- Beranda
- Stories from the Heart
[ Science Fiction ] CODING A LIFE
...
TS
User telah dihapus
[ Science Fiction ] CODING A LIFE
![[ Science Fiction ] CODING A LIFE](https://s.kaskus.id/images/2015/03/21/6940295_20150321082520.jpg)
Quote:
Spoiler for Daftar Isi - Coding A Life:
Please Kindly Enjoy
Diubah oleh User telah dihapus 25-10-2015 02:27
anasabila memberi reputasi
1
16.5K
84
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
User telah dihapus
#39
[Chapter 15 ] - Mastering Massive Sense

"Apa kau baik-baik saja? kurasa kau sedikit terganggu kalau aku duduk di sini.." tanya wanita yang duduk di depan tempat duduk Linda sambil membuka tudung jaketnya,
sebuah earphone tergantung di lehernya,rambut wanita tersebut lurus dan lebat serta model poni depan yang tidak asing bagi seseorang kecuali Linda dan Egi.
"kenalkan,namaku Lisa" sapa wanita itu lagi.
"hmm.. senang bertemu denganmu" balas Linda tidak tertarik dengan orang yang tidak akan dikenalnya lama-lama sementara Egi masih memandang ke arah luar jendela gerbongnya tanpa menghiraukan penumpang di sebelahnya.
"kau Linda kan? dan ini kakakmu,Egi" kata Lisa.
perkataan itu pun membuat Linda terkejut begitu juga Egi yang sedari tadi tidak tertarik dengan wanita di sampingnya.
"bagaimana kau tau?" tanya Linda yang hanya dibalas senyuman saja oleh Lisa.
"Siapa kau?" tanya Egi merubah posisi duduknya sehingga jarak pandangnya mencakup Lisa yang duduk di samping kirinya.
sementara Ari dan Ilham sampai di ruang tamu,Ilham mengisyaratkan tangannya agar Ari ikut duduk di sofa sampai mereka menekan tombol bel di depan.
Ari yang tidak tau maksud temannya hanya menuruti saja,namun setelah cukup lama menunggu ternyata bel tersebut tidak dibunyikan sama sekali.
Ilham yang cukup penasaran akhirnya pergi membukakan pintu rumah.
"Wah,perkiraanmu tepat sekali.. benar-benar 75 detik,lihat ini" kata pemuda berjaket hijau yang menunjukkan layar handphone-nya,rupanya pemuda itu memakai stopwatch untuk menghitung waktu dari mereka turun sampai pintu rumahnya terbuka.
Ilham hanya diam memandang kedua tamu misteriusnya,yang mengenakan jaket hijau terlihat lebih banyak bicara dibandingkan yang satunya.
"padahal tebakanku dari lantai dua hanya butuh 25 detik sampai kesini" lanjut pemuda itu kemudian memasukkan handphonenya ke saku celana.
"pintunya terbuka sebelum kami menekan bel rumah.. kurasa kami diundang untuk masuk" kata pemuda satunya masih dengan pembawaan sikap yang dingin.
" ...masuklah" balas Ilham mengajak tamunya ke ruang tamu di mana Ari masih duduk.
kedua pemuda itu pun masuk dan duduk di sofa yang berseberangan dengan tempat duduk Ari dan Ilham.
"kalian langsung duduk saja walau belum di persilahkan.. kurasa kalian sedikit mengenal kami" komentar Ari serius.
"Yop,kami sudah tau siapa kalian" balas pemuda itu sambil membuka tudung jaket hijaunya.
"kalian sendiri siapa? kami belum mengenal kan.." tambah Ilham.
"kenalkan kami,namaku Doni.. dan dia Riki" balas pemuda satunya yang juga membuka tudung jaket ungunya.
rambut pemuda bernama Riki itu panjang dan berantakan,sepertinya bukan salah satu tipe yang mempedulikan tanggapan orang lain mengenai penampilannya.
Berbeda dengan Doni yang potongan rambutnya rapi justru terlihat seperti kebalikan dari Riki.
Kedua pemuda itu tidak terlihat aneh,dari segi fisik semuanya normal-normal saja tanpa ada yang mencolok.
"penduduk kota ini? apa keperluan kalian dengan kami?" tanya Ari.
"kami tinggal cukup jauh dari sini,kami juga mengenal kalian dengan baik,lalu- " jawab Doni.
"lalu mulai saat ini juga kami yang akan membimbing kalian" tambah Riki menyambar perkataan Doni yang belum selesai.
"membimbing kami? apa maksudnya?" tanya Ari.
"kata membimbing memang kurang tapat,kami akan mengajari kalian sesuatu.. jadi mulai sekarang siapkanlah waktu luang setiap harinya" kata Doni.
"bukankah itu justru terlihat sok jago?" gumam Riki.
"akan ku jelaskan sambil bicara nanti,akan lebih efektif jika kalian berdua dipisah terlebih dahulu" jelas Doni.
"Aku lebih suka di ruang terbuka,ayo ke atas saja,Ari" ajak Riki yang terlebih dahulu pergi ke lantai dua.
"aku benar-benar tidak mengerti.. hei,aku tuan rumah di sini,jangan seenaknya sendiri" kata Ari sempat menatap mata Doni kemudian pergi menyusul Riki ke lantai atas.
yang tersisa di lantai bawah hanya Ilham dan pemuda misterius bernama Doni,Doni sejenak menyenderkan punggungnya dan memulai pembiacaraan dengan Ilham.
"namamu Ilham kan? ku dengar kau sangat baik dalam hal pemrograman" kata Doni.
"iya,seperti yang kau tau.." jawab Ilham beranjak dari sofanya.
"Air putih saja,tolong" kata Doni dari sofanya.
Ilham hanya diam saja dan meneruskan niatnya yang memang ingin mengambilkan minuman untuk tamunya.
.
.
.
"Hoy,namamu Riki kan? aku tetap belum mengenalmu,sebaiknya ceritakan siapa dirimu sebelum kau memulai keperluanmu" kata Ari yang baru sampai di lantai atas,
sedangkan Riki sudah duduk di salah satu deretan kursi yang terbuat dari anyaman bambu.
"kau dan aku sepenuhnya hampir sama saja kok. Dan lagi,anggap saja aku temanmu supaya kau tidak merasa kaku seperti itu" jawab Riki.
"baiklah,aku ingin tau kesamaan kau dan aku.. ceritakan" kata Ari yang menyusul duduk.
"temanmu di bawah juga sama saja seperti kakakku"
"kakak?"
"kami berdua saudara,hanya saja lahir dari ibu yang berbeda.."
"Oke,aku mulai tertarik dengan ceritamu"
"baiklah,kau akan ku catat membolos di hari pertamamu belajar"
"aku ini memang murid yang nakal kan?" kata Ari meledek.
Quote:
"saat SMA hanya bagus di bidang seni dan bahasa,bahkan kau mengambil fakultas psikologi saat di universitas. Jadi apa yang bisa kau ajarkan padaku soal pemrograman?" tanya Ari.
"aku juga tidak peduli kau suka seni dan bahasa atau tidak,karena bukan itu yang akan aku ajarkan padamu" jawab Riki.
"lalu?" tanya Ari singkat.
"dari cerita tadi kau sudah tau kan seperti apa kakakku?" tanya Riki.
"hmmm.."
"dia sangat bagus dalam hal pergitungan,saat ku lihat nilai test psikologinya aku terkejut karena IQ'nya berada di angka 180"
"180?"
"memang hebat sih,ditambah dengan kemampuan dasarnya dia adalah salah satu orang yang kapasitas otak kirinya mendominasi"
"lalu,kau sendiri?"
"IQ sering dihubungkan dengan kecerdasan otak kiri,dia diibaratkan dengan otak kiri yang kompeten.. aku sedikit banyak adalah kebalikan dari kakakku"
"jadi maksudmu kau si otak kanan yang kompeten?"
Riki hanya diam dan sedikit tersenyum konyol menyetujui pendapat temannya.
"Yah,baiklah.. lagi pula apa yang bisa kalian lakukan kalau tidak tau tentang pemrograman?" kata Ari sedikit menurunkan alisnya.
"dalam hal pemrograman memang kalianlah yang lebih ahli,yang ingin kami ajarkan hanya tentang bagaimana pola pikir yang akan membuat seorang programmer mencapai potensi maksimalnya"
"pola pikir?"
"sebagus apapun software dan hardware tidak akan berfungsi secara maksimal jika digunakan oleh brainware yang awam" jelas Riki.
"aku tidak mengerti,kami tidak sekedar mengadu sistem dalam hal peretasan tapi kami bahkan membuat bahasa pemrograman kami sendiri.. kami bukan orang awam berbeda denganmu" balas Ari yang masih salah tangkap tentang perkataan Riki.
"ini bukan tentang apa yang kau gunakan,tapi siapa yang menggunakan.. sudahlah,aku memang tidak sebaik dirimu dalam hal ini,mulai hari ini aku yang bertugas mengajarimu seni berfikir secara cepat dan juga pengembangan intuisimu ke tingkat yang lebih tinggi"
"Apa itu berpengaruh dalam pertarungan?"
"tentu,kau pikir kenapa kau tidak bisa menghindari serangan terakhir milik henri kemarin?"
"Eh?" respon Ari terkejut karena Riki nampaknya tau tentang pertarungannya kemarin.
"aku sudah tau semuanya dari Akbar" jelas Riki sebelum teman barunya mulai menanyakannya.
"siapa Akbar?" tanya Ari singkat.
"saudara Angga" jawab Riki singkat.
"dia itu sebenarnya siapa? kenapa dia tau banyak tentang kami?"
"dia adalah orang kedua yang mengetahui rencana peperangan Henri"
"rencana peperangan?"
"memangnya kau belum tau? lalu apa saja yang orang tua itu sampaikan padamu?"
"orang tua siapa? jangan membuatku bingung"
"pria bernama Hasan yang bertemu denganmu.. dia orang pertama yang mengetahui rencana itu dan memilih untuk meninggalkan Henri" jelas Riki.
"Hasan? kau tau juga tentangnya?" tanya Ari yang tidak menyangka lawan bicaranya mengetahui banyak hal tentang masa lalu dirinya.
"hufh.. pemuda bernama Akbar yang sedang kau tanyakan adalah orang kedua yang mengetahui rencana jahat itu,sekaligus menjadi orang kedua yang memilih meninggalkan Henri sama seperti pria bernama Hasan.. dengan kata lain,dia dahulunya adalah tangan kanan Henri"
"..."
sejenak mereka berdua terdiam,Ari nampak serius mencerna kalimat-kalimat yang telah ia dengar dari Riki,sementara Riki hanya memalingkan pandangannya ke arah lain dan sesekali melirik ke arah Ari selagi menunggu Ari memulai pembicaraannya lagi.
"baiklah,aku sedikit mengerti.. kalian bertiga adalah teman kan? lalu-" kata Ari yang terpotong sebelum selesai.
"tidak,kami berlima. Akbar adalah seorang programmer,sama seperti kalian. kami berdua hanya user biasa yang punya beberapa urusan dengan kalian berdua"
"..."
"lalu satu-satunya anggota perempuan kami saat ini sedang berada bersama 2 temanmu untuk tujuan yang sama seperti kami"
"Linda dan Egi?"
"yah,dia juga bukan programmer handal setingkat kalian tapi ku yakin ada hal yang perlu ia sampaikan pada temanmu.
dan satu sisanya saat ini sedang menyiapkan laptop kalian yang baru" jelas Riki panjang.
"kalau begitu bukankah kalian sudah memiliki semua unsur-unsurnya.. lalu apa keperluan kalian dengan kami?"
"kau sudah pernah melawan Henri bukan? jadi ku harap kau tau bahwa walaupun Akbar dan teman-temanmu sekalipun berusaha mengalahkannya.. itu tetap tidak mungkin"
"aku juga demikian sama saat melawan Henri"
"tidak,kau berbeda"
"!!"
"satu-satunya bahasa pemrograman yang mampu menandinginya hanya bahasa milikmu"
"tidak,kau hanya membual saja.. aku sudah melihatnya sendiri kemarin"
"saat ini memang belum,maka dari itu aku ditugaskan bersamamu"
"ya ampun,pembicaraan ini membuatku gila" kata Ari beranjak dari tempat duduknya sembari menggaruk-garuk rambutnya.
"biar ku beri tau alasan Hasan memberikan semua penelitiannya padamu.. itu karena ia ingin kau menghentikan Henri"
"menghentikan Henri dari.. apa?" tanya Ari membalikkan tubuhnya yang sebelumnya membelakangi Riki.
"cepat atau lambat penelitian Henri tentang senjata pemusnah pasti akan selesai.. dan saat itu juga kemungkinan besar negara ini akan terancam peperangan"
"peperangan?"
"yah,sebuah script yang mampu memicu peperangan.. maka dari itu kami membutuhkanmu"
"kita berdua harus menciptakan senjata pemusnah itu terlebih dahulu sebelum Henri" kata Riki yang meninggalkan pertanyaan di benak Ari.
#Senjata terkuat tengah diperebutkan
Diubah oleh User telah dihapus 09-08-2015 08:19
0



