- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
28.8K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#217
EPISODE 9
RAMALAN RAYA PART 1
RAMALAN RAYA PART 1
“Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang dengan gadis ini Padre?” tanya Ibang.
Annabelle yang masih tak sadarkan diri kini tengah terbaring di sofa di ruang serba guna di bilik Indonesia. Keempat Albetistran bilik Indonesia beserta Padre Benedetto sedang menunggunya sadarkan diri.
“Kalau memang Annabelle si asisten iblis telah lepas karena mantra yang dibacakan oleh Songke, semestinya jiwa gadis ini kembali pulih dan bisa menceritakan pada kita apa yang sebenarnya terjadi.” Padre menerka situasi.
“Begitu ya. Padre boleh aku bertanya sesuatu yang sifatnya pribadi?”
“Silakan saja Ibang.”
“Apa yang membuatmu tidak bisa dikuasai oleh Googlax?”
“Aku bisa bicara seluruh bahasa.”
“Dan Googlax tidak bisa mengalihkanmu menjadi master karena hal itu?”
“Oh, sebaliknya, Googlax sangat menginginkan hal itu. Mesin-mesin penerjemah mereka sangat baik dan bila menguasaiku kukira akan semakin hebatlah mesin-mesin itu?”
“Lantas apa yang berbeda?”
“Aku membaca bahasa seseorang dari matanya. Mata memancarkan emosi dan semua hal yang telah dialami masa lalu. Googlax tidak memiliki emosi. Bahasa yang kukuasai adalah bentuk pemahaman emosi. Begitulah.”
“Lalu siapa yang kau sebut dengan asisten iblis? Annabelle? Apakah itu bukan nama asli gadis ini?”
Padre tidak menjawab pertanyaan itu langsung. Ia memperhatikan kalung berlian biru yang ada di leher si gadis gipsi pirang itu.
“Annabelle, bukan nama gadis ini. Aku pernah bertemu dengan Annabelle saat aku masih belum dibawa Googlax ke Albetistra. Hantu yang masuk ke boneka, dan mengganggu orang-orang. Dia tidak tahu aku pun berbicara bahasa boneka. Dan aku tahu semua rencananya dan gerak-geriknya. Tapi itu cerita lama, aku rasa gadis ini akan segera pulih sekarang, lihatlah kalung itu.” Padre menunjuk kalung berlian biru yang berkilauan perlahan kian bercahaya.
Gadis itu perlahan membuka matanya, “Ah, sakit, dimana aku?” Ia memegang bagian tubuhnya yang dipukul oleh Jonson.
Jonson pun tak enak hati, “Ma af,” lalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah bersalah.
“Kau ada di Albetistra,” jawab Ibang dengan konsentrasi penuh, berupaya untuk tidak salah tingkah lagi.
“Siapa namamu? Apa kau ingat apa yang terjadi denganmu?” tanya Songke.
“Namaku Raya. Aku ditangkap Googlax saat melintasi perbatasan. Tapi …”
“Tapi apa?” kejar Songke.
“Googlax tak tahu, bahwa aku memang sengaja ingin ditangkap.”
“Apa? Atas alasan apa?”
“Aku mendapatkan ‘pandangan’. Ada saat – saat dimana aku mengetahui kira-kira apa yang akan terjadi di masa depan. Dan aku harus menuju arah itu. Tidak enak menjadi Gipsi, kau tahu banyak hal yang akan terjadi, kau pikir kau bisa untuk tidak campur tangan, tapi hati kecilmu selalu menuntut untuk menceritakan ‘pandangan’ tersebut kepada yang memerlukan. Itulah alasan sebenarnya mengapa kami selalu berpindah tempat.”
“Apa yang akan terjadi di Albetistra?” tanya Padre
“Kalian tidak akan mau mendengarnya.”
“Cepat katakan!” Dandra tak sabar.
Awalnya Raya masih memilih berdiam diri, tapi akhirnya ia menyudahi bungkamnya. Matanya memejam, dan setengah berteriak ia katakan apa 'pandangannya' itu.
“Sebuah ledakan besar!”
Diubah oleh rahan 06-04-2015 12:52
0