Ia pindah ke SMA ku karena ada saudara perempuannya yang juga bersekolah di sini, Nada namanya. Seseorang yang pernah memusuhiku ketika kami kelas sepuluh hanya karena aku sering meledekinya.
Sejak kelas sepuluh, teman-temanku di sekolah, mulai dari Kaskuser 280 atau teman-temanku yang lain sering datang berkunjung ke rumahku untuk sekedar bermain bersama. Selain akses yang cukup mudah, temanku sering datang untuk sekedar browsing atau bermain gitar. Sekalinya bermain ke rumahku tidak pernah membawa jumlah yang sedikit, selalu banyak.
Teman-temanku mengetahui apa yang terjadi pada bandku, sehingga mereka mengajakku membuat sebuah band untuk mengisi waktu luang, sekalian untuk persiapan angkatan kami. Band kami bernama G.I.H.R.S yang berisi singkatan masing-masing nama kami. Namun, hanya beberapa kali latihan, band ini sudah tidak jalan lagi.
Setiap minggunya, teman-temanku selalu datang ke rumahku, entah seminggu sekali atau dua minggu sekali sepulang sekolah. Biasanya, sebelum ke rumahku, kami sering kali mampir ke taman Situ Lembang, Taman Suropati, atau toko buku yang sangat besar di daerah Matraman.
Di suatu hari, ketika kami berencana untuk mendesain sebuah kaos untuk Kaskuser 280, ada sebuah kejadian yang tak akan kulupakan seumur hidupku.
Ketika itu, kami seluruh member Kaskuser 280 sudah berkumpul di rumahku untuk mendata ukuran baju, menentukan vendor, bahkan untuk membuat desain kaos kami sesuai persetujuan bersama.
“Ini pake logo Kaskus yang ini mau, nggak?” ujar Soleh dan Gilang merekomendasikan beberapa logo Kaskus yang mereka pilih.
“Yang ini boleh nih,” ujar kami serempak. Kami jatuh hati kepada sebuah logo kaskus yang cukup sering dipakai oleh para seller di forum jual beli.
“Oke ini jadi logo di kaos bagian depan, ya.. Bagian belakangnya mau polos aja atau ada tulisan?” tanya Gilang.
“Kalo ID kita masing-masing aja, gimana?” usul Soleh kepada yang lain. Aku yang sedang santai tiduran pun hanya menyetujuinya saja.
“Lumayan nih kalo jalan-jalan bareng bisa di pake kaosnya.. Atau pas reunian juga asik,” ujar Jibon dengan senang.
“Kapan kita mau ke vendor nya?” tanya Jawa ke yang lainnya.
“Jum’at ini aja gimana?” usul Hamim. Perbincangan mengenai kaos itu cukup lama kami bicarakan agar benar terealisasikan.
Pada saat itu, hampir di seluruh sekolahku sedang mengagumi sebuah film tentang silat yang sangat populer, bahkan rumornya film itu terkenal sampai luar negeri. Pembicaraan kami tentang kaos itu pun melebar kepada pembahasan film itu yang tak kalah panjangnya. Dengan serunya kami membahas tentang adegan per adegan dalam film itu.
“Coba, Wa, peragain jadi Densus 88, dong!” ujar Jibon menyuruh Jawa ketika hendak pulang dari rumahku karena sudah cukup sore. Posisi kamarku itu berdepanan dengan ruang tengah, dari ruang tengah jika ingin keluar harus melalui pintu ke teras, bisa juga untuk menuju kamar depan dari teras itu.
“Oke, lo yang buka pintunya ya, Bon!” Jawa pun menyetujuinya sambil mengambil posisi persis seperti seorang Densus dengan tangan seakan memegang sebuah pistol.
“Tiga, dua.. Sa,” Jibon memberi aba-aba kepada Jawa agar bersiap-siap. “Satu!” teriak Jibon sambil membuka pintu tersebut.
Jawa pun dengan gembiranya melompat mengeluari pintu itu dan menggeretak sekitar dengan kuda-kuda dan tangannya yang seperti pistol itu dan mengarahkannya ke kanak dan ke kiri. “Angkat tangan!” teriak Jawa ketika baru menginjakan kakinya kembali sehabis melompat.
Disaat ia menginjakan kakinya kembali dan membuka matanya, ia terkaget-kaget, tak dapat mengeluarkan kata-kata dari mulutnya karena kekagetan itu. “Waduh..” ujarnya dengan sangat malu.
Ketika kami yang di belakang melirik mengapa Jawa terlihat panik, ternyata ada kakakku dan teman-teman semasa SMA nya sedang duduk di teras. Kakakku dan teman-temannya hanya bisa memandang Jawa dengan perasaan terheran-heran. Kami yang mengetahuinya kemudian tak bisa berhenti mengeluarkan ledakan tawa kepada Jawa.
Tak lama, Jawa pun masuk kembali dan menutup pintu menuju terasnya. Sepertinya, ia mengurungkan niatnya untuk pulang.
“Hahahaha,” kami semua masih tertawa sepuas hati, sedangkan Jawa hanya duduk di kamarku dengan muka memerah akibat menahan malu.
“Lagian lo sih, Bon, nggak bilang-bilang dulu kalo ada orang di teras!” Jawa mengungkapkan kekesalannya dengan muka malu.
“Ahahaha gw nggak tau kalo ada orang di luar, Wa!” Jawab Jibon dengan tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya Jawa dan yang lain menunggu teman-teman kakakku untuk pulang terlebih dahulu karena tak kuat menahan malu. Jawa membuat hari itu menjadi sebuah hari yang tidak akan kulupakan hingga hari ini.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:53
0
