- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#206
Partitur no. 47 : One Year With You
Setahun lalu, tepatnya melalui tanpa kesengajaan, aku bertemu dengan seseorang dan jatuh cinta pada pandangan pertama; sebuah fase konvensional yang menurutku cukup susah untuk dijelaskan. Ia masuk ke dalam hidupku begitu saja. Mengubah hari demi hari yang terasa datar, menjadi lebih berwarna. Ia hadir mengubah beberapa pola pikirku, dan Ia hadir memberikan banyak pengalaman berharga dalam setahun ini.
Tahun lalu, kami bagaikan orang asing yang bertemu, lalu memasuki kehidupan masing-masing, melewati berbagai tantangan baru bersama-sama. Ia bagaikan petikan halus dawai seorang Dewa Budjana; membuatku terbawa suasa tenang, damai, membuatku lupa akan beban hidup, dan terkadang melupakan waktu.
Membina hubungan selama setahun tanpa konflik yang benar-benar besar itu suatu rekor untukku, sangat kontras dengan kehidupanku dulu. Rasanya, aku ingin terus mempertahankan hubungan seperti ini, hubungan tanpa tekanan, dan sebuah hubungan yang sangat nyaman. Ini adalah satu tahun yang sangat berharga untukku, sama sekali tak ada yang berubah sejak kami berdua bertemu. Ia tetap Tasya yang aku kenal setahun lalu. Lantas, aku masih tertawa jika aku melihat kembali percakapan kami di facebook waktu itu.
Aku tak percaya, bahwa kejadian tanpa sengaja itu membawa hubungan kami sampai setahun ini. Sebelumnya, mencapai setahun untukku adalah sebuah tekanan terbesar. Setahun bukan merupakan waktu yang sebentar, tapi, aku merasakan setahun ini adalah waktu yang sangat cepat dan tidak terduga.
Quote:
Singkat cerita, hari yang kami berdua tunggu-tunggu itu pun akhirnya datang juga. Memang Kami merayakannya tidak benar-benar bertepatan dengan hari di mana setahun anniversaryitu terjadi. Menurut banyak orang, esensi dari hari spesial memang lebih terasa di mana tepat hari itu terjadi. Jika sudah lewat sehari atau dua hari, itu menjadi hal yang biasa saja, tidak menjadi hal yang spesial. Terkadang itu memang benar, tapi tidak terjadi padaku saat ini.
Kami bertemu di sebuah tempat di mana Kami menyerahkan proposal sekitar sebulan yang lalu. Seperti biasa, walaupun aku sudah berniat berangkat lebih awal agar tidak telat, tetap saja Tasya datang lebih awal dari padaku.
Aku melihatnya sedang terdiam sambil duduk, memakai kaos putih dengan celana jeans biru favoritnya. Ada sesuatu yang berbeda darinya. Entah, aku yang mengenalnya selama setahun melihat perbedaan itu, tapi, aku bingung apa yang berbeda darinya. “Hai, sayang! Kamu udah lama nyampe?” ujarku sambil menarik kursi untuk duduk.
“Hehe nggak sih sayang, sekitar lima belas menit aja aku di sini,” jawabnya dengan senyum seperti biasanya. “Mau langsung berangkat aja apa gimana, sayang?”
“Kalo kamu nggak lagi makan atau minum ayo langsung berangkat aja” kataku dengan mantap. Kulihat, ia langsung memasukan minuman ke dalam tas ransel favoritnya dan menarik tanganku untuk membawaku ke ujung jalan untuk menunggu bus yang lewat. Untungnya, kami berangkat dari siang, sehingga aku tidak kesulitan menemukan bus yang kosong dan lega.
Sudah lama rasanya aku tak menaiki bus ini, padahal ketika aku menduduki masa-masa SMP, setiap hari aku selalu menaiki bus ini. Cukup praktis karena bus ini langsung mengantarkanku dekat dengan sekolahku itu. Rasa rindu akan lingkungan yang sangat familiar itu langsung tercuat ketika kami turun dari dalam bus. Suasana lingkungan yang sepi, namun damai, penuh dengan pepohonan, dan jarang sekali kendaraan.
Aku langsung menjelaskan momen-momen indahku saat masih SMP kepada Tasya di setiap jalan yang Kami langkahi. Nampaknya, Tasya cukup menyukai lingkungan semasa SMP ku itu. Ia sangat menyukai jalanan kosong tepat depan sekolah yang dipenuhi pohon di pinggir jalannya yang sangat rindang. Sayang, di seberang sekolahku itu sedang dibangun sebuah Hotel, padahal, tadinya itu adalah bangunan yang bersejarah.
“Bagus banget ya, sayang..” ujarnya sambil menengok dan terus memandangi jalan itu.
“Iya, makannya aku suka banget di sini. Sayang, SMA ku cukup jauh dari sini. Di SMA ku juga bagus sih, karena lingungan komplek gitu, tapi, pemandangan ini nggak bisa di lupain..” ucapku menjelaskan. Ia mengangguk, pertanda mungkin ia juga menyetujuinya.
“Makan dulu yuk, sayang? Di sini ada tempat makan, nggak?” tanyanya kepadaku.
“Ada kok, nggak jauh dari sini..” aku pun langsung memegang tangannya dan menuntunnya menuju arah di mana saat dulu SMP, aku melewati jalan itu sebagai jalan pulang dan untuk menunggu bus yang sama menuju perempatan rumahku. Mulutku tak henti-hentinya membicarakan nostalgia masa-masa indah ketika SMP. Nostalgia yang indah dengan orang baru ku kenal setahun. Tasya sangat senang melihatku mulai banyak bicara, terlebih karena aku lebih banyak berbicara saat Kami bertukar pesan.
Akhirnya setelah melihat-lihat makanan yang tersedia sepanjang jalan di dekat stasiun kereta itu, mata Kami tertuju pada sebuah restoran masakan cepat saji, karena ternyata perutku, tepatnya perut kami berdua tanpa sengaja memang sedang sangat lapar, terlebih, memang ini pas saat jam makan siang.
Kami langsung memesan makanan dengan paket yang sama, dan mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman. Karena tepat sekali jam makan siang, lantai bawah sudah dipenuhi oleh orang-orang yang juga sangat kelaparan. Aku menemukan satu tempat yang baru saja kosong di lantai atas.
Ketika makan siang itu, aku baru menyadari apa yang berbeda dari Tasya; rambutnya di kuncir. Sebuah hal yang simpel, namun ternyata membuat ia terlihat sangat berbeda. Seorang tomboy yang sangat cantik. Kebetulan, rambutnya sudah sebahu sekarang. Lantas, kami langsung berbincang-bincang tentang rencana Kami selanjutnya.
Rencananya, aku akan mengajaknya ke Taman Menteng, sebuah Taman Kota yang dulu sangat sering aku kunjungi. Taman yang indah di pusat Ibu Kota Jakarta yang padat akan penduduk ini. Setelah itu, aku akan mengajak ke Taman Kota yang tak jauh dari Taman Menteng, yang menurutku juga tak kalah indahnya. Taman ini sering menjadi banyak pasangan, keluarga, olahragawan, dan taman untuk para freelancer menyalurkan bakat seninya. Nama taman itu adalah Taman Suropati.
Setelah kami selesai menyantap makan siang, Kami langsung keluar dari restoran itu untuk menuju kepada rencana Kami selanjutnya.
“Yuk!” ujar Tasya dengan nada tak sabar.
“Kalo jalan aja gimana? Nggak gitu jauh, sih. Apalagi ada Kamu” usulku kepada Tasya.
“Hm, mulai deh gombal mautnya,” jawab Tasya dengan nada ketus namun bercanda. “Nggak apa-apa kalo jalan, biar Kamu kurusan dikit” ledek Tasya sambil menjulurkan lidahnya kepadaku.
Kami pun langsung menuju perjalanan via jalan kaki ke Taman Menteng. Selama perjalanan itu, tak berhenti salah satu dari kami menjahili satu sama lain. Mungkin, dalam pikiran orang lain, itu adalah hal yang cukup romantis; saling bercanda di sepanjang tepi jalan yang indah di sebelah pohon yang cukup banyak. Tapi, sebenarnya Tasya kalau jahil sudah melebihiku, sehingga aku tidak sempat membalas.
“Eh, ini hujan deras, gimana nih?” ujar Tasya sambil mencari bahan untuk menutupi kepalanya dari air hujan yang turun ke bumi dengan derasnya. Cukup lama ia mencari-cari untuk menutup kepalanya, aku mengambil jaket di dalam tasku dan meletakan jaketku di atas kepalanya. Awalnya, aku hanya ingin melindunginya dari hujan, dan membiarkan diriku basah kehujuanan. Namun, Tasya yang sedang jahil tak terhingga ternyata tak tega melihatku kehujanan sendiri. Ia berbagi jaket yang kuberikan kepadanya. Bukan sepayung berdua seperti pada hal yang konvensional, namun satu jaket berdua.
Kami terus menelusuri jalan dengan cepat dan berteduh di sebuah tepat di seberang Taman Menteng, sebuah tempat yang sedang digandrungi banyak anak muda Jakarta, dengan menu andalan sebuah minuman soda. Setibanya disana, bukannya mengeringi badan, Kami malah sama-sama menertawakan hal yang baru saja Kami berdua alami tengah derasnya hujan itu.
Menunggu hujan deras akan reda itu seperti menunggu kapan kita tahu kapan daun akan jatuh dari tangkainya; sama-sama tak menentu. Tapi, kali ini, aku benar-benar menikmati hujan deras di hari itu. Hujan deras yang menambah ke romantisan di hari yang kami berdua pilih sebagai hari untuk merayakan sesuatu yang spesial.
Adalah ideku untuk melanjutkan perjalanan ketika hujan mulai reda, walaupun bukan reda yang sangat terlihat. Namun, Tasya tidak menganjurkannya, setidaknya sampai pakaian Kami mulai kering. Sebenarnya pakaian Kami tidak terlalu basah, hanya jaket ku saja yang sangat basah kuyup. Aku memandangi hujan indah pada siang menjelang sore itu bersamanya.
Lantas, aku menanyakan sebuah pertanyaan yang cukup wajar ditanyakan ketika orang sedang merayakan sesuatu.
“Menurut kamu, hubungan kita ini gimana?”
“Aku suka hubungan sehat kayak gini” jawabnya menatapku dengan santai.
“Kan dulu kamu pernah bilang ke aku, bahwa kita harus terbuka kalo ada sesuatu, harus di komunikasiin..” ujarku perlahan.
“Ya, terus?” ia menatapku dengan tatapan yang melemahkanku untuk menatapnya.
“Aku pengen kamu jujur.. Sebenernya, apa yang kamu nggak suka dari aku sih?” kataku dengan gugup. “Kenapa Kamu bisa mau sama aku? Kan aku orangnya berantakan, terkadang suka telat parah, paling sering bikin kesalahan, masih sering labil, bukan orang yang di impiin cewe..
Udah gitu aku susah ngambil keputusan, kurang tegas, pemalu, terkadang cerewet, plin-plan, kekanak-kanakan, nggak karuan, apa lagi, ya? Banyak banget deh, lengkap kan, tuh?” ia hanya menghela nafas panjang dan menatapku dalam-dalam dengan penuh kasih sayang.
“Buat aku, kamu itu beda. Ya, beda. Kamu spesial, spesies yang udah jarang ada. Aku tau Kamu butuh seseorang yang membimbing kamu, dan akulah yang akan ngebimbing kamu. Aku selain jadi pacar Kamu, aku bisa menjadi sahabat, teman, tempat curhat, dll. Aku bisa menata hidup kamu lebih baik.” Jawabnya dengan serius.
“Emang apa yang udah aku lakuin ke kamu, kenapa kamu bisa segitunya sama aku?” tanyaku dengan bodoh.
“Kamu tau magnet, kan?” jelasnya dengan pelan. “Magnet itu mempunyai dua sisi yang berbeda. Satu sisi yang sama akan saling bertolak belakang, sementara, sisi satunya yang berbeda, membuat magnet itu jadi menyatu. Mereka bersatu karena kubu yang berbeda, namun mereka menolak untuk kubu yang sama. Walaupun yang sama malah bertolak belakang, namun mereka tetap menyatu di satu sisi. Mereka sama-sama sebuah magnet.
Kita bisa menyatu karena terjadi suatu perbedaan yang jelas nampak. Tapi, persamaan kita itu satu dari lain hal yang bikin aku tertarik sama kamu. Karena Kamu itu beda, Man. Nah, kita ibaratnya seperti magnet, saling membutuhkan walau kita banyak yang sama, dan tentunya banyak yang berbeda pula, tapi kita menyatu.” ia tersenyum manis. Jawabannya membuatku tercengang.
“Sekarang gantian. Apa yang nggak kamu suka dari aku?” tanya Tasya dengan nada menggoda.
Tidak butuh waktu lama untukku menjawab pertanyaan Tasya itu, aku mengucapkannya dengan nada yang cukup lantang, dan tegas, “Aku nggak suka sama kamu kalo kamu udah berhenti sayang sama aku dan berhenti ada untuk ngebimbing aku.” ia tertawa dan tersenyum mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari mulutku. "Biarkan aku terus mencintaimu, biarkan hari ini terus kita kenang, biarkan waktu berjalan dengan pelan, biarkan tahun-tahun berikutnya sama seperti kita pertama ketemu. Biarkan Kamu terus ngebimbing aku, aku masih butuh Kamu." lanjutku.
"Boleh aku minta satu hal?" ujar Tasya dengan terharu. "Tolong kamu jangan berubah. Biarin aku ngebimbing Kamu terus. Aku mau begini terus tanpa berubah.. "
"Emangnya aku power ranger bisa berubah?"
Hujan deras menambah kesan drama pada adegan ini. Terus menerus sampai malam. Entah kenapa, hujan deras ini seperti mengerti sesuatu. Ia adalah saksi sejarah hari itu.
I never wanted to say
How much I liked you
I never wanted to be
One of your sad discoveries
We'll see
I never wanted to live
My life without you
I never wanted to coast
Always wanted to be an anomaly
I never wanted to say
How much I loved you
I never wanted to be
One of your, sad discoveries
My girl
I think I'm in love
It's the scariest place to be alive
How much I liked you
I never wanted to be
One of your sad discoveries
We'll see
I never wanted to live
My life without you
I never wanted to coast
Always wanted to be an anomaly
I never wanted to say
How much I loved you
I never wanted to be
One of your, sad discoveries
My girl
I think I'm in love
It's the scariest place to be alive
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:53
0
