Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#3046
PART 112

Gue duduk terhenyak di kursi sambil memejamkan mata. Sesekali gue menarik-narik bibir gue lembut, dan menghela napas panjang. Sesuatu yang udah gue perkirakan, memang akhirnya terjadi. Kondisi gue waktu itu bak buah simalakama. Gak bisa dipungkiri, ada sesuatu yang lain yang membuat gue melakukan ini semua. Tapi hidup ini adalah pilihan. Pada akhirnya gue harus memilih. Gue membuka mata dan melihat beberapa rekan kerja gue di seberang ruangan, tersenyum dan tertawa satu sama lain. Saat ini senyum gue lenyap entah kemana, dan gue bertekad mengembalikan lagi senyum yang hilang. Gue gak boleh lari, gue harus menyelesaikan semua ini.

Sore hari, gue mengetuk pintu apartemen gue, dan 3 detik kemudian pintu terbuka. Gue melihat Tami, wajahnya risau. Gue gak perlu bertanya lebih lanjut tentang sebab wajah itu. Kami berdua sudah saling paham dalam diam. Gue tersenyum kecil dan masuk ke dalam, melepas sepatu, dan kemudian menjatuhkan diri ke sofa sambil memejamkan mata. Tami kemudian duduk di sebelah gue. Gue membuka mata, dan melihat wajahnya semakin risau.

Quote:


Gue memandangi Tami dengan mata sayu dan senyum yang lemah, kemudian menempelkan telunjuk di bibir gue sendiri. Menyuruhnya diam.

Quote:


Tami mulai gusar. Dia mulai panik dan suaranya agak meninggi.

Quote:


Tami kemudian berdiri dengan emosional, dan berjalan cepat menuju kamarnya. Gue bisa menebak apa yang akan dia lakukan. Setelah berpikir beberapa saat, gue berdiri dan menyusulnya, kemudian gue berdiri bersandar di kusen pintu, memasukkan satu tangan gue ke kantong celana sementara tangan yang satu menggosok-gosok bibir dengan jempol. Gue melihat Tami mengeluarkan travelbag hitamnya, dan memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.

Gue menunggu beberapa saat, kemudian maju dan memegang pergelangan tangan Tami yang sedang memasukkan barang-barangnya ke tas. Gue berusaha memasang ekspresi wajah sekalem mungkin, dan tersenyum tipis.

Quote:


Gue mengajak Tami ke depan TV, duduk di sofa. Gue melihat Tami di samping gue duduk dengan lutut yang saling menempel dan kedua tangan diatas paha, seolah-olah penjahat yang tertangkap basah dan merasa sangat bersalah. Gue sebagai manusia yang mempunyai perasaan, pastilah merasa sangat iba akan kondisinya, meskipun gue tau posisi gue sekarang serba salah.

Tami kemudian menutup mukanya dengan kedua tangan, dan mulai menangis perlahan. Gue merasa sangat bersalah. Ya, gue tau gue salah menampung Tami disini. Tapi gue tau persis dia gak punya siapapun di Jakarta sini karena keluarganya hanya sedikit. Gue juga tau persis sifatnya dia yang gak mau merepotkan orang lain, kecuali dia sangat terpaksa membutuhkan bantuan, seperti waktu di McD beberapa hari lalu.

Dia masih Tami seperti yang gue kenal sejak 5 tahun lalu. Dia masih Cumi Tukang Nyatet yang mau berbagi bangku dengan pengemis untuk makan bersamanya. Dia masih seorang Tami yang rela panas-panas jalan dari kampus ke kosan setiap hari gara-gara gak mau ngerepotin temennya. Dia masih seorang Tami yang keras, bawel, perhatian tapi kesepian di dalam hatinya. Dan sekarang gue tau dia berada di salah satu titik terendah di kehidupannya, dan dia gak punya apapun atau siapapun untuk dijadikan perlindungan. Bahkan untuk sekedar berlindung dari air hujan, secara harfiah.

Quote:


*Tami menoleh, memandangi gue dengan air mata yang masih mengalir*

Quote:


Tami menutupi mukanya dengan kedua tangan, dan dia menangis lagi. Kali ini lebih keras. Gue menepuk-nepuk pundaknya untuk menenangkan, meskipun gue rasa itu percuma.

Quote:


Tami masih menangis, tapi lama-kelamaan tangisnya mereda. Ketika dia sudah mulai tenang, dia membuka kedua tangannya yang sedari tadi menutupi muka, kemudian memandangi TV yang mati. Pandangannya kosong, tapi matanya bengkak parah. Hidungnya memerah. Gue mengguncangkan pundaknya, bermaksud menenangkan.

Quote:


Tami mulai menangis lagi, perlahan. Gue menepuk pahanya, tersenyum dan memiringkan kepala gue.

Quote:


Gue kemudian bangkit dan membuatkan Tami segelas teh panas, sekedar untuk menghangatkan hati dan pikirannya yang kacau. Sebenarnya gue juga membutuhkan, bahkan mungkin dengan dosis lebih, tapi nevermind lah. Dengan wajah yang sedikit membengkak, dan mata yang sembab akibat menangis terlalu lama, Tami meniup-niup tehnya.

Quote:


Gue berjalan ke arah pintu balkon, dan bersandar di kusen pintu sambil berkacak pinggang, memandangi senja di Jakarta yang mulai datang. Gue menghela napas.

Quote:


Meskipun gue membelakangi Tami tapi gue bisa merasakan dia tersenyum kecil di belakang gue sambil memegang cangkir teh panas buatan gue tadi.

Quote:


Gue tersenyum kecil, kemudian menghela napas melalui mulut dan memandangi langit senja.
khodzimzz
jenggalasunyi
pulaukapok
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.