- Beranda
- The Lounge
KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
...
TS
bocahjendela
KUPAS TUNTAS TENTANG TRIKORA
Quote:
Pembukaan
Tahun 1960-1965 adalah tahun-tahun keemasan bagi angkatan bersenjata Republik Indonesia. Kedekatan Indonesia dengan Uni Soviet dan Tiongkok pada zaman itu menyebabkan Indonesia bisa menghadirkan persenjataan yang mutakhir pada eranya dari kedua negara itu. Pada tahun 1960an, Indonesia mengalami beberapa konflik bersenjata dengan negara-negara tetangganya. Pada tahun 1961, Indonesia berkonflik dengan Kerajaan Belanda atas Irian Barat (Netherlands New Guinea), yang operasi pembebasannya disebut Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat).

Ir. Soekarno, pencetus Operasi Trikora
Quote:
Apa Itu Operasi Trikora?
Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) adalah operasi yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Ir. Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala, yang terdiri dari gabungan AD, AL, dan AU yang berkedudukan di Makassar. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.

Soeharto, sang panglima Mandala
Spoiler for "Isi Trikora":
1. Gagalkan pembentukan "Negara Papua" bikinan Belanda kolonial.
2. Kibarkan sang merah putih di Irian Barat tanah air Indonesia.
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.
2. Kibarkan sang merah putih di Irian Barat tanah air Indonesia.
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.
Quote:
Apa Penyebab Munculnya Operasi Trikora?
Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1945, Indonesia mengklaim seluruh bekas jajahan Kerajaan Belanda untuk menjadi bagian dari Indonesia. Namun, Kerajaan Belanda tetap menganggap Papua Barat sebagai wilayah kerajaan dan mempersiapkannya untuk menjadi negara terpisah dari Republik Indonesia. Pada tahun 1949, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dan menarik seluruh pasukannya dari wilayah Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar, pada 27 Desember 1949 di Den Haag. Nasib Papua Barat juga dibahas dalam konferensi tersebut.

Peta Netherlands New Guinea (Papua Barat)
Spoiler for "Isi Konferensi Meja Bundar 1949":
1. Belanda mengakui RIS sebagai negara yang merdeka dan berdaulat selambat-lambatnya pada tanggal 30 Desember 1949.
2. Masalah Irian Barat akan diselesaikan dalam waktu satu tahun sesudah pengakuan kedaulatan.
3. Akan didirikan Uni Indonesia Belanda berdasarkan kerja sama.
4. Pengembalian hak milik Belanda oleh RIS dari pemberian hak konsesi dan izin baru untuk perusahaan.
5. RIS harus membayar segala utang Belanda yang diperbuatnya sejak tahun 1942.

Suasana Konferensi Meja Bundar
Sejak bergabung dalam PBB hingga tahun 1961, Indonesia berupaya untuk mendapatkan Papua Barat lewat PBB, namun tidak berhasil. Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB. Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat sebagai daerahnya, Kerajaan Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan masalah ini, namun Indonesia menolak.
Setelah Indonesia beberapa kali menyerang Papua bagian barat, Belanda mempercepat program pendidikan di Papua bagian barat untuk persiapan kemerdekaan. Hasilnya antara lain adalah sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara Papua pada 1957. Sebagai kelanjutan, pada 17 Agustus 1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956.

Suasana pelantikan Gubernur Papua pertama, Zainal Abidin Syah
Pada tahun 1957, Ir. Soekarno memerintahkan untuk seluruh warga negara dan keturunan Belanda untuk hengkang dari Indonesia, puncaknya pada Desember 1967. Semua pelayanan umum tertutup bagi warga Belanda. Hari Sinterklas yang jatuh pada 5 Desember 1957 pun disebut "Sinterklas Hitam". Pada tahun 1958, Ir. Soekarno memerintahkan untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia. Tahun 1960, Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Belanda. Hingga puncaknya, 19 Desember 1961, Ir. Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora, yang berarti perang melawan Belanda.
Quote:
Bagaimana Persiapan Indonesia dalam Merebut Irian Barat?
Dalam Operasi Trikora, Indonesia melengkapi angkatan bersenjatanya dengan senjata buatan Uni Soviet dan Blok Timur (Pakta Warsawa). Karena kedekatan Ir. Soekarno dengan Nikita Kruschev, pemimpin Uni Soviet kala itu, Indonesia berhasil melengkapi angkatan bersenjatanya dengan persenjataan canggih Blok Timur masa itu.

Ir. Soekarno dengan Nikita Kruschev
Spoiler for "Persenjataan yang didapat Indonesia dari Blok Timur":
AURI
1. 41 Helikopter MI-4.
2. 9 Helikopter MI-6.
3. 30 pesawat jet MiG-15 UTI.
4. 49 pesawat buru sergap MiG-17.
5. 10 pesawat buru sergap MiG-19.
6. 20 pesawat pemburu supersonik MiG-21.
7. 22 pesawat pembom ringan Il-28.
8. 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16.
9. 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14.
10. 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B.

Antonov An-12 AURI

MI-6 AURI

MiG-17 AURI, tulang punggung AURI
ALRI
1. 12 kapal selam kelas Whiskey.
2. 1 buah Kapal penjelajah kelas Sverdlov.
3. 12 pesawat TU-16 versi maritim.
4. 8 korvet kelas Riga.
5. 12 kapal cepat rudal kelas Komar.
6. 1 kapal tender kapal selam kelas Don.

KRI Nuku 360, salah satu korvet kelas Riga ALRI

Kapal cepat rudal kelas Komar ALRI
Di sisi lain, Indonesia juga melengkapi angkatan bersenjatanya dengan alutsista buatan Barat, terutama buatan Eropa.
Spoiler for "Persenjataan yang didapat Indonesia dari Blok Barat":
AURI
1. C-130 Hercules, hibah dari Amerika Serikat atas permintaan Indonesia akibat ditangkapnya Allen Pope, agen CIA yang pesawatnya dijatuhkan AURI ketika sedang membantu PRRI/Permesta melakukan serangan.
ALRI
1. 2 korvet kelas Albatross dari Italia.
2. 2 destroyer escortkelas Almirante Clemente dari Italia.
3. 8 motor torpedo boat kelas Jaguar buatan Jerman Barat.

KRI Pattimura, salah satu dari kapal korvet kelas Albatross ALRI

KRI Harimau, salah satu dari 8 MTB kelas Jaguar ALRI
ADRI
1. Tank ringan AMX-13 dari Perancis.
2. Ranpur intai beroda ban EBR/FL-11 Panhard dari Perancis.
3. Kendaraan lapis baja Ferret Mk.2/3 dari Inggris.
4. Ranpur beroda ban VF 601 Saladin dari Inggris.
5. Ranpur beroda ban VF 602 Saracen dari Inggris.
Persiapan Indonesia selain dalam militer, juga dalam ekonomi. Pada tahun 1958, Ir. Soekarno mengeluarkan UU no. 86/1958 tentang nasionalisasi perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia.
Spoiler for "Perusahaan-Perusahaan yang dinasionalisasi":
1. Perusahaan-perusahaan perkebunan.
2. Nederlandsche Handel-Maatschappij.
3. Perusahaan Listrik Phillips.
4. Perusahaan Perminyakan.
5. Rumah Sakit (CBZ) menjadi RSCM.
Dan kebijakan-kebijakan lain seperti:
1. Memindahkan pasar pelelangan tembakau Indonesia ke Bremen (Jerman Barat).
2. Aksi mogok buruh perusahaan Belanda di Indonesia.
3. Melarang KLM (maskapai penerbangan Belanda) melintas di wilayah Indonesia.
4. Melarang pemutaran film-film berbahasa Belanda.
Selain dalam bidang ekonomi dan militer, Indonesia juga mempersiapkan diri dalam bidang diplomasi. Indonesia meminta dukungan kepada India, Pakistan, Australia, Selandia Baru, Thailand, Britania Raya, Jerman, dan Perancis agar mereka tidak memberi dukungan kepada Belanda jika pecah perang antara Indonesia dan Belanda.
Dalam Sidang Umum PBB tahun 1961, Sekjen PBB U Thant meminta Ellsworth Bunker, diplomat dari Amerika Serikat, untuk mengajukan usul tentang penyelesaian masalah status Papua bagian barat. Bunker mengusulkan agar Belanda menyerahkan Papua bagian barat kepada Indonesia melalui PBB dalam jangka waktu 2 tahun.
Quote:
Bagaimana Kerajaan Belanda Mempersiapkan Dirinya untuk Mempertahankan Papua Barat?
Sebagaimana yang diketahui, Kerajaan Belanda menganggap bahwa Papua Barat adalah salah satu provinsinya. Kerajaan Belanda merasa bertanggungjawab untuk melindungi Papua Barat. Ditengah ancaman invasi Indonesia, Kerajaan Belanda harus mempersiapkan diri untuk mempertahankan Papua Barat. Berikut adalah sebagian dari kekuatan Belanda di Papua Barat.
Spoiler for "Kekuatan Belanda di Papua Barat":
AL Kerajaan (Koninlijke Marine)
1. Kapal induk HNLMS Karel Doorman, yang bertugas di Biak.
2. 3 kapal escort destroyer.
3. 1 kapal destroyer.
4. 2 kapal survei.
5. 10 LST (Landing Ship Tank).
6. 3 batalion Korps Marinir.
7. 1 skuadron pesawat anti-kapal salam AS-4 Firefly.
8. 3 pesawat amfibi PBY-5A Catalina.
9. 6 pesawat intai Lockheed P2V-7B Neptune.
Angkatan Udara Kerajaan (Militaire Luchtvaart)
1. 12 Hawker Hunter MK-01.
2. Helikopter Alloutte.
3. Pesawat angkut DC-3 Dakota.

Hawker Hunter

Kapal induk HNLMS Karel Doorman
Di darat, Kerajaan Belanda menyiagakan Tentara Kerajaan (Koninlijk Leger)di bawah pimpinan Kolonel W.D.N. Euckhout. Didukung satu brigade infantri Orange Gelderand berkekuatan 3 batalion tempur, 1 batalion Brigade Papua, dan Detasemen Penangkis Serangan Udara 500. Komando Tertinggi Pertahanan Belanda dipegang oleh Laksamana L.E. Reesers. Markas besarnya di Hollandia (Jayapura) yang merupakan pusat pemerintahan Papua Barat. Sementara markas operasionalnya sengaja ditempatkan di Biak, berhadapan langsung dengan wilayah Republik Indonesia.
Quote:
Bagaimana Langkah Indonesia untuk Merebut Papua Barat?
Pada hari Jumat, 19 Desember 1961, di tengah hujan lebat menyiram Alun-Alun Utara Yogyakarta, Ir. Soekarno mengucapkan pidato bertajuk Tri Komando Rakyat. Keesokan harinya, keluar surat keputusan bersama Ir. Soekarno selaku Panglima Tertinggi. Isinya, pembentukan Komando Mandala dengan tugas khusus membebaskan Papua Barat. Sejumlah langkah yang harus secepatnya dilakukan adalah "melaksanakan Trikora melalui sebuah operasi militer untuk merebut Papua Barat yang masih diduduki Belanda. Selain itu, diperintahkan untuk memimpin berikut menggunakan pasukan bersenjata maupun barisan rakyat serta lainnya yang berada di Papua Barat, dipadukan sebagai sebuah kekuatan nasional."
Tanggal 11 Januari 1962 Presiden Soekarno menetapkan Brigjen Soeharto sebagai Panglima Mandala. Pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Jenderal. Kedudukan Panglima Mandala langsung dibawah Presiden selaku Panglima Besar KOTI Pemibar sekaligus Panglima Tertinggi. Perkembangan tersebut merupakan pelukisan semangat dan tekad rakyat Indonesia dalam membebaskan Papua Barat.
Sebenarnya usaha pembebasan sebenarnya sudah dimulai sejak 1952. Pada tahun itu dilakukan usaha infiltrasi ke Pulau Gag dalam operasi rahasia yang dipimpin Ali Kabar.
Setahun kemudian, Sersan (Inf.) Kalalo bersama pasukannya infiltrasi serupa ke Fakfak. Pada pertengahan 1954, dilakukan infiltrasi ke Teluk Etna dipimpin J.A. Dimara. Kali ini sifatnya lebih spesifik. Mengedarkan uang kertas RI di tanah Papua.
Spoiler for "Kisah Infiltrasi J.A. Dimara ke Teluk Etna":

J.A. Dimara
Nama lengkapnya Johannes Abraham Dimara, dilahirkan 18 April 1918 di Korem, Biak Utara, Papua. Kariernya diawali menjadi guru agama Kristen Protestan di Maluku. Semasa pendudukan Jepang, Dimara menjadi anggota Heiho di Pulau Buru. Ketika kemerdekaan diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Dimara memimpin OPI (Organisasi Pembebasan Irian), berjuang untuk kemerdekaan tanah kelahirannya dalam kerangka Republik Indonesia.
Pada masa itulah, ketika Perang Kemerdekaan, ia bertemu Josaphat Soedarso, yang dikirim pemerintah pusat untuk memimpin ekspedisi laut di Maluku. Sesudah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dan diangkat menjadi perwira militer AD, dia kembali memimpin pasukan gerilya untuk membebaskan Papua Barat.
Mayor Dimara tahun 2010 telah diangkat menjadi pahlawan nasional. Dia melukiskan kisahnya ketika melakukan infiltrasi.
"Penyusupan saya lakukan dengan memakai perahu tradisional, berangkat dari Pulau Buru dengan tujuan Teluk Etna, membawa pasukan sebanyak 40 orang. Kami bersenjata lengkap, memakai seragam, namun tanpa lambang kesatuan."
"Kami berhasil mendarat tanpa hambatan di dekat Kampung Etnabai, Teluk Etna, wilayah Fakfak. Dalam perjalanan melakukan konsolidasi, kami dihadang marinir Belanda sehingga kontak senjata tidak terhindarkan. Menghadapi pertempuran tidak seimbang seperti itu, 11 sukarelawan gugur, sisanya, bersama 29 anak buah, saya tertangkap setelah kehabisan peluru."
"Kami diringkus, kemudian dibawa ke Hollandia (sekarang Jayapura). Setelah beberapa hari mengalami interogasi dan disiksa, selanjutnya dikirim ke pojok tenggara Irian, dipenjarakan di Digoel. Setelah empat tahun disekap tanpa pernah menjalani proses pengadilan kami dibebaskan. Ditambah catatan, langsung diusir dan tidak boleh tinggal di daratan Irian, tempat tumpah darah kami. Penguasa Belanda memutuskan, dengan naik Karosa, kapal penumpang milik KPM. Selama dalam pelayaran, dua anggota yang sejak di Digoel sakit parah meninggal dunia. Dengan demikian, kami waktu itu tinggal 28 orang. Dari Singapura, bersama anak buah, kami bisa pulang ke Jakarta dengan kapal Dengki milik Djawatan Pelayaran."
Sejak kegagalan operasi infiltrasi sebagaimana disebut diatas, selama beberapa waktu kegaiatan tersebut dihentikan. Tetapi. sesudah perjuangan diplomasi dalam membebaskan Papua Barat tidak mencapai hasil yang bermakna, Pemerintah Indonesia sejak pertengahan 1957 mengakhiri kebijakan damai. Tahun 1958, Presiden Soekarno mengubah kebijakan. Indonesia memasuki konfrontasi di segala bidang. Langkah tersebut dilakukan menghadapi sikap kepala batu Belanda.
Setelah Indonesia memasuki masa konfrontasi, pimpinan militer mempersiapkan diri untuk melakukan operasi intelijen. Presiden Soekarno selaku Panglima Besar KOTI mendesak Mayjen Achmad Yani, Kepala Staf KOTI, agar operasi bisa dilakukan secepatnya. Menanggapi desakan tersebut, operasi dilakukan terburu-buru.
Sejak pertengahan 1960, Jenderal Nasution sebenarnya pernah mengeluaran instruksi melakukan operasi khusus dengan sebutan Operasi A, B, C. Operasi A adalah melakukan infiltrasi dan secara fisik masuk ke Papua, untuk mengumpulkan informasi mengenai kekuatan militer Belanda. Selain itu untuk membangkitkan semangat perlawanan rakyat setempat, membentuk kantong-kantong gerilya, dan menunggu datangnya perang terbuka.
Operasi A dilengkapi Operasi B dengan tugas mempersiapkan satuan-satuan militer untuk operasi merebut Papua Barat. Dalam waktu yang bersamaan, dilakukan Operasi C yakni aksi diplomasi di luar negeri untuk memperkuat klaim Indonesia atas Papua Barat.
Quote:
Satuan Tugas Chusus-9 dan Pertempuran Laut Aru
Mayor (Pelaut) Samuel Johanes Muda, Komandan KRI Harimau, berdiri gagah di anjungan. Dengan nomor 607, kapal cepat pembawa torpedo tersebut keluar meninggalkan sarangnya, Pangkalan Komando Perawatan Kapal Tjepat (Kowatkat), Jakarta. Dia berusaha memastikan bahwa tiga kapal sejenis yang tergabung dalam Satuan Tugas Chusus 9 (STC-9) Djanuari telah mengikutinya.
Komandan Satuan Tugas, Kolonel Sudomo adalah pemimpin rombongan kapal perang tersebut. Kapal-kapal perang yang berada dibawah pimpinannya antara lain KRI Harimau, memiliki call signHRM, dipimpin oleh Mayor (Pelaut) Samuel Johanes Muda, KRI Singa, memiliki panggilan SNG dengan nomor lambung 653, dipimpin Letnan (Pelaut) Soegardjito KRI Matjan Tutul, dengan call sign MTL dibawah kendali Kapten (Pelaut) Wiratno, dan KRI Matjan Kumbang, bernomor lambung 606 dengan panggilan MKG, dipimpin Letnan (Pelaut) Sidhoparomo.
Kapal yang mereka gunakan adalah motor torpedo boat (MTB) kelas Jaguar. Sejak pertengahan 1960 mulai memperkuat ALRI. Dibeli dari Jerman Barat, buatan galangan kapal Lursen & Kroger di Bremen. Delapan MTB yang dibeli Indonesia dari Jerman Barat terdiri dari dua varian, kayu mahogani dan besi baja ringan. Kapal ini dideskripsikan sebagai "senjata sangat ampuh jika digunakan secara mendadak karena dengan tiba-tiba sanggup melancarkan serangan. Untuk itu, hanya diperlukan bantuan berupa kegelapan malam. cuaca berkabut, serta kesempatan bersembunyi di belakang pulau kecil atau berlindung dalam sebuah teluk."
Dalam suasana cerah pada awal tahun 1962, empat kapal tersebut beriringan meninggalkan sarang mereka, sesudah singgah dahulu di Pelabuhan Samudera Pura. Semua MTB merapat untuk menerima perbekalan untuk bekal dalam operasi. Sebenarnya, komandan KRI Harimau, Mayor (Pelaut) Samuel Moeda tidak tahu tujuan berlayar. Dia hanya ditugaskan untuk berpatroli beberapa hari dan sasaran baru akan dijelaskan setelah kapal berangkat.
Di sisi lain, komandan KRI Harimau merasa operasi ini dilakukan tergesa-gesa. Skuadron Kowatkat baru pindah dari Surabaya ke Jakarta bulan November 1961. Dua bulan setelahnya, langsung menerima perintah operasi. Semua cuti tahun baru dibatalkan, Semua personil secepatnya kembali ke pangkalan.
Kolonel Sudomo, sebagai Komandan Satuan Tugas sebenarnya menginginkan misinya dijalankan menggunakan kapal selam. Namun karena waktu itu kapal selam Indonesia hanya dua, gagasan tersebut ditolak oleh Laksamana Martadinata. Dia terpaksa mencari kemungkinan lain, dengan kapal ALRI lainnya. Ternyata yang memenuhi persyaratan adalah MTB.
Syaratnya, sebuah kapal harus sanggup menembuh pelayaran tidak kurang dari 2000 mil laut dari pangkalan, harus lincah dan bermanuver, dan harus mampu cepat menghindar seandaikan terdeteksi lawan.
Quote:
Sumber
Konspirasi di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul: Catatan Julius Pour, Julius Pour, 2011, Penerbit Buku Kompas:Jakarta
www.wikipedia.co.id
www.indomiliter.com
www.merdeka.com
Gambar: www.google.com
Diubah oleh bocahjendela 29-03-2015 14:59
0
9.2K
Kutip
24
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bocahjendela
#19
Lanjutan....
Quote:
Genderang Perang Mulai Ditabuh
Quote:
Perang Pernyataan
"Kesatuan ALRI yang sedang melakukan patroli di perairan Indonesia sekitar Kepulauan Aru diserang secara tiba-tiba di lautan bebas oleh kapal perang dan pesawat terbang Angkatan Laut Belanda. Kesatuan ALRI terdiri dari beberapa kapal cepat torpedo ALRI memberikan perlawanan serta pertahanan diri dengan gigih. Pertempuran berlangsung sekitar satu jam, terjadi pada tanggal 15 Januari 1962 sejak pukul 20.00 waktu setempat"
"Hasil pasti dari pertempuran belum diketahui. Hingga kini sering menjadi kebiasaan dari kedua belah pihak, baik oleh kesatuan Angkatan Laut maupun Angkatan Udara, untuk mengadakan patroli. Kadang-kadang satu sama lain bertemu di lautan atau udara bebas. Biasanya masing-masing hanya saling mengintai. Sekarang dengan sengaja Belanda telah menyerang secara tiba-tiba. Pemerintah Republik Indonesia akan mengambil segala tindakan untuk membalas seragan tersebut."
Demikian pernyataan resmi Markas Besar Angkatan Laut (MBAL) di Jakarta, Selasa, 16 Januari 1962. Pernyataan singkat tersebut kemudian dikutip oleh koran-koran di Jakarta dengan judul "Sudah Mulai Bertempur".
Meskipun detail kejadian sama sekali belum ada, semisal berapa motor torpedo boatyang terlibat dan jumlah korban, bagaimanapun berita ini sangat menyentak. Masyarakat disadarkan bahwa peluru pertama sudah ditembakkan, dan hal ini memberi isyarat bahwa tak lama lagi perang terbuka antara Indonesia dan Belanda akan segera meletus.
Tanggal 16 Januari 1962, Presiden/Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengadakan sidang luar biasa dengan Gabungan Kepala Staf, yang juga dihadiri oleh Staf Operasi Pembebasan Irian Barat, membicarakan peristiwa serangan mendadak Angkatan Laut Belanda, yang dalam pers diberi istilah Insiden Aru.
Setelah bersidang, Mayjen Achmad Yani selaku juru bicara Staf Operasi Irian Barat menerangkan kepada pers bahwa tidak benar Indonesia bermaksud melakukan pendaratan ke pantai Irian Barat. Meskipun membantah isu yang beredar, Mayjen Achmad Yani mengakui bahwa sebuah kapal cepat torpedo (MTB) ALRI telah ditenggelamkan oleh tembakan Belanda.
Versi yang dikemukakan Belanda bertolak belakang dari yang disampaikan Indonesia. Komando Angkatan Laut Belanda di Irian Barat mengeluarkan sebuah pengumuman resmi tentang pertempuran di Aru yang disiarkan di Den Haag, Selasa malam tanggal 16 Januari. "Kapal-kapal perang Indonesia dengan kecepatan tinggi sedang menuju ke Pantai Irian Barat, telah lebih dulu melepaskan tembakan ke kapal-kapal Belanda. Dalam sebuah pertempuran yang kemudian terjadi, sebuah kapal cepat torpedo (MTB) Indonesia terbakar dan kapal-kapal Belanda berhasil menangkap awak kapalnya, yang mencoba melarikan diri dengan sekoci pendarat karet".
"Jumlah orang Indonesia yang tertangkap dua kali lebih besar daripada jumlah awak kapal normal yang diperlukan bagi sebuah kapal cepat torpedo. Jumlah awak kapal untuk kapal-kapal tipe tersebut hanya 20 sampai 30 orang. tetapi agaknya MTB Indonesia telah mengangkut 70 sampai 90 orang. Hal ini menunjukkan pihak Indonesia sedang berusaha melakukan pendaratan di pantai Irian Barat."
Radio Australia hari Selasa malam menyiarkan berita, Belanda telah menawan 50 prajurit Indonesia dalam pertempuran Laut Aru.
Siapa yang Menembak Pertama Kali?
Satu pertanyaan yang penting mengenai insiden ini, siapakah yang menembak pertama kali? Indonesia atau Belanda? Kantor berita Perancis, Agence France-Presse (AFP) memberitakan dari Hollandia (Jayapura sekarang) bahwa kapal-kapal perang Belanda mulai menembak pada suatu formasi kapal-kapal perusak Indonesia di perairan teritorial Belanda ketika mereka sedang bergerak ke pantai selatan Irian Barat.
Kantor berita dari Inggris dan Jerman, Reuters dan Deutsche Presse-Agentur (DPA) mengabarkan dari Den Haag, kapal-kapal perang Indonesialah yang mula-mula ditembaki oleh kapal-kapal perang Belanda. Menurut DPA, reaksi pertama di Den Haag adalah perasaan khawatir dengan kenyataan, kapal-kapal perang Belandalah yang melepaskan tembakan pertama kali.
Mengejutkan Dunia Internasional
Berita meletusnya pertempuran antara kapal perang Belanda dan Indonesia di Laut Arafuru juga mengguncang perhatian internasional. Pemerintah Belanda dengan sigap memanfaatkan momentum itu untuk memetik keuntungan politis.
Schuurman, selaku pemimpin delegasi tetap Belanda di PBB memberikan keterangan pers. "Kapal-kapal perang Belanda terpaksa melakukan penembakan karena kapal Indonesia melakukan provokasi dengan menembak lebih dulu sebuah pesawat terbang Belanda. "The Dutch retailed after the Indonesian ignored a warning shot...".
Selain itu, dia menegaskan bahwa, "... an Indonesian force of more than 100 men had been ordered to land near Kaimana, Dutch New Guinea and to try to liquidate the Netherland administration." (Sebuah pasukan Indonesia berkekuatan lebih dari 100 orang telah diperintahkan untuk mendarat di dekat Kaimana dan berusaha untuk menghapus pemerintahan Belanda.)
Kepada U Thant, pejabat Sekjen PBB, Schuurman menyampaikan laporan: "The Indonesian's MTB then opened the fire of an aeroplane where upon HRMS Eversten answered the fire at 10.15 local time, HRMS Kortenaer joined the firing..." (MTB Indonesia kemudian melepaskan tembakan ke sebuah pesawat terbang, kemudian HRMS Eversten menjawab tembakan itu pada 10.15 waktu setempat. HRMS Kortenaer bergabung dalam penembakan tersebut.)
Laporan Schuurman dilengkapi tuduhan bahwa ketiga MTB tersebut melanggar teritori mereka, ".... at 10.08 PM, a visual observation from aeroplane indicate three MTB's at a distance of 12 miles from the coast close to Vlakke Hoek." (pada pukul 10.08 petang, sebuah pengamatan visual dari pesawat terbang mengindikasikan ketiga MTB berjarak 12 mil dari pantai dekat Vlakke Hoek.)
Banjir pernyataan dari pihak Belanda sudah jelas telah memojokkan posisi Indonesia dalam pandangan dunia internasional. Posisi Indonesia semakin terpuruk karena Indonesia tidak bisa memberikan pernyataan yang mampu mematahkan argumen lawan akibat terbatasnya informasi dari Jakarta.
Bantuan dari Seorang Teman
Begitu insiden di Laut Arafuru meletus, Belanda melancarkan protes sekaligus menuduh kapal perang Indonesia menembaki kapal-kapal perang Belanda yang sedang berpatroli di wilayah Irian Barat. Belanda menuntut Dewan Keamanan segera bersidang karena jelas insiden tersebut membuktikan bahwa Indonesia sudah berusaha mendaratkan pasukannya.
Protes delegasi Belanda diterima Husegose Rolzverment, wakil sekjen PBB khusus menangani persoalan Irian Barat. Husegose adalah diplomat Bolivia yang bersimpati kepada perjuangan Indoensia dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Meski tidak ada keharusan, Husegose langsung menelepon Jusuf Ronodipoero, anggota delegasi Indonesia sambil menyebutkan rincian protes Belanda. Dengan demikian, delegasi Indonesia bisa mempunyai cukup waktu untuk persiapan menyusun bantahan.
Berkat kerja keras delegasi Indonesia dan bantuan Husegose, keinginan Belanda memanggil sidang Dewan Keamanan dapat digagalkan. Dengan demikian, pada tahap pertama perjuangan diplomasi mengenai sengketa Irian Barat seusai insiden di Laut Aru, Indonesia berhasil meraih kemenangan politis, menggagalkan tuduhan Belanda bahwa Indonesia agresor.
Seruan Sekretaris Jenderal PBB
Selaku Sekjen PBB, U Thant menyerukan agar kedua pihak yang bersengketa menahan diri. Dia tetap mengharapkan Belanda dan Indonesia, bersedia menggunakan jalan damai dalam upaya penyelesaian sengketa Irian Barat. Secara terbuka, U Thant pernah menyatakan perasaan cemasnya atas terjadinya "insiden berupa pertempuran antara kapal-kapal Angkatan Laut Belanda dan Indonesia di sekitar perairan Irian Barat.
Sebelum insiden Laut Aru, U Thant secara pribadi telah beberapa kali mendesak Belanda dan Indonesia untuk menyelesaikan sengketa dengan melakuakn perundingan, Usul tersebut tidak pernah ditanggapi secara positif dari kedua belah pihak. Tanggapan Indonesia adalah Irian Barat harga mati tercermin dalam pernyataan Menlu Soebandrio, "Indonesia hanya bersedia berunding atas dasar penyerahan Irian Barat kepada Pemerintah Republik Indonesia."
Pilih Nasution atau Aidit?
Tanggal 15 Januari 1962, terjadi insiden Laut Aru yang menenggelamkan KRI Matjan Tutul serta Komodor Laut Jos Soedarso, Deputi I KSAL dan sejumlah ABK. Setelah pertempuran meletus, usaha untuk membebaskan wilayah Irian Barat dari kekuasaan kolonial langsung bergerak cepat menuju konfrontasi terbuka sebagai penyelesaian akhir,
Masyarakat marah, terkejut, dan merasa terhina. Mereka mendesak agar Indonesia secepatnya membalas penghinaan tersebut dengan menyerbu ke Irian. Massa komunis, dipimpin oleh Ketua Umum PKI Dipa Nusantara Aidit, berteriak paling vokal sewaktu mendesak sambil menyampaikan tuntutan.
![kaskus-image]()
Presiden ternyata menolak desakan tersebut. Sebaliknya, dia mengirim Menlu Soebandrio terbang ke Washington D.C., Amerika Serikat, menemui Presiden John F Kennedy dengan membawa satu pesan, "Go and meet Kennedy. Don't argue with him. Just give him the benefit of answering my single question, Which one does Kennedy prefer, Nasution or Aidit?" (Pergi dan temui Kennedy. Jangan berdebat dengannya. Hanya berikan keuntungan dari menjawab pertanyaanku. Yang mana yang Kennedy lebih suka, Nasution atau Aidit?)
![kaskus-image]()
Menlu Soebandrio menemui Presiden Kennedy akhir Januari 1962 di Gedung Putih. Kennedy tidak bersedia menjawab atau menjatuhkan pilihan yang diberikan Soekarno. Namun, pada hari itu juga, Kennedy langsung memerintahkan Ellworth Bunker, seorang diplomat senior sekaligus pakar penyelesaian konflik, untuk turun tangan memimpin perundingan rahasia antara Indonesia dan Belanda. Bahkan, sebagai usaha melunakkan kemarahan Bung Karno, Presiden Kennedy, pada tanggal 12 Februari 1962, mengirim seorang utusan pribadi ke Jakarta. Namanya Robert Kennedy, Jaksa Agung AS, adiknya sendiri.
![kaskus-image]()
Perlu Kambing Hitam
Meski belum jelas apa latar belakangnya, insiden yang meletus di Laut Aru secara politis perlu seseorang untuk dijadikan sebagai kambing hitam. Jenderal Nasution menyebutkan, "Jenderal Achmad Yani masuk ke kamar saya, melaporkan terjadinya pertempuran di Laur Arafuru berikut gugurnya Komodor Jos Soedarso. Saya mendukung pendapat Yani, saat itu jabatannya sebagai Kepala Staf KOTI, agar AURI segera membalas dengan mengebom kapal-kapal Belanda, tetapi AURI ternyata tidak dalat melakukan..."
"Esoknya kami dipanggil Presiden untuk mengadakan rapat mendadak di istana, Pak Djuanda menuntut agar Laksamana Udara Surjadharma, menteri yang juga menjabat KSAU, dicopot."
Presiden semula masih mempertahankan Pak Surjadharma sebagai menteri sehingga hanya diganti posisinya sebagai Kepala Staf AURI. Tetapi Pak Djuanda tegas, tidka ingin memisahkan kedua jabatan tersebut. Sesuai tekad kita sewaktu menyusun kabinet, kepala staf otomatis berkedudukan menteri. Presiden terpaksa menyerah."
"Kesatuan ALRI yang sedang melakukan patroli di perairan Indonesia sekitar Kepulauan Aru diserang secara tiba-tiba di lautan bebas oleh kapal perang dan pesawat terbang Angkatan Laut Belanda. Kesatuan ALRI terdiri dari beberapa kapal cepat torpedo ALRI memberikan perlawanan serta pertahanan diri dengan gigih. Pertempuran berlangsung sekitar satu jam, terjadi pada tanggal 15 Januari 1962 sejak pukul 20.00 waktu setempat"
"Hasil pasti dari pertempuran belum diketahui. Hingga kini sering menjadi kebiasaan dari kedua belah pihak, baik oleh kesatuan Angkatan Laut maupun Angkatan Udara, untuk mengadakan patroli. Kadang-kadang satu sama lain bertemu di lautan atau udara bebas. Biasanya masing-masing hanya saling mengintai. Sekarang dengan sengaja Belanda telah menyerang secara tiba-tiba. Pemerintah Republik Indonesia akan mengambil segala tindakan untuk membalas seragan tersebut."
Demikian pernyataan resmi Markas Besar Angkatan Laut (MBAL) di Jakarta, Selasa, 16 Januari 1962. Pernyataan singkat tersebut kemudian dikutip oleh koran-koran di Jakarta dengan judul "Sudah Mulai Bertempur".
Meskipun detail kejadian sama sekali belum ada, semisal berapa motor torpedo boatyang terlibat dan jumlah korban, bagaimanapun berita ini sangat menyentak. Masyarakat disadarkan bahwa peluru pertama sudah ditembakkan, dan hal ini memberi isyarat bahwa tak lama lagi perang terbuka antara Indonesia dan Belanda akan segera meletus.
Tanggal 16 Januari 1962, Presiden/Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengadakan sidang luar biasa dengan Gabungan Kepala Staf, yang juga dihadiri oleh Staf Operasi Pembebasan Irian Barat, membicarakan peristiwa serangan mendadak Angkatan Laut Belanda, yang dalam pers diberi istilah Insiden Aru.
Setelah bersidang, Mayjen Achmad Yani selaku juru bicara Staf Operasi Irian Barat menerangkan kepada pers bahwa tidak benar Indonesia bermaksud melakukan pendaratan ke pantai Irian Barat. Meskipun membantah isu yang beredar, Mayjen Achmad Yani mengakui bahwa sebuah kapal cepat torpedo (MTB) ALRI telah ditenggelamkan oleh tembakan Belanda.
Versi yang dikemukakan Belanda bertolak belakang dari yang disampaikan Indonesia. Komando Angkatan Laut Belanda di Irian Barat mengeluarkan sebuah pengumuman resmi tentang pertempuran di Aru yang disiarkan di Den Haag, Selasa malam tanggal 16 Januari. "Kapal-kapal perang Indonesia dengan kecepatan tinggi sedang menuju ke Pantai Irian Barat, telah lebih dulu melepaskan tembakan ke kapal-kapal Belanda. Dalam sebuah pertempuran yang kemudian terjadi, sebuah kapal cepat torpedo (MTB) Indonesia terbakar dan kapal-kapal Belanda berhasil menangkap awak kapalnya, yang mencoba melarikan diri dengan sekoci pendarat karet".
"Jumlah orang Indonesia yang tertangkap dua kali lebih besar daripada jumlah awak kapal normal yang diperlukan bagi sebuah kapal cepat torpedo. Jumlah awak kapal untuk kapal-kapal tipe tersebut hanya 20 sampai 30 orang. tetapi agaknya MTB Indonesia telah mengangkut 70 sampai 90 orang. Hal ini menunjukkan pihak Indonesia sedang berusaha melakukan pendaratan di pantai Irian Barat."
Radio Australia hari Selasa malam menyiarkan berita, Belanda telah menawan 50 prajurit Indonesia dalam pertempuran Laut Aru.
Siapa yang Menembak Pertama Kali?
Satu pertanyaan yang penting mengenai insiden ini, siapakah yang menembak pertama kali? Indonesia atau Belanda? Kantor berita Perancis, Agence France-Presse (AFP) memberitakan dari Hollandia (Jayapura sekarang) bahwa kapal-kapal perang Belanda mulai menembak pada suatu formasi kapal-kapal perusak Indonesia di perairan teritorial Belanda ketika mereka sedang bergerak ke pantai selatan Irian Barat.
Kantor berita dari Inggris dan Jerman, Reuters dan Deutsche Presse-Agentur (DPA) mengabarkan dari Den Haag, kapal-kapal perang Indonesialah yang mula-mula ditembaki oleh kapal-kapal perang Belanda. Menurut DPA, reaksi pertama di Den Haag adalah perasaan khawatir dengan kenyataan, kapal-kapal perang Belandalah yang melepaskan tembakan pertama kali.
Mengejutkan Dunia Internasional
Berita meletusnya pertempuran antara kapal perang Belanda dan Indonesia di Laut Arafuru juga mengguncang perhatian internasional. Pemerintah Belanda dengan sigap memanfaatkan momentum itu untuk memetik keuntungan politis.
Schuurman, selaku pemimpin delegasi tetap Belanda di PBB memberikan keterangan pers. "Kapal-kapal perang Belanda terpaksa melakukan penembakan karena kapal Indonesia melakukan provokasi dengan menembak lebih dulu sebuah pesawat terbang Belanda. "The Dutch retailed after the Indonesian ignored a warning shot...".
Selain itu, dia menegaskan bahwa, "... an Indonesian force of more than 100 men had been ordered to land near Kaimana, Dutch New Guinea and to try to liquidate the Netherland administration." (Sebuah pasukan Indonesia berkekuatan lebih dari 100 orang telah diperintahkan untuk mendarat di dekat Kaimana dan berusaha untuk menghapus pemerintahan Belanda.)
Kepada U Thant, pejabat Sekjen PBB, Schuurman menyampaikan laporan: "The Indonesian's MTB then opened the fire of an aeroplane where upon HRMS Eversten answered the fire at 10.15 local time, HRMS Kortenaer joined the firing..." (MTB Indonesia kemudian melepaskan tembakan ke sebuah pesawat terbang, kemudian HRMS Eversten menjawab tembakan itu pada 10.15 waktu setempat. HRMS Kortenaer bergabung dalam penembakan tersebut.)
Laporan Schuurman dilengkapi tuduhan bahwa ketiga MTB tersebut melanggar teritori mereka, ".... at 10.08 PM, a visual observation from aeroplane indicate three MTB's at a distance of 12 miles from the coast close to Vlakke Hoek." (pada pukul 10.08 petang, sebuah pengamatan visual dari pesawat terbang mengindikasikan ketiga MTB berjarak 12 mil dari pantai dekat Vlakke Hoek.)
Banjir pernyataan dari pihak Belanda sudah jelas telah memojokkan posisi Indonesia dalam pandangan dunia internasional. Posisi Indonesia semakin terpuruk karena Indonesia tidak bisa memberikan pernyataan yang mampu mematahkan argumen lawan akibat terbatasnya informasi dari Jakarta.
Bantuan dari Seorang Teman
Begitu insiden di Laut Arafuru meletus, Belanda melancarkan protes sekaligus menuduh kapal perang Indonesia menembaki kapal-kapal perang Belanda yang sedang berpatroli di wilayah Irian Barat. Belanda menuntut Dewan Keamanan segera bersidang karena jelas insiden tersebut membuktikan bahwa Indonesia sudah berusaha mendaratkan pasukannya.
Protes delegasi Belanda diterima Husegose Rolzverment, wakil sekjen PBB khusus menangani persoalan Irian Barat. Husegose adalah diplomat Bolivia yang bersimpati kepada perjuangan Indoensia dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Meski tidak ada keharusan, Husegose langsung menelepon Jusuf Ronodipoero, anggota delegasi Indonesia sambil menyebutkan rincian protes Belanda. Dengan demikian, delegasi Indonesia bisa mempunyai cukup waktu untuk persiapan menyusun bantahan.
Berkat kerja keras delegasi Indonesia dan bantuan Husegose, keinginan Belanda memanggil sidang Dewan Keamanan dapat digagalkan. Dengan demikian, pada tahap pertama perjuangan diplomasi mengenai sengketa Irian Barat seusai insiden di Laut Aru, Indonesia berhasil meraih kemenangan politis, menggagalkan tuduhan Belanda bahwa Indonesia agresor.
Seruan Sekretaris Jenderal PBB
Selaku Sekjen PBB, U Thant menyerukan agar kedua pihak yang bersengketa menahan diri. Dia tetap mengharapkan Belanda dan Indonesia, bersedia menggunakan jalan damai dalam upaya penyelesaian sengketa Irian Barat. Secara terbuka, U Thant pernah menyatakan perasaan cemasnya atas terjadinya "insiden berupa pertempuran antara kapal-kapal Angkatan Laut Belanda dan Indonesia di sekitar perairan Irian Barat.
Sebelum insiden Laut Aru, U Thant secara pribadi telah beberapa kali mendesak Belanda dan Indonesia untuk menyelesaikan sengketa dengan melakuakn perundingan, Usul tersebut tidak pernah ditanggapi secara positif dari kedua belah pihak. Tanggapan Indonesia adalah Irian Barat harga mati tercermin dalam pernyataan Menlu Soebandrio, "Indonesia hanya bersedia berunding atas dasar penyerahan Irian Barat kepada Pemerintah Republik Indonesia."
Pilih Nasution atau Aidit?
Tanggal 15 Januari 1962, terjadi insiden Laut Aru yang menenggelamkan KRI Matjan Tutul serta Komodor Laut Jos Soedarso, Deputi I KSAL dan sejumlah ABK. Setelah pertempuran meletus, usaha untuk membebaskan wilayah Irian Barat dari kekuasaan kolonial langsung bergerak cepat menuju konfrontasi terbuka sebagai penyelesaian akhir,
Masyarakat marah, terkejut, dan merasa terhina. Mereka mendesak agar Indonesia secepatnya membalas penghinaan tersebut dengan menyerbu ke Irian. Massa komunis, dipimpin oleh Ketua Umum PKI Dipa Nusantara Aidit, berteriak paling vokal sewaktu mendesak sambil menyampaikan tuntutan.

D.N. Aidit, Ketua Umum PKI bersama Presiden Soekarno
Presiden ternyata menolak desakan tersebut. Sebaliknya, dia mengirim Menlu Soebandrio terbang ke Washington D.C., Amerika Serikat, menemui Presiden John F Kennedy dengan membawa satu pesan, "Go and meet Kennedy. Don't argue with him. Just give him the benefit of answering my single question, Which one does Kennedy prefer, Nasution or Aidit?" (Pergi dan temui Kennedy. Jangan berdebat dengannya. Hanya berikan keuntungan dari menjawab pertanyaanku. Yang mana yang Kennedy lebih suka, Nasution atau Aidit?)

Jenderal Besar A.H. Nasution
Menlu Soebandrio menemui Presiden Kennedy akhir Januari 1962 di Gedung Putih. Kennedy tidak bersedia menjawab atau menjatuhkan pilihan yang diberikan Soekarno. Namun, pada hari itu juga, Kennedy langsung memerintahkan Ellworth Bunker, seorang diplomat senior sekaligus pakar penyelesaian konflik, untuk turun tangan memimpin perundingan rahasia antara Indonesia dan Belanda. Bahkan, sebagai usaha melunakkan kemarahan Bung Karno, Presiden Kennedy, pada tanggal 12 Februari 1962, mengirim seorang utusan pribadi ke Jakarta. Namanya Robert Kennedy, Jaksa Agung AS, adiknya sendiri.
Ellsworth Bunker, Diplomat Amerika Serikat
Perlu Kambing Hitam
Meski belum jelas apa latar belakangnya, insiden yang meletus di Laut Aru secara politis perlu seseorang untuk dijadikan sebagai kambing hitam. Jenderal Nasution menyebutkan, "Jenderal Achmad Yani masuk ke kamar saya, melaporkan terjadinya pertempuran di Laur Arafuru berikut gugurnya Komodor Jos Soedarso. Saya mendukung pendapat Yani, saat itu jabatannya sebagai Kepala Staf KOTI, agar AURI segera membalas dengan mengebom kapal-kapal Belanda, tetapi AURI ternyata tidak dalat melakukan..."
"Esoknya kami dipanggil Presiden untuk mengadakan rapat mendadak di istana, Pak Djuanda menuntut agar Laksamana Udara Surjadharma, menteri yang juga menjabat KSAU, dicopot."
Presiden semula masih mempertahankan Pak Surjadharma sebagai menteri sehingga hanya diganti posisinya sebagai Kepala Staf AURI. Tetapi Pak Djuanda tegas, tidka ingin memisahkan kedua jabatan tersebut. Sesuai tekad kita sewaktu menyusun kabinet, kepala staf otomatis berkedudukan menteri. Presiden terpaksa menyerah."
0
Kutip
Balas