Kaskus

Story

kevinadr04Avatar border
TS
kevinadr04
Claudya.
haloo.. kali ini ane mau nulis cerita baru, dan dengan gaya tulisan yang baruemoticon-Big Grinsetelah sebelumnya dengan cerita DIALOGUE (DIA, LO, GUE) yang nggak kelar, karena ada sesuatu, bukan bermasalah sama tokohnya tapi karena ane udah agak lupa cerita dan kisahnya, makanya nggak ane terusinemoticon-Ngakak (S) insyaAllah, kali ane tulis sampe kelar sambil ngisi liburan kuliah dan belajar nulis. Heheemoticon-Big Grin

PROLOG:

Spoiler for :


INDEX

Spoiler for :

Diubah oleh kevinadr04 01-10-2015 04:14
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
9.6K
61
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
kevinadr04Avatar border
TS
kevinadr04
#44
Aku Yang Belum Mengenal Claudya Begitu Dalam
Sedikit mengulang kejadian kemarin, dimana rumah Claudya sama dengan hari-hari sebelumnya. Sepi, sunyi, tidak ada orang satu pun dirumahnya. aku bisa mengerti apa yang dirasakan Claudya, setiap pulang sekolah tak ada orang, begitu kurangnya perhatian dia dari orang-orang di lingkungan keluarganya. Kadang dia suka melakukan hal-hal bodoh, dari pulang sekolah tidak langsung pulang kerumah dan pulang larut malam, sampai beberapa kali mencoba pergi dari rumah sendirian tidak tahu kemana arah ia mau pergi.

“dy, kok perasaan rumah kamu sepi terus sih setiap hari?” tanyaku heran.

“udah nggak heran, aku juga sampe kesel. Setiap hari begini terus, nanti sore pasti baru pada pulang. Mamah kerja, kakak aku juga kerja terus. Palingan cuma sabtu minggu doang mereka dirumah.” claudya terlihat begitu emosional.

“hmm.. sabar yaa, aku bakal nemenin kamu kok. Lagipula mereka kerja kan buat menuhin kebutuhan kamuu.” Aku mencoba menenangkannya.

“iya, sayang. Makasih yaa.” claudya tersenyum.

“kamu mau minum apa?” tanyanya.

“nggak usah repot-repot. Air dingin aja, dy.” jawabku

“sebentar ya, aku ambilin dulu.” Claudya masuk ke dalam rumahnya.

“ini, buat kamuu.” Claudya memberikan sebotol air minum dingin dan gelasnya.

“makasih ya, dy. aku boleh tanya sesuatu nggak?” tanyaku.

“iya, kenapa?”

“perasaaan aku nggak pernah liat ayah kamu, ayah kamu kemana yaa? Masih ada, kan?”

“ayah aku masih ada kok, tapii….…..”

“tapi apa dy?” tanyaku begitu penasaran.

“tapi aku nggak tau dia dimana. dari aku umur 2 tahun, ayah udah ninggalin aku, mama, dan kakak-kakak aku.” Claudya menundukkan kepalanya.

“kok bisa?” aku masih penasaran.

Claudya menarik nafas..

“jadi, dulu waktu aku masih umur 2 tahun. Ayah aku nikah lagi, mamah dan anak-anaknya ditelantarin gitu aja setelah dia nikah lagi. Mamah aku yang waktu itu masih ngurus aku dan kakak-kakak aku yang masih kecil, harus susah payah banting tulang supaya anak-anaknya bisa tumbuh sampe dewasa kayak sekarang. rumah aku juga sebenernya nggak disini. Harta mamah aku diabisin sama ayah gara-gara istri mudanya.” Pipi claudya mulai membasah akibat air mata yang turun.

“maaf, dy. aku nggak bermaksud untuk tau urusan pribadi keluarga kamu.” Aku mengelap air matanya yang jatuh di pipi.

“gapapa sayang, kamu kan pacar aku. Lagi juga aku yang mau cerita ke kamu kok.”

“terus kamu nggak tanya keberadaan ayah kamu sekarang ada dimana, sama mamah kamu. gitu?”

“enggak, aku juga nggak pernah mau tau ayah sekarang dimana. Aku udah terlanjur benci sama dia.” Claudya terlihat begitu emosional.

“huss.. nggak boleh ngomong gitu.” Aku memeluk claudya, mencoba menenangkannya.

“aku udah benci sama dia! Udah telantarin aku, mamah dan kakak-kakak aku, harta mamah aku juga udah dikuras habis gara-gara istri barunya, dan mamah harus banting tulang demi menghidupi anak-anaknya.” Claudya terisak tangis dan sedikit tidak bisa nafas, meluapkan seluruh amarahnya.

ya tuhann.. aku belum begitu mengenal claudya, orang yang selama ini aku anggap periang dan baik-baik saja ternyata menyimpan penderitaan yang luar biasa. Kesepian yang ia alami sangat-sangat menyiksa batinnya. Dimana anak-anak seusianya masih mendapatkan perhatian lebih dan merasakan utuhnya keluarga. Sementara dia, sering melakukan hal-hal bodoh agar ia mendapat perhatian dari orang-orang sekitarnya.

“dy, udah.. jangan sedih lagi yaa.” Aku mengusap-usap punggungnya.

“iyaa sayang.” Claudya bersandar di pundakku.

“kamu jangan sampe kayak ayah aku yaa, vin.” Ucap claudya penuh harap.

“iya sayang, aku akan berusaha jadi yang terbaik buat kamu dan sebisa mungkin ngejaga kamu.”

“makasihh yaa.” Claudya mengusap sisa air mata di pipinya.

“kamu nggak langsung pulang kan?” tanyanya.

“enggak, sayang. Aku mau nemenin kamu sampe mamah kamu pulang kok, atau kamu mau main kerumah aku?” tanyaku menawarkan.

“hmm.. gimana yaa.” Claudya terlihat bingung.

“gimana hayoo?” tanyaku dengan muka meledek.

“ihh!” claudya meraup mukaku dengan tangannya.

“aduhh..” aku menyingkirkan tangannya.

“jadinya gimana? Mau main kerumah aku nggak? hehe”

“yaudah, yuk. Aku ganti baju dulu yaa?”

“iya, dy.”

“jangan ikut kamu, awas aja.” Larang claudya menunjukku.

“siapa yang mau ikut sih, dy? haha” aku tertawa mendengarnya.

“siapa tau gitu, kamu mau ikut. Haha”

“hett.. enggak, takut banget. Emang mau aku apain si kalo aku ikut. Haha”

“nggak tau. Haha” kami berdua tertawa.

Claudya masuk ke kamarnya mengganti baju sekolah yang ia pakai, aku hanya menunggunya di ruang tamu sambil menonton tv. tidak lama claudya keluar dari kamarnya, ia mengenakan jaket hoodie berwarna merah dan celana jeans panjang.

“mau kemana neng, rapih bener?” tanyaku meledek.

“mau pergi kerumah ayang aku, mas. Hehe”

“kamprett.. mas lagi manggilnya-___-“

“Haha bodo. lagi juga diluar panas, makanya aku pake jaket sama celana panjang.” ucapnyanya.

“kalo lu pake celana pendek juga nggak bakal mau gue ngajak kerumah. Haha”

“emang kenapa? Haha” claudya duduk disebelahku.

“kayak cabe-cabean, geli banget gue ngeliat cewek pake celana pendek.”

“dasarr. Haha” claudya menjitakku.

“yaudah, yuk.” Aku mematikan tv yang tadi kunyalakan.

Aku mengajak claudya kerumahku, baru pertama kali claudya main rumahku. Memang lebih sering aku yang main kerumah claudya, dengan mantan-mantanku yang sebelumnya kalau pacaran aku sering mengajak pacar kerumah dan mengenalkan kepada kedua orang tuaku. Karena bagiku mengenalkan pacar ke orang tua itu penting, walaupun belum tentu nantinya aku dengan dia.


“assalamualaikumm..” ucapku setibanya dirumah.

“wallaikum salamm.” Jawab ibuku.

“sini dy, masuk.” Ajak ku pada claudya.

“maluuu.. hehe” claudya malu-malu masih berada digarasi.

“udah, ayuk. Masukk!” aku menarik tangan claudya.

“mah, kenalin.. ini claudya.” aku memperkenalkan claudya pada ibuku.

“……” claudya salim pada ibuku.

“siapa kamu ini, vin?” tanya ibuku senyum-senyum meledek.

“pacar kevin ini, mah.” Jawabku.

Claudya hanya tertunduk malu ketika aku mengatakan bahwa ia adalah pacarku.

“langsung ajak ke atas aja, vin.” Suruh ibuku.

“iya, mah.” Aku berdua claudya berjalan menaiki anak tangga.

“jangan lupa buatin minum vin, ajak makan sekalian.”

“iya, nanti kevin buatin minum, mah.” Teriakku dari atas.

“aku ganti baju dulu yaa?” izinku pada claudya.

“…” claudya hanya mengangguk pelan.

Aku menuju kamarku mengganti seragam sekolahku dengan pakaian bebas, dan celananya hanya mengenakan boxer. Aku tidak mempedulikan ada claudya dirumahku, memang aku sudah terbiasa hanya memakai kaos oblong dan celana boxer kalau dirumah. Selesai mengganti pakaian, kudapati claudya sedang berdiri di balkon melihat orang yang lewat.


“ngapain kamu disini, dy?” tanyaku dari arah belakang menepuk pundaknya.

“enggak, ngeliatin orang lewat aja. hehe” jawab claudya tanpa menoleh ke arahku.

“mau aku buatin minum apa?”

“terserah kamu aja, vin.” Claudya berbalik badan ke arahku dan melihatku dari atas sampai bawah.

“idihh.. pake boxer doang.”

“emang kenapa? hehe” aku menyengir bodoh.

“gue nggak boleh pake celana pendek, dia sendiri malah pake boxer.” Claudya menggerutu.

“yee..kalo lu mah beda cerita kalo pake celana pendek, bisa dikeplak baba gue nanti kalo lu kesini pake celana pendek.”

“biarin, yang di keplak kan kamu ini bukan aku. Haha” claudya tertawa geli.

“dasar paul.” Aku mengacak-acak rambutnya.

“aku kebawah dulu yaa, mau buatin minum dulu.”

Aku jalan ke bawah dan pergi ke warung untuk membeli minuman yang iklannya “Jeruk kok Makan Jeruk” dan juga makanan ringan untuk cemilan kita berdua. Selesai membeli makanan dan minuman, aku kembali ke atas menghampiri claudya yang tengah duduk di lantai bermain dengan kucing anggoraku.

“malah maenan kucinggg..” ucapku sambil menenteng gelas dan makanan di kantong plastic.

“abis lucu kucing kamu. Hehe namanya siapa?” dia masih mengusap-usap kucingku.

“namanya guteng, dy.” aku duduk disampingnya.

“kok guteng?” claudya begitu heran.

“dalam bahasa jawa, guteng itu artinya item, dy. kucing aku kan item semua bulunya, jadi dinamain guteng sama bapak aku.”

“ohh..gitu.” claudya hanya mengangguk.

“minum dulu nih, tadi sekalian aku beliin jajanan nih buat kita berdua.”

“makasih yaa.”

“kamu ngobrol sama mamah kok kaya bukan ngobrol sama mamah kamu yaa, tapi malah kayak temen sendiri.” Ucapnya begitu heran.

“haha. Bapak sama mamah aku emang gitu, mereka selalu bedain kapan waktunya jadi sahabat dan kapan waktunya untuk jadi orang tua.”

“tapi yaa…. Lebih sering jadi sahabatnya sih, daripada jadi orang tua. Haha” sambungku.

“Haha.”

“main ps, yuk.” Ajakku pada claudya.

“emang ada?”

“ada tuh, di kamar aku.”

“yuk, maen. Maen game apa? Maen bola aja yuk!” tantang claudya padaku.

“Ebusett..ini cewek tau-tauan maen ps bola, kayak bisa aja.” Ucapku dalam hati.

“berani nggak?” tantangnya lagi.

“yaudah, emang bisa? Wlee” ledekku.

“bisalah, yaudah cepet nyalain.” Suruhnya.

“iya, neng. Galak bener..”

Akhirnya hari itu aku habiskan bermain ps bola dengan claudya, aku memakai tim favoritku, Manchester United. sedangkan claudya memakai tim favoritnya juga, Barcelona. Awalnya aku terus meledeknya, karena babak pertama aku sudah memasukkan satu gol, sementara ia belum juga membuat gol. Tapi setelah babak kedua dimulai dan ia mengganti formasi, semuanya berubah. Aku dibabat habis 3-1 oleh claudya. “benar-benar gila nih cewek! Aturan gue yang ngeledekin malah jadi dia yang ngeledekin gue abis-abisan.” Setelah babak kedua selesai dan beberapa kali mencoba berganti tim, hasilnya tetap sama, aku kalah! Paling mentok, hasilnya seri, aku tidak pernah dibuat menang.

“tadi ngeledekin, sekarang kok nggak ada suaranya.” Ledek claudya sambil melirik ke arahku.

“stiknya nggak enak nih, kalah mulu jadinya.” Aku berkelit.

“halahh.. emang dasarnya kalah mah, kalah aja. Stik daritadi udah diganti juga tetep aja kalah. Haha” claudya tertawa bahagia melihatku yang dibuat menderita.

“udah ah, kamu kalah mulu.” Claudya menaruh stiknya dan berdiri.

“mending anterin aku pulang, yuk. Udah jam setengah lima nih.” Ucapnya sambil melirik jam tangannya.

“hzzz.. giliran udah puas ngebully gue aja luh, minta pulang. Kampret benerr.” Sindirku.

“Haha. Lagian kamu kalah mulu. Haha” claudya masih meledek.

“yaudah, yuk. Aku anterin kamu pulang.”


Aku mengantarkan claudya pulang kerumahnya, sepanjang jalan pulang masalah kalah bermain game bola masih saja dibahas dan membuat kupingku cukup panas mendengarnya, aku hanya bisa diam menunduk malu sepanjang jalan, daripada aku dibully lagi olehnya.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.