Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#2916
PART 109

Ketika itu hari Sabtu sore, gue sedang menyapu balkon apartemen sambil sesekali memandangi awan gelap yang bergulung-gulung datang menuju kemari. Akhir-akhir ini emang pembagian musim agak kacau. Waktu yang seharusnya udah masuk pancaroba malah bergeser menjadi puncak musim hujan. Weekend begini emang waktunya bebersih rumah, karena gue tinggal sendirian disini, sementara kakak gue udah pindah ke rumah barunya di daerah Taman Mini sana. Kelar nyapu balkon, gue bersantai-santai di sofa depan TV sambil baca majalah dan ngupil. Hari itu gue emang agak jarang komunikasi sama Anin, karena dia lagi berdinas ke New Delhi sampai minggu depan, sementara kantornya di Mumbai. Gue melirik jam dinding di atas TV, pukul 4 sore, berarti di Delhi pukul setengah 6 sore.

Sewaktu gue bersantai-santai sambil membaca majalah di tangan gue, mendadak handphone yang gue letakkan di meja berdenting. Gue bergeser untuk melirik layar di handphone gue itu, ternyata BBM dari Tami. BBMnya singkat, seperti biasa.

Quote:


Gue segera menyambar kunci mobil dan dompet, kemudian turun menuju parkiran basement. Karena itu hari Sabtu sore, maka macet luar biasa segera memenuhi rute dari apartemen gue menuju McD yang dimaksud. Dari yang normalnya hanya 5-7 menit, jadi 30 menit. Sesampai di McD gue melihat seorang cewek berdiri di pintu depan McD, sambil menenteng satu travelbag berwarna hitam. Mukanya kusut. Gue membuka jendela dan memanggilnya. Sontak dia berlari menuju mobil gue, dan langsung duduk di kursi penumpang di samping gue, sambil membisu memandangi hujan. Gue merasa aneh.

Quote:


Jawabannya dingin. Seketika gue sadar, pasti ada sesuatu yang buruk terjadi sama Tami. Gue memperhatikan kondisinya yang kacau, basah dan bingung, sementara matanya sembab, seperti habis nangis cukup lama. Gue melirik travelbag yang ada di pangkuannya, travelbag hitam yang basah, dan juga berisi cukup banyak. Gue meraih pegangan travelbag itu dan memindahkannya dari pangkuan Tami ke jok belakang. Gue kemudian bertanya dengan lembut.

Quote:


Tami mengangguk, tapi tetap membisu dan pandangannya menerawang. Gue segera menjalankan mobil menuju arah pulang. Sesampai di apartemen, Tami berdiri dengan bingung di ruang tengah. Gue tersenyum.

Quote:


Tami memandangi gue sejenak, kemudian mengangguk tanpa ekspresi. Gue masuk ke kamar mencari handuk, kemudian menyerahkannya ke Tami yang duduk di sofa.

Quote:


Tami masuk ke kamar mandi, dan gue bergegas ke dapur untuk membuatkannya minuman panas. Ketika gue membuka lemari persediaan, gue berpikir sejenak mengenai minuman apa yang akan gue buatkan untuk Tami. Akhirnya gue memilih teh. Sambil mengaduk-aduk teh itu gue berpikir sendiri, ada apa dengan Tami sebenarnya. Gue membuka kulkas, dan mencari makanan yang bisa gue suguhkan. Masih ada roti keju, untungnya, yang kemudian gue masukkan microwave sebentar.

Setelah beberapa saat, gue liat Tami keluar dari kamar mandi, dan langsung menuju kamar yang memang gue peruntukkan buat Tami. Gue melanjutkan nonton TV, sebelum gue mendengar Tami memanggil pelan.

Quote:


Gue menoleh ke arah pintu kamar Tami dimana dia memunculkan kepalanya dari dalam.

Quote:


Gue langsung beranjak menuju kamar gue, membuka lemari pakaian dan mencari kaos beserta hoodie berwarna hitam milik gue. Langsung gue serahkan kaos dan hoodie itu ke Tami.

Quote:


Gue kembali ke kamar, dan mencari celana training milik gue yang berwarna abu-abu. Mending celana training lah, anget dan ukurannya bisa sesuai sama ukuran pinggang Tami yang kecil karena elastis, pikir gue. Kemudian gue serahkan itu ke Tami sambil tersenyum.

Gak lama kemudian Tami udah duduk di sebelah gue di sofa, sambil memakai hoodie dan training, kepalanya tertutup. Gue menyodorkan teh panas dan roti keju yang masih hangat ke Tami, dan Tami menyambutnya dengan meminum teh itu perlahan. Gue memperhatikan Tami, kayaknya dia udah gak sekacau tadi. Mungkin ini waktunya gue bertanya, pikir gue.

Quote:


Tami memandangi gue lekat-lekat, dan meminum tehnya sekali lagi sebelum berkata perlahan ke gue.

Quote:

khodzimzz
jenggalasunyi
pulaukapok
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.