Kaskus

Story

jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
You Are My Happiness
You Are My Happiness


Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus emoticon-Smilie
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian emoticon-Smilie
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.

Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan emoticon-Smilie




Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.



Quote:


Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
rukawa.erikAvatar border
devanpancaAvatar border
gebby2412210Avatar border
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
jayanagariAvatar border
TS
jayanagari
#2751
PART 103 – Beyond The Edge : A Journey – eps. 1

5 Februari 2013.

Gue duduk di kursi penumpang, sambil sesekali mengunyah kacang di hadapan gue. iPod yang ada di ransel milik gue nyaris tak tersentuh. Gue melirik jam tangan, dan ternyata baru pukul 2 pagi. Masih ada 6 jam lagi sebelum gue mendarat di Doha untuk transit. Gue kemudian menepuk jidat karena lupa bahwa gue sudah melewati beberapa zona waktu, sementara jam gue masih berpatokan Waktu Indonesia Barat. Menurut jadwal, gue sampai di Doha pukul 5 pagi waktu setempat. Penerbangan malam itu berlangsung tenang. Karena masih ada banyak waktu sebelum gue harus turun pesawat, akhirnya gue memutuskan untuk tidur.


Doha International Airport, Qatar.

Sebenarnya gue sedikit kesal ketika harus transit di Doha, aslinya masih ngantuk. Gue turun pesawat dengan gontai, sambil menguap. Setelah masuk ke area transit dan mengurus sedikit dokumen, gue memutuskan nongkrong di sebuah kedai kopi yang ada di dekat boarding room. Rekan gue, Iwan, setuju dengan usul gue ini. DIa juga merasa sedikit lemas dan ngantuk. Kami sepakat bahwa butuh sedikit kafein untuk meningkatkan kesadaran.

Di Doha ini kami harus menunggu sekitar 3 jam hingga waktunya kami berangkat kembali menuju Guarulhos International Airport di Sao Paulo, Brazil. Gue menghabiskan waktu untuk membaca-baca majalah mengenai budaya Qatar, sementara Iwan memilih untuk berjalan-jalan di shopping centre di airport itu. Gue sih males kalo menghabiskan energi disini, meskipun akhirnya gue juga ikutan window shopping seperti yang Iwan lakukan.

Ketika akhirnya kami kembali mengudara, gue sudah membekali diri dengan berbagai macam hiburan seperti novel paperback yang gue beli di salah satu toko buku di Doha Airport dan iPod yang sudah dicharge penuh. Penerbangan kami menuju Guarulhos ini memakan waktu sekitar 14 jam. Gila aja, pikir gue. Duduk 14 jam full, bisa-bisa pantat gue berubah bentuk jadi trapesium. Sementara Iwan gue liat asik bermain game di tablet miliknya, sambil sesekali menonton film yang disediakan oleh maskapai. Entah berapa lama gue hanyut di novel paperback tadi, akhirnya gue tertidur.


Guarulhos International Airport, Sao Paulo, Brazil.

Pesawat kami akhirnya mendarat di Sao Paulo setelah 14 jam mengudara, dan itu masih merupakan transit, sebelum sampai di tujuan kami yang sebenarnya. Gue melihat jam di airport itu, dan ternyata sudah jam 5 sore waktu setempat. Gue waktu itu masih bingung sebenarnya ini jam berapa dan tanggal berapa. Maklum, waktu itu baru pertama kalinya gue bepergian sampai ke belahan bumi yang lain. Gue dan Iwan bergegas melemaskan kaki dengan berjalan-jalan di sekitar airport. Masih ada waktu sejam lagi sebelum kami berdua harus terbang lagi.

Di Guarulhos gue menyempatkan diri membeli roti dan kopi panas, dan melihat-lihat benda-benda yang dijual di toko duty free sebagai oleh-oleh khas Brazil. Gue yang masih penasaran tentang zona waktu, akhirnya mendapati bahwa perbedaan waktu antara Jakarta dan Sao Paulo ini adalah 10 jam, tapi secara mundur. Artinya jam 5 sore waktu Sao Paulo tanggal 5 Februari berarti sekarang sudah pukul 3 pagi tanggal 6 Februari di Indonesia. Berarti kami berdua sudah menempuh perjalanan lebih dari 26 jam dengan selisih waktu mundur 10 jam. Bingung kan? Sama, gue juga.

Akhirnya gue dan Iwan berada di satu penerbangan menuju tujuan akhir gue. Di pesawat gue sudah lemas dan mulai merasakan jetlag yang menyebabkan gue merasa pusing dan sangat mengantuk. Jam biologis di tubuh gue mulai kacau. Alhasil di pesawat gue hanya tidur sambil meringkuk di sudut. Penerbangan ini hanya membutuhkan waktu 3 jam sebelum sampai di tujuan akhir kami.


Ministro Pistarini International Airport, Buenos Aires, Argentina.

Akhirnya kami tiba di tujuan akhir perjalanan panjang kami. Setelah total 30 jam kami mengudara, meninggalkan tanah air, akhirnya kami tiba di ibu kota Argentina, Buenos Aires pukul 9 malam waktu setempat. Hal pertama yang gue lakukan waktu sampai di Buenos Aires adalah membeli kartu perdana provider lokal, dan gue memilih provider Movistar Telefonica. Hal ini mengingatkan gue ke sponsor salah satu tim balap motor. Di airport itu akhirnya kami bisa menjumpai bagasi kami yang terdiri dari 2 dufflebag dan 2 carrier untuk 2 orang. Butuh waktu cukup lama untuk mendorong troli berisi bagasi kami itu menuju keluar.

Spoiler for Ministro Pistarini International Airport:


Di luar kami sudah dijemput oleh seorang staf dari KBRI di Buenos Aires, dan kemudian langsung diantar menuju ke hotel untuk makan malam dan beristirahat. Jadwal besok pagi pertama-tama adalah lapor diri ke KBRI sekaligus mengisi beberapa dokumen yang diperlukan, dan kebetulan banyak yang diperlukan. Kami segera menuju ke Plaza Hotel Buenos Aires untuk beristirahat sekaligus memulihkan diri dari jetlag yang semakin menjadi-jadi.

Spoiler for Plaza Hotel Buenos Aires:


Keesokan harinya, kami dijemput oleh seorang staf KBRI yang lain untuk melaporkan diri ke KBRI di Buenos Aires yang terletak di Mariscal Ramon Castila. Disana kami disambut oleh beberapa staf KBRI, dan dijamu alakadarnya. Di KBRI ini kami mendapat kepastian bahwa tim pendukung telah berangkat menuju Sao Paulo, untuk kemudian bergabung dengan kami di Buenos Aires ini. Tadinya tim pendukung ini direncanakan berangkat bersama kami, tapi karena alasan teknis, keberangkatan mereka tertunda sehari. Setelah menyelesaikan administrasi yang diperlukan di KBRI, kami memutuskan untuk berjalan-jalan melihat Buenos Aires, mumpung ada disini. Kesan pertama gue tentang Buenos Aires adalah “Amerika Latin banget”.

Spoiler for KBRI Buenos Aires, Argentina:


Spoiler for Buenos Aires:


Spoiler for Buenos Aires:


Ketika kembali ke hotel pada sore harinya, gue dan Iwan membuka-buka rencana perjalanan kami. Sambil duduk di tempat tidur kami membentangkan beberapa lembar peta dengan kertas tebal, yang berisi peta rute dan peta kontur, serta beberapa jurnal panduan. Disamping itu juga ada sebuah laptop yang menyala, yang berisi segala hal yang menjadi pedoman kami. Ketika gue melihat satu foto besar di layar laptop, gue tersenyum, dan mendadak badan gue merinding sendiri ketika membayangkan betapa besarnya perjalanan yang akan kami lalui.

Tujuan kami menempuh setengah globe hingga ke Argentina ini tak lain adalah untuk berdiri di titik tertinggi di belahan bumi barat, the highest point on western hemisphere, yaitu gunung Aconcagua.
jenggalasunyi
pulaukapok
chanry
chanry dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.