Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#209
Partitur no. 48 : Highschool Trilogy


Rasanya, masa-masa remaja tanpa sebuah kenakalan itu kurang lengkap. Kenakalan-kenakalan itu sebagai salah satu rangkaian dari proses menuju pencarian jati diri. Kata banyak orang, menjadi seseorang yang normal itu membosankan.

Selama hidupku, aku belum pernah melakukan kenakalan-kenakalan seperti anak-anak seumuranku. Merokok saja aku belum pernah. Teman-temanku menyebutku sangat polos.

Suatu hari, di saat sehari setelah menurut teman-temanku adalah hari ulang tahun sekolah kami yang di sambut dengan tauran, Bu Susi secara tiba-tiba mengumpulkan kami semua di lapangan untuk apel. Sejak masa pemerintahan Bu Susi ketika aku kelas sebelas (dua SMA), banyak kebijakan-kebijakan bagus yang meresahkan teman-temanku, salah satunya adalah koordinasi oleh Polisi sepanjang hari, bahkan sekolahku di jaga ketat layaknya memindahkan tawanan ekseskusi mati.

Dari keluar gerbang sekolah hingga tempat menaiki kendaraan umum di jaga sangat ketat oleh para Polisi, sehingga teman-temanku yang ingin tawuran itu harus mengurungkan niatnya. Terlebih, sekolah SMA yang menjadi lawan SMA ku tidak berada jauh dari sekolahku, maka, penjagaannya juga di perketat sampai ke SMA itu.

Bu Susi berbicara tentang bahaya tauran serta perhatiannya terhadap nyawa seseorang yang bisa hilang akibat tauran itu. Peraturan ketat-ketat itu di jelaskan oleh Bu Susi di lapangan sekolah kami itu.

Sebenarnya, aku sangat menyukai kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Bu Susi, kecuali satu hal. Di saat sekolah di mundurkan jam masuknya menjadi pukul 06.30, sekolah kami masuk sepuluh menit lebih dulu menjadi 06.20. Alasannya adalah agar ketika 06.30 kami bisa langsung belajar dengan efektif. Peraturan seperti itu bukanlah kegemaranku yang sering kali telat.

Entah, sejak kelas lima SD ketika aku pindah rumah ke daerah Jatinegara dari Jatiwaringin, aku sangat sering telat hingga SMA kelas 3 ini. Berbagai hukuman hingga pemberlakuan dispensasi yang diberlakukan khusus untukku tidak mengurangi satupun ketelatanku.

“Jangan harap kalian akan bisa tauran seperti dulu lagi!” tegas Bu Susi dalam apel pagi itu. Ia sebenarnya sangat baik kepadaku, entah kenapa kalau sedang apel atau upacara terlihat sangat galak. “Kami segenap guru-guru dan staff sekolah sudah berkoordinasi dengan kepolisian mencegah hal yang tidak diingkan, yakni tauran.” Lanjut Bu Susi.

Suasa hening, terkesan sangat khidmat dan seakan-akan mereka akan kapok. Bahkan sebelum Bu Susi, dari kepala kepolisian setempat sempat memberikan pidato singkatnya, yang sebenarnya lebih efektif dari ceramahan Bu Susi.

“Kalian tahu, lebih baik kalian menyiapkan persiapan ujian kalian, yang beberapa bulan lagi akan kalian laksanakan!” Bu Susi melihat kami para murid dari ujung ke ujung. Beberapa dari temanku mulai mencemooh ucapannya karena sangat lama, dan akhirnya tertawa. “Siapa yang nyuruh kamu ngobrol?” ketus Bu Susi.

Temanku yang seorang provokator mulai tertawa dengan kencang.

Keheningan mulai terjadi lagi ketika Bu Susi sepertinya sedang marah. Tiba-tiba muncul suatu suara yang mengejutkanku dan teman-temanku kelas lain, bahkan adik-adik kelasku. Temanku itu berteriak dalam keheningan, “Kok tau, Bu?” kami mulai dari kelas satu sampai kelas tiga tak kuasa menahan tawa.

“Itu siapa tadi yang ngomong? Tidak sopan, tahu! Tidak ada yang lucu!” Bu Susi mulai meluapkan kemarahannya. “Guru-guru, tolong dilacak itu siapa yang berbicara seperti itu! Tidak tahu sopan santun dia!” Para murid kelas tiga mulai sikut-sikutan secara diam-diam agar tidak memberi tahukan siapa yang berteriak seperti itu, agar solid kata mereka. Sementara guru-guru mulai mencari mulai dari kelas satu.

“Bukan di kelas satu atau dua, Bu, Pak! Saya denger suara itu dari kelas tiga!” pinta Bu Susi menyuruh guru-guru berpindah menyelidiki ke seluruh murid kelas tiga.

“Udah ayok ngaku aja, dari pada nanti makin panjang urusannya” ujar guru olahraga kami, Pak Bakrie kepada seluruh angkatan di kelas tiga. Namun, dari angkatan kami tidak ada yang menyahut omongan Pak Bakrie itu.

Aku tak tau ini sebuah solid yang bagus atau tidak, namun sepertinya guru-guru itu mulai kewalahan. “Kalau tidak ada yang mau mengaku, satu angkatan kalian akan saya hukum!” teriak Bu Susi. Keheningan tetap terjadi. Lantas aku menahan tawaku, walaupun aku belum yakin siapa yang berteriak kurang ajar seperti itu.

Hingga lima belas sampai dua puluh menit kemudian belum ada yang mengaku juga! Para guru-guru dan Bu Susi sudah mulai terlihat capek. “Kalau begitu angkatan kalian akan Ibu hukum! Kelas satu dan kelas dua boleh naik ke atas secepatnya, dan menonton kakak kelas kalian yang tidak patut di contoh!” Bu Susi sepertinya serius kali ini.

Kelas satu dan kelas dua sangat senang akan hal itu, karena akan menambah kelas bebas pada jam mereka. Guru-guru malah memotret kami dengan tertawa-tawa. “Kalian sementara ini akan Ibu jemur selama satu jam dahulu! Lalu kalian harus push upsecara bersamaan dan jalan jongkok sepuluh kali bolak balik lapangan!” mendengar hal itu, angkatan kami tidak ada yang keberatan, walaupun sebenarnya aku cukup keberatan.

“Udah, nikmatin aja, Man,” ujar seorang temanku. “Nanti kalo kita lulus kita bakal ngetawain hal-hal kayak gini, kok. Bisa lo ceritain kalo kita reunian nanti, atau kalo lo punya anak, lo bisa ceritain kenakalan lo dulu!” aku pun menerima ucapan itu dan harus rela berjemur selama satu jam dengan panasnya terik matahari itu, dan berharap sebuah keajaiban yang bernama hujan untuk turun.

Adik kelasku belum ada yang masuk ke kelasnya selama setengah jam itu, menunggu kami pada inti hukuman kami. Aku iri pada mereka yang bisa berlalu lalang ke dalam surga sekolah yang bernama kantin.

Waktu seakan benar-benar berhenti.

Keringatku bercucuran dengan deras; tenggorokanku mulai kering; butuh sesuatu untuk melepas dahaga. Tapi, ketika aku melihat jam tanganku, hanya tersisa beberapa menit untuk masuk ke hukuman inti kami.

“Gimana, enak tidak hukumannya?” ucap Bu Susi saat mengambil mic kembali. Kami yang mulai kelelahan ini tidak bisa menjawab ucapannya. “Sekarang, kalian harus push up selama sepuluh kali, dan harus bersamaan. Kalau ada Ibu melihat tidak berbarengan, akan Ibu ulang lagi dari satu!” ancam Bu Susi. Karena mengikuti klub baseball dadakan itu, push up selama sepuluh kali ini tidak berasa untukku. Yang berasa adalah hukuman setelahnya.

Untuk memperlama waktu, Bu Susi mengambil satu baris dari masing-masing kelas untuk jalan jongkok secara bersamaan. Kami yang berada di barisan belakang hanya berdebar-debar menunggu giliran kami, menunggu barisan pertama untuk jalan jongkok sepuluh kali saja sudah lama sekali.

Giliranku pun tiba. Cukup lama untuk menunggunya giliranku ini tiba. Bersama Rafky dan teman-teman sebarisku, aku mulai berjalan jongkok ketika peluit telah dibunyikan oleh Bu Susi. Aku menundukkan kepalaku karena malu, sambil berjuang gigih melawan pegalnya kaki ini.

Satu putaran. Dua putaran. Lima putaran.

Semua itu cukup melelahkan, kakiku seakan tidak bisa digerakkan lagi karena pegal. Aku pun beristirahat ketika memutuskan untuk menaiki kelasku.

“Udah, Man. Ini namanya solid!” ujar seorang perempuan bernama Cheryl.

Ya, solidaritas.

Mungkin teman-temanku benar. Tak usah menunggu sampai lulus atau reunian, ketika selesai menjalankan hukuman, kami sekelas menertawakan apa yang baru saja kami alami. Sebuah pengalaman kenakalan masa SMA.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:53
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.