Kaskus

Story

Kategori

Pengaturan

Mode Malambeta
Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Syarat & Ketentuan

Kebijakan Privasi

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#2798
PART 105 – Beyond The Edge : A Journey – eps. 3

11 Februari 2013.

Pagi hari di Penitentes, kami sudah mulai bergerak menuju Pampa de Lenas. Trekking di alam Amerika Selatan ini merupakan hal baru bagi kami semua. Gak jarang kami berhenti untuk berfoto-foto dan minum. Total tim yang berangkat ke Pampa de Lenas ini berjumlah 13 orang, dengan perincian 2 summiter, 9 team support dan 3 guide. Oya, guide kami bernama Mauricio, Javier dan Jonas. Mauricio sebagai leadernya.

Kami sampai di Pampa de Lenas pukul 4 sore, dan langsung mendirikan tenda. Total ada 5 tenda yang dipasang. Para guide kami langsung memasak makan malam yang mayoritas daging, sosis salami dan kentang. Karena lapar, kami semua menyikat habis makanan yang disediakan tanpa banyak protes. Malam di Pampa de Lenas itu berlangsung cepat, karena kami sudah kelelahan dan langsung beristirahat.

Spoiler for Pampa de Lenas:

Spoiler for Pampa de Lenas:

Spoiler for Aconcagua from Pampa de Lenas:



12 Februari 2013.

Pagi hari di Pampa de Lenas yang berketinggian 2950 meter itu terasa dingin menusuk tulang. Setelah sarapan, kami segera berkemas-kemas dan memulai perjalanan ke Casa de Piedra pada pukul 10 pagi. Pemandangan selama perjalanan menuju Casa de Piedra itu sangat indah, tapi angin kering bertiup kencang tanpa henti. Perjalanan dari Pampa de Lenas menuju Casa de Piedra berlangsung tenang, meskipun beberapa anggota tim yang sudah cukup berumur merasa sedikit kewalahan.

Pukul 4 sore kami tiba di Casa de Piedra, yang secara harfiah berarti “rumah batu” dan langsung disambut oleh kabut dan hawa dingin. Sepertinya akan segera turun hujan, sehingga kami langsung mendirikan tenda untuk melindungi barang-barang kami. Setelah tenda beres, kami memasak makan malam dan menikmati alam Casa de Piedra yang sangat luar biasa. Buat gue, itu pemandangan terindah yang pernah gue liat, sampe waktu itu.

Di Casa de Piedra ini ada beberapa grup pendaki lain, antara lain sama-sama dari INKA, ada juga yang berasal dari perusahaan pendakian Acomara dan ada juga yang dari Aconcagua Expeditions. Malam itu suhu di Casa de Piedra terasa dingin banget, dan setelah gue cek ternyata suhu turun sampai 6 derajat Celsius. Pantesan aja.

Spoiler for Casa de Piedra:

Spoiler for Casa de Piedra:

Spoiler for Casa de Piedra:



13 Februari 2013.

Kami bangun pukul 6 pagi, dan kemudian memasak sarapan dan segera berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan hingga Plaza Argentina Base Camp. Pukul 8 pagi kami memulai perjalanan dan sekali lagi kami dibuat takjub dengan keindahan alam Andes yang luar biasa. Berkali-kali gue merasa sangat kecil diantara keagungan Tuhan. Gue merasa sangat bersyukur bisa berjalan menyusuri alam yang bahkan sebelumnya belum pernah gue bayangkan. Kadang-kadang gue berkaca-kaca sewaktu mengingat orang tua gue di Indonesia. Bukan kangen, tapi seperti “mah, beh, anakmu sampe sini lho.”

Spoiler for Aconcagua sunrise from Casa de Piedra:


Pukul 4 sore kami sampai di Plaza Argentina BC yang berketinggian 4200 meter, dan ternyata yang namanya base camp itu luas banget. Bahkan disini ada fasilitas telepon, radio sampe internet. Kami mendirikan tenda dan mulai memasak makan malam seperti biasa. Gue menikmati suasana di Plaza Argentina ini karena ramai dengan grup pendaki lain. Gak jarang kami bergabung dengan grup-grup pendaki antara lain grup pendaki Polandia, Inggris, Amerika dan Kanada.


14 Februari 2013.

Valentine Day.
Hari itu jadwal kami adalah medical test yang dilakukan 2 kali. Selain medical test yang memang dijadwalkan itu, kami juga berkumpul untuk briefing dengan pihak guide. Oya, karena gue ingat ini hari Valentine, gue sengaja telepon Anin di Indonesia. Dia kaget waktu gue mendadak telepon dari tempat antah berantah di belahan dunia yang lain.


Quote:


Pembicaraan gue dan Anin itu berlangsung sekitar 5 menitan, sekaligus gue pamit untuk mulai mendaki Aconcagua keesokan harinya. Gue juga telepon nyokap, untuk minta doa restu. Hasil medical test hari itu alhamdulillah sesuai harapan, gue dan Iwan dinyatakan layak untuk mendaki Aconcagua. Ketika gue keluar dari tenda medis itu gue melihat ke atas, dan ternyata mulai turun salju. Gue tersenyum, dan bermain-main dengan salju yang jatuh di telapak tangan gue.

Ketika gue kembali ke tenda, ternyata salah satu anggota tim pendukung, mas Alfan terkena AMS (Acute Mountain Sickness) yaitu penyakit yang disebabkan karena ketinggian gunung. Dia mengeluh pusing kemudian muntah-muntah hingga lemas. Kemudian guide memutuskan untuk mengevakuasi mas Alfan ke Mendoza menggunakan helikopter. Kata Mauricio, di Plaza Argentina ini rawan terkena AMS, karena perubahan ketinggian dari Casa De Piedra cukup banyak.

15 Februari 2013.
Plaza Argentina BC – Camp I – Plaza Argentina BC


Sekitar pukul 9.30 gue dan Iwan beserta 2 orang guide, yaitu Mauricio dan Javier mulai mendaki hingga Camp I di ketinggian 5000 meter. Tujuan kami mendaki Camp I hari itu adalah untuk mendrop logistik sekaligus untuk aklimatisasi. Kami semua berhasil sampai di Camp I pukul 3 sore, kemudian mengamankan logistik untuk kami nantinya. Pukul 10 malam kami tiba lagi di Plaza Argentina, makan malam dan kemudian langsung beristirahat.

Gue melihat Iwan dengan khawatir, secara dia kelelahan waktu mendaki ke Camp I. Gue khawatir apakah dia bisa mencapai summit Aconcagua atau tidak. Malam itu Iwan langsung tepar setelah makan malam, sementara gue masih sempat ngobrol cukup lama dengan Javier dan Mauricio. Kami bertiga sepakat bahwa besok ditetapkan sebagai rest day, hari istirahat, sekaligus aklimatisasi dan berlatih menggunakan crampon dan ice axe. Di pembicaraan itu juga kami menegaskan untuk tetap memakai Normal Route menuju summit.

Spoiler for Plaza Argentina:

Spoiler for Plaza Argentina:



17 Februari 2013.
Plaza Argentina BC - Camp I

Kami bangun pukul 6 pagi, kemudian segera berkemas dan sarapan. Start menuju Camp I pukul 10 pagi, dan sampai disana pukul 3 sore. DI Camp I cuaca agak memburuk, dengan angin bertiup kencang. Gue sempet was-was tentang badai salju di Aconcagua yang terkenal unpredictable. Malam itu gue susah tidur karena tenda dihantam angin kencang bertubi-tubi. Gue dan Iwan yang belum pernah mengalami hal seperti ini otomatis takut. Kami baru bisa memejamkan mata sekitar pukul 1 pagi.

Spoiler for Camp 1:

Spoiler for Rest to camp 1:

Spoiler for Climb to camp 1:

Spoiler for Camp 1:


18 Februari 2013
Camp I – Camp III – Camp I


Seusai sarapan dan mempersiapkan diri, kami berencana mendaki ulang-alik ke Camp III untuk mempersiapkan logistik disana, seperti yang kami lakukan sebelumnya dari Plaza Argentina ke Camp I. Selain untuk mempersiapkan logistik, juga digunakan untuk aklimatisasi. Gue gak mau – amit-amit – kena AMS kemudian harus kembali ke Mendoza. Jalur menuju Camp III cukup curam dan menantang, dan membutuhkan skill mendaki gunung yang baik. Kemarin portir sudah menyusul ke Camp I untuk menemani kami naik ke Camp III membawa logistik.

Sesampai di camp III yang berketinggian 5300 meter, gue merasa malas untuk turun. Tapi kemudian guide mengingatkan gue dengan berkata, “lo harus turun, kalo lo tetep disini malam ini lo bakal kehilangan kesadaran.” Tergerak oleh perkataan guide tadi, gue pun kembali semangat untuk turun dengan tujuan yang lebih besar. Melihat kondisi gue tadi, guide memutuskan besok kami menghabiskan sehari untuk beristirahat di Camp I sekalian aklimatisasi.

20 Februari 2013.
Camp I – Camp III


Pagi-pagi tanggal 20 Februari, kami berkemas dengan semangat dan segera naik ke Camp III yang sesuai dengan pengalaman sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam dari Camp I. Kembali kami harus mendaki es yang curam, termasuk melihat avalancheatau longsoran salju dari kejauhan. Itu kali pertama dalam hidup gue melihat avalanche secara langsung. Di Camp III ini gue baru merasakan susah bernapas karena tipisnya oksigen. Malam itu kami tidur berlima, bersama dengan 3 portir yang kemarin menyusul kami ke Camp I kemudian bersama kami naik ke Camp III.

Di Camp III ini gue menerima laporan ramalan cuaca dari Plaza Argentina yang mengabarkan bahwa cuaca di summit cerah dan berangin hingga 2 hari ke depan. Gue tersenyum, dan berdoa di dalam hati agar keadaan tetap sama seperti ramalan cuaca di tangan gue ini. Semoga kami diberi kesempatan untuk mencapai puncak Aconcagua. Malam itu gue gak bisa tidur, sepertinya karena faktor ketinggian, dingin yang mencapai minus 9 derajat Celsius dan angin kencang yang terus menerus menghantam tenda.

Spoiler for Camp III:

Spoiler for Camp III:

Spoiler for Colera Camp:

Spoiler for Colera Camp:


21 Februari 2013.
Camp III – Colera Camp


Bangun pagi di tengah dingin minus sekian derajat Celsius itu terasa menjadi hal paling menyebalkan selama 23 tahun gue hidup. Gue sempat menggerutu ketika guide membangunkan gue untuk bersiap-siap dan sarapan untuk menuju ke Colera Camp, pos terakhir sebelum sampai ke puncak Aconcagua. Sekitar pukul 10 pagi kami start mendaki menuju Colera Camp, dan tiba pada pukul 1.30 siang. Kaki gue sempat terperosok diantara bebatuan yang tertutup salju karena salah melangkah, untungnya gak cedera.

Sekitar pukul 1.30 kami sampai di Colera Camp, yang terletak di ketinggian 6000 meter. Perjalanan menuju Colera Camp ini turun salju, untungnya gak sampai badai salju, yang sangat ditakuti di Aconcagua. Badai salju di Aconcagua ini disebut el viento blancoalias white storm, yaitu badai salju dengan kecepatan angin yang sangat kencang dan jarak pandang bisa nol. Gue liat Iwan mulai menurun staminanya, dan dia merasa lemas sehingga harus memakai bantuan tabung oksigen untuk sementara waktu sampai cukup segar kembali. Gue menyemangati Iwan bahwa besok adalah hari besar, summit day, dan gue meminta dia tetap semangat dan tetap mempertahankan kondisinya.

22 Februari 2013.
Colera Camp – Refugia Independencia – The Canaleta – Summit


Pukul 4 pagi kami bangun, kemudian bersiap-siap untuk summit attack. Hari ini kami dijadwalkan sampai di puncak Aconcagua. Setelah sarapan dan berpakaian lengkap termasuk downjacket, crampon dan headlamp, kami berjalan mendaki dalam suasana gelap dan bersalju. Ketika matahari mulai menampakkan diri, cuaca menjadi menghangat dan kami melepas donwjacket agar tidak berkeringat dan menghabiskan energi.

Akhirnya kami sampai di Refugia Independencia, yang memiliki semacam pondok dari kayu yang sudah terkoyak oleh badai salju yang ganas di Aconcagua. Refugia Independencia ini terletak di ketinggian 6400 meter. Kami sempat beristirahat untuk beberapa waktu disitu, dan menata ulang kembali barang bawaan di punggung. Kadar oksigen semakin tipis, dan kami semakin sulit untuk bernapas. Langkah semakin terasa berat, dan diperparah oleh kami harus menghemat persediaan air minum. Wah, terancam dehidrasi nih, pikir gue waktu itu.

Spoiler for Refugia Independencia:

Spoiler for Refugia Independencia:


Pukul 10.30 kami sampai di The Canaleta, sebuah ridge atau punggungan gunung dengan kemiringan 45 derajat setinggi 1000 kaki yang harus kami lalui. The Notorious Canaleta, begitu kata orang-orang. Disini kami harus ekstra hati-hati, karena angin sangat kencang dan kemiringan lereng tadi.

Spoiler for The Canaleta:

Spoiler for view from The Canaleta:


Pada pukul 12.10 akhirnya kami sampai di summit Aconcagua yang terletak di ketinggian 6.952 meter, titik tertinggi di belahan bumi barat dan bumi selatan, titik tertinggi di luar benua Asia, dan titik tertinggi yang pernah gue tapaki. Ketika gue 10 meter sebelum sampai di dataran puncak, kaki gue bergetar dan merasa merinding karena kami sudah hampir sampai puncak. Ketika gue melihat salib penanda puncak Aconcagua, gue berlari ke arah salib itu kemudian menyentuh salib penanda dengan kedua tangan. Kemudian gue berdiri menghadap arah timur, dan bersujud ke arah timur, arah terdekat ke Mekkah.

Gue menunggu Iwan yang baru sampai di puncak 20 menit di belakang gue, dan membantunya naik di langkah-langkah terakhir sebelum sampai ke puncak. Ketika dia sudah menyentuh salib penanda puncak Aconcagua, kami berpelukan, mengucapkan selamat atas keberhasilan masing-masing, dan betapa kami sudah berjuang bersama selama berhari-hari untuk berdiri pada titik ini. It’s great to be here with you, good friend.

Spoiler for Summit:

Spoiler for Summit:

Spoiler for Summit:
khodzimzz
jenggalasunyi
chanry
chanry dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.