- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#3060
PART 113
Ketika gue sedang bersiap-siap untuk tidur, mendadak handphone gue berbunyi. Gue melihat identitas penelepon, dan sebuah nomor asing, bukan dari Indonesia. Gue langsung menebak, pasti ini Anin, telepon dari India. Seketika gue lemas, dan pasrah apa yang akan terjadi. Gue bangkit, dan duduk di tepi tempat tidur, kemudian mengangkat telepon itu.
Gue membisu cukup lama di pinggir tempat tidur itu. Gue bertopang dagu, dan memandangi dinding kamar yang gelap, disinari oleh cahaya lampu kota Jakarta yang masuk dari jendela kamar. Pikiran gue benar-benar kacau, gak bisa mencerna satu akal sehat sedikitpun. Rasanya seluruh dunia menjadi gelap dan menciut, menghimpit gue. Napas gue terasa berat, dan dada gue sesak. Gue mencoba menelpon nomor asing tadi. Sekali, dua kali, tiga kali hingga tujuh kali, gak ada jawaban. Gue merasa semuanya berakhir malam itu.
Gue gak mempedulikan apa yang terjadi di sekitar gue, dan hanya duduk di tempat yang sama entah berapa lama. Buat gue waktu terasa berhenti. Gue baru sadar bahwa ada dunia yang harus gue jalani, ketika Tami membuka pintu kamar gue, dan menyalakan lampu. Wajahnya risau, dan sedih, bercampur menjadi satu. Gue yakin rasa bersalahnya mencapai puncaknya waktu itu. Tami duduk bersimpuh di hadapan gue yang duduk di tepi tempat tidur, sambil memegangi kedua tangan gue.
Gue memandangi Tami yang menangis bersimpuh di kaki gue, dan gue menarik napas panjang. Gue memegangi tangan Tami, dan kemudian menariknya berdiri. Dengan bahasa tubuh, gue menyuruhnya duduk di samping gue di tepi tempat tidur.
Gue menoleh, memandangi Tami yang masih berurai air mata. Wajahnya memerah, dan kusut. Sangat kusut. Salah satu tangannya menutupi mulutnya. Gue meraih tangannya yang lain, dan memegangnya dengan kedua tangan gue.
Tami terdiam dan memandangi gue, tangisnya agak mereda. Mungkin dia gak menyangka ada pertanyaan semacam itu ditengah situasi kritis seperti sekarang. Dia terdiam cukup lama, sampe gue mengangkat alis, pertanda gue masih menunggu jawabannya.
Tami menggeleng pelan, dan menghapus airmata di pipi dengan buku jarinya. Kemudian dia menjawab dengan suara parau.
Gue tersenyum.
Tami menangis lagi. Tapi kemudian kali ini giliran gue yang menghapus airmata di pipinya dengan jempol gue.
Gue tersenyum, dan menggeleng pelan.
Gue kemudian menoleh ke jendela dimana pemandangan langit malam tersaji di depan mata gue. Ya, malam itu gue tau kalo gue sedang menjalani takdir yang sudah digariskan oleh-Nya, dan gue menunggu kemana ini akan membawa gue. Yang gak gue tahu, ternyata penentu takdir gue terentang sejauh puluhan ribu kilometer dari tempat gue berpijak.
Ketika gue sedang bersiap-siap untuk tidur, mendadak handphone gue berbunyi. Gue melihat identitas penelepon, dan sebuah nomor asing, bukan dari Indonesia. Gue langsung menebak, pasti ini Anin, telepon dari India. Seketika gue lemas, dan pasrah apa yang akan terjadi. Gue bangkit, dan duduk di tepi tempat tidur, kemudian mengangkat telepon itu.
Quote:
Gue membisu cukup lama di pinggir tempat tidur itu. Gue bertopang dagu, dan memandangi dinding kamar yang gelap, disinari oleh cahaya lampu kota Jakarta yang masuk dari jendela kamar. Pikiran gue benar-benar kacau, gak bisa mencerna satu akal sehat sedikitpun. Rasanya seluruh dunia menjadi gelap dan menciut, menghimpit gue. Napas gue terasa berat, dan dada gue sesak. Gue mencoba menelpon nomor asing tadi. Sekali, dua kali, tiga kali hingga tujuh kali, gak ada jawaban. Gue merasa semuanya berakhir malam itu.
Gue gak mempedulikan apa yang terjadi di sekitar gue, dan hanya duduk di tempat yang sama entah berapa lama. Buat gue waktu terasa berhenti. Gue baru sadar bahwa ada dunia yang harus gue jalani, ketika Tami membuka pintu kamar gue, dan menyalakan lampu. Wajahnya risau, dan sedih, bercampur menjadi satu. Gue yakin rasa bersalahnya mencapai puncaknya waktu itu. Tami duduk bersimpuh di hadapan gue yang duduk di tepi tempat tidur, sambil memegangi kedua tangan gue.
Quote:
Gue memandangi Tami yang menangis bersimpuh di kaki gue, dan gue menarik napas panjang. Gue memegangi tangan Tami, dan kemudian menariknya berdiri. Dengan bahasa tubuh, gue menyuruhnya duduk di samping gue di tepi tempat tidur.
Quote:
Gue menoleh, memandangi Tami yang masih berurai air mata. Wajahnya memerah, dan kusut. Sangat kusut. Salah satu tangannya menutupi mulutnya. Gue meraih tangannya yang lain, dan memegangnya dengan kedua tangan gue.
Quote:
Tami terdiam dan memandangi gue, tangisnya agak mereda. Mungkin dia gak menyangka ada pertanyaan semacam itu ditengah situasi kritis seperti sekarang. Dia terdiam cukup lama, sampe gue mengangkat alis, pertanda gue masih menunggu jawabannya.
Tami menggeleng pelan, dan menghapus airmata di pipi dengan buku jarinya. Kemudian dia menjawab dengan suara parau.
Quote:
Gue tersenyum.
Quote:
Tami menangis lagi. Tapi kemudian kali ini giliran gue yang menghapus airmata di pipinya dengan jempol gue.
Quote:
Gue tersenyum, dan menggeleng pelan.
Quote:
Gue kemudian menoleh ke jendela dimana pemandangan langit malam tersaji di depan mata gue. Ya, malam itu gue tau kalo gue sedang menjalani takdir yang sudah digariskan oleh-Nya, dan gue menunggu kemana ini akan membawa gue. Yang gak gue tahu, ternyata penentu takdir gue terentang sejauh puluhan ribu kilometer dari tempat gue berpijak.
Diubah oleh jayanagari 12-04-2015 20:10
chanry dan 4 lainnya memberi reputasi
5


: Tami.
: dengerin dulu dek. Ceritanya panjang. Dia nginep disini juga gara-gara kepepet kok.
: dan nunggu aku tau dari orang lain? Tau dari Sophia? Nunggu sampe keluargaku tau semuanya? Iya?