- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
103K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1284
4. Paenitere
Refleks, aku bangkit dari tempat dudukku dan menghampiri Arzel tanpa basa-basi.
"Aku udah berhari-hari ini nyariin kamu..." suaraku lirih.
Hening dan rasanya awkward, Arzel mengangguk dengan pandangan bola mata ke sekeliling.
Dengan tangkas, aku langsung mengendalikan diri dan kembali kepada kesadaranku.
"Kamu...kenal aku kan?" aku memastikan.
"Iya,...Karen kan?" Arzel berdiri melipat tangan.
Ini tidak baik.
Menurut buku psikologis yang pernah kubaca, gesture melipat tangan adalah tanda ketika seseorang bersikap defensif terhadap argumen atau sosok yang tidak dia sukai.
"Kita pernah sekelas waktu SMA. Sekitar 3 tahun." Arzel memberiku briefing singkat mengingat aku yang tampak linglung. "Tapi, kenapa elo dateng ke sini malem-malem ya?"
3 tahun??
Itu sih bukan 'pernah' sekelas lagi, tapi benar-benar menghabiskan masa SMA bersama.
Dulu saja waktu aku SMA, hanya sekelas dengan Arzel waktu di kelas 10.
Sisanya, sepanjang di kelas 11 dan 12 kami saling mengunjungi kelas masing-masing dan mencuri-curi waktu istirahat.
"Ehm... Aku udah di sini dari sore sebenernya. Nunggu kamu pulang kerja." Aku meralat kalimatnya. "Kita...sekelas 3 tahun, berarti akrab dong?"
Arzel mengangkat bahu.
"Elo masuk geng heboh, gue sendiri kutu buku. Udah cukup jelas kan situasinya?" Nada Arzel terdengar dingin. "Kenapa mendadak tanya-tanya soal SMA begini? Kalo mau nostalgia, liat aja buku tahunan."
Asing.
Arzel yang ada di hadapanku terasa begitu asing.
Tapi, ucapannya ada benarnya juga.
Lebih cepat jika aku melihat buku tahunan dan memeriksa siapa saja 'orang' yang hadir dalam kehidupan Karen di dimensi ini.
"Sori,..punya aku nggak tahu ke mana. Boleh pinjem punya kamu?" Aku meminta kepada Arzel.
Arzel menimbang-nimbang kemudian berjalan naik ke kamarnya.
Cukup lama aku menunggu, sambil terdengar suara gaduh barang berjatuhan.
Arzel keluar dari kamarnya dan menyerahkan buku tebal itu kepadaku.
Dengan terkejut, aku memandang buku di tanganku.
Sampul kulitnya sebagian sudah luntur terkena bercak melingkar yang dari baunya bisa kuduga adalah kopi dan rokok.
Ujung-ujungnya sudah koyak dan debu tebal membuat tepian kertasnya menguning.
Arzel yang kukenal, tidak pernah teledor menyimpan barang, tidak merokok, apalagi menjadikan buku tahunan sebagai alas gelas minuman.
"Liat-liat aja. Kalo udah, taro di meja aja. Gue mau mandi." Arzel bangkit berdiri. "Nanti panggil pembantu gue aja untuk bukain pintu pas pulang."
"Lho? Kamu nggak balik untuk nemenin aku ngobrol di sini sehabis mandi?"
Arzel tampak semakin keheranan dan kembali duduk di hadapanku.
"Karen...elo salah minum obat sesuatu ya? Pertama, kita nggak seakrab itu untuk aku-kamu an. Jadi please drop that act. Kedua, alasan elo dateng ke sini sebenernya apa sih? Sekedar minjam buku tahunan? Atau ada keperluan sesuatu?" Arzel membombardirku dengan berderet pertanyaan. "Sekarang udah bukan masa SMA, jadi gue nggak punya PR,tugas, atau ulangan lagi yang bisa dicontek elo dan temen-temen geng elo, kan?"
Pertanyaan Arzel begitu menohok bagiku.
Apa yang sudah terjadi padanya di kehidupan ini?
Sikapnya 180 derajat bertolak belakang.
Senyum ceria itu, optimisme, dan kasih sayang yang melimpah ruah untukku, sekarang terisi dengan sepasang mata berkantung hitam yang menatapku datar cenderung sinis.
Lebih tepatnya, apa yang sudah terjadi diantara kami di kehidupan versi dimensi ini?
Otakku serasa berdengung dan tidak mampu menjawab pertanyaan Arzel.
"Sori..." hanya kata-kata itu yang dapat terlontar dari mulutku.
Aku membalik asal halaman buku tahunan dan menemukan foto kelas kami waktu SMA.
Jelas berbeda dengan kelas yang pernah kutahu.
Beberapa orang ada yang kukenal, seperti Denise, Tiara, Albert, ... namun sisanya lebih banyak wajah asing.
Dan yang lebih mencengangkan lagi, aku berdiri dikelilingi teman-temanku entah siapapun mereka.
Rambutku pendek seperti sekarang, dan mengenakan bando berpita.
Kemeja sekolahku keluar dari roknya dan aku mengenakan rompi pink.
Dari gayaku yang tertawa lebar hampir merupai senyum 3 jari, sepertinya benar kata Arzel barusan.
Di foto itu aku terlihat...bukan aku.
Terlalu ceria, terlalu heboh untuk menjadi seorang aku.
Bertolak belakang dengan Arzel yang hanya berwajah datar dan berdiri ujung-ke-ujung denganku.
Aku terhenyak dan spontan menutup buku tersebut.
Kutatap Arzel yang masih duduk di hadapanku.
Nafasku serasa sesak dan pikiranku kosong, hanya bisa menatap Arzel dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan cari segala cara yang ada untuk kembali ke kamu. Kembali ke kita..." aku bergumam lirih.
Kalimatku barusan tampaknya tidak masuk akal karena jelas ekspresi Arzel berikutnya adalah heran bercampur risih.
Tapi aku, tidak peduli jika dia tidak mengerti.
Karena memang apapun yang terjadi, aku harus kembali kepada Arzel-ku di seberang sana.
Kehidupan sesungguhnya yang pernah kudapatkan, dan segala kebahagiaan yang ada di sana.
Dan baru kusadari betapa aku pernah menganggap remeh semuanya itu.
Aku menyesalinya sedalam mungkin.
"Aku udah berhari-hari ini nyariin kamu..." suaraku lirih.
Hening dan rasanya awkward, Arzel mengangguk dengan pandangan bola mata ke sekeliling.
Dengan tangkas, aku langsung mengendalikan diri dan kembali kepada kesadaranku.
"Kamu...kenal aku kan?" aku memastikan.
"Iya,...Karen kan?" Arzel berdiri melipat tangan.
Ini tidak baik.
Menurut buku psikologis yang pernah kubaca, gesture melipat tangan adalah tanda ketika seseorang bersikap defensif terhadap argumen atau sosok yang tidak dia sukai.
"Kita pernah sekelas waktu SMA. Sekitar 3 tahun." Arzel memberiku briefing singkat mengingat aku yang tampak linglung. "Tapi, kenapa elo dateng ke sini malem-malem ya?"
3 tahun??
Itu sih bukan 'pernah' sekelas lagi, tapi benar-benar menghabiskan masa SMA bersama.
Dulu saja waktu aku SMA, hanya sekelas dengan Arzel waktu di kelas 10.
Sisanya, sepanjang di kelas 11 dan 12 kami saling mengunjungi kelas masing-masing dan mencuri-curi waktu istirahat.
"Ehm... Aku udah di sini dari sore sebenernya. Nunggu kamu pulang kerja." Aku meralat kalimatnya. "Kita...sekelas 3 tahun, berarti akrab dong?"
Arzel mengangkat bahu.
"Elo masuk geng heboh, gue sendiri kutu buku. Udah cukup jelas kan situasinya?" Nada Arzel terdengar dingin. "Kenapa mendadak tanya-tanya soal SMA begini? Kalo mau nostalgia, liat aja buku tahunan."
Asing.
Arzel yang ada di hadapanku terasa begitu asing.
Tapi, ucapannya ada benarnya juga.
Lebih cepat jika aku melihat buku tahunan dan memeriksa siapa saja 'orang' yang hadir dalam kehidupan Karen di dimensi ini.
"Sori,..punya aku nggak tahu ke mana. Boleh pinjem punya kamu?" Aku meminta kepada Arzel.
Arzel menimbang-nimbang kemudian berjalan naik ke kamarnya.
Cukup lama aku menunggu, sambil terdengar suara gaduh barang berjatuhan.
Arzel keluar dari kamarnya dan menyerahkan buku tebal itu kepadaku.
Dengan terkejut, aku memandang buku di tanganku.
Sampul kulitnya sebagian sudah luntur terkena bercak melingkar yang dari baunya bisa kuduga adalah kopi dan rokok.
Ujung-ujungnya sudah koyak dan debu tebal membuat tepian kertasnya menguning.
Arzel yang kukenal, tidak pernah teledor menyimpan barang, tidak merokok, apalagi menjadikan buku tahunan sebagai alas gelas minuman.
"Liat-liat aja. Kalo udah, taro di meja aja. Gue mau mandi." Arzel bangkit berdiri. "Nanti panggil pembantu gue aja untuk bukain pintu pas pulang."
"Lho? Kamu nggak balik untuk nemenin aku ngobrol di sini sehabis mandi?"
Arzel tampak semakin keheranan dan kembali duduk di hadapanku.
"Karen...elo salah minum obat sesuatu ya? Pertama, kita nggak seakrab itu untuk aku-kamu an. Jadi please drop that act. Kedua, alasan elo dateng ke sini sebenernya apa sih? Sekedar minjam buku tahunan? Atau ada keperluan sesuatu?" Arzel membombardirku dengan berderet pertanyaan. "Sekarang udah bukan masa SMA, jadi gue nggak punya PR,tugas, atau ulangan lagi yang bisa dicontek elo dan temen-temen geng elo, kan?"
Pertanyaan Arzel begitu menohok bagiku.
Apa yang sudah terjadi padanya di kehidupan ini?
Sikapnya 180 derajat bertolak belakang.
Senyum ceria itu, optimisme, dan kasih sayang yang melimpah ruah untukku, sekarang terisi dengan sepasang mata berkantung hitam yang menatapku datar cenderung sinis.
Lebih tepatnya, apa yang sudah terjadi diantara kami di kehidupan versi dimensi ini?
Otakku serasa berdengung dan tidak mampu menjawab pertanyaan Arzel.
"Sori..." hanya kata-kata itu yang dapat terlontar dari mulutku.
Aku membalik asal halaman buku tahunan dan menemukan foto kelas kami waktu SMA.
Jelas berbeda dengan kelas yang pernah kutahu.
Beberapa orang ada yang kukenal, seperti Denise, Tiara, Albert, ... namun sisanya lebih banyak wajah asing.
Dan yang lebih mencengangkan lagi, aku berdiri dikelilingi teman-temanku entah siapapun mereka.
Rambutku pendek seperti sekarang, dan mengenakan bando berpita.
Kemeja sekolahku keluar dari roknya dan aku mengenakan rompi pink.
Dari gayaku yang tertawa lebar hampir merupai senyum 3 jari, sepertinya benar kata Arzel barusan.
Di foto itu aku terlihat...bukan aku.
Terlalu ceria, terlalu heboh untuk menjadi seorang aku.
Bertolak belakang dengan Arzel yang hanya berwajah datar dan berdiri ujung-ke-ujung denganku.
Aku terhenyak dan spontan menutup buku tersebut.
Kutatap Arzel yang masih duduk di hadapanku.
Nafasku serasa sesak dan pikiranku kosong, hanya bisa menatap Arzel dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan cari segala cara yang ada untuk kembali ke kamu. Kembali ke kita..." aku bergumam lirih.
Kalimatku barusan tampaknya tidak masuk akal karena jelas ekspresi Arzel berikutnya adalah heran bercampur risih.
Tapi aku, tidak peduli jika dia tidak mengerti.
Karena memang apapun yang terjadi, aku harus kembali kepada Arzel-ku di seberang sana.
Kehidupan sesungguhnya yang pernah kudapatkan, dan segala kebahagiaan yang ada di sana.
Dan baru kusadari betapa aku pernah menganggap remeh semuanya itu.
Aku menyesalinya sedalam mungkin.
0