- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#2791
PART 104 – Beyond The Edge : A Journey – eps. 2
7 Februari 2013.
Tim kami akhirnya lengkap, setelah tim pendukung tiba di Buenos Aires kemarin malam. Tim pendukung yang berjumlah 9 orang ini sebagian besar mengalami jetlag seperti yang kami rasakan waktu tiba disini. Karena itu hari ini kami berencana untuk menuju Mendoza Province, yang beribukota di Mendoza, untuk beristirahat dan mempersiapkan diri. Sebelum itu tim pendukung menyelesaikan administrasi, dan setelah itu kami langsung menuju Mendoza dengan bus. Perjalanan dari Buenos Aires ke Mendoza ini memakan waktu sekitar 6 jam.
Sampai di Mendoza sekitar pukul 5 sore waktu setempat, dan kami langsung menuju Condor Suites Hotel tempat dimana kami menginap. Di hotel kami sempat mengadakan briefing kecil-kecilan yang dihadiri oleh seluruh tim. Besok pagi rencananya kami menemui pihak perusahaan pemandu pendakian, INKA, yang akan menyelenggarakan seluruh rangkaian kegiatan pendakian ini. Menjelang malam, gue dan Iwan beserta 3 anggota tim pendukung yaitu bang Jack, mas Hedi dan mas Anton memutuskan untuk berjalan-jalan melihat kota Mendoza yang baru pertama kali kami kunjungi ini.
Mas Hedi mengusulkan untuk ke Mercado Central alias Central Market nya Mendoza ini. Kami sih setuju-setuju aja, secara dimana-mana Central Market itu destinasi yang paling mudah diakses dan paling acceptable untuk segala macam orang. Disamping itu gue juga gak sabar kepingin berwisata kuliner, mencoba makanan khas Mendoza yang katanya enak-enak. Untungnya pencapaian Mercado Central dari hotel gak begitu susah. Jalan 15 menit sampailah di Mercado Central.
Gue takjub melihat Mercado Central ini, bersih dan rapi, dan yang paling penting, banyak cewek cakep disini. Gak pake lama, kami berlima langsung menjelajahi seisi Mercado dengan bahasa Inggris pas-pasan dicampur sedikit bahasa Indonesia. Gue merasa sangat betah di dalam Mercado itu, kalo pasar-pasar di Indonesia kayak gini mah gue gak bakal males kalo disuruh nemenin nyokap ke pasar, pikir gue.
dan yang paling penting, sekali lagi gue ulangi, standar cewek cakep disana gak main-main. Hahahaha.
Setelah kenyang, kami memutuskan balik ke hotel karena 3 orang tim pendukung itu masih sedikit merasa jetlag, dan ingin tidur. Gue sih ngikut aja. Besok pagi gue berencana jalan-jalan lagi di Mendoza di sela-sela meeting dengan perusahaan pemandu pendakian.
8 Februari 2013.
Gue bangun pagi dengan semangat, dan langsung mandi kemudian turun untuk sarapan di restoran hotel. Setelah siap, gue dan 2 orang tim pendukung yang lain, mas Alfan dan Pak Sonny yang kebetulan ketemu di lobi hotel, keluar untuk melihat-lihat suasana pagi di Mendoza. Suhu pagi itu terasa sejuk, meskipun matahari bersinar cukup terik. Beberapa saat berjalan, gue melihat kerumunan orang di pinggir jalan. Gue hampiri dan ternyata itu adalah healthy food market. Semacam pasar tradisional di Indonesia.
Kami berjalan-jalan lagi, melewati deretan toko di sebuah jalan kecil yang eksotik. Gue tersenyum melihat kultur Amerika Selatan yang baru pertama kali gue lihat secara langsung ini. Begitu banyak bahasa latin yang terdengar di telinga gue. Asing, tapi terasa ramah di hati. Gue melihat penduduk kota Mendoza ini begitu ramah dan terpancar kebahagiaan dari wajah mereka.
Sayangnya kami gak bisa berlama-lama berjalan-jalan di kota karena kami harus menemui pihak perusahaan pendakian sesuai yang dijadwalkan. Rapat sekaligus mengurus perizinan pendakian Aconcagua itu berlangsung sampai sore. Setelah semua beres, kami meminta ke pihak perusahaan pendakian agar perjalanan ke Penitentes dilakukan tanggal 10 Februari. Besok kami gunakan untuk melihat-lihat kota Mendoza yang indah.
9 Februari 2013.
Hari itu agenda kami adalah melakukan city tour kota Mendoza. Untuk itu kami mempercayakan kepada salah satu agen perjalanan wisata rekanan dari perusahaan pendakian kami untuk memandu satu city tour singkat. Pertama-tama kami mengunjungi San Martin Park, taman ikonik dari kota Mendoza. Kalo di Jakarta ya Monas nya lah kira-kira. Gue takjub melihat San Martin Park, begitu indah dan nyaman.
Kemudian kami ke Casa de Fader, museum seni yang berisi lukisan hasil karya para master seni dari Mendoza. Bangunan berwarna coklat itu terkesan massif dan megah. Kami sangat mengagumi arsitektur dari Casa de Fader.
Selepas dari Casa de Fader kami mengunjungi Museo de Vino, atau Museum Wine, hasil kebanggaan kota Mendoza. Kota Mendoza ini memang terkenal sebagai salah satu penghasil wine terbaik di dunia. Museum yang bernuasa gelap dan berisi tong-tong anggur ini merupakan tujuan akhir city tour singkat kami, kemudian kami kembali ke hotel.
Di hotel, hari masih sore, sehingga kami memutuskan untuk berjalan-jalan lagi di kota, tapi gak jauh-jauh. Kami mengagumi Mendoza yang begitu bersih dan indah, dan gue berjanji pada diri sendiri suatu saat gue akan kembali lagi ke kota yang membuat gue jatuh cinta ini.
10 Februari 2013.
Pukul 10.30 kami udah siap di terminal bus, untuk kemudian menuju ke Penitentes, perhentian terakhir yang memiliki hotel dan restoran, sebelum kami memulai pendakian menuju Aconcagua. Di Terminal Mendoza itu kami dijadwalkan berangkat pukul 12.00, dan tiba di Penitentes pukul 16.00.
Akhirnya kami tiba di Penitentes, kawasan terakhir yang memiliki penghuni tetap sebelum berhadapan dengan alam liar Pegunungan Andes. Buat gue Penitentes ini seperti kota pertambangan, yang ada karena khusus pertambangan, meskipun sebenarnya bukan karena itu. Di Penitentes ini kami akan menghabiskan beberapa jam sebelum memulai pendakian menuju ke Pampa de Lenas.
7 Februari 2013.
Tim kami akhirnya lengkap, setelah tim pendukung tiba di Buenos Aires kemarin malam. Tim pendukung yang berjumlah 9 orang ini sebagian besar mengalami jetlag seperti yang kami rasakan waktu tiba disini. Karena itu hari ini kami berencana untuk menuju Mendoza Province, yang beribukota di Mendoza, untuk beristirahat dan mempersiapkan diri. Sebelum itu tim pendukung menyelesaikan administrasi, dan setelah itu kami langsung menuju Mendoza dengan bus. Perjalanan dari Buenos Aires ke Mendoza ini memakan waktu sekitar 6 jam.
Sampai di Mendoza sekitar pukul 5 sore waktu setempat, dan kami langsung menuju Condor Suites Hotel tempat dimana kami menginap. Di hotel kami sempat mengadakan briefing kecil-kecilan yang dihadiri oleh seluruh tim. Besok pagi rencananya kami menemui pihak perusahaan pemandu pendakian, INKA, yang akan menyelenggarakan seluruh rangkaian kegiatan pendakian ini. Menjelang malam, gue dan Iwan beserta 3 anggota tim pendukung yaitu bang Jack, mas Hedi dan mas Anton memutuskan untuk berjalan-jalan melihat kota Mendoza yang baru pertama kali kami kunjungi ini.
Mas Hedi mengusulkan untuk ke Mercado Central alias Central Market nya Mendoza ini. Kami sih setuju-setuju aja, secara dimana-mana Central Market itu destinasi yang paling mudah diakses dan paling acceptable untuk segala macam orang. Disamping itu gue juga gak sabar kepingin berwisata kuliner, mencoba makanan khas Mendoza yang katanya enak-enak. Untungnya pencapaian Mercado Central dari hotel gak begitu susah. Jalan 15 menit sampailah di Mercado Central.
Spoiler for Central Mercado:
Gue takjub melihat Mercado Central ini, bersih dan rapi, dan yang paling penting, banyak cewek cakep disini. Gak pake lama, kami berlima langsung menjelajahi seisi Mercado dengan bahasa Inggris pas-pasan dicampur sedikit bahasa Indonesia. Gue merasa sangat betah di dalam Mercado itu, kalo pasar-pasar di Indonesia kayak gini mah gue gak bakal males kalo disuruh nemenin nyokap ke pasar, pikir gue.
Spoiler for Central Mercado:
Spoiler for Central Mercado:
dan yang paling penting, sekali lagi gue ulangi, standar cewek cakep disana gak main-main. Hahahaha.
Spoiler for pisangnya bagus-bagus yaaa :
Setelah kenyang, kami memutuskan balik ke hotel karena 3 orang tim pendukung itu masih sedikit merasa jetlag, dan ingin tidur. Gue sih ngikut aja. Besok pagi gue berencana jalan-jalan lagi di Mendoza di sela-sela meeting dengan perusahaan pemandu pendakian.
8 Februari 2013.
Gue bangun pagi dengan semangat, dan langsung mandi kemudian turun untuk sarapan di restoran hotel. Setelah siap, gue dan 2 orang tim pendukung yang lain, mas Alfan dan Pak Sonny yang kebetulan ketemu di lobi hotel, keluar untuk melihat-lihat suasana pagi di Mendoza. Suhu pagi itu terasa sejuk, meskipun matahari bersinar cukup terik. Beberapa saat berjalan, gue melihat kerumunan orang di pinggir jalan. Gue hampiri dan ternyata itu adalah healthy food market. Semacam pasar tradisional di Indonesia.
Spoiler for food market:
Kami berjalan-jalan lagi, melewati deretan toko di sebuah jalan kecil yang eksotik. Gue tersenyum melihat kultur Amerika Selatan yang baru pertama kali gue lihat secara langsung ini. Begitu banyak bahasa latin yang terdengar di telinga gue. Asing, tapi terasa ramah di hati. Gue melihat penduduk kota Mendoza ini begitu ramah dan terpancar kebahagiaan dari wajah mereka.
Spoiler for Mendoza store:
Sayangnya kami gak bisa berlama-lama berjalan-jalan di kota karena kami harus menemui pihak perusahaan pendakian sesuai yang dijadwalkan. Rapat sekaligus mengurus perizinan pendakian Aconcagua itu berlangsung sampai sore. Setelah semua beres, kami meminta ke pihak perusahaan pendakian agar perjalanan ke Penitentes dilakukan tanggal 10 Februari. Besok kami gunakan untuk melihat-lihat kota Mendoza yang indah.
9 Februari 2013.
Hari itu agenda kami adalah melakukan city tour kota Mendoza. Untuk itu kami mempercayakan kepada salah satu agen perjalanan wisata rekanan dari perusahaan pendakian kami untuk memandu satu city tour singkat. Pertama-tama kami mengunjungi San Martin Park, taman ikonik dari kota Mendoza. Kalo di Jakarta ya Monas nya lah kira-kira. Gue takjub melihat San Martin Park, begitu indah dan nyaman.
Spoiler for San Martin Park:
Spoiler for San Martin Park:
Spoiler for San Martin Park:
Kemudian kami ke Casa de Fader, museum seni yang berisi lukisan hasil karya para master seni dari Mendoza. Bangunan berwarna coklat itu terkesan massif dan megah. Kami sangat mengagumi arsitektur dari Casa de Fader.
Spoiler for Casa de Fader:
Spoiler for Casa de Fader:
Selepas dari Casa de Fader kami mengunjungi Museo de Vino, atau Museum Wine, hasil kebanggaan kota Mendoza. Kota Mendoza ini memang terkenal sebagai salah satu penghasil wine terbaik di dunia. Museum yang bernuasa gelap dan berisi tong-tong anggur ini merupakan tujuan akhir city tour singkat kami, kemudian kami kembali ke hotel.
Spoiler for Museo del Vino:
Di hotel, hari masih sore, sehingga kami memutuskan untuk berjalan-jalan lagi di kota, tapi gak jauh-jauh. Kami mengagumi Mendoza yang begitu bersih dan indah, dan gue berjanji pada diri sendiri suatu saat gue akan kembali lagi ke kota yang membuat gue jatuh cinta ini.
Spoiler for Mendoza:
Spoiler for Mendoza:
Spoiler for Mendoza:
Spoiler for Mendoza:
10 Februari 2013.
Pukul 10.30 kami udah siap di terminal bus, untuk kemudian menuju ke Penitentes, perhentian terakhir yang memiliki hotel dan restoran, sebelum kami memulai pendakian menuju Aconcagua. Di Terminal Mendoza itu kami dijadwalkan berangkat pukul 12.00, dan tiba di Penitentes pukul 16.00.
Spoiler for Mendoza Terminal:
Spoiler for Mendoza Terminal:
Akhirnya kami tiba di Penitentes, kawasan terakhir yang memiliki penghuni tetap sebelum berhadapan dengan alam liar Pegunungan Andes. Buat gue Penitentes ini seperti kota pertambangan, yang ada karena khusus pertambangan, meskipun sebenarnya bukan karena itu. Di Penitentes ini kami akan menghabiskan beberapa jam sebelum memulai pendakian menuju ke Pampa de Lenas.
Spoiler for Penitentes:
Spoiler for Penitentes:
Spoiler for Penitentes:
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3

