- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#2952
PART 111
Begitulah. Hari-hari gue di yang biasanya sendirian di apartemen itu sekarang berubah sejak kehadiran Tami yang mengungsi untuk sementara di situ. Ketika gue bangun pagi, dan kemudian berjalan keluar kamar menuju dapur, gue melihat meja makan sudah tersedia sarapan telur omelette dan daging asap. DI atas meja itu juga gue mendapati ada secangkir kopi yang masih panas. Mata gue yang baru terbuka separuh, menjadi terbuka sepenuhnya ketika gue melihat ada cewek sedang menjemur handuk di balkon.
Sejenak gue lupa siapa cewek asing yang ada di balkon, tapi ketika dia berbalik, barulah gue ingat kalo Tami nginep disini. Gue yang masih mengantuk, cuek aja ngeloyor ke kamar mandi, kebelet pipis soalnya. Keluar dari kamar mandi, gue mendapati Tami udah duduk di sofa sambil menonton TV. Dia duduk bersila di sofa sambil bersandar ke belakang dan menyeruput sesuatu dari cangkir. Rambutnya juga masih acak-acakan, pertanda dia belum lama bangun tidur. Gue mengambil cangkir kopi dari meja yang tadi gue liat, kemudian duduk di sampingnya. Pandangan gue masih kosong, karena masih ngantuk. Gue baru tersadar lagi ketika Tami mulai berbicara.
Gue memandangi cewek kecil di samping gue ini, dan kemudian menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum tipis. Hidup gue emang kadang-kadang bikin skenario sendiri. Tapi gue merasa hidup gue luar biasa. Contohnya ya sekarang ini. Mungkin Tuhan memang sudah mengklasifikasikan gue sebagai salah satu dari orang-orang yang dianugerahi pengalaman yang seperti roller coaster. Salah satunya yang akan gue jalani sebentar lagi.
Di apartemen ini, kami sering mengepel dan menyapu bersama. Kadang-kadang berbagi tugas, gue yang cuci piring atau dia yang masak, dan sebaliknya. Soal cuci baju, untung gue langganan laundry, jadi kami gak perlu cuci baju. Pernah sekali juga dia membersihkan kamar mandi, padahal belum kotor. Menurut gue, Tami ini anaknya rajin. Suka mengerjakan pekerjaan rumah. Satu sisi baru dari Tami yang baru gue ketahui sekarang. Dulu gue pikir Tami anaknya manja dan cuek, ternyata persepsi gue itu salah.
Pagi hari, beberapa hari setelah itu di hari kerja.
Gue sedang bersiap-siap merapikan kemeja dan rambut gue di kaca wastafel kamar mandi. Karena pintu kamar mandi terbuka, gue bisa melihat Tami keluar kamar lewat pantulan kaca. Mukanya masih setengah sadar, nyawanya belum terkumpul semuanya kayaknya. Dia menguap dan merapikan rambutnya yang acak-acakan. Gue tertawa geli melihat bentuknya pagi itu. Emang udah bukan hal aneh lagi gue melihat tampang Tami sewaktu bangun tidur. Tapi setiap kali gue melihat muka Tami yang setengah sadar itu, setiap kali pula gue tertawa. Gue menyapanya sambil tetap bercermin.
Tami melihat gue di kamar mandi dengan tatapan kosong. Mukanya bloon bener dah ah. Sesaat kemudian gue udah kelar bersiap-siap dan melewati Tami yang masih berdiri setengah sadar di lorong. Sambil melewati Tami, gue meniup matanya agak kencang, dan itu membuat Tami kaget. Refleks dia menepuk punggung gue agak keras, dan gue tertawa cekikikan.
Di kantor, ketika gue sedang mengerjakan sesuatu di komputer, mendadak handphone gue berdenting. Gue melirik sebentar, ternyata ada BBM. Dari Tami.
Gue terkesiap, dan menegakkan badan.
Gue menutupi mata dengan kedua telapak tangan. Mampus gue.
Spoiler for OST:
Begitulah. Hari-hari gue di yang biasanya sendirian di apartemen itu sekarang berubah sejak kehadiran Tami yang mengungsi untuk sementara di situ. Ketika gue bangun pagi, dan kemudian berjalan keluar kamar menuju dapur, gue melihat meja makan sudah tersedia sarapan telur omelette dan daging asap. DI atas meja itu juga gue mendapati ada secangkir kopi yang masih panas. Mata gue yang baru terbuka separuh, menjadi terbuka sepenuhnya ketika gue melihat ada cewek sedang menjemur handuk di balkon.
Sejenak gue lupa siapa cewek asing yang ada di balkon, tapi ketika dia berbalik, barulah gue ingat kalo Tami nginep disini. Gue yang masih mengantuk, cuek aja ngeloyor ke kamar mandi, kebelet pipis soalnya. Keluar dari kamar mandi, gue mendapati Tami udah duduk di sofa sambil menonton TV. Dia duduk bersila di sofa sambil bersandar ke belakang dan menyeruput sesuatu dari cangkir. Rambutnya juga masih acak-acakan, pertanda dia belum lama bangun tidur. Gue mengambil cangkir kopi dari meja yang tadi gue liat, kemudian duduk di sampingnya. Pandangan gue masih kosong, karena masih ngantuk. Gue baru tersadar lagi ketika Tami mulai berbicara.
Quote:
Gue memandangi cewek kecil di samping gue ini, dan kemudian menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum tipis. Hidup gue emang kadang-kadang bikin skenario sendiri. Tapi gue merasa hidup gue luar biasa. Contohnya ya sekarang ini. Mungkin Tuhan memang sudah mengklasifikasikan gue sebagai salah satu dari orang-orang yang dianugerahi pengalaman yang seperti roller coaster. Salah satunya yang akan gue jalani sebentar lagi.
Di apartemen ini, kami sering mengepel dan menyapu bersama. Kadang-kadang berbagi tugas, gue yang cuci piring atau dia yang masak, dan sebaliknya. Soal cuci baju, untung gue langganan laundry, jadi kami gak perlu cuci baju. Pernah sekali juga dia membersihkan kamar mandi, padahal belum kotor. Menurut gue, Tami ini anaknya rajin. Suka mengerjakan pekerjaan rumah. Satu sisi baru dari Tami yang baru gue ketahui sekarang. Dulu gue pikir Tami anaknya manja dan cuek, ternyata persepsi gue itu salah.
Pagi hari, beberapa hari setelah itu di hari kerja.
Gue sedang bersiap-siap merapikan kemeja dan rambut gue di kaca wastafel kamar mandi. Karena pintu kamar mandi terbuka, gue bisa melihat Tami keluar kamar lewat pantulan kaca. Mukanya masih setengah sadar, nyawanya belum terkumpul semuanya kayaknya. Dia menguap dan merapikan rambutnya yang acak-acakan. Gue tertawa geli melihat bentuknya pagi itu. Emang udah bukan hal aneh lagi gue melihat tampang Tami sewaktu bangun tidur. Tapi setiap kali gue melihat muka Tami yang setengah sadar itu, setiap kali pula gue tertawa. Gue menyapanya sambil tetap bercermin.
Quote:
Tami melihat gue di kamar mandi dengan tatapan kosong. Mukanya bloon bener dah ah. Sesaat kemudian gue udah kelar bersiap-siap dan melewati Tami yang masih berdiri setengah sadar di lorong. Sambil melewati Tami, gue meniup matanya agak kencang, dan itu membuat Tami kaget. Refleks dia menepuk punggung gue agak keras, dan gue tertawa cekikikan.
Di kantor, ketika gue sedang mengerjakan sesuatu di komputer, mendadak handphone gue berdenting. Gue melirik sebentar, ternyata ada BBM. Dari Tami.
Quote:
Gue terkesiap, dan menegakkan badan.
Quote:
Gue menutupi mata dengan kedua telapak tangan. Mampus gue.
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3


: udah gue buatin sarapan tuh.
: tadi pagi gue geledahin dapur lo. Emang dapur cowok beneran ya, gak ada apa-apa.
: iya lah, lo mengharapkan apa dari dapur gue? orang gue juga jarang masak dirumah, kebiasaan beli. Paling gue masak kalo lagi mood aja.
: makanya dimasak daripada keburu expired.
: kalo sarapan biasanya sarapan apa lo?
: kok ada dikitnya?
: lo bawa gue ke kamar ya?
: lo bego apa pura-pura bego apa menuju bego? Iyalah gue yang bawa lo ke kamar. Gue biarin diluar pagi-pagi jadi kerupuk ntar.
: siapa yang nganterin?