- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#2917
PART 110
Gue menegakkan badan, dan memandangi Tami yang memegang cangkirnya dengan kedua tangan. Bagian lengan hoodie gue ditarik sampai menutupi setengah dari telapak tangannya, sehingga cuma jemarinya yang terlihat.
Gue memandangi Tami yang tertawa dengan tawa dipaksakan. Gue gak bisa ikut tertawa, gue merasakan apa yang dirasakan Tami. Pandangan gue menerawang ke langit senja yang bergerak menuju malam, sambil menggigit jempol gue. Kemudian gue menoleh lagi ke Tami.
Gue mengetuk-ngetukkan jari di meja, dan berpikir. Gak terasa ternyata hari udah malam, dan gue belum bikin makan malam. Akhirnya gue memutuskan masak nasi goreng aja lah, yang simple tapi kenyang. Tami memandangi gue masak dengan takjub, gak nyangka dia kalo gue bisa masak. Kelar makan, Tami beristirahat di sofa, sementara gue duduk di karpet sambil membelakangi Tami. Tangan gue memegang sekaleng bir non alkohol, yang gue minum pelan-pelan.
Gue dan Tami menghabiskan waktu cukup lama dalam kebisuan, sampe akhirnya gue sadar kalo udah pukul 22.30. Gue melihat jam, kemudian menoleh ke Tami di belakang gue, ternyata dia tertidur di sofa. Wajahnya yang mungil terlihat damai, nafasnya lembut beraturan. Gue harap, di dalam mimpinya dia bisa berbahagia, melupakan segala hal di dunia yang telah menyakitinya. Gue tersenyum dan memiringkan kepala. Betapa banyak bebannya, pikir gue. Kalo gue ada di posisinya, entah gue sanggup menjalaninya atau enggak.
Gue beberes kamar yang akan ditempati Tami, menyiapkan selimut tebal yang gue lipat, dan kemudian menyalakan AC, sekedar agar udara menjadi nyaman. Gue kemudian keluar kamar, beberes dapur sedikit, sambil sesekali menoleh ke Tami yang masih terlelap di sofa. Gue tersenyum. Gue mematikan lampu dan kemudian berdiri di samping sofa dimana Tami tidur. Gue mengangkat tubuh Tami yang kecil dengan lembut, dan membawanya ke kamar yang udah gue persiapkan.
Di kamar, gue letakkan Tami ke kasur perlahan, kemudian menyelimutinya dengan lembut. Gue kemudian mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur di samping tempat tidurnya. Sebelum gue menutup pintu kamar dari luar, gue tersenyum dan berbisik.
Gue menegakkan badan, dan memandangi Tami yang memegang cangkirnya dengan kedua tangan. Bagian lengan hoodie gue ditarik sampai menutupi setengah dari telapak tangannya, sehingga cuma jemarinya yang terlihat.
Quote:
Gue memandangi Tami yang tertawa dengan tawa dipaksakan. Gue gak bisa ikut tertawa, gue merasakan apa yang dirasakan Tami. Pandangan gue menerawang ke langit senja yang bergerak menuju malam, sambil menggigit jempol gue. Kemudian gue menoleh lagi ke Tami.
Quote:
Gue mengetuk-ngetukkan jari di meja, dan berpikir. Gak terasa ternyata hari udah malam, dan gue belum bikin makan malam. Akhirnya gue memutuskan masak nasi goreng aja lah, yang simple tapi kenyang. Tami memandangi gue masak dengan takjub, gak nyangka dia kalo gue bisa masak. Kelar makan, Tami beristirahat di sofa, sementara gue duduk di karpet sambil membelakangi Tami. Tangan gue memegang sekaleng bir non alkohol, yang gue minum pelan-pelan.
Quote:
Spoiler for OST:
Gue dan Tami menghabiskan waktu cukup lama dalam kebisuan, sampe akhirnya gue sadar kalo udah pukul 22.30. Gue melihat jam, kemudian menoleh ke Tami di belakang gue, ternyata dia tertidur di sofa. Wajahnya yang mungil terlihat damai, nafasnya lembut beraturan. Gue harap, di dalam mimpinya dia bisa berbahagia, melupakan segala hal di dunia yang telah menyakitinya. Gue tersenyum dan memiringkan kepala. Betapa banyak bebannya, pikir gue. Kalo gue ada di posisinya, entah gue sanggup menjalaninya atau enggak.
Gue beberes kamar yang akan ditempati Tami, menyiapkan selimut tebal yang gue lipat, dan kemudian menyalakan AC, sekedar agar udara menjadi nyaman. Gue kemudian keluar kamar, beberes dapur sedikit, sambil sesekali menoleh ke Tami yang masih terlelap di sofa. Gue tersenyum. Gue mematikan lampu dan kemudian berdiri di samping sofa dimana Tami tidur. Gue mengangkat tubuh Tami yang kecil dengan lembut, dan membawanya ke kamar yang udah gue persiapkan.
Di kamar, gue letakkan Tami ke kasur perlahan, kemudian menyelimutinya dengan lembut. Gue kemudian mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur di samping tempat tidurnya. Sebelum gue menutup pintu kamar dari luar, gue tersenyum dan berbisik.
Quote:
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: lo kabur dari rumah? kenapa?
: trus?
: trus, rencana lo setelah ini mau ngapain?
: oh iyaya.
: udahlah, masalah lo masalah gue juga.