- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#204
Partitur no. 46 : The Negotiations
Bulan-bulan awal dari tahun ajaran baru tersebut, ternyata tidak sesibuk yang aku kira. Masih banyak waktu senggang seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Hanya yang kutahu, persahabatan di antara satu angkatan itu terasa lebih dekat dan menyatu, hampir tak ada yang membeda-bedakan.
Seperti pada tahun-tahun di mana menjelang kelulusan di SD maupun SMP, selalu ada hal-hal yang guru secara tak langsung menekan psikis murid agar rajin belajar; Pada tahunku, tekanan itu lebih pada percobaan Ujian Nasional di mana satu ruangan terdiri dari dua puluh paket, yang menurut mereka, satu murid di dalam satu ruangan tidak akan mendapatkan soal yang sama.
Aku masih bisa mengikuti rapat-rapat menjelang acara Muse tersebut, mulai dari rapat di sebuah restoran di daerah Kemang, lalu, sebuah rapat di mana Tasya sedang marah kepadaku karena ketidak tegasanku dalam memutuskan suatu hal; Mengikuti kembali acara Stand Up Comedy atau mengikuti rapat ini. Ya, aku sangat labil pada waktu itu. Disatu sisi, aku tak enak karena sudah di undang kembali, disatu sisi, aku juga mengikuti kepanitiaan.
Tetapi, masa itu sudah terlewatkan. Beberapa bulan kemudian, Kami memutuskan untuk menyerahkan sebuah proposal untuk mencari sponsor agar mendukung acara Kami tersebut.
Di suatu hari Jum’at, disaat Aku dan Tasya yang tidak sedang banyak acara pada waktu itu, dipilih oleh Mbak Sari, seorang Perempuan yang merupakan salah satu dari beberapa orang pendiri komunitas Muse di Indonesia, ikut membantu memberikan proposal kepada beberapa sponsor yang dikiranya akan memberikan sumbangan dana.
Kami sudah berjanji untuk bertemu di sebuah Kantin salah satu Universitas terbesar di Indonesia, di mana salah satu bagian dari Universitas itu berada di daerah Salemba, setelah aku melaksanakan Shalat Jum’at. Namun, aku lupa. Aku harus mengiringi Adik Kelasku di dalam acara Sekolah untuk menyambut ketua Yayasan. Sejak jam pelajaran pertama, aku dan beberapa orang lainnya mendapat dispensasi pelajaran untuk mengikuti latihan yang sangat mendadak tersebut. Aku diperkenalkan oleh Kepala Sekolahku kepada temanku yang juga seorang gitaris, yang mempunyai selera musik yang cukup mirip denganku. Hanya, dia sangat gelisah. Ia tak biasa tampil di Publik.
Sementara, Adik kelasku yang bernyanyi pada waktu itu adalah seorang Perempuan yang sangat cantik dengan menggunakan hijabnya, dengan muka campuran Arab dan Bule, yang bernama Ruth. Aku sudah beberapa kali diajaknya untuk mengiringinya suatu waktu jika ada sebuah acara. Namun, baru kali ini rencana itu benar-benar terjadi.
Sebuah misscallmasuk ke dalam handphone ku ketika aku sedang memainkan lagu pertama pada acara penyambutan Yayasan tersebut. Aku takut jika Mbak Sari dan Tasya sudah menunggu cukup lama, karena aku juga lupa mengabari mereka karena aku juga sedang panik. Setelah lagu pertama selesai, aku segera mengabarinya melaui aplikasi multi-platform, WhatsApp.
Quote:
Setelah sekitar tiga lagu Kami mainkan, aku langsung meminta pamit kepada teman-temanku, termasuk Adik Kelas, dan Kepala Sekolah baruku tersebut. Ia sebenarnya sangat baik dan memiliki kecakapan dalam memimpin. Ia juga menghidupkan beberapa ekstrakulikuler di Sekolah Kami yang sudah mati beberapa tahun silam. Kepala Sekolah Kami yang bernama Bu Susi itu memuji penampilan Kami siang hari itu, dan berjanji untuk mencarikan acara untuk Kami jika ada suatu acara lagi. Itu adalah kali pertamanya aku memainkan sebuah lagu ber aliran Pop-Jazz.
Lantas, ketika Bu Susi memberikan pujian, aku sekalian meminta pamit karena sebuah janji yang sudah dibuat beberapa minggu lalu ketika terjadi suatu percakapan di group khusus Panitia. Aku langsung berlari menuju tempat bus di mana aku biasa menunggu, dan mengejar bus yang kosong. Hatiku sangat berdebar-debar karena ketelatan yang cukup parah, “Kamu di mana, sayang?” tulisku dalam aplikasi WhatsApp kepada Tasya ketika aku sudah sampai tempat di Kami seharusnya bertemu. Namun, karena terlalu sibuk mengetik pesan tersebut, aku malah salah masuk, bukannya menuju Universitas, malah aku masuk ke dalam Rumah Sakit yang sangat dekat dengan Universitas.
“Lho?” aku pun celingak-celinguk dengan wajah yang sangat bodoh, mungkin juga polos, “Kenapa gw malah ke Rumah Sakit, ya?”
“Mas, mau kemana, ya?” seorang laki-laki yang memakai seragam bertuliskan Security itu pun menghampiriku. Aku bertambah panik karena tampangku seperti sangat mencurigakan, celingak-celinguk, sampai seorang Satpam menghampiriku.
“Anu, Mas.. Saya salah tempat, mau ke Universitas malah kesini, hehe” ujarku dengan muka bodohku.
“Kalo Universitas itu ada di sebelah sana, Mas. Mas tinggal keluar dari gerbang itu, terus belok kiri.” jelas Satpam itu kepadaku.
“Hehe iya, maaf ya, Mas. Makasih..” kataku dengan kikuk. Lantas, aku langsung bergegas menuju Universitas itu, dan aku tersasar lagi karena ternyata di dalamnya sangat besar. Aku malah ke sebuah ruangan besar yang cukup menyeramkan, bukannya ke sebuah Kantin. Cukup malu rasanya tersesat di Universitas orang yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, untungnya, tidak banyak Mahasiswa maupun Mahasiswi di sana.
Ketika aku keliling-keliling dengan muka bodoh, sekiranya aku tak sengaja melihat muka yang tak asing lagi dimataku. Lantas, aku mencoba untuk menghampirinya dengan harapan bahwa aku tidak melakukan kesalahan lagi. “Hai!” sapaku ketika aku sampai dan mengambil bangku untuk duduk.
“Nah, akhirnya nyampe juga lo, Man” ujar Mbak Sari kepadaku.
“Kamu dari mana aja emangnya?” tanya Tasya sambil melap keringatku yang terus berkucuran karena panik.
“Ngg, anu.. Tadi aku salah masuk, bukannya ke sini malah ke Rumah Sakit sebelah..” jelasku dengan mencoba santai. Tak lama, ledakan tawa dari Mbak Sari dan Tasya pun meluap, “Apanya yang lucu, panik nih!”
“Ahaha lagian Kamu ada-ada aja, sih!” ujar Tasya masih sambil tertawa.
“Terus sekarang gimana, nih?” tanyaku kepada mereka berdua.
“Makan dulu aja, Man. Tadi pas nunggu lo lama, gw sama Tasya mesen makan dulu, deh.” jelas Mbak Sari sambil memegang segelas minuman yang tak lama baru datang pesanannya. Aku hanya memesan Mie Ayam, karena aku tak bisa berpikir panjang dan hanya melihat yang pertama ku lihat saja.
“Abis ini kemana, Mbak?” tanyaku kepada Mbak Sari setelah menghabiskan makananku. Tasya hanya melihatku makan dan memegang perut layak seperti orang yang sedang mengandung.
“Mau nge-print sama nge jilid proposal dulu, Man” jawab Mbak Sari yang sudah menyiapkan kertas yang sepertinya sudah selesai di print. Mungkin, maksudnya adalah membuat salinan dari proposal tersebut, atau sedikit membuat revisi nya.
“Disini emang ada?” ujarku kembali kepada Mbak Sari.
“Tadi ada, Man, gw liat. Coba dulu, kali aja masih buka.” kata Mbak Sari kepadaku. Ternyata, tempat itu memang masih buka. Kami pun menyalakan Komputer dan langsung melihat file yang sudah diketik cukup panjang itu. Kulihat, Tasya sangat membatu Mbak Sari dalam memperbaiki kesalahan yang ada dalam proposal itu. Mungkin, karena Tasya juga sedang membuat Tugas Akhir untuk kelulusannya, sehingga, hal-hal seperti ini sudah di luar kepala. Sedangkan aku? Aku hanya sedang gugup. Gugup karena aku takut tak bisa melaksanakan tugasku, sekaligus takut proposal itu di tolak. Sekitar setengah jam sampai akhirnya Kami menyelesaikannya, dan langsung mencari angkot ataupun bus untuk mengantarkan Kami menuju tempat yang Kami tuju; Sebuah tempat yang menjadi tempat banyak orang berkumpul dengan teman, keluarga, bahkan dengan kerabat lain. Mungkin istilah gaulnya adalah nongkrong.
Perasaanku bertambah gugup ketika akhirnya Kami sampai ke tujuan. Kami langsung memasuki Kantor dan bertemu dengan bawahannya, menanyakan apakah orang yang akan Kami temui sedang ada di Kantor, atau akan menerima Kami atau tidak. Beberapa menit kemudian, ketika ia menelpon langsung ke ruangan orang yang sedang Kami tuju, Kami langsung dipersilahkan untuk menuju ke ruangan nya,
“Sayang, Kamu aja yang ikut Mbak Sari, gimana?” ujarku gugup kepada Tasya.
“Udah Kamu aja.. Kan Kamu lebih ngerti, aku nanti nunggu di depan ruangan. Semangat ya, sayang! Jangan gugup” ia menyemangatiku dengan ekspresi polosnya. Ekspresi tersebut membuatku lupa sejenak dengan kegugupan yang sedang ku alami.
Sekarang, aku dan Mbak Sari sudah masuk ke dalam ruangan orang yang Kami tuju, dan ia berbicara dengan santai, sehingga aku tidak menjadi gugup seperti sebelumnya. Tetapi, Mbak Sari lebih banyak menjelaskannya dari pada ku, sehingga menimbulkan kesan bahwa aku hanya diam saja di dalam ruangan itu. Tapi, memang begitu adanya. Aku hanya membantu memperjelas beberapa kata yang ingin Mbak Sari ingin sampaikan.
“Iya, Kami rencananya mau bikin semacam pre-event gitu, Mbak,” jelas Mbak Sari pelan-pelan, “Rencananya, Kami akan mengadakannya di Saharjo, di mana salah satu store yang gede.”
“Kira-kira, apa yang akan Kami dapatkan? Apa Kami akan mendapat keuntungan? “ tanya orang tersebut.
“Jelas itu, Mbak.” jawab Mbak Sari dengan mantap.
“Kira-kira berapa orang yang bisa kalian kumpulkan?” orang itu menanyakan sampai ke detailnya. Mbak Sari menoleh ke arahku yang hanya terdiam.
“Kira-kira seratus orang lebih, Mbak.” ujarku memberanikan diri.
“Seratus? Apa itu pasti?” kata orang itu dengan muka yang lebih serius.
“Kalau Kami bikin acara, biasanya bisa sampai dua ratus, Mbak. Tapi Kami kasih patokan awal seratus, setidaknya jika terkumpul dua ratus, itu akan lebih dari ekspetasi.” jelas Mbak Sari dengan sangat detail. Namun, mungkin itu belum keberuntungan Kami, pihak sana menolak proposal Kami.
“Maaf ya, Mbak. Gw jadi nggak enak, nggak bantu lo banyak..” ujarku meminta maaf kepada Mbak Sari sambil keluar ruangan dan bertemu dengan Tasya.
“Gimana tadi?” tanya Tasya dengan penasaran.
“Nggak keterima, Sya,” ujar Mbak Sari, “Ya nggak apa-apa, Man. Seenggaknya bisa jadi pelajaran juga buat lo, kemungkinannya kan emang cuma dua, diterima atau ditolak. Tapi, berikutnya kalo nyampein proposal, gw nggak mau sama yang cuma diem aja di dalem.”
“Oke, makasih banyak ya, Mbak..” kataku dengan perasaan sangat tidak enak. Sudah aku datang telat, proposal tidak diterima juga.
“Ini langsung pulang, nih?” tanya Tasya kepada yang lain.
“Iya, kecuali pada mau nongkrong dulu, mungkin?” usulku.
“Nggak, langsung balik aja deh, gw. Mau nyiapin yang lain lagi” ujar Mbak Sari.
Lantas, Kami semua berpisah di Halte Busway. Kami berpisah sesuai tujuan masing-masing. Aku selalu menyalahkan diriku atas apa yang sudah terjadi. Bahwasannya, aku telah membuat suatu kesalahan secara terus menerus. Mulai dari ketelatan, kegugupan, sampai ditolaknya proposal Kami. Pikiranku juga menyalahkan diriku, ‘Apa kegunaanku untuk orang lain?’.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 21:52
0
