- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
delet3 dan 50 lainnya memberi reputasi
49
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#2810
PART 106
Gue memandangi cangkir kopi yang sudah separuh kosong di meja hadapan gue, sambil memeganginya dengan kedua tangan. Di sebelah cangkir itu ada koran yang bahkan belum gue buka samasekali. Gue mendongak, melihat jam dinding yang menujukkan pukul 9 pagi. Gue menghela napas dengan berat, mencoba menenangkan pikiran gue. Gak bisa dipungkiri, gue merasa lelah lahir batin akhir-akhir ini. Mengenai ini, Anin punya satu pendapatnya sendiri yang dia katakan kemarin.
Gue tersenyum mengingat kata-kata Anin itu. Gue menoleh ke arah jendela dan menerawang memandangi langit pagi sambil bertopang dagu. Pikiran gue menjurus ke satu solusi yang sebenarnya sudah beberapa kali gue pikirkan, tapi gue singkirkan beberapa kali juga. Tapi kali ini pikiran itu datang lagi, dan kali ini gue setuju dengan itu. Gue mengambil handphone dan mengirimkan beberapa chat panjang ke Anin. Gue tersenyum ketika jawaban positif datang dari Anin.
2 hari kemudian, gue udah duduk di kursi pesawat. Gue menoleh ke cewek di sebelah gue yang sedang asik membaca majalah yang disediakan maskapai. Gue tersenyum.
Anin mengangkat kepalanya, kemudian menoleh ke gue sambil tersenyum.
Anin mencubit gue pelan, dan gue tertawa. Kemudian Anin menyandarkan kepalanya ke bahu gue.
Gue menyerahkan tangan gue, dan kemudian dipegang oleh Anin. Untuk beberapa saat dia mengamati tangan gue jari per jari, termasuk mengamati kuku gue dengan seksama. Gue heran.
Anin tertawa, dan masih memegangi tangan gue.
Butuh sekian detik buat gue untuk menyadari arti dari omongan Anin itu. Setelah sadar, gue tertawa sambil menarik hidungnya gemas. Anin cekikikan. Sepertinya kami berdua jadi penumpang paling berisik di pesawat itu.
Gue menjulurkan lidah, dan kemudian menggandeng tangan Anin. Dingin. Gue menoleh ke Anin sambil tersenyum. Kemudian gue menyandarkan kepala ke belakang dan memejamkan mata. Gue berkata pelan.
Gue memandangi cangkir kopi yang sudah separuh kosong di meja hadapan gue, sambil memeganginya dengan kedua tangan. Di sebelah cangkir itu ada koran yang bahkan belum gue buka samasekali. Gue mendongak, melihat jam dinding yang menujukkan pukul 9 pagi. Gue menghela napas dengan berat, mencoba menenangkan pikiran gue. Gak bisa dipungkiri, gue merasa lelah lahir batin akhir-akhir ini. Mengenai ini, Anin punya satu pendapatnya sendiri yang dia katakan kemarin.
Quote:
Gue tersenyum mengingat kata-kata Anin itu. Gue menoleh ke arah jendela dan menerawang memandangi langit pagi sambil bertopang dagu. Pikiran gue menjurus ke satu solusi yang sebenarnya sudah beberapa kali gue pikirkan, tapi gue singkirkan beberapa kali juga. Tapi kali ini pikiran itu datang lagi, dan kali ini gue setuju dengan itu. Gue mengambil handphone dan mengirimkan beberapa chat panjang ke Anin. Gue tersenyum ketika jawaban positif datang dari Anin.
2 hari kemudian, gue udah duduk di kursi pesawat. Gue menoleh ke cewek di sebelah gue yang sedang asik membaca majalah yang disediakan maskapai. Gue tersenyum.
Quote:
Anin mengangkat kepalanya, kemudian menoleh ke gue sambil tersenyum.
Quote:
Anin mencubit gue pelan, dan gue tertawa. Kemudian Anin menyandarkan kepalanya ke bahu gue.
Quote:
Gue menyerahkan tangan gue, dan kemudian dipegang oleh Anin. Untuk beberapa saat dia mengamati tangan gue jari per jari, termasuk mengamati kuku gue dengan seksama. Gue heran.
Quote:
Anin tertawa, dan masih memegangi tangan gue.
Quote:
Butuh sekian detik buat gue untuk menyadari arti dari omongan Anin itu. Setelah sadar, gue tertawa sambil menarik hidungnya gemas. Anin cekikikan. Sepertinya kami berdua jadi penumpang paling berisik di pesawat itu.
Quote:
Gue menjulurkan lidah, dan kemudian menggandeng tangan Anin. Dingin. Gue menoleh ke Anin sambil tersenyum. Kemudian gue menyandarkan kepala ke belakang dan memejamkan mata. Gue berkata pelan.
Quote:
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4


: apaan sih mas, kan aku juga sekalian pulang. Lama gak ketemu mama. Hehe.
: kangen ya?
: enggak.
: lah kok?
: kamu kan disebelahku mas, ngapain kangen.
: kenapa dek?
: yaudah mana sini aku pegang tangannya